POTRET PEDAGANG KAKI LIMA MINANGKABAU di MALIOBORO YOGYAKARTA


Pagi itu, peneliti mulai menelusuri jalan Malioboro dari utara ke selatan. Sepanjang jalan yang saya telusuri tersebut di sisi kanan dan kiri jalan, saya jumpai para pedagang kaki lima yang sedang sibuk mengelar dagangan mereka. Dari sekian banyak PKL tersebut terdapat PKL yang berasal dari Minangkabau. Mereka hampir sama dengan PKL kebanyakan lainnya, yang membedakannya adalah daerag asal mereka, yaitu berasal dari Minangkabau Sumatera Barat. Mereka mulai mengelar barang dagangan pukul 08.00 dan nanti akan tutup pada pukul 21.00. Hal ini sesuai dengan surat keputusan Walikota Yogyakarta yaitu SK No. 119 tahun 2004 yang diubah menjadi SK Walikota Yogyakarta No. 115 tahun 2005 tentang penataan PKL kawasan khusus Malioboro – A. Yani. PKL Minangkabau yang berjualan di Malioboro umumnya adalah laki-laki. Dari 129 orang PKL Minangkabau di Malioboro hanya 2 orang saja dari mereka yang perempuan. Hal ini disebabkan oleh kebudayaan Minangkabau yang bersifat matrilineal. Dimana dalam system ini ibu adalah tempat mengambil garis keturunan seseorang. Seseorang memperoleh suku berdasarkan suku ibunya dan rumah gadang dibangun berdasarkan jumlah anak perempuan. Seberapa besar jumlah kamar rumah gadang dibuat berdasarkan jumlah anak gadis mereka. Sementara anak laki-laki tidak ada kamar yang dibuat untuk mereka. Sehingga saat seorang anak laki-laki sudah berusia 7 tahun maka ia akan meninggalkan rumah untuk tinggal di surau, dimana mereka diajarkan ilmu agama dan adat Minangkabau. Setelah remaja anak laki-laki tersebut dianjurkan untuk pergi merantau baik itu untuk menuntut ilmu atau untuk berdagang. Karena umumnya yang pergi merantau adalah anak laki-laki sehingga kebanyakan dari PKL Minangkabau di Malioboro adalah laki-laki.
Kalaupun ditemukan PKL Minangkabau yang perempuan, mereka adalah istri-istri dari PKL.biasanya mereka mengantikan menjaga barang dagangan sebentar ketika suami mereka istirahat untuk makan, sholat, berbelanja barang dagangan atau memiliki urusan lain yang harus meninggalkan barang dagangan mereka. Tidak jarang juga, saya menemukan PKL Minangkabau yang sudah mempunyai bawahan yang membantu mereka dalam berdagang. Biasanya bawahan mereka itu adalah orang Jawa yang masih muda dan yang sudah tidak sekolah lagi. Bawahan yang dipekerjakan pun kebanyakan laki-laki, hanya beberapa PKL Minangkabau saja yang mempekerjakan bawahan perempuan.
Tidak susah untuk menjumpai PKL yang berasal dari Minangkabau di Malioboro, karena jumlah mereka yang cukup banyak. Dari data yang terkumpul sampai saat ini PKL Minangkabau yang ada di Malioboro berjumlah 129 orang. Dari Bukitinggi/Agam 20 orang, Pariaman 45 orang, Pesisir Selatan 33 orang, Sawahlunto Sijunjuang 21 orang dan 10 orang lagi dari berbagai daerah Sumatera Barat.
Dari penampilan, sangatlah mudah membedakan PKL Minangkabau dengan PKL lainnya. Sebagian mereke berpenampilan rapi dan menarik dan sebagian mereka dilengkapi Handphone tergantung di leher atau di pinggang. Mereka berpenampilan menarik dan rapi karena bagi mereka hidup sebagai PKL tidak harus bermakna kumuh, kotor dan tidak indah. Dalam pandangan mereka, hidup sebagai PKL memang susah, namun kesusahan itu jangan sampai tercermin dalam pakaian mereka.
“Kalaupun awak bansaik, jan bansaik awak tu dipacaliak-an kan urang banyak”
Gengsi dan percaya diri itulah yang sering ditonjolkan dalam setiap penampilan. “Biar berjualan kacamata tetapi penampilan bagaikan direktur”. Itulah celotehan dalam gelak-tawa yang selalu keluar dari mulut PKL Minangkabau. Bagi mereka, pakaian tidak harus memperlihatkan pekerjaan yang mereka punyai. Sehingga apabila keluar dari Malioboro jangan selalu terkesan sebagai PKL. Bagi para PKL Minangkabau pekerjaan sebagai pedagang kaki lima bukanlah pekerjaan yang buruk dan harus malu dengan pekerjaan itu. Bagi mereka lebih baik berdiri sepanjang hari menunggu barang dagangan di kaki lima, bebas tanpa ada yang mengatur. Daripada harus bekerja di suatu tempat dengan banyak aturan yang mengikat. Hal ini terkait juga dengan sifat orang Minangkabau yang suka berdikari atau menjadi tuan atas diri sendiri, walaupun itu hanya sebagai PKL.
Perbedaan lain yang menarik terlihat dalam gaya dan cara mereka berdagang. PKL Minang dalam berdagang memiliki kekhasan , kadang-kadang menarik, kadang menjemukan. Menariknya apabila dilihat bagaimana mereka merayu pembeli dan melakukan tawar-menawar. Bagi konsumen cara yang mereka terapkan ini kadang-kadang menjemukan, seolah-olah melakukan tarik ulur dalam setiap transaksi.
Jenis barang yang dijual PKL Minang hampir sama dengan barang dagangan PKL lainnya. Aksesoris, batik, boneka, baju dagagu, dompet, jam tangan, kacamata, kaos kaki, kerudung, korek api, makanan, pakaian, sabuk, sandal, tas dan topi. Selain itu ada yang berjualan jasa seperti cetak nama dan pembuatan tato.
Dilihat dari umurnya, PKL Minang umumnya berumur antara 20 tahun sampai 55 tahun. Kebanyakan orang Minangkabau pergi merantau di usia produktif atau ketika masih muda. Sementara pendidikan kebanyakan dari PKL Minang hanya SMP atau SMA. Hanya beberapa saja yang berpendidikan sarjana. SD 18 orang, SMP 47 orang, SMA 58 orang dan sarjana 6 orang.
Setiap harinya para PKL Minang mengelar barang dagangan, menunggu pembeli datang, melayani pembeli, pergi belanja barang dagangan yang habis stoknya dan membereskan kembali barang dagangan di malam hari. Kegiatan tersebut dilakukan berulang kali setiap hari.
(Di Kutip dari Skripsi Ika Oktavia, mahasiswi Sosiologi Fisipol UGM, Alumni Asrama Bundo Kanduang 2003)

About admin

asrama mahasiswa sumatera barat merapi singgalang yogyakarta

Posted on 13 November 2007, in Artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: