PERBEDAAN BAHASA MINANG ANTAR DAERAH DI SUMBAR DAN PERBEDAANNYA DENGAN BAHASA MELAYU


OLEH: ARIF NURDIN SEBAGAI SYARAT CALON WARGA ASRAMA MAHASISWA MERAPI SINGGALANG TAHUN 2008

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada ALLAH.SWT. atas segala rahmat-Nya sehingga setelah melalui proses, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.

Makalah ini menceritakan tentang sejarah bahasa minang,perbedaan bahasa minang dalam suatu daerah dengan daerah lain di wilayah Minang Kabau, dan juga perbedaan bahasa Minang dengan bahasa melayu/Indonesia

Pertama-tama perlu kami sampaikan ugapan terima kasih kepada masyarakat asrama merapi singgalang yang telah banyak memberikan masukan kepada kami. Karna kami akui bahwa sesempurna apapun karya manusia pasti ada kekurangannya. Dan yang sempurna hanyalah ALLAH.

Penghargaan yang setinggi-tingginya kami sampaikan kepada semua pihak dan sumber yang membantu tersusunnya makalah ini dan semoga Tuhan YME.mencatatnya sebagai amal ibadah. Amin

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak menuju arus globalisasi, bahasa Indonesia dihadapkan pada persoalan yang semakin rumit dan kompleks. Pertama, dalam hakikatnya sebagai bahasa komunikasi, bahasa minang dituntut untuk bersikap luwes dan terbuka terhadap pengaruh asing. Hal ini cukup beralasan, sebab kondisi zaman yang semakin kosmopolit dalam satu pusaran global , bahasa minsng harus mampu menjalankan peran interaksi yang praktis antara komunikator dan komunikan. Artinya, setiap peristiwa komunikasi yang menggunakan media bahasa minang harus bisa menciptakan suasana interaktif dan kondusif, sehingga mudah dipahami dan terhindar dari kemungkinan salah tafsir.

Kedua, dalam kedudukannya sebagai bahasa urang awak, bahasa minang harus tetap mampu menunjukkan jati dirinya sebagai milik orang minang yang beradab dan berbudaya di tengah-tengah pergaulan antar bangsa di dunia. Hal ini sangat penting disadari, sebab modernisasi yang demikian gencar merasuki sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dikhawatirkan akan menggerus jatidiri minang yang selama ini kita banggakan dan kita agung-agungkan. “Ruh” heroisme, patriotisme, dan nasionalisme yang dulu gencar digelorakan oleh para pendahulu negeri harus tetap menjadi basis moral yang kukuh dan kuat dalam menyikapi berbagai macam bentuk modernisasi di segenap sektor kehidupan. Dengan kata lain, bahasa minang sebagai bagian dari jatidiri minang harus tetap menampakkan kesejatian dan wujud hakikinya di tengah-tengah kuatnya arus modernisasi dan perbedaan bahasa . untuk itu kami mencoba membahas tentang sisi dari bahasa minang, perbedaan bahasa minang dengan bahasa melayu ataupun bahasa minang di daerah yang satu dengan daerah lainnya .

2. Tujuan

Makalah ini dibuat dengan berbagai tujuan. Secara teoritis, makalah ini merupakan syarat untuk menjadi anggota baru Asrama Mahasiswa Merapi Singgaang 2008 yang mana merupakan bagian dari pelbagai syarat yang diberikan guna menjadi anggota baru Asrama Mahasiswa Merapi Singgalang tahun 2008.
Namun secara tidak langsung, penulis bermaksud mengajak pembaca dan pendengar untuk memahami isi makalah ini dan sekiranya dapat menjalankan beberapa amanat yang terkandung dalam makalah ini. Penulis berharap agar pembaca, pendengar, dan bahkan penulis sendiri untuk dapat melestarikan bahasa Minang yang terancam akan kepunahan oleh pengaruh budaya lain dan kurangnya kesadaran pada diri kita semua untuk menjaga milik kita sendiri, hasil dari pemikiran pendahulu kita, dan bahkan merupakan identitas kita semua sebagai masyarakat Minangkabau. Jika kita melupakan hal ini maka secara tidak langsung kita telah melupakan dari mana kita berasal dan melupakan pendahulu kita.

BAB II ISI

Bahasa Minangkabau atau Baso Minang adalah salah satu anak cabang bahasa Austronesia yang dituturkan khususnya di wilayah Sumatra Barat, bagian barat propinsi Riau serta tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia.

