Kajian Mendasar terhadap Sejarah PRRI


Oleh: Dr. Saafroedin Bahar (L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA – Staf Pengajar Prodi Ketahanan Nasional Sekolah Pasca Sarjana UGM)

Saya sangat senang memperhatikan bahwa akhir-akhir ini terdapat peningkatan minat secara terbuka terhadap sejarah pemberontakan PRRI, khususnya dalam kaitannya dengan sejarah daerah Sumatera Barat serta sejarah suku bangsa Minangkabau. Di Rantau Net ini demikian banyak postings dari para netters mengenai aspek-aspek tertentu PRRI, baik mengenai pengalaman pribadi dari beliau-beliau yang pernah ikut terlibat, maupun berbagai interpretasi dan rasionalisasi terhadap pemberontakan tersebut.. Dalam rangka peluncuran dua buah buku yang memuat himpunan tulisan wartawan Suwardi Idris tentang pengalaman beliau mengikuti PRRI di daerah Solok, beberapa waktu yang lalu bertempat di Studio TVRI Padang telah diadakan talkshow mengenai PRRI ini, yang diikuti oleh beberapa tokoh Sumatera Barat, antara lain budayawan senior Wiswan Hadi, wartawan senior Basril Djabbar, sejarawan Dr Gusti Asnan. Talkshow tersebut ditayangkan ulang di TVRI Pusat. Dari Ibu Warni Darwis, Wakil Sekjen Gebu Minang, saya mendapat khabar bahwa Bp Abdul Samad, seorang tokoh pejuang PDRI dari Bukittinggi, yang juga ikut pemberontakan PRRI, baru-baru ini tampil di TVRI Pusat menjelaskan pengalaman beliau dalam PRRI tersebut.

Saya menganggap peningkatan minat terhadap sejarah PRRI ini baik dan wajar. Memang sudah waktunya sejarah PRRI ini dibedah secara mendasar dan mendalam. Saya pernah mengkuti pembahasan masalah PRRI ini — sebagai pembicara bersama Kolonel Pur. Ventje Sumual — di kampus Universitas Indonesia, Depok, dan di The Habibie Center, Jakarta. Minggu lalu, di Apartemen #2724 Pomontory Circle di San Ramon, Cal, USA, saya berbincang-bincang semalam suntuk dengan Inyiak Sunguik Sjamsir Syarif yang telah menjalani hampir seluruh Sumatera Barat sewaktu mengikuti pemberontakan PRRI ini sebagai orang dekat dengan Bp Mohammad Natsir. Saya sungguh-sungguh mendorong beliau untuk menuliskan pengalaman beliau tersebut agar dapat dibaca oleh generasi demi generasi bangsa Indonesia pada umumnya dan suku bangsa Minangkabau pada khususnya.

Sungguh menarik untuk diperhatikan, bahwa walaupun cakupan aksinya pada taraf awal juga meliputi daerah-daerah Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, serta terkait erat dengan pemberontakan Permesta yang meliputi daerah Sulawesi Utara – namun memang hanya di daerah Sumatera Barat dan terhadap suku bangsa Minangkabau saja dampak kekalahan pemberontakanPRRI ini demikian mendalam. Tidak berkelebihan kiranya jika dikatakan bahwa walaupun pemberontakan PRRI terutama berkenaan dengan masalah politik, yaitu hubungan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dalam rangka proses panjang integrasi nasional di Indonesia, namun masyarakat Minangkabau memandangnya lebih dari itu, yaitu dari perspektif sosio kultural, dengan akibat yang lebih parah, yaitu sampai patah semangat dan berlarut-larut sampai sekarang. . Saya tidak melihat dampak yang sama pada suku bangsa Batak atau suku bangsa Menado yang juga terlibat dalam pemberontakan yang sama.

Sekedar sebagai catatan dapat saya sampaikan bahwa gejala patah semangat berlarut-larut setelah kalah perang ini sama sekali bukanlah gejala baru. Seperti ditulis Kolonel KNIL Soegondo, komando tentara kolonial Hindia Belanda telah mencatat gejala yang sama sewaktu menghadapi Perang Paderi , 1821-1838. Dengan kata lain, gejala patah semangat secara berlarut setelah kalah perang itu adalah refleksi dari masalah kultural yang lebih mendasar. Dalam pengamatan saya secara pribadi, gejala patah semangat tersebut merupakan wujud dari kelemahan mendasar dari tatanan sosial Minangkabau, yang kelihatannya tidak dirancang untuk bersatu, tetapi untuk hidup dalam komunitas kecil-kecil yang saling curiga satu sama lain. Mungkin sekali, gejala patah semangat itu timbul karena tidak yakin akan dibela oleh sanak saudaranya yang lain. [Sangat mirip dengan tatanan sosial dan reaksi orang Arab setelah kalah perang]. Demikianlah, Inyiak Sunguik Syamsir Sjarief menjelaskan bahwa yang paling kejam terhadap PRRI bukanlah ‘tentara Soekarno’ tetapi justru urang awak yang jadi ‘tukang tunjuk’ dan yang menjadi anggota Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR). Saya tahu bahwa yang menjadi anggota OPR ini pada umumnya adalah para preman yang menjadi anggota Pemuda Rakyat, onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI) yang digunakan oleh Kodam III/17 Agustus untuk menghadapi pemberontakan PRRI.

Sudah barang tentu secara pribadi saya merasa sangat tertarik untuk mendalami dimensi-dimensi sosio kultural, sosial politik, serta strategi dan taktik militer dari pemberontakan PRRI ini, bukan saja oleh karena saya ditakdirkan lahir dan menjadi dewasa sebagai seorang warga suku bangsa Minangkabau, tetapi juga oleh karena latar belakang pendidikan saya dalam ilmu pemerintahan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan karena karir saya sebagai perwira TNI-Angkatan Darat, yang selama 16 tahun berturut-turut berdinas di daerah Kodam III/17 Agustus, yang mencakup daerah Sumatera Barat dan Riau (1960-1976). Dapat saya sampaikan bahwa saya menyaksikan dari dekat betapa besar perubahan yang dialami daerah Sumatera Barat antara suasana aman tentram sebelum pecahnya pemberontakan PRRI, yaitu pada tahun 1957 sewaktu saya pulang libur sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada, dan suasana pasca PRRI, antara tahun 1960-1976, sewaktu saya bertugas sebagai perwira staf Kodam III/17 Agustus di daerah Sumatera Barat dan Riau.

Demikianlah, untuk memenuhi rasa keingintahuan saya tersebut, selama sembilan tahun antara tahun 1987-1996 – di sela-sela kesibukan saya sebagai Tenaga Ahli Lemhannas ( 1983-1989) dan sebagai Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara (1989-1999) — saya mengadakan penelitian untuk menyusun disertasi mengenai pemberontakan PRRI ini dan mempertahankannya di depan Rapat Terbuka Senat Guru Besar Universitas Gadjah Mada pada tanggal 25 Agustus 1996, 12 tahun yang lalu. Sebagai saksi sejarah dan sebagai sebuah skrup kecil dalam operasi teritorial pada tahap pasca PRRI, saya sama sekali tidak mempunyai kesukaran dalam mengumpulkan fakta dan data sejarah pemberontakan PRRI serta penumpasannya. Yang jauh lebih sulit adalah mencari rujukan teori dan pendekatan ilmiah yang tepat untuk menjelaskannya. Mengingat demikian banyaknya aspek pemberontakan PRRI ini, adalah jelas bahwa jika kita benar-benar hendak memahami dan memperoleh eksplanasi terhadap pemberontakan PRRI ini, diperlukan suatu pendekatan yang bersifat holistik, bukan pendekatan yang sepotong-sepotong.

Suatu dimensi lain yang layak untuk kita dalami mengenai pemberontakan PRRI ini adalah dimensi hubungan internasionalnya, khususnya peranan Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat, yang telah diungkap secara amat jelas dalam buku Subversion as Foreign Policy oleh suami isteri George McTurnan Kahin dan Audrey Kahin. Saya percaya bahwa bahwa penggalangan intelijen oleh CIA ini – selain oleh karena kurangnya visi strategis oleh para tokoh KDMST — merupakan salah satu faktor penting pecahnya pemberontakan dan kekalahan PRRI ini. Sukar untuk dibantah, bahwa berbaliknya sikap Amerika Serikat dari mendukung PRRI menjadi mendukung Presiden Soekarno dan TNI juga merupakan faktor penting kekalahan PRRI, dengan segala akibat sosio kulturalnya pada warga suku bangsa Minangkabau..

Lagi pula jangan dilupakan suatu akibat tidak langsung dari pemberontakan PRRI ini, yaitu dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, lahirnya Demokrasi Terpimpin, serta berkembangnya PKI, yang kemudian berujung pada rencana kudeta Gerakan 30 September/PKI.

Dengan kata lain, pemberontakan PRRI memang layak didalami, bersisian dengan peristiwa-peristiwa besar nasional lainnya. Juga jangan dilupakan bahwaoleh karena terhadap rencana kudeta Gerakan 30 September/PKI saja sudah berkali-kali didakan seminar, lokakarya, atau sekedar pertemuan, tidak ada alasan mengapa terhadap pemberontakan PRRI ini tidak ada pengkajian serupa.

Hanya ada suatu catatan kecil yang perrlu saya sampaikan, yaitu kecenderungan para sanak kita di Sumatera Barat yang lazim mereduksi peristiwa-peristiwa sejarah nasional yang terjadi di Sumatera Barat menjadi sejarah Sumatera Barat belaka. Lebih kecil lagi, sebagai sekedar sejarah pribadi-pribadi belaka. Saya melihat gejala tersebut sewaktu mengikuti pembahasan tentang sejarah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Oleh karena itu, tidak bosan-bosannya saya mengingatkan bahwa PDRI adalah suatu institusi nasional dan sejarah PDRI adalah bagian dari sejarah nasional. Kali ini saya ingin mengingatkan para sanak semua, bahwa sejarah PRRI adalah bagian dari sejarah nasional, dan dengan merujuk pada buku suami isteri Kahin, sejarah PRRI adalah juga bagian dari sejarah internasional Perang Dingin antara Blok Amerika Serikat dengan Blok Uni Soviet.

Kalau begitu, sambil mendorong Inyiak Sunguik Sjamsir Sjarief dan para sanak lainnya untuk menulis pengalaman lapangan masing-masing sewaktu pemberontakan PRRI, apa tak perlu diselenggarakan suatu Seminar Internasional tentang Pemberontakan PRRI ? Bagaimana kalau kita dorong Dewan Perwakilan Daerah RI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) , Arsip Nasional RI, Departemen Pertahanan serta Markas Besar TNI-Angkatan Darat, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Lembaga Ketahanan Nasional, Pusat Sejarah TNI, Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), tokoh-tokoh sejarah masyarakat Batak dan Menado, termasuk Kolonel Pur Ventje Sumual, dan tokoh senior sejarawan Prof Dr Taufik Abdullah , Prof Dr Salim Said, Prof. Dr RZ Leirissa, serta Dr Audrey Kahin untuk membahas pemberontakan PRRI ini secara holistik ?

Sumber: Milis Rantau Net

About admin

asrama mahasiswa sumatera barat merapi singgalang yogyakarta

Posted on 12 Juni 2008, in Sejarah. Bookmark the permalink. 23 Komentar.

  1. trima kasih atas adanya suatu perkumpulan yang membahas PRRI. saya seorang anak tapanuli merasa tertarik akan komentar atau kajian saudara bahar. pendapat saya memang cocok itu di bahas tapi nga mungkin di tingkat nasional. karena byk pro dan kontra tentang PRRI ini. dan saya juga berpendapat bukan hanya saudara saya yang di padang kena imbas nya, tetapi kami juga orang batak pada umumnya kena juga.dan seperti menjelaskan sedikit kepada saudara bahar, kesalahan yang paling ketara adalah tidak maunya Kol.Maludin Simbolon mengiakan pembumi hagusan kaltex. makanya Amerika serikat berbalik arah ke Soekarno. karena jika memang Kaltex diserang maka Armada ke VII telah siap masuk ke sumatera dengan alasan penyelamatan warga Amerika Serikat dan itulah waktu yang ditunggu-tunggu AS. tapi simbolon tidak mau. dan alasan ini menurut hemat saya adalah kesalahan yamg paling fatal di dalam pemberontakan PRRI. terima Kasih.

  2. R.M.A. Ahmad Said Widodo, A.G.

    Saya adalah seseorang pecinta ilmu-ilmu sosial, terutama ilmu sejarah, filologi, antropologi, etnologi dan arkeologi. Saya juga seorang peneliti dan penulis Sejarah Purwakarta, Subang dan Karawang. Jika ada di antara Anda yang punya informasi tentang arsip-arsip, manuskrip-manuskrip dan peta-peta kuno seputar Purwakarta, Subang dan Karawang tolong hubungi saya. Terimakasih.

  3. he..he…kakek saya dulu seorang komandan blackcat kota padang (Roesly) dia PRRI juga sohibnya daud brueh (aceh). kakek saya meninggal akhir tahun 2000 an, waktu PRRI bergejolak beliau bersama anak buahnya pergi ke daerah kuranji (harimau kuranji). ada 5 bintang yang dimiliki kakek saya (opa) dua diantaranya bintang gerilya sama bintang sukarno.

  4. memang benar sebetulnya PRRI bukan sebuah pemberontakan. tapi tuntutan untuk keseimbangan antara pusat dan daerah daerah.

    sebetulnya APRI lebih leluasa masuk dari palembang (tanpa perlawanan), kalau dari pantai padang tentara APRI dapat perlawanan yang sengit. saya tau cerita itu dari kakek saya juga (opa). makanya saya menilai para pahlawan yang di sumatra selatan pada takut sama APRI.(khianat kecil-kecilan)

    • perompak selat malaka

      APRI dapat leluasa masuk ke palembang dikarenakan masyarakat palembang tidak tau apa yg sedang terjadi alias minim informasi. tentara APRI dr sumsel di palembang justru dibilangi bahwa ada pemberontakan dari gerakan anti-Islam di sumbar. maka dr itu kelompok pejuang Sumsel di palembang tidak mendukung gerakan PRRI. koordinasi yg baik dan solid justru ada di daerah kabupaten2 kecil di sumsel seperti pagaralam,lahat,ogan komering ulu-ilir serta muara enim dll. di daerah pedalaman ini pasukan APRI mendapat perlawanan sengit dr masyarakat sumsel. karena telah satu visi dengan tekad PRRI memerdekakan seluruh sumatera. yg membuat AS berbalik mendukung Soekarno cerita orang2 tua di sumsel khususnya muara enim adalah karena khususnya di wilayah muara enim yg kaya minyak, banyak perusahaan2 asing milik AS yg diserang gerilya oleh PRRI Sumsel. dan saat itu PRRI sumsel mengobarkan semangat Islam dalam berjuang jihad fi sabilillah. sehingga orang2 amerika di STANVAC khawatir apabila PRRI menang, perusahaan2 minyak asing di tanah sumsel khususnya akan didepak. yang membuat pejuang di pedalaman sumsel kendor dan kecewa adalah karena banyak pemimpin gerakan PRRI di sumbar dan sumut tidak konsekwen dan komitmen alias bermain 2 kaki. banyak pengkhianatan2 dr masyarakat sumbar dan sumut sendiri yg mendukung tentara pusat untuk kepentingan sendiri-sendiri. banyak dari mereka yg akhirnya kembali ke pangkuan ibu pertiwi. sehingga akhirnya pejuang2 sumsel harus berjuang di hutan2 rimba sendiri. mengasingkan diri karena enggan ditangkap tentara pusat dan memilih melawan serta hidup di pedalaman. ini yg saya tau dari cerita kakek saya,..

  5. otonomi daerah yang luas merupakan salah satu tuntutan prri, yang baru berhasil setelah gerakan reformasi 1998. meskipun telah mengerahkan kekuatan sipil, militer serta dana dan jiwa yang tidak sedikit, gerakan telah prri gagal, disebabkan kesalahan taktik dan strategi perjuangan yang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi bangsa indoensia saat itu.

  6. banyak yg dituntut dlm pelurusan sejarah PRRI, tapi sedikit sekali yg membuka hubungan antara para pimpinan PRRi dari pihak sipil dengan latar belakang mereka bergabung di PRRI. semisal; apakah yg menjadi dasar perpecahan di antara para tokoh Masyumi, yang sebagian tokohnya mengecam sebagian yang lainnya karena ikut bergabung dengan PRRI?
    masyarakat bisa saja berspekulasi dengan pikirannya, orang bisa ‘melihat’ pistol apabila dikatakan kepadanya ada orang ynag ditembak.
    Wallahu A’lam.. .

    • Asw… kebetulan saya jg nulis skripsi ttg sejarah PRRI di Nagari Paninggahan, Kab. Solok. karena saya pikir sudah masanya skrg kita menulis sejarah versi kaum-kaum tertindas yang ada di daerah-daerah, yang selama ini tidak pernah diungkap kepermukaan.

    • PRRI,,,,, sebenarnya.. ketidak berimbangnya pusat dan daerah//////////// pusat di perkaya daerah,, daerah di miskinkan /,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, asil dari daerah di bawa semua kepusat,, sedangkan inprasruktur di daerah di biarkan begitu saja,,,

    • perlu adanya seminar skala nasional dalam pelurusan sejarah PRRI ini ya pak..?

  7. Ya,
    PRRI dibentuk oleh pemikiran2 jenius dan jauh kedepan, kearah kesejahteraan yang menyeluruh.
    Mengapa saya katakan berpemikiran Jenius dan jauh kedepan?
    Cobalah anda buktikan sendiri!
    Tokoh Pahlawan yang berasal dari Minang tidaklah berasal dari militer!
    Buya Hamka, K.H. agus Salim, Moh.Hatta?
    Mereka semua adalah pemikir dan BUKAN DARI MILITER!
    Hanya Pemerintahan picik yang rakus kekuasaan saja yang memberikan image “Pemberontak”
    terhadap PRRI…

  8. - Latar belakang munculnya PRRI, benar sekali bila ada pendapat yang mengatakan bahwa tidak adanya keseimbangan penyelenggaraan pemerintah pusat dan Daerah. Tetapi saya himbau bagi saudara saya kususnya dari Sumatera Barat jangan lagi berpikir dan berjuang untuk kedaerahan saja, tetapi hendaknya berpikir untuk nasionalisme Indonesia.
    – PRRI itu berkaitan dengan Syafrudin Prawira Negara, dimana ada sebagian orang dari Sumatera Barat yang menginginkan untuk diangkat jadi Pahlawan itu kurang tepat karena Pahlawan Indonesia adalah orang yang berjasa menyatukan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan yang pernah memberontak kepada pemerintah atau ingin memisahkan dari negara Kesatuan Republik Indonesia. Ada enaknya mau jadi Pahlawan ada susah memberontak. Kalau saya menyarankan Lebih baik Ratu Prawira Negara yang pernah menjabat menteri itu yang diangkat jadi Pahlawan, marilah berpikir realistis jangan hanya ambisi yang dikedepankan.
    – Bangsa Indonesia tahu Orang Sumatera Barat itu Pintar-pintar. Pahlawan Nasional dari Sumatera Barat itu sudah banyak yang dapat menunjukkan peran dalam kemerdekaan seperti Muhammad Hatta dll. Nggak usah pemberontak yang memecah belah bangsa diusulkan jadi Pahlawan sekalipun jasanya besar kalau tidak setia berarti dia hanya berjasa dan berjuang untuk dirinya sendiri bukan untuk bangsanya.
    – Untuk kedepan saya berharap peristiwa PRRI tidak pernah lagi ada dan tidak pernah terpikirkan lagi. Sehingga persatuan dan kesatuan bangsa tetap terpelihara……..
    – Saya kebetulan sedang menulis Buku tentang PRRI yang berjudul PRRI sebuah Peristiwa dalam Dimensi Sejarah TNI Angkatan Darat.

    • maaf sedikit menambahkan bpk.ismadi,saya bukanlah orang yang tau banyak tentang sejarah perjuangan prri,tapi sebagai seorang yang hidup dari lingkungan pasca prri tentu merasakan bagaimana betapa terpukulnya rakyat sumatera barat umumnya.,dicap sebagai orang yang kalah dan dimatikan kebebasan bepikirnya.dulunya orang sumbar adalh para pencetak tokoh nasionalis yang berjuang demi kepentingan nasional,bukan demi rakyat sumbar semata.termasuk ide perjuangan prri sendiri yang tak lain demi kepentingan nasional juga. tentu ada baiknya nilai2 sejarah yang telah sengaja dibengkokan ini menjadi runutan kita semua baik dalam skop daerah maupun skop nasional.dan hingga saat ini pikiran orang umum tentang rakyat sumbar adalah seakan akan memponishkan bahwa orang dari sumbar jangan sampai ada yang jadi pemimpin,takut akan terjadi kesalahan kedua kalinya.bukannya mempersalahkan sejarah yang telah terbentuk,tapi sekedar curhat, mohon sarannya pak…dan kalau ada data2 tentang prri juga diposting kesini…terima kasih…

      • angelia sahrini

        setuju eco roca memang sjrh jgn dipandang dr sebeleh saja….akhirnya memang scr yurudis dan obyektif tetap PRRI adlh pemberontak tp kenapa mereka angkat senjata itu juga yg perlu dibahas….aq hnya orng desa yg baru lhr tp aq berpendapat semua itu trjadi krn kepentingan komunis saat itu yg ingin memaksakan ideolooginya di NKRI

  9. Ridho ricardo piliang

    Prri bkan pemberontakan teman tapi tuntutan otonomi daerah . Cobalah disuatu daerah hasil buminya dbgi kepusat tpi pmbangunan dwilayah tdak merata . Rakyat kelaparan . Pasti akan trjadi pemberontakan . Padahal dah banyak orang minang yg berjasa bgi negara ini utk merintis kemerdekaan . Prri hnya ingin pemerintah perhatikan daerah 2 nya yg trtinggal . Bukan memecah belahkan indonesia . Pemerintah yg rakus akan kekuasaan , uang ,korupsi . Tangan besi . Otoriter .

  10. Semua ytc,

    1. Membahas persoalan PRRI/Permesta harus dalam konteks situasi ketika itu.
    2. Apapaun alasannya, memberontak dengan kekerasan terhadap RI Proklamasi
    1945 adalah salah. Seharusnya semua komponen bangsa memperkuat persatuan,
    termasuk dengan mengajukan pendapat melalui jalur-jalur yang legal sebagaimana
    seharusnya kita berbangsa dan bernegara.
    3. Bagi generasi muda adalah perlu mempelajari pandangan bung Hatta terhadap
    pemberontakan PRRI/Permesta yang disampaikan Hatta dalam wawancara beliau
    dengan wartawan Dr. Jasni (Lihat “Bung Hatta Menjawab)”:

    “tiga kali saya memperingatkan Achmad Hosein agar tidak memberontak, tetapi tidak diacuhkan. Mamak sendiri tidak di danga, mamak Sjafruddin dan mamak Simbolon nan di danga.”

    Tetapi Achmad Hosein tetap memberontak dan akibatnya merugikan seluruh orang Minang.

    Salam
    Burhan

  11. Usul aja nih, karena melihat cara pusat menangani PRRI.Dan belum adanya permintaan maaf dari pemerintah dari sampai skarang.( Mengenai ACEH saja pemerintah bisa minta maaf) Saya usulkan :
    “COPOT NAMA ( BAIK NAMA JALAN, NAMA GEDUNG ) YANG BERNAMA : SOEKARNO – AHMAD YANI DAN A.H NASUTION DI SELURUH SUMBAR”.

  12. Semua ytc,

    Komentar sdr. Sugi berupa tindakan balasan terhadap sikap pemerintah dalam menangani masalah PRRI. Sedangkan tulisan Dr. Saafroedin Bahar mengajak kita melakukan studi mendalam terhadap PRRI, bukan tindakan balasan. Dahulukanlah kajian mendasar terhadap PRRI !

    Saya baru kali ini membaca tulisan Dr. Saafoedin Bahar, dan saya menggarisbawahi pendapat beliau sbb : “Saya percaya bahwa bahwa penggalangan intelijen oleh CIA ini – selain oleh karena kurangnya visi strategis oleh para tokoh KDMST — merupakan salah satu faktor penting pecahnya pemberontakan dan kekalahan PRRI ini. Sukar untuk dibantah, bahwa berbaliknya sikap Amerika Serikat dari mendukung PRRI menjadi mendukung Presiden Soekarno dan TNI juga merupakan faktor penting kekalahan PRRI, dengan segala akibat sosio kulturalnya pada warga suku bangsa Minangkabau..”

    Blok Barat maupun Blok Timur tentu saja setiap saat berusaha agar politik Indonesia sejalan dengan politik mereka, atau dengan kata lain, agar Indonesia mengikuti saja startegi mereka masing-masing. Karena itu, yang sangat berguna dalam menarik pelajaran dari pengalaman bangsa di masa lampau adalah kajian tentang “visi strategis” kita, seperti yang dikemukakan oleh Dr. Saafoedin Bahar. Visi strategis para tokoh KDMST yang salah itulah yang sebenarnya sejak awal menentukan bahwa PRRI pasti kalah !

    Salam
    Burhan

    • Menarik sekali…kalau mengikuti sejarah PRRI….Menurut saya…suara PRRI adalah suara hati nurani rakyat…yang akhirnya dapat terealisasi dengan gerakan reformasi 1998…yaitu ketidak puasan daerah terhadap pemerintah pusat yang terlalu ego…dan disayangkan secara realisasinya…otonomi yang di jalankan sekarang masih belum sesuai harapan karena kekuatiran pusat terhadap perkembangan otonomi itu sendiri

    • Sdr. Burhan Azis, yang saya maksud cara penyelesaian PRRI oleh Soekarno-A. Yani-Nasution, padahal M. Hatta telah berjanji akan ke Sumbar utk menyelesaikan setelah kembali dari luar.
      Usulan saya sebagai “shock therapi”, agar suatu gerakan perjuangan jangan dianggap sebagai pemberontakan dalam pandangan suatu rejim berkuasa pada saat itu, masih berlaku dalam konteks kekinian.”shock therapi” upaya pelurusan sejarah.Seperti yg disampaikan Sdr. Wandi917 dan Sdr. Ki Azar.
      Kajian mendasar, saya kira sudah jelas.Adanya PRRI bukanlah cuma satu alasan, bermacam-macam, sesuai alasan masing-masing Pihak yang menyatakan ikut dalam PRRI misal : Dari militer daerah punya alasan sendiri, sebagian rakyat Sumbar, Sumut, Riau, Sumsel punya alasan sendiri, orang politik punya lasan sendiri ( terutama Masyumi, hubungannya PKI dan kedekatannya dengan Soekarno.Pada intinya hampir mirip gerakan 1998 sebagaimana disampaikan Sdr. Wandi917.

  13. SUATU HARI KEBENARAN AKAN TERUNGKAP…… MENGENAI PRRI, ADALAH SEKELOMPOK PEMIKIR YANG MENGINGINKAN KEADILAN,BUKAN PEMBERONTAKN,MESKIPUN SAYA BUKAN ORANG SUMBAR TETAPI SAYA IKUT SIMPATI. DAN SANGAT YAKIN DIKTATOR,DI REPUBLIK INI HARUS DI ADILI MESKIPUN SOEKARNO SOEHARTO SUDAH MENINGGAL…AGAR ANAK CUCU KITA TAHU..SEBERAPA BESAR ANTARA JASA DAN DOSA MEREKA TERHADAP BANGSA DAN NEGARA.

  14. PRRI adalah suatu bentuk tindakan tututan keseimbangan hasil bumi pusat dan daerah, atau istilahnya otonomi, dikarenakan pemerintahan orde lama tidak tahu, atau tidak mengerti apa itu otonomi, maka disangkanya ,memberontak
    Tapi sekarang ini otonomi malah diberikan kesetiap daerap tanpa kontak senjata.
    menurut hemat saya cara pikir PRRI Jauh lebih maju, maksudnya PRRI, Minta otonomi tahun 1960, Pemerintah baru melaksanakannya setelah Reformasi, 2008,
    jadi 2008 – 1960 = 48 th selesih,
    PRRI sudah berpikir otonomi 48 th yang lalu demi kemajuan NEGARA INDONESIA
    Supaya tingkat kesejahteraan bangsa indonesia lebih makmur dari pada negara ASEAN.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: