“Bundo Kanduang Ibu Sejati Adat Minangkabau”


Oleh: Yane

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Bundo Kanduang Ibu Sejati Menurut Adat Minangkabau dengan baik.

Salawat dan salam saya kirimkan kepada nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari dunia yang tak berilmu sampai seperti sekarang yang penuh dengan ilmu pangetahuan.

Bundo kanduang Ibu Sejati Menurut Adat Minangkabau yang memiliki sifat-sifat keibuan kepemimpinan dan peranan yang penting di minangkabau. Menurut adat minangkabau ibu adalah tempat menarik tali keturunan yang disebut matrilineal.

Manusia yang dilahirkan oleh kaum ibu trutama laki-laki, menghormati dan memuliakan ibu tanpa pandang bulu. Kedudukan wanita mendapat tempat yang mulia dan terhormat di minangkabau.

Penulis sadar bahwa makalah ini belum sempurna, maka dari itu kritik dan saran yang membangun penulis harapkan dari pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Dalam kehidupan sehari-hari seorang ibu mempunyai peranan terpenting dalam keluarga. Dikebudayaan Minangkabau ada seorang ibu yang sangat dicintai masyarakat minang itu sendiri yaitu Bundo Kanduang.

Kedudukan Bundo Kanduang di Minangkabau sangatlah dihormati. Baik oleh warga nagari maupun di seluruh masyarakat minangkabau yang didaerah rantau.

Dalam makalah ini penulis mengangkat judul “Bundo Kanduang Ibu Sejati Adat Minangkabau” dimana seperti yang kita ketahui untuk saat ini penerapan ajaran dari Bundo Kanduang sudah tidak lagi terapkan dan tidak dihormati, dimuliakan sebagaimana mestinya.

Dengan diangkatnya judul ini, penulis ingin memaparkan bagaimana kendala dan lunturnya budaya Minangkabau dikalangan orang minang.

2. Rumusan masalah

• Bagaimana peranan Bundo Kanduang
• Bagaimana pakaian Bundo Kanduang menurut adat Minangkabau?
• Bagaimana kedudukan Bundo Kanduang dalam adat Minangkabau?
• Apa sifat-sifat yang miliki oleh Bundo Kanduang?

3. Tujuan

Dengan adanya makalah ini penulis mengharapakan agar Bundo Kanduang dihargai sebagaimana mestinya, tidak hanya dijadikan sebuah simbol dan dapat dijadikan contoh oleh wanita tidak hanya di Minangkabau tapi seluruh wanita di Indonesia. Supaya wanita tidak selalu dilecehkan dan direndahkan oleh laki-laki.

BAB II ISI

A. Peranan Bundo Kanduang

Seorang ibu atau seorang wanita di Minangkabau memainkan peranan yang sangat penting. Seorang ibu akan meneruskan kelangsungan sebuah suku yang akan menghasilkan individu-individu baru yang memiliki pribadi mulia dan diharapkan dapat mengharumkan nama kampung dan atas nama Minangkabau.

Jika dalam satu keluarga tidak ada lagi perempuan, keluarga itu dianggap sudah kehilangan keturunan. Ini bermakna tidak ada lagi yang akan melanjutkan keturunan karena sistem keturunan berdasarkan perempuan.

Makna Bundo Kanduang mengacu pada perempuan Minangkabau yang mempunyai:
1. Memahami adat sopan santun
2. Mengutamakan budi pekerti
3. Memelihara harga diri
4. Memahami agama islam dan
5. Memelihara diri dan masyarakatnya dari desa.

Ibu Sebagai Pendidik Anak

Hubungan Ibu dan Anak ialah hubungan secara alamiah. Ia mempunyai hubungan yang sangat erat sekali dan peranan ibu adalah menjaga anak dalam menjaga kandungan, melahirkan anak, membesarkan anak dan seterusnya mendidik anak untuk menjadi anak yang berguna. Ibulah yang akan mendidik anak dalam budi bahasa dalam aspek adat dan agama. Biasanya ibu melakukan pendidikan melalui cerita sebelum tidur.

Pada umur 6 tahun anak diminta mempelajari agama islam di surau. Anak-anak perempuan akan mendapat pengawasan yang amat rapi dari ibu terutama cara bersopan santun, cara bergaul, cara bercakap, dan cara berpakaian. Biasanya pendidikan seperti ini dilakukan turun temurun. Pendidikan adat dan agama diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya.

Peranan Bundo Kanduang menjadi hiasan dalam kampung halamannya. Hiasan ini bukanlah berdasarkan rupa parasnya tapi pada kepribadiannya sebagai perempuan.

Seperti pepatah minang berikut :

Bundo Kanduang limpapeh rumah nan gadang
Sumarak dalam nagari
Hiasan dalam kampuang
Nan tahu malu jo sopan
Kamahias kampuang jo halaman
Sarato koto dan nagari
Sampai ka balai musajik
Pasak tiang nan kokoh

Seorang Ibu di Minangkabau mempunyai kewajiban sebagai pemimpin dalam rumah tangga dan kaumnya antara lain:

• Manuruik alua nan lurui
• Manampuah jalan nan pasa
• Mamaliharo harato pusako
• Mamaliharo anak kamanakan

Dengan demikian kewajiban ibu adalah menaati semua peraturan dan ketentuan adat maupuan peraturan dalam negeri yang telah diputuskan dengan mufakat oleh para pemimpin maupun pemangku adat. Sebagai contoh dalam pelaksanaan perkawinan, kematian dan bidang kemasyarakatan lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari hendaknya selalu dilandasi oleh alur dan patut, yaitu melalui jalan yang dibenarkan oleh adat dan agama.

B. Pakaian Bundo Kanduang menurut adat Minangkabau

Pakaian Bundo Kanduang mempunyai bermacam-macam variasi, seperti yang terdapat di beberapa daerah Minangkabau, namun mempunyai persamaan yang merupakan satu kesatuan.

Adapun pakaian Bundo Kanduang menurut adat yang lazim yaitu:
1. Tengkuluk

Yaitu bagian kepala seorang wanita yang telah diangkat sebagai Bundo Kanduang pada waktu menghadiri upacara adat harus ditutup. Penutup kepala ini disebut tengkuluk yang bentuknya menyerupai tanduk dan terbuat dari selendang tenunan Sikek.

2. Baju Kurung

Yaitu baju yang dipakai pada upacara adat yang melambangkan bahwa Ibu tersebut terkurung oleh undang-undang yang sesuai dengan agama dan adat minangkabau. Baju kurung ini diberi hiasan sulaman benang emas dengan motif bunga kecil yang disebut tabua yang melambangkan kekayaan Minangkabau.

3. Kain Sarung atau Kodek

Yaitu kain yang dibuat dari songket atau tenunan Pandai Sikek Padang Panjang. Kain sarung dipakai sebatas mata kaki melambangkan bahwa Bundo Kanduang harus punya sikap malu, kesopanan, ketaatan beragama tapi mudah melangkah.

4. Selendang

Selendang disalempangkan diatas bahu kanan ke bawah tangan kiri. Yang melambangkan tanggung jawab yang dibebankan di pundak Bundo Kanduang yang harus dilaksanakan dengan baik.
Perlengkapan lainnya sandal, kalung dan gelang

C. Kedudukan Bundo Kanduang Dalam Adat Minangkabau

Kekerabatan matrilineal adalah kekerabatan yang garis keturunan berdasarkan garis keturunan Ibu. Seorang anak selalu mengikuti garis keturunan Ibu, Bukan menurut bapak. Ia akan membina suku sesuai dengan suku ibunya. Dalam kekerabatan matrilineal, harta pusaka dikuasai oleh kaum perempuan, laki-laki hanya sebagai pelindung dan pemelihara harta pusaka itu. Penggunaannya, diatur oleh perempuan, sedangkan laki-laki tidak punya hak untuk menggunakannya. Jika terjadi perceraian maka laki-laki harus pergi dari rumah, dan perempuan tinggal di rumah. Harta pusaka tidak boleh diperjual belikan dan harta pusaka boleh digadaikan hanya dengan alasan yang sangat penting.

Sawah dan ladang merupakan sumber ekonomi, yang pemanfaatannya diutamakan untuk keperluan wanita karena wanita lebih lemah daripada laki-laki. Sebaliknya kaum laki-laki Minangkabau di beri tugas mengurus dan mengawasi sawah ladang untuk kepentingan bersama karena laki-laki menjadi tulang punggung bagi wanita, namun tidak berarti bahwa kaum laki-laki tidak dapat menikmati hasil atau manfatnya sama sekali. Sesuai dengan sifatnya wanita yang pandai berhemat dan pandai mengatur ekonomi maka yang menyimpan hasil sawah ladang dipercayakan kepada wanita atau Bundo Kanduang.

Menurut adat Minangkabau, segala sesuatu yang akan dilaksanakan dalam lingkungan kaum dan persukuan selalu melalui musyawarah. Dalam musyawarah tersebut wanita mempunyai hak suara dan pendapat yang sama dengan laki-laki. Bahkan suara dan pendapat wanita menentukan lancar atau tidaknya pekerjaan tersebut. Misalnya dalam upacara pernikahan belum dapat dilaksanakan jika belum mendapat persetujuan dari kaum wanita atau kaum ibu dan juga kegiatan lainnya.

Kehadiran seorang ibu sebagai Bundo Kanduang merupakan contoh dan teladan bagi bagi masyarakatnya, bagi kaumnya, dan bagi rumah tangganya. Keutamaan seorang ibu sebagai Bundo Kanduang ialah pada budinya kepribadiannya, dan pada kemampuannya memberikan contoh pada masyarakat.

D Sifat- Sifat Yang Dimiliki Bundo Kanduang

1. Dalam pergaulan sehari-hari Bundo Kandung harus mencerminkan sifat-sifat baik dalam berkata-kata bertingkah laku serta benar dalam perbuatan. Dia harus menjauhi sifat pendusta, dan selalu menegakkan kebenaran.

2. Mendidik lingkungannya dengan memberi contoh, perbuatan yang jujur, baik dalam kata-kata, berbicara maupun bertindak.

3. Dapat mengetahui dan membedakan hal yang benar dan salah. Oleh karena itu seorang ibu sekurang-kurangnya harus memiliki pengetahuan agama, pendidkan maupun bidang kewanitaan yang sangat berguna dalam berumah tangga.

4. Seorang wanita harus pandai berbicara arif dan bijaksana. Kepandaian berbicara sangat perlu bagi pendidikan di dalam rumah tangga, keluarga maupun di lingkungan kaumnya karena merupakan sarana untuk memberikan bimbingan kepada masyarakat.

5. Mempunyai sifat malu dalam dirinya sehingga mencegah perbuatan yang melanggar adat dan menyimpang dari hukum yang berlaku. Rasa malu merupakan benteng bagi wanita karena dapat menjauhkan sifat dan perbuatan tercela.

Menurut adat minangkabau sifat malu merupakan peran utama uama dalam kehidupan kaum wanita. Sebaliknya jika rasa malu akan membahayakan kehidupan rumah tangga bahkan membahayakan masyarakat.

Selain kelima sifar tersebut, seorang wanita harus dapat menajaga nama baik agar tetap disebut wanita sejati. Bundo Kanduang harus berhati-hati dalam tingkah laku dan perbuatan, misalnya: Dalam pergaulan dengan laki-laki, cara berpakaian, minum, berbicara dan sebagainya.

Mengingat pentingnya kedudukan wanita di dalam kehidupan, maka anak perempuan sangat diutamakan, namun bukan berarti bahwa adat Minangkabau tidak memerlukan keturanan laki-laki. Keduanya merupakan dua kesinambungan dan saling mendukung.

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan

Setelah mempelajari Bundo Kanduang Ibu Sejati Menurut adat Minangkabau yang berdasarkan pada peranan, kedudukan, sifat dan pakaian Bundo Kanduang kita dapat memahami bahwa betapa pentingnya Bundo Kanduang dalam kebudayaan Minangkabau. Bundo Kanduang merupakan figur Ibu sejati yang sangat diharapkan dan sangat berperan dalam masyarakat Minangkabau.

Bundo Kanduang diharapkan mampu mengelola terutama anak kemenakan terutama dalam mengembangkan potensi yang dimiliki anak kemenakan. Dan juga bertanggung jawab untuk menanamkan filosofi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah bahwa kebenaran berlandaskan adat dan agama islam haruslah tetap dipertahankan dan dipakai sebagai tuntutan dalam menjaga kelangsungan hidup berkaum dan didalam masyarakat Minangkabau dan masyarakat luas.

2. Saran

Diharapkan kepada wanita dan semua masyarakat Minangkabau agar memahami makna dan peranan wanita sebagai Bundo Kanduang dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hargai dan hormati wanita agar tak ada lagi perbedaan antara wanita dan laki-laki agar hubungan kekerabatan dan silahturahmi selalu terjaga antara masyarakat Minang maupun dengan masyarakat lainnya agar kita tetap satu kesatuan.

DAFTAR PUSTAKA

About these ads

Tentang admin

asrama mahasiswa sumatera barat merapi singgalang yogyakarta

Posted on 13 Agustus 2008, in Makalah Mersi-BK 2008. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. bagamana cara menjalankan ritual pertikahan seorang wanita yang meminang seorang pria

  2. bagimana cara menjalankan ritual pernikahan seorang wanita yang meminang seorang pria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: