DARI DOKTOR BATANG PISANG SAMPAI GURU BESAR HANYA NAMA (GBHN): Nestapa Kaum Intelektual di Sumbar

Allah meninggikan derejat orang-orang yang berilmu
(Alquran, Al-Mujadalah: 11)Tuntutlah Ilmu
Mulaid ari turun buian
sampai ke liang lahat
(Hadist Nabi Muhammad SAW)Dan tak satu pun ayat menyebutkan
Allah meninggikan derajat orang berkuasa
(Kuntowijoyo, 2001)
- Dari mana kita mulai menulis?
Seorang dosen muda berbakat, dengan semangat menggebu-gebu, mendatangi saya. Ia ingin konsultasi soal dunia tulis-menulis. Katanya ia pingin jadi penulis, namun ia menghadapi kesulitan besar. Kesulitan yang dihadapinya adalah ia tidak tahu dari mana harus mulai menulis. Padahal, di kepalanya telah bergumul berbagai gagasan yang radikal dan cemerlang dari proses belajar yang ia lewati. Saya sebenarnya tidak memiliki obat apa pun dalam menghadapi persoalan seperti ini sehingga tidak dapat memberi resep bagi penyakit yang dihadapinya itu. Ketika ia tanyakan bagaimana saya memulai menulis, pengalaman sayalah yang saya ceritakan, sebagaimana juga ingin saya ceritakan dalam forum ini.
Hal yang paling utama adalah biarkan saja gagasan yang ada di kepala bergerak secara liar, tak terkendali, melampaui tapal batas pikiran manusia. Apa pun gagasan yang ada, jangan takut dan jangan dibatasi oleh norma apa pun juga. Biarkan saja ia menerawang bebas, mencari bentuknya sendiri dan inilah yang kemudian dituliskan. Setelah gagasan terbentuk di kepala, endapkan dalam jiwa dan biarkan ia bergumul dengan nurani kemanusiaan. Setelah melewati proses itu, resep untuk menulis itu sederhana saja, yaitu hidupkan komputer, lantas ketik saja apa yang diingat, dipikirkan, dirasakan dan biarkan saja diketik semuanya dahulu seperti air mengalir.
Saya ingin mencontohkan proses keterlibatan saya dalam salah satu pelatihan menulis buku ajar. Sebelumnya, satu pertanyaan ingin saya kemukakan : sebagai sebuah proses kreatif dalam dunia tulis-menulis, apakah pelatihan buku ajar ini akan dapat melahirkan penulis handal ataukah hanya sebagai sebuah proyek belaka ? Ada dua kata kunci di sini, yaitu pelatihan ini sebagai sebuah proses latihan tulis-menulis dan sebagai sebuah proyek. Sebenarnya hal ini amat sangat tergantung dari peserta, sebagai contoh keterlibatan saya dalam pelatihan ini :
Contoh 1:
Rabu, pukul 10 pagi 19 November 2003 saya didatangi oleh Erma Dewita, seorang pegawai di Fakultas Sastra. Ia menawarkan kepada saya untuk mengikuti Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah atau Pelatihan Buku Ajar. Saya pun mengambil kesempatan untuk mengikuti pelatihan buku ajar tersebut sebagai peserta. Namun, ketika saya pulang sekitar pukul 12 malam, istri saya memberikan surat yang diberikan oleh Pak Ismet, panitia penyelenggara pelatihan ini, yang rumahnya berdekatan dengan rumah saya. Setelah saya baca suratnya, saya jadi heran juga : mendaftar sebagai peserta, kok surat yang ke tangan saya itu meminta saya sebagai narasumber. Ketika membaca surat itu, di kepala saya bergumul pikiran-pikiran liar : apa kriteria narasumber ini, apa saya berhak sebagai narasumber, bagaimana panitia memutuskan saya sebagai salah seorang narasumber? Sementara di Unand banyak Prof. dan Dr. yang namanya sudah melanglang buana, dipakai di banyak tempat dan tamatan dari universitas bergengsi di luar negeri lagi. Sementara awak ini apalah, cuma seorang magister, tamatan dalam negeri pula.
Pikiran memelas di atas muncul karena saya baru saja membaca buku baru yang diterbitkan oleh Unand yang berjudul New Paradigm of Andalas University in the Era of Globalization. Buku yang dicetak dengan edisi luks itu berisi tentang : Paradigma Baru Unand Dalam Menyongsong Era Globalisasi. Bagian yang menarik bagi saya dari isi buku itu adalah bagian Academic Profile of Professor and Doctor. Jumlah yang ada pasti akan dapat membuat kaget karena melihat banyaknya jumlah Prof. dan Doktor di Unand ini sangat banyak, yaitu 197 orang (162 orang Dotkor, 69 orang Profesor dan 39 orang Profesor Doktor dan 30 Prof. Drs. atau Prof. IV E). (Lantas, saya biarkan pikiran liar saya berkembang).
Jika mereka yang Prof. dan Dr. ini menulis 1 buku dalam setahun (menurut hemat saya, menulis 1 buku dalam setahun itu angka rendah), bayangkan, Unand akan melahirkan setidaknya 200 judul buku dalam setahun (yang tiga tambahannya mungkin dari drs. atau magister). Realitasnya, berapa buku yang dilahirkan oleh Unand dalam setiap tahunnya? Memang ada beberapa nama cemerlang yang menulis seperti Dr. Fasli Jalal. (Namun yang lainnya, sepatutnyalah mereka berterima kasih kepada Andalas University Press karena penerbit inilah yang menyelematkan muka para Prof. dan Dr. di Unand atau kepada jurnal ilmiah di lingkungan Unand yang mereka buat untuk menerbitkan karya mereka sendiri, baca sendiri atau untuk kalangan sendiri). Bahkan kacaunya lagi, ada Prof. yang tidak memiliki karya sama sekali. Heran juga, kok bisa jadi mereka Prof., ya?!
Program PR I Unand tahun anggaran 2003 lalu tentang penerbitan buku misalnya, sangat mendukung proses kreatif menulis dosen. Progam itu telah melahirkan 7 buah buku, yang diterbitkan oleh Andalas University Press. Hanya, rasio naskah yang masuk dengan Prof. Dr. di Unand kembali berbanding terbalik. Betapa tidak, naskah yang masuk hanya 14 buah dan diterima 8 buah. Dari yang delapan itu, 3 naskah ditulis oleh Prof. Dr, 3 naskah ditulisDr. dan 2 naskah ditulis magister 6 ( 1 naskah magister mengundurkan diri).
Kalau di atas tadi muncul pikiran memelas, maka sekarang muncul ‘pikiran sesat’. ‘Pikiran sesat’ saya menyatakan bahwa jangan-jangan anggapan umum selama ini benar adanya bahwa Prof. di Unand adalah Prof. GBHN (Guru Besar Hanya Nama) dan doktor batang pisang (setelah sekali berbuah, yaitu menulis disertasi, sesudah itu mati). Kalau memang demikian adanya, maka sesungguhnya mereka inilah yang menjadi beban negara. Betapa tidak, berapa banyak tunjangan yang harus dibayarkan dari uang rakyat untuk mereka, sementara mereka tidak menghasilkan karya apa pun juga untuk kemajuan bangsa. Kacau.
Untuk menjawab persoalan besar ini, pelatihan seperti ini menjadi sangat penting sebagai sebuah proses lahirnya sebuah karya akademis. Program ini tidak lagi menjadi sebuah proyek yang menghambur-hamburkan uang atau sekedar program saja. Akan tetapi, Program Penulisan Buku Ajar ini menjadi sangat penting sebagai sebuah proses untuk membangkitkan spirit dalam dunia tulis menulis, proses menuju penulisan buku yang sebenarnya. Atas dasar inilah, makanya saya tertarik untuk ikut mendaftar sebagai peserta walaupun kemudian pihak penyelenggara menempatkan saya sebagai narasumber. Hal ini bisa jadi merupakan sebuah kekeliruan besar panitia, atau malahan sebaliknya; inilah sesungguhnya paradigma baru di Unand di mana seorang yang bukan Prof. dan Doktor pun diberi kesempatan untuk berceloteh di depan forum berharga ini (entah enak didengar atau menyakitkan, entah bermanfaat atau bahkan menyesatkan, entah bisa berguna untuk proses menulis buku ajar atau malahan akan melahirkan buku ‘kurang ajar’, sebagaimana buku saya sering dicap oleh pihak penguasa, pengusaha ataupun aliran konservatif sebagai buku ‘kurang ajar’). Betapa tidak, ungkapan-ungkapan saya dalam buku itu membuat bulu kuduk mereka merinding. Hal ini bisa jadi karena benci, ketakutan ataupun mengakui kebenarannya. Simak misalnya ungkapan-ungkapan yang saya tulis :
Contoh 2
Para penguasa
yang seharusnya melindungi kaum pinggiran
dari tindakan pengusaha yang tidak adil,
namun mereka melakukan kolaborisasi
untuk mengeksploitasinya
Contoh 3
kehidupan buruh PT Semen Padang :
andema bare pirang
karajo untuk awak, pitinya untuk urang
- Malapetaka Akademik atau Keledai Naik Haji
Seorang Doktor tamatan Eropa pernah bercerita kepada saya tentang penelitian disertasinya di Amerika Latin. Ia meneliti ekosistem sebuah sungai di Amerika Selatan. Penelitiannya meliputi aspek ekosistem yang terdapat di sepanjang sungai itu mulai dari hulu sampai hilir. Ia dapat menceritakan dengan baik perubahan-perubahan tumbuhan, ikan, warna air, dan corak kehidupan manusia di sepanjang sungai. Pengalaman yang amat dahsyat selama penelitian juga ia ceritakan seperti hambatan cuaca, tantangan alam yang keras, dan penduduk yang masih buas. Kalau mengingat-ingat penelitiannya, ia merasakan tidak akan sanggup lagi menjalaninya.
Hal-hal yang dikerjakannya selama penelitian dan menulis disertasinya itu merupakan pengalaman yang luar biasa. Betapa tidak, sekolah di Eropa, penelitian di Amerika Latin, laporan dalam bahasa asing pula, sehingga hampir seluruh pelosok kehidupan intelektual telah dimasukinya. Secara akademik, ia sesungguhnya merupakan harta karun yang sangat berharga bagi bangsa ini (ketika tragedi Bahorok berlangsung, ia sesungguhnya memiliki kemampuan akademik yang sangat bagus untuk menjelaskan kejadian itu karena disertasi yang ditulisnya mengenai sungai dan kejadian-kejadian mirip dengan peristiwa banjir bandang yang menimpa sungai Baharok dan Bukit Lawang).
Satu semester pertama, semangat akademiknya masih menggebu-gebu. Sampai kemudian malapetaka akademik menimpanya. Malapetaka ini sesungguhnya diciptakan oleh kondisi lingkungan kerjanya sendiri yaitu memberi dia sebuah jabatan. Dikatakan malapetaka, karena pilihan yang diambilnya bukannya mendekatkan dia kepada ilmu yang dimilikinya, akan tetapi malahan menjauhkan dirinya, sehingga kesibukannya bukan lagi pada taraf akademik, akan tetapi birokrasi. Nasib yang sama juga banyak menimpa ilmuan muda berbakat ainnya, sehingga tidak heran mereka terperangkap dalam almamater yang dicintainya itu.
Dilihat dari kuantitas yang ada, jumlah Prof. dan Dr. di Unand sesungguhnya memiliki kualitas dan kuantitas yang hebat. Jumlah Prof. dan Dr. sebanyak 197 orang merupakan bukti nyata. Banyaknya tamatan dari berbagai lembaga pendidikan tinggi yang bergengsi dari luar negeri merupakan fakta keras yang tidak dapat ditolak. Hanya saja, sistem yang dikembangkan oleh Unand membuat mereka terjebak ke dalam perangkap kebodohan (kalau boleh digunakan teori jebakan kemiskinan atau kebodohan dari Robert Chambers), yaitu kemiskinan untuk berkarya. Betapa tidak, seorang Doktor yang cemerlang dari Eropa, misalnya, dikasih jabatan mengurus surek-menyurek, rapek ka rapek, dan dengan dasi yang tidak pernah copot di lehernya yang tidak ada hubungannya dengan bidang ilmunya. Konyolnya lagi, mereka baru merasa memiliki harga diri, jika memang terlibat dengan urusan administratif seperti itu. Kalau tidak, bisa jadi mereka itu tidak dapat tidur 3 hari 3 malam (ini guyonan teman-teman yang tidak mendapat jabatan). Pada gilirannya, mereka tidak ubahnya seperti keledai naik haji. Pulang dari Mekah tidak disebut Haji Keledai, akan tetapi tetap saja keledai.
Jebakan kebodohan inilah yang membuat mereka tidak sempat lagi menulis ataupun berkarya. Sudut pandang yang mendapat jabatan tentu saja, bagi mereka, merupakan rahmat karena dengan jabatan seperti itu status sosial mereka terangkat. Gelar akademik pada gilirannya bukan lagi untuk mengembangkan ilmu, akan tetapi tidak lebih dari upaya peningkatan derajat sosial. Pada gilirannya, jangan berharap banyak dengan mereka karena ideologi yang mereka anut adalah ideologi kejar jabatan.
Orang seperti inilah yang menyia-nyiakan rahmat Allah SWT. Betapa tidak, kemampuan intelektual dan pengalaman pendidikan yang diperolehnya sesungguhnya bisa membuatnya jauh lebih besar. Akan tetapi tingkat kesabaran dan jebakan struktural yang dihadapinya membuatnya tergoda sehingga rahmat Allah berupa kecerdasan, gelar Prof. Dr. yang ia miliki menjadi sia-sia belaka.
Tidak dapat pula dinafikan bahwa di satu sisi menjadi pejabat memang menggiurkan. Betapa tidak, sebagai pejabat, ia pun dihormati. Selain itu, ia juga diberi berbagai fasilitas seperti mobil, sopir (bisa jadi sopir dinas dan bisa juga jadi sopir pribadi), tunjangan yang besar dan belum lagi honor-honor dari setiap SK yang ada (satiok manggarik, pitih masuak. Tentu Saja mereka protes keras dengan statement ini).
Mereka tidak bodoh, bahkan sangat cerdas. Hanya saja, meminjam ungkapan Agus Salim bahwa memimpin adalah jalan untuk menderita, tidak siap dilakoninya. Impian-impian yang bersifat materialistik seperti ini membuat mereka menggunakan kecerdasan yang diberikan oleh Allah SWT itu hanya sekedar untuk mendapat jabatan yang diberikan. Padahal, kecerdasan yang dimilikinya dapat membuat mereka jauh lebih berkarya lagi. Kemudian, sayangnya pula, setelah menduduki jabatan, maka orientasi akademis menjadi luntur karena seperti ini:
Contoh 5
Di kepalanya hanya ada dua hal
pertama,
bagaimana jabatannya bertahan lama
kedua,
bagaimana dapat memperkaya diri dari jabatannya
Tidak heran, misalnya seorang Profesor yang cemerlang malah bersedia menjadi seorang wakil dari seorang sarjana. Seorang doktor muda berbakat bersedia jadi PD III. Saya tidak katakan jabatan itu tidak terhormat. Bahkan jabatan itu amat sangat terhormat, sehingga banyak yang menguber-ubernya. Hanya saja, pertanyaan pokok adalah apakah posisi yang diincarnya itu sesuai dengan gelar akademis yang dimilikinya. (Bandingkan dengan Prof. Ichlasul Amal, misalnya, ia dengan enteng menolak jabatan menteri sebanyak 4 kali, yaitu ketika rezim Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati. Ichlasul Amal memilih mengurus mahasiswa daripada jadi menteri). Tentu saja, lain padang lain belalang, lain Prof. Dr. lain pula orientasinya.
Pertanyaan pokok di sini adalah, apakah mereka memiliki ideologi atau sekedar orientasi saja. Kalau memiliki ideologi, maka mereka bekerja berdasarkan ideologi yang dimilikinya. Akan tetapi jika ia memiliki orientasi, maka kerjanya hanya sekedar mencapai orientasi yang biasanya bersifat jabatan dan materi saja. Tidak semua Prof. atau Dr. memiliki orientasi yang sama. Prof. Kuntowijoyo, seorang sejarawan misalnya, jabatan tertinggi yang dipegangnya adalah ketua jurusan. Ia menyatakan bahwa untuk pengembangan ilmu, maka ketua jurusan merupakan tempat yang paling strategis. Jelas sekali, ideologi yang dikembangkannya, yaitu ilmu –bukan kedudukan atau jabatan, sehingga lahirlah berpuluh-puluh buku yang ditulisnya. Kalau sudah demikian, maka barulah ia berhak mendapatkan gelar Prof.
- Induksi dan Deduksi
Jika dicermati dua bagian di atas, saya berusaha (mungkin saja berhasil atau malahan gagal total) mengungkapkan satu fenomena intelektual di Unand dalam bahasa dan kasus yang populer juga. Adapun kaitannya dengan pelatihan ini adalah upaya mengungkapkan karya yang hendak dihasilkan haruslah menyentuh persoalan yang terjadi di sekitar kita ataupun yang aktual dan yang awet. Menurut hemat saya, menulis buku, baik buku ajar maupun ilmiah, hendaklah populer. Populer di sini diartikan mulai dari pilihan kata yang mudah dicerna (dengan demikian ini menyangkut fungsi bahasa yang tak hanya sebagai alat komunikasi semata, apa lagi slogan asal bisa dimengerti saja, tetapi juga bahasa sebagai alat untuk berpikir) sampai persoalan hidup orang banyak (jangan tanyakan kepada saya bagaimana mempopulerkan kata-kata dalam buku-buku matematika, kimia ataupun teknik. Itu bukan bidang saya dan yang lebih penting lagi adalah saya juga bukan Prof.). Kalau bahasa dan kasus yang dikemukakan dalam buku (baik buku ajar maupun buku lainnya) tidak populer ataupun menyangkut hidup orang banyak, siapa yang mau mendanai, apalagi membacanya. Bisa-bisa karya yang telah ditulis dengan susah-payah itu masuk keranjang sampah. Siapalah penulis yang suka hal-hal seperti ini.
Pilihan kasus sesungguhnya menjadi amat penting. Barangkali, spesialisasi bidang yang dikembangkan menjadi pedoman pokok bagi penulis buku ajar. Misalnya, seorang dosen hukum mengambil hukum anti korupsi sebagai spesialisasinya. Seorang dosen Studi Pembangunan mengambil Ekonomi Internasional sebagai keahliannya. Dengan cara ini, semua tulisan yang dibuat itu dikaitkan dengan keahlian yang diambilnya. Hal yang berkembang di Unand adalah ilmuan mini market yang memberi komentar di koran-koran dalam banyak hal, yang serba tanggung dan serba sedikit. Pokoknya, kalau ada wartawan bertanya, maka harus dijawab (popularitas menjadi orientasi lainnya, selain jabatan di atas).
Dalam penulisan ilmiah populer, hal yang utama adalah menjalin komunikasi dengan khalayak pembaca. Pangsa pasar dari buku yang ditulis haruslah dipikirkan juga. Saya menulis buku berjudul Radikalisme Kaum Pinggiran : Studi Tentang Isu, Strategi dan Dampak Gerakan. Dari awal menulis, saya sadar betul bahwa buku ini adalah bacaan aktifis LSM dan aktifis mahasiswa dan pemerhati masalah sosial. Karena pangsa pasarnya kelompok itu, maka saya pun menggunakan bahasa yang akrab dengan dunia mereka. Bahasa di sini bukan hanya terbatas dalam arti pilihan kata, akan tetapi juga kasus-kasus yang mereka hadapi. Simak misalnya prolog sebuah tulisan saya di bawah ini :
- Contoh 6
Sekitar pukul 6 pagi, di bulan Desember 1995 lalu, sebuah truk Fuso memasuki desa Kota Medan, sebuah desa terpencil di pedalaman kabupaten Indragiri Hulu, Riau untuk menjemput penumpang langganannya. Satu per satu penduduk menaiki Fuso itu sampai jumlah mencapai 150-200 orang. Menjelang pukul 7, setelah semua penumpang naik, maka truk itu pun menuju lokasi kerja yang letaknya antara 7 sampai 10 km dari kampung mereka. Masyarakat setempat menyebutkan mereka itu adalah “pegawai Bank Dunia”. Hal yang menarik adalah bagaimana mungkin sebuah bank yang dianggap hebat, luar biasa, dan sebuah bank yang memiliki gengsi internasional memiliki karyawan yang hanya diangkut pakai truk dan di atasnya disusun seperti ikan sarden saja. Jika diamati secara teliti, mereka ini sesungguhnya adalah buruh perkebunan besar yang dimiliki oleh orang-orang kaya Jakarta. Namun, karena biaya perkebunan itu merupakan utang ataupun penyandang dananya adalah Bank Dunia, maka buruh itu dikatakan masyarakat setempat sebagai pegawai Bank Dunia.
Selain itu, kebenaran fakta yang kemudian dibungkus dengan bahasa yang komunikatif menjadikan buku ajar menjadi menarik untuk dibaca. Bahkan, setiap penulis memiliki gaya masing-masing sehingga menjadi trade mark. Banyak gaya yang digunakan orang untuk menulis. Setiap mereka memakai gaya masing-masing. Pilihan kata pun telah dijadikan penulis sebagai ciri khasnya. Misalnya satu buku ditulis oleh tiga atau empat orang. Pembaca akan tahu bahwa yang dominan dalam penulisan itu adalah si A, misalnya. Penilaian orang itu berdasarkan pada kuatnya pilihan kata dan gaya bahasa yang ia gunakan.
Secara umum, gaya penulisan ini dapat dibagi atas dua, yaitu induksi dan deduksi. Gaya induksi, biasanya dari khusus ke umum, sedangkan gaya deduksi dari hal-hal umum ke hal khusus. Misalnya saja dengan gaya induksi, ketika kita ingin menulis tentang Islam di Minangkabau, maka kita dapat saja memulai dengan realitas sosial yang terdapat dalam masyarakat. Namun, jika kita memulainya dengan hal-hal yang ideal tentang Islam itu sendiri, maka gaya deduksilah yang digunakan. Contoh di bawah ini dapat dilihat sebagai bentuk deduksi tentang Islam di Minangkabau :
Contoh 7
Sholat Magrib di Sikabau
Kumandang azan magrib sesungguhnya menyeruak sampai ke pelosok nagari. Dibantu dengan pengeras suara, maka suara orang azan akan sampai dalam radius 3 km. Artinya, azan satu mesjid sudah cukup mengingatkan orang Sikabau yang berjumlah sekitar 3 ribu orang itu untuk salat Magrib ke masjid. Ketika saya menginjakkan kaki di masjid, (sebuah masjid yang megah dan besar, barangkali dapat menampung 100 jamaah), yang saya temui adalah orang–orang tua yang sedang sembahyang. Ada 14 laki-laki, dan 7 perempuan yang merupakan jamaah yang mengisi salat magrib di masjid Sikabau. Lantas, yang lainnya bagaimana ? Satu hal yang pasti, anak-anak muda masih asyik di warung-warung. Ibu-ibu asyik mengasuh anak. Sementara itu, sebuah surau kecil yang jaraknya 50 meter dari masjid itu sedang berlangsung pula salat berjamaah sekitar 50 orang. Dengan gambaran seperti itulah Islam menjadi agama utama yang dianut dalam masyarakat. Satu pertanyaan ingin diajukan, masihkah agama menjadi tawaran yang menarik bagi masyarakat ?
Realitas sosial di atas bisa jadi merupakan realitas Minangkabau hari ini atau hanya berlaku di Sikabau. Namun, di banyak tempat masjid memang sudah jarang dikunjungi oleh jamaahnya kecuali satu minggu pertama Ramadhan atau hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Walaupun dikatakan Minangkabau ini sebagai wilayah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, maka realitasnya adalah slogan saja. Masjid, sebagai mana contoh 1 di atas sebagai pusat gerakan Islam justru sudah lama ditinggalkan umatnya. Bisa jadi ini sebagai ketidakpercayaan masyarakat terhadap ulama atau memang agama sudah tidak menjadi tawaran yang menarik sebagai ideologi. Ibarat kompleks perumahan, Islam di Minangkabau yang berdasarkan ‘Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah’ hanya ada di spanduk-spanduk saja.
Tentu saja orang Minangkabau tidak mau negerinya dikatakan seperti contoh di atas. Akan tetapi, realitas sosialnya bagaimana ? Di wilayah mana hukum adat dan hukum agama itu berlangsung ? Kewajaran seperti ini merupakan cerminan realitas dalam masyarakat. Minangkabau ataupun Sumatra Barat tidak terlepas dari persoalan ini. Berbagai persoalan di atas secara nyata juga menjadi bagian keseharian dalam masyarakat nyaris di antero negeri. Penerimaan massa akar rumput bisa jadi atas ketidaktahuan mereka ataupun sikap apatis dan muak yang sudah sampai ke ubun-ubun. Pada gilirannya, di negeri yang adat dan agama menjadi simbol –setidaknya ini terungkap dalam pepatah petitih- itu hanya masih terbatas pada kata-kata yang ditulis di spanduk-spanduk di pinggir jalan ataupun slogan-slogan kosong yang diucapkan dalam rapat-rapat umum di lapangan sepak bola, seminar di ruang ber-AC, ataupun khotbah di atas mimbar saja.
Contoh lain misalnya peranan perempuan di Minangkabau. Sering dikatakan bahwa perempuan Minangkabau memiliki peran sentral dalam bidang politik, ekonomi – terutama harta pusaka. Bahkan perempuan Minangkabau dijunjung tinggi dalam sistem masyarakat. Secara ideal akan ditemukan hal-hal demikian. Namun, dengan gaya induksi, akan dilihat realitas yang bertolak belakang dengan hal yang ideal itu. Contoh di bawah ini mencoba mengungkapkannya:
Contoh 9
Dalam sebuah acara pengangkatan penghulu, saya menyaksikan suatu peristiwa yang sungguh sangat menyedihkan. Biasanya jika ada pengangkatan penghulu, istri pak datuk itu pun diberi juga pakaian kebesaran adat dan mereka berdua pun diarak dari rumahnya ke balai adat. Sewa pakaian itu sangat mahal dan biasanya disewakan oleh tukang salon yang sekaligus menghiasi sang istri dengan tujuan supaya istri dari penghulu itu nampak cantik jelita. Setelah tiba di pintu balai adat, maka istri penghulu itu pun tinggal di luar sementara penghulunya masuk ke dalam untuk melaksanakan pelantikan penghulu. Istri penghulu yang berpakaian mahal tadi jadi terabaikan. Tak seteguk air pun yang disuguhi saat itu, padahal dia sudah capek berjalan di terik matahari yang begitu panas. Kalau penghulu yang di lantik, maka di dalam tersedia minuman dan makanan yang terhidang rapi di depan mereka. Penghulu itu juga tidak sadar, dengan santainya ia pun makan di dalam tanpa mengingat istrinya yang di tinggalkanya di luar. Di sini saya melihat begitu tak berharganya perempuan di mata para penghulu itu.
Masalah perhargaan terhadap perempuan ini memang hanya terungkap sebatas slogan. Bahkan, nasib perempuan ataupun kelompok yang dimarginalkan memang sudah dipinggirkan dalam sejarah negeri ini. Tambang batubara yang menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau misalnya, justru di sana kelompok yang marginal sudah mengalami penderitaan sepanjang abad tambang itu berdiri. Secara induktif, hal itu dapat ditulis seperti contoh di bawah ini:
Contoh 10
Tanpa belas kasih, segerombolan orang yang kakinya dirantai dan dihubungkan satu kaki dengan kaki lainnya digiring pada lobang-lobang penggalian. Tidak kurang, satu regu polisi bersenjata terhunus mengawasi dengan muka ketat para pesakitan untuk bekerja. Bahkan, pada saat bekerja pun kaki mereka tetap dirantai sehingga keleluasaan untuk bergerak sangat terbatas disebabkan oleh ikatan rantai pada saat menambang. Namun, apa boleh buat, mereka tidak punya pilihan lain, kecuali mengikuti aturan kerja paksa yang diberikan kepada mereka. Menyimpang dari ketentuan itu, maka senjatalah yang akan berbicara. Perlakuan seperti ini sudah menjadi biasa setiap harinya. Sementara itu, tidak satu pun kekuatan yang dapat melawan majikan yang telah memperlakukan buruh secara sewenang-wenang. Demikian jeleknya perlakuan yang mereka terima, sampai pada satu titik bahwa nilai-nilai kemanusian pada buruh tambang pun terkikis habis. Surat kabar Soeara Tambang melukiskan perlakuan buruk yang diterima buruh tambang itu bahwa nasib buruh pada perusahaan tambang batubara Ombilin lebih jelek dari nasib hewan.
Corak lain dari penulisan seperti ini dapat juga diambil berdasarkan syair-syair lagu. Merantau misalnya sebagai budaya masyarakat Minangkabau, maka jika kita menulis tentang merantau ini, kita dapat saja menulis tentang konsep merantau, kebiasaan merantau, dan seterusnya. Dengan gaya sendiri, kita juga bisa memulai dengan syair lagu, misalnya :
Contoh 11
Uda bajalan padamlah palito
Kasia nasib Da ka den kadukan
Kampuang den jauh sanak tiado
Denai jo sia uda tinggakanOnde… Gunuang Marapi… Gunuang Singgalang
Oii…talong caliakkan kasiah ati den nan den tinggakan
Antaro pintu nan jo halaman
Uda den nanti
antara pintu nan jo halaman
Bapisah bukan nyo bacarai…
Contoh 12
Di taluak bayua
Uda den lape
Disinan pula onde da
Denai mananti
Raso ramuak hati nan jo jantuang
Mancaliak uda basandiang tangan jo urang lain
Dua petikan lagu di atas sesungguhnya memperlihatkan dua syair tentang perpisahan dua kekasih dari orang Minangkabau yang merantau. Hanya saja, jika diamati keduanya memiliki nilai yang bertolak belakang. Di lagu pertama, mereka berpisah antara pintu jo halaman, sedangkan lagu kedua mereka berpisah di taluak bayua. Pada lagu pertama, memperlihatkan bahwa ia tidak akan meninggalkan rumah selama sang suami merantau. Hal ini mengingatkan kita pada kisah-kisah perang di zaman nabi ketika sang suami melarang istrinya pergi dalam keadaan apa pun juga. Lagu kedua, kesan yang muncul setelah berpisah di Taluak Bayua, bisa jadi di sepanjang jalan akan ada perempuan lain ataupun tempat lain yang disinggahi, sedangkan sang laki-laki membawa pulang perempuan. Jadi, kedua lagu di atas dapat saja dijadikan sebagai prolog dalam menulis tentang budaya merantau yang terdapat dalam masyarakat Minangkabau. Artinya, bentuk penulisan yang populer tidak harus menghendaki bentuk penulisan yang faktual, konseptual ataupun teoretis. Penulisan dapat saja dilakukan dengan gaya setiap penulis, selagi pesan yang disampaikan tercapai.
Gadut Padang, Ramadhan 1424 H
Drs. Zaiyardam Zubir, M.Hum (Mahasiswa S3 Program Sejarah Sekolah Pasca Sarjana UGM)



Pesan dan Kesan