Terdapat dua kontroversi mengenai Bahasa Minangkabau dengan bahasa Melayu. Sebagian pakar bahasa menganggap bahasa ini sebagai dialek Melayu, karena banyaknya kesamaan kosakata dan bentuk tuturan didalamnya. Sedangkan yang lain justru beranggapan bahasa ini merupakan bahasa mandiri yang berbeda dengan Melayu.

Daerah sebar tutur

Secara historis, daerah sebar tutur Bahasa Minangkabau meliputi bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Pagaruyung yang berpusat di Batusangkar, Sumatra Barat. Batas-batasnya biasa dinyatakan dalam ungkapan Minang berikut ini:

Dari Sikilang Aia Bangih
hingga Taratak Aia Hitam.
Dari Durian Ditakuak Rajo
hingga Sialang Balantak Basi.

Sikilang Aia Bangih adalah batas utara, sekarang di daerah Pasaman Barat, berbatasan dengan Natal, Sumatera Utara. Taratak Aia Hitam adalah daerah Bengkulu. DurianDitakuak Rajo adalah wilayah di Kabupaten Bungo, Jambi. Yang terakhir, Sialang

Balantak Basi adalah wilayah di Rantau Barangin, Kabupaten Kampar, RiausekarangBahasa Minangkabau juga menjadi bahasa lingua franca di kawasan pantai barat Sumatra Utara, bahkan menjangkau jauh hingga pesisir barat Aceh. Di Aceh, penutur bahasa ini disebut sebagai Aneuk Jamee. Selain itu, bahasa Minangkabau juga dituturkan oleh masyarakat Negeri Sembilan, Malaysia yang nenek moyangnya merupakan pendatang asal ranah Minang sejak berabad-abad silam.

Dialek

Dialek bahasa Minangkabau sangat bervariasi, bahkan antar kampung yang dipisahkan oleh sungai sekalipun sudah mempunyai dialek yang berbeda. Perbedaan terbesar adalah dialek yang dituturkan di kawasan Pesisir Selatan dan dialek di wilayah Muko-Muko, Bengkulu.

Selain itu dialek bahasa Minangkabau juga dituturkan di Negeri Sembilan, Malaysia dan yang disebut sebagai Aneuk Jamee di Aceh, terutama di wilayah Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan.

Berikut ini adalah perbandingan perbedaan antara beberapa dialek antara bahasa minang antara suatu daerah dengan daerah lain di minang kabau dan dengan bahasa melayu/Indonesia:

Bahasa Indonesia/ Bahasa Melayu: Apa katanya kepadamu?
Bahasa Minangkabau “baku” : A keceknyo jo kau?
Padang Panjang : Apo keceknyo ka kau?
Pariaman : A kate e bakeh kau?
Ludai : A kecek o ka rau?
Sungai Batang : Ea janyo ke kau?
Kurai : A jano kale gau?
Kuranji : Apo kecek e ka kau?

Untuk komunikasi antar penutur bahasa Minangkabau yang sedemikian beragam ini, akhirnya dipergunakanlah dialek Padang sebagai bahasa baku Minangkabau atau disebut Baso Padang atau Baso Urang Awak. Bahasa Minangkabau dialek Padang inilah yang menjadi acuan baku (standar) dalam menguasai bahasa Minangkabau.

Contoh
Bahasa Minangkabau: Sarang kayu di rimbo tak samo tinggi, kok kunun manusia

Bahasa Indonesia: Pohon di rimba tidak sama tinggi, apa lagi manusia

Bahasa Minangkabau: Co a koncek baranang co itu inyo
Bahasa Indonesia : Dia berenang seperti katak
Bahasa Indonesia : Tidak boleh membuang sampah di sini!
Bahasa Minangkabau: A tu nan ka karajo ang?
Bahasa Indonesia : Apa yang akan kamu kerjakan?

Karya sastra

Karya sastra tradisional berbahasa Minang memiliki persamaan bentuk dengan karya sastra tradisional berbahasa Melayu pada umumnya, yaitu berbentuk pantun, cerita rakyat, hikayat nenek moyang (tambo) dan adat-istiadat Minangkabau. Penyampaiannya biasanya dilakukan dalam bentuk cerita (kaba) atau dinyanyikan (dendang).

Perbandingan dengan Bahasa Melayu/Indonesia

Orang Minangkabau umumnya berpendapat banyak persamaan antara Bahasa Minangkabau dengan Bahasa Melayu/Indonesia. M. Rusli dalam Peladjaran Bahasa Minangkabau menyebutkan pada pokoknya perbedaan antara Bahasa Minangkabau dan Bahasa Indonesia adalah pada perbedaan lafal, selain perbedaan beberapa kata.

Contoh-contoh perbedaan lafal Bahasa Melayu/Indonesia dan Bahasa Minangkabau adalah sebagai berikut:
• ut-uik, contoh: rumput-rumpuik
• us-uih, contoh: putus -putuih
• at-aik, contoh: adat-adaik
• al/ar-a, contoh: jual-jua, kabar-kaba
• e-a, contoh: beban-baban
• a-o, contoh: kuda-kudo
• awalan ter-, ber-, per- menjadi ta-, ba-, pa-. Contoh: berlari,termakan, perdalam (Bahasa Melayu/Indonesia) menjadi balari, tamakan,
• padalam (Bahasa Minangkabau)

“Padang Anyuik”. Ini adalah istilahsaya bagi mereka yang orang tuanya perantau asal Minang, tetapi anak2nya tidak lancar lagi bicara Minang. Mereka bilang kalau orang tuanya lagi marah di rumah, tetap saja marah pakai bahasa Minang. Tetapi tidak tahu kenap, sejak dulu saya tetap tidak bisa bicara bahasa Minang dengan “Padang Sasek”, istilah saya bagi orang non Muslim yang kebetulan lahir, besar atau pernah lama di

Ranah Minang / Riau. Didaktika bahasa minang: PERSOALAN RAGAM DAN KONOTASI BAHASA
Bahasa adalah sistem lambang bunyi, dikeluarkan oleh alat ucap dan bersifat konfensional. Pengertian defenisi bahasa di atas dapat kita pahami bahwa bahasa adalah sebuah produk kebudayaan suatu masyarakat didasarkan situasi dan kondisi pemaknaan dan disepakati secara bersama oleh masyarakat lainnya dalam satu lingkup kebudayaan. Kebebasan memaknai sesuatu oleh suatu kelompok masyarakat dibatasi dengan kesepakatan bersama dalam pemakaiannya, jadi bisa dikatakan bahwa sesuatu yang dikategorikan dengan bahasa sangat bergantung pada kesepatakan dari masyarakat penuturnya.

Perkembangan pola pikir serta meningkatnya kebutuhan hidup manusia akan kebutuhan-kebutuhan primer maupun sekunder, yang sudah barang tentu banyak menghadirkan perubahan-perubahan, merupakan faktor utama yang melatarbelakangi perubahan suatu bahasa. Bahasa-bahasa lama yang dulu banyak dipergunakan, lambat laun ditinggalkan oleh masyarakat penuturnya, dan pada akhirnya hilang, digantikan dengan bentuk bahasa lainnya. Akibat yang ditimbulkan dari perkembangan tersebut tidak saja berpengaruh pada jumlah -apabila didasarkan ata kuantitas- penutur, namun juga terjadi pergeseran
pada nilai-nilai normatif yang terkandung dalam adat istiadat, oleh masyarakat penutur bahasa tersebut.

Bahasa Minangkabau sebagai salah satu bentuk bahasa etnik, bukan tidak mengalami perubahan, atau yang lebih tepat apabila kita namai dengan krisis eksistensional. Di tengah-tengah masyarakat penuturnya, yang berjumlah lebih kurang empat belas juta jiwa tersebut, bahasa Minangkabau cenderung dikesampingkan atau dinomorduakan. Hal tersebut terjadi tak lain karena sebagian besar penutur bahasa Minangkabau merasa “minder” apabila berbahasa Minang.mungkin bisa lancar dengan bahasa gaulnya atau membuat ketawa para pendengarnya Alhasil, perkembangan bahasa Minang kini, turut mempengaruhi pola hidup serta pola kebudayaan masyarakat Minang itu sendiri.

RAGAM BAHASA MINANGKABAU

Dalam Bahasa Minang terdapat empat ragam bahasa, yang mempengaruhi dan sangat bergantung pada situasi dan kondisi pada saat bahasa tersebut akan dipergunakan. Keempat ragam bahasa tersebut, antara lain
• . Ragam Bahasa Adat,
• . Ragam Bahasa Surau,
• . Ragam Bahasa Parewa,
• . Ragam Bahasa Biasa.

Ragam bahasa adat, biasanya banyak dipergunakan dalam kegiatan-kegiatan adat. Dalam ragam ini mengandung, petatah petitih, pantun adat, mamangan dan bentuk-bentuk bahasa kias lainnya. Ragam bahasa ini tertuang dalam pidato adat –pasambahan– para penghulu, ninik mamak, serta tokoh-tokoh adat lainnya.

“…di awal kato nan sapatah, menjadi ujuik jo makasuik, nan sarapak papeknyolah. Beliau nan hadir di ateh rumah nanko. Indak dibilang ka diator, hanyo pambilang ka paatok, pambilang pamuliakan sambah…”

Ragam bahasa Surau, merupakan suatu bentuk bahasa yang banyak dipergunakan oleh para ulama. Ragam ini dapat ditemui dalam setiap aktivitas keagamaan di surau. Perbedaannya dengan ragam bahasa adat, ragam bahasa surau ini banyak mengandung ajaran-ajaran agama, dan juga banyak dipengaruhi unsur-unsur serapan dalam bahasa arab.

“…sesuatu barang, nan kito tamui secaro indak sengajo, itu hukumnyo dalam islam adalah subhat. Artinyo labiah dakek kepado haram dari halalnyo. Andaikato suatu saat kito menemukan urang nan punyo barang tersebut, heloklah kito batarus terang kepadonyo, mintak ke ridhoan urang tasabut, Isnya Allah, Tuhan akan mengampuni doso kito…”

Ragam Bahasa ketiga yakni, ragam bahasa parewa. Ragam bahasa ini dipergunakan oleh kaum muda (parewa), dalam berkomunikasi antar sesama. Ragam bahasa ini memiliki ciri-ciri, antara lain: bahasanya sedikit kotor, kasar, dan tak jarang juga muncul bahasa-bahasa sindiran.

“…apo nan ang baok tu?” “tep oto, sia kiro-kiro nan namuah mambalinyo, yo?”“tep oto sia nan ang cilok tu, angku lai, ndak tapikia sansai urang tuo manggadangkan ang!”

Ragam bahasa yang keempat, yakni, ragam biasa, atau juga bisa disebut sebagai bahasa Minang umum. Dikatakan biasa karena, ragam ini biasa dipergunakan oleh masyarakat Minang dalam bertutur atau berkomunikasi. Ciri khas dari ragam ini, yakni tidak kentaranya dialek yang dipergunakan oleh si penutur bahasa Minang. Arti yang lebih implisit dari kondisi ini adalah ragam inilah yang sering dipergunakan oleh orang Minang (dari berbagai daerah) dalam bekomunikasi antar sesama orang Minang, walau pada prinsipnya mereka berbeda daerah dan dialek.

“ka pai kama angku kini?” “ambo ka pai ka rumah buya, ado paralu jo buya.” “apo makasuik ka rumah buya, tuh”“indak ado, doh, cuman ambo dulu pernah banazar, kini ambo ka mambayianyo” konotasi bahasa bur dilarang diucapkan untuk kondisi ini, karena jika aturan itu dilanggar dipercaya akan ada balasan yang setimpal bagi yang mengatakannya, saat itu juga.

Demikianlah ragam dan konotasi bahasa yang terdapat dalam bahasa Minangkabau. Saat ini, sesuai dengan perubahan zaman, bahasa Minangkabau berkembang ke arah yang tidak lagi memandang aturan adat tradisi. Oleh karena itu, masalah ini sudah sepatutnya mendapat perhatian yang lebih serius, mengingat perkembangan generasi muda Minang saat ini telah jauh dari norma-norma budaya Minangkabau tersebut. Bahasa adalah cermin sebuah bangsa, baik dan buruknya.

PERBANDINGAN BAHASA MINANG DENGAN BAHASA MELAYU/INDONESIA

Orang Minangkabau umumnya berpendapat banyak persamaan antara Bahasa Minangkabau dengan Bahasa Melayu/Indonesia. M. Rusli dalam Pelajaran Bahasa Minangkabau menyebutkan pada pokoknya perbedaan antara Bahasa Minangkabau dan Bahasa Indonesia adalah pada perbedaan lafal, selain perbedaan beberapa kata. Bahasa-bahasa lama yang dulu banyak dipergunakan, lambat laun ditinggalkan oleh masyarakat penuturnya, dan pada akhirnya hilang, digantikan dengan bentuk bahasa lainnya. Akibat yang ditimbulkan dari perkembangan tersebut tidak saja berpengaruh pada jumlah -apabila didasarkan ata kuantitas- penutur, namun juga terjadi pergeseran pada nilai-nilai normatif yang terkandung dalam adat istiadat, oleh masyarakat penutur bahasa tersebut.

Contoh-contoh perbedaan lafal Bahasa Melayu/Indonesia dan Bahasa Minangkabau adalah sebagai berikut;
• ut-uik, contoh: rumput-rumpuik
• us-uih, contoh: putus –putuih
• at-aik, contoh: adat-adaik
• al/ar-a, contoh: jual-jua, kabar-kaba

• a-o, contoh: kuda-kudo

• awalan ter-, ber-, per- menjadi ta-, ba-, pa-. Contoh: berlari, termakan, perdalam (Bahasa Melayu/Indonesia) menjadi balari, tamakan, padalam (Bahasa Minangkabau)

BAHASA MELAYU/ INDONESIA+MINANG

Bagaimana jika bahasa minang dan bahasa melayu/bahasa Indonesia diagabungkan pemakaiannya? Tidak lah asing karma kita akan sering mendengarnya entah itu karena si manusia itu kurang mahir berbahasa Indonesia/melayu atau hanya sekedar untuk berkelakar saja.memang aneh didengar bisa membuat kita tertawa juga bisa membuat kia pusing. Jadi kita bisa membuat pertanyaan akan bahasa minang tetap exist bagi kita orang minang???.

Tak dapat di pungkiri suatu saat bahasa seperti itu akan membudaya dan membuat bahasa minang itu sendiri memudar .karena bahasa yang dulu banyak dipergunakan akan ditinggalkan oleh para penuturnya dan sudah pasti akan berganti dengan bahasa lainnya. Dan juga akan membuat nilai budaya yang terkandung dalam adat istiadat memudar.bahkan akan menghilang dan tinggal sejarah.

Dalam perjalanan bahasa Minang dalam existensinya, kita sebagai orang minang tentu ingin bahasa minang itu tetep ada dan lestari sampai kapanpun.perbandingan bahasa dan penggunaan bahasa daerah yang kita pelajari dan kita amalkan setiap hari hendaklah selalu kita pikirkan masa depannya. Karma dapat kita lihat dan perhatikan bahasa minang saat ini cenderung dikesampingkan atau di nomor duakan oleh orang minang itu sendiri.saat ini pun bahasa minang sudah mengalami banyak perubahan karna kemajuan zaman,apalagi bahasa minang mempunyai banyak kesamaan dengan bahasa melayu.

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan

Semakin pesatnya kemajuan zaman dan, pola pikir masyarakat Minangkabau sangat membahayakan posisi bahasa Minangkabau. Maka mungkin saja Dengan pemahaman bahasa minang yang baik dan benar daerah minang kabau dan masyarakatnya di masa datang tidak akan kehilangan bahasanya sendiari, akan tetapi perkembangan zaman konflik akan pemudaran bahasa minang akan menjadi suatu masalah suatu saat nanti akan menjadi suatu bahan yang dirindukan masyarakat minang karena bahasa minang seiring dengan berjalannya waktu dapat memudar ataupun menghilang. Apabila budaya dan adat Minangkabau tidak terus didalami oleh masyarakat minang saat ini, maka dapat dipastikan bahwa bahasa minangkabau akan terlindas oleh pengaruh bahasa lain.dan tentang perbedaan antara bahasa minang antara suatu daerah yang satu dan daerah yanglain di minang kabau patutlah sedikit banyaknya kita pelajari.

Dari uraian tadi dapat terlihat bahwa perlunya suatu dorongan nyata dan pasti untuk mempertahankan bahasa minang kabau.agar nantinya penerus masyarakat sat ini masih dapat menikamati bahasa pendahulunya meskipun dalam bahasa minang itu sudah banyak perubahanya.

2. Saran

Puji syukur kepada ALLAH SWT dan terimakasih yang besar bagi pihak yang secara langsung atau tidak langsung yang telah membantu dan mendukunng dalam pembuatan makalah ini. Makalah ini masih jauh dari sempurna bahkan mungkin tidak sama sekali.pentng bagi kami untuk menerima masukan. Dan bagi pembaca khususnya masyarakat minang untuk tetap dapat menjaga bahasa daerah kita sendiri karna itulah jati diri kita yang sesungguhnya.apabila hal ini dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan bahasa minang akan memudar bahkan hilang penggunaannya suatu saat nanti.

DAFTAR PUSTAKA

About these ads

Tentang admin

asrama mahasiswa sumatera barat merapi singgalang yogyakarta

Posted on 14 Agustus 2008, in Makalah Mersi-BK 2008. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Makasih banyak telah kami udah kopy Dokumentnya

  2. Pak arif, saya mau pakai tulisan bapak ni di facebook Grup Budayakan Bahaso Minang (Grup BBM),,,saya merasa ini penting untuk di ketahui oleh anggota grup kami.. Mihon diizinkan…terimakasih.

  3. makasih makalah nya ya pak .

  1. Ping-balik: Bahasa dalam Budaya « Kuliah Aktif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: