Arsip

Archive for the ‘Artikel’ Category

DARI DOKTOR BATANG PISANG SAMPAI GURU BESAR HANYA NAMA (GBHN): Nestapa Kaum Intelektual di Sumbar

29 September 2009 mersi Tinggalkan komentar

Allah meninggikan derejat orang-orang yang berilmu
(Alquran, Al-Mujadalah: 11)

Tuntutlah Ilmu
Mulaid ari turun buian
sampai ke liang lahat
(Hadist Nabi Muhammad SAW)

Dan tak satu pun ayat menyebutkan
Allah meninggikan derajat orang berkuasa
(Kuntowijoyo, 2001)

  • Dari mana kita mulai menulis?

Seorang dosen muda berbakat, dengan semangat menggebu-gebu, mendatangi saya. Ia ingin konsultasi soal dunia tulis-menulis. Katanya ia pingin jadi penulis, namun ia menghadapi kesulitan besar. Kesulitan yang dihadapinya adalah ia tidak tahu dari mana harus mulai menulis. Padahal, di kepalanya telah bergumul berbagai gagasan yang radikal dan cemerlang dari proses belajar yang ia lewati. Saya sebenarnya tidak memiliki obat apa pun dalam menghadapi persoalan seperti ini sehingga tidak dapat memberi resep bagi penyakit yang dihadapinya itu. Ketika ia tanyakan bagaimana saya memulai menulis, pengalaman sayalah yang saya ceritakan, sebagaimana juga ingin saya ceritakan dalam forum ini.

Read more…

Categories: Catatan Da Adam

Kecelakaan Intelektual di Sumatera Barat: Dosen Berprestasi, Ah yang Benar?

27 September 2009 mersi Tinggalkan komentar

Jadi,
penulisan buku tidak dipersepsi
sebagai beban berat
yang harus didanai pemerintah
tetapi
sebagai rutinitas akademik
layaknya mandi dan sarapan pagi

(A. Chaedar Alwasilah, 2005)

  • Kena Tunjuk

Rabu sore, sekitar pukul 3 taktlala kampus kelabu Fakultas Sastra Unand mulai sepi ditinggal penghuninya, dosen, mahasiswa, dan karyawan sudah mulai turun, dalam kebingungan, PD I memanggil saya. Ia bercerita bahwa ia sedang mengalami kesulitan karena tak satu pun dosen yang bersedia jadi dosen teladan. Padahal, surat telah diedarkan ke jurusan sejak pertengahan Maret 2005 lalu. Hari Rabu, 18 Mei 2005 merupakan hari terakhir penyerahan nama utusan Fakultas. Dalam kebingungan itu, ia minta tolong kepada saya untuk bersedia jadi dosen teladan wakil dari Sastra. Dengan hubungan kami yang cukup akrab selama ini, dan sering juga bergurau, permintaannya yang rada-rada aneh itu saya jawab dengan “galak gadang”. Betapa tidak, jadi Dosen Teladan, apa nggak salah? Apa yang dapat diteladani dari seorang Zaiyardam? Ngajar saja pakai baju kaos oblong, tidak pernah pakai sepatu ke kampus (sandal tali), tak pandai pakai dasi, dan jam tangan pun tidak dimiliki, dan kalau lagi marah, semua jenis binatang keluar dari umpatannya (istilah Bahren, dosen muda Sastra Minang). Sementara itu, hal yang paling pokok adalah pendidikan baru S2, tak ada karya intelektual yang dibanggakan, dan tidak pula memiliki laptop yang ditenteng kian kemari sebagaimana layaknya ilmuan terkemuka Unand. Tidak dan tidak ada yang dapat dijadikan suri teladan dari seorang Zaiyardam. Ini hanya cerita bohong-bohongan, sebagaimana jutaan bohong yang dikemukan oleh para elite di negeri ini setiap harinya ataupun kaum terpelajar yang sesungguhnya tidak memiliki watak dan ciri khas sebagai kaum cendikiawan.

Read more…

Categories: Catatan Da Adam

Kecelakaan Intelektual di Sumatera Barat: BERKABUNG PANJANG

26 September 2009 mersi 2 komentar

Orang Minangkabau
seharusnya tak usahlah belajar sejarah
Sebab
Belajar sejarah membuat hidup mereka jadi semu

Karena
mereka hanya bangga dan berlindung
dengan nama besar pendahulu yang berlebihan

sehingga
ketika terjadi kecelakaan dahsat
mereka tutup-tutupi
dengan sejarah kebesaran masa lalu

Gawat darurat. Emergency. Sumatera Barat dalam Bahaya 1. Telah terjadi kecelakaan beruntun kaum intelektual di Sumatera Barat. Korban berjatuhan dipelosok kota. Kepala pecah, otak bertebaran dimana-mana dan tidak bisa digunakan lagi. Kecelakaan yang telah berlangsung selama 3 dekade terakhir ini semakin lama semakin parah dan semakin menambah jumlah korban -baik yang muda apalagi yang tua-.Terlalu banyak korban yang bertumbangan daripada yang selamat. Mereka yang betul-betul selamat dari kecelakaan hanya bisa dalam hitungan jari saja diantaranya Prof. Dr. Elfindri, Wisran Hadi, Prof. Dr. Mestika Zed, Saldi Isra, SH. MPH, Drs.Yusrizal KW, Drs. Ivan Adilla, M. Hum., Prof. dr. K. Suhaimi, Drs. Emeraldi Catra, MA, Prof. Dr. Bustannudin Agus, MA dan Lindo Karsah SS. (Dengan hati yang tulus, saya ingin ucapkan salam hormat untuk yang selamat ini).

Read more…

Demokrasi “Kaum Penjahat”

3 April 2009 mersi 2 komentar

Oleh: Muhammad Yusra (Mersi 2003 – Mahasiswa Hubungan Internasional Pasca Sarjana UGM)

Rangkaian kegiatan Pemilu legislatif 2009 akan segera berakhir hanya dalam beberapa hari lagi, tepatnya pada tanggal 5 April. Tanggal tersebut juga sekaligus menandai berakhirnya semua kegiatan kampanye terbuka para parpol/ caleg peserta pemilu 2009.

Berbagai tragedi dan peristiwa silih berganti terus terekam di benak selama mengikuti dan menyaksikan, , fase demi fase, rangkaian demi rangkaian kampanye para parpol/caleg peserta pemilu 2009. Namun hal kerap kali muncul adalah hampir seragam, yaitu terkait peristiwa kecurangan, pelanggaran, serta ketidaksiapan KPU dalam menggelar pemilu. Kita dapat menyaksikan di berbagai media berita mengenai berbagai tindak kecurangan dan pelanggaran yang dilakukan oleh para elit serta kader parpol peserta pemilu, serta berbagai sengketa yang melibatkan KPU baik di pusat maupun di daerah. Semua hal tersebut pada akhirnya bermuara pada sebuah pertanyaan mengenai apa yang tengah terjadi dengan demokrasi di negeri ini?

Demokrasi tidak lain sebuah paham yang pada saat ini tengah populer dan dianut oleh sebagian besar negara-negara di dunia, terutama negara-negara maju di benua Eropa maupun di Amerika. Di Indonesia, “demokrasi” secara monumental digaungkan kembali di Republik ini sekitar satu dekade lalu, yaitu semenjak era reformasi. Dimana semenjak era tersebut, demokrasi kembali hadir sebagai ruh dari kehidupan berbangsa dan bernegara, setelah sempat mati suri selama 32 tahun dibawah rezim penguasa otoriter Orde Baru, Soeharto.

  • Demokrasi “Kaum Penjahat”

Olle Tornquist, seorang pengamat kawakan perkembangan politik di Indonesia, pernah meramalkan kemungkinan datangnya hantu “demokrasi kaum penjahat”. Dalam bentuk seperti ini, demokrasi hanya akan terjadi secara formal, tetapi tidak diiringi oleh partisipasi rakyat yang sungguh-sungguh dalam pemilu dan dalam pembentukan kebijakan pemerintah. Mengutip Tornquist, “ Hasil yang mungkin lebih terlihat, karenanya, lebih merupakan demokrasi “kaum penjahat” yang didukung oleh militer didalamnya, pejabat-pejabat disemua tingkat mampu bertahan, menarik sekutu militer dan pengusaha, mengkooptasi beberapa pembengkang, serta memobilisasi dukungan masa melalui populisme Islam- semua ini akan berlangsung sebelum para aktivis demokrasi sejati serta rakyat kebanyakan mampu mengorganisasikan diri.” ( Bulletin of Concerned Asian Scholars, Volume 30:3 [1999])

Tulisan ini memang tidak sepenuhnya mendukung kebenaran dari ramalan Tornquist tersebut, namun setidaknya beberapa variabel yang dicantumkan dalam ramalan tersebut sudah terbukti berkembang dalam realita politik nasional dewasa ini. Beberapa hal yang dapat kita sesuaikan dari ramalan tersebut adalah, pertama, berbicara mengenai partisipasi rakyat, kita dapat menyaksikan publikasi hasil riset dari berbagai lembaga survei nasional yang menyatakan mengenai prediksi golput atau warga negara yang tidak akan/bisa menggunakan hak pilihnya mencapai kisaran angka 30 sampai 40 persen. Sebuah angka yang cukup besar dan fantastis. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi dikarenakan rakyat sudah mulai muak dengan tingkah polah pemerintah beserta segenap elit politik yang tak lain hanya menjalankan demokrasi secara prosedural di Republik ini, sedangkan yang dibutuhkan rakyat Indonesia secara umum pada saat ini adalah demokrasi yang lebih substansial, yang lebih menyentuh aspek kesejahteraan serta kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Oleh karena itu wajar saja jika rakyat terkesan sudah mulai untuk meninggalkan pemerintah beserta para elitnya.

Kedua, jika disuruh untuk menyebutkan mengenai siapa “kaum penjahat” yang terlibat dalam demokrasi kita pada saat ini, maka jawabannya agak sedikit berbeda dengan yang disampaikan oleh Tornquist. Karena, jika hal tersebut disandarkan pada realita sosial politik yang tengah berlangsung di negeri ini, maka jawaban yang paling tepat adalah, kalangan pejabat pemerintah (incumbent) dari tingkatan terendah sampai pada tingkatan tertinggi, beserta para elitnya. Hal tersebut dapat kita verifikasi melalu sejumlah indikasi kecurangan serta pelanggaran pemilu yang berlangsung akhir-akhir ini. Kita dapat memulai dari kasus yang tengah digadang-gadangkan oleh sejumlah kalangan belakangan ini, yaitu kasus penemuan Daftar Pemilih Tetap (DPT) fiktif di beberapa wilayah di Jawa Timur, yang diduga telah sempat dioperasikan pada saat pilkada Jatim beberapa waktu lalu.

Selain itu, sebuah kasus terbaru mengenai seorang Kepala daerah di Kabupaten Pematang Siantar, Sumatera Utara, yang dipergoki tengah memberikan instruksi kepada sejumlah aparat pemerintah, yang terdiri dari kalangan pegawai pemerintah serta guru di daerah tersebut. Dimana melalui instruksi tersebut, sang Kepala Daerah menginstruksikan bawahan beserta seluruh jajarannya untuk memilih serta mendukung parpol yang notabene dipunggawai oleh penguasa incumbent. Sebenarnya masih banyak kasus lainnya yang bisa kita ungkapkan, namun dari dua kasus itu saja kita sudah bisa mencium serta mengungkap indikasi kuat mengenai upaya yang cukup besar, yang tengah dilakukan oleh incumbent untuk sebisa mungkin mempertahankan kekuasaannya sampai lima tahun kedepan. Hal tersebut bisa saja terjadi karena, kasus DPT fiktif di Jatim terkesan sudah diciptakan dengan sangat rapi dan sistematis, sampai-sampai kasus tersebut telah mengorbankan seorang pemimpin tertinggi Kepolisian di daerah tersebut.

Hal ini semakin mengisyaratkan bahwa sistem tersebut merupakan sesuatu yang sudah sangat teruji keampuhannya (mungkin sudah pernah di praktekkan pada pemilu sebelumnya oleh xxx). Bahkan seorang perwira sekaligus pimpinan kepolisian tertinggi di daerah itupun tidak sanggup untuk menuntaskan permasalahan tersebut. Sehingga semakin kuat indikasi bahwa keterlibatan serta intervensi penguasa sangat besar dalam hal ini. Selain itu, juga tidak tertutup kemungkinan akan adanya perselingkuhan penguasa dengan oknum Polisi serta Militer dalam kasus ini.

  • Action Plan!

Apalagi istilah yang bisa kita sematkan terhadap demokrasi di negeri ini kalau bukan demokrasi “kaum penjahat”. Demokrasi yang dilakoni serta dikontrol langsung oleh penguasa yang sedang memimpin. Maka tidak diragukan jika sejumlah besar rakyat bangsa ini, yang pada saat ini sudah semakin terdidik mampu mencium praktek persekongkolan busuk ini, sehingga sikap apatis (golput) adalah jawaban lugas tengah disampaikan rakyat pada penguasa saat ini.

Pemerintahan saat ini hanya terlihat rancak dan elok di permukaan namun sesungguhnya busuk dan licik jika kita perhatikan secara mendalam. Tidak ada gunanya mendukung pemerintahan yang hanya dikelilingi oleh segerombolan oportunis pragmatis, para penjilat kekuasaan yang hanya bercokol untuk sesuap materi. Bangsa ini membutuhkan anak bangsa yang memiliki loyalitas dan dedikasi tinggi, orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk kemajuan bangsa dan negara, meletakkan kepentingan bangsa diatas segalanya. Bukan orang-orang yang hanya haus pada kekuasaan, yang rela mengorbankan masa depan serta menghisap kesejahteraan rakyat, dengan mengluarkan kebijakan-kebijakan populis untuk menuai simpati semu dari rakyat yang tertipu.

Untuk itu dapat kita simpulkan bahwa demokrasi di Republik ini tengah mengalami salah arah dalam proses transisinya pasca reformasi, yang tidak lain diakibatkan oleh penguasa yang tamak kekuasaan serta elit yang rakus materi. Oleh karena itu , mari kita bersama-sama bahu-membahu mencegah kehancuran bangsa ini, dengan berpartisipasi aktif dalam pemilu 2009. Semoga perjuangan tulus rakyat mampu meniyngkirkan para pemimpin busuk. Sehingga dikemudian hari secara bersama-sama kita membenahi demokrasi di Republik ini dengan menghapus dari sejarah tentang keberadaan demokrasi “kaum penjahat”. Masa depan bangsa ini ada ditangan kita, rakyat yang masih suci dari dosa-dosa politik dan kekuasaan!

Categories: Sosial Politik

Alasan Indonesia Kagak Maju2!!!

23 Desember 2008 mersi 4 komentar
  1. Jml penduduk Indonesia ada 237 juta. 104 juta diantaranya adalah para pensiun. Jadi tinggal 133 juta yang bisa kerja.
  2. Jml pelajar dan mahasiswa adalah 85 juta. Mereka sekolah, jadi tinggal 48 juta orang yang bisa kerja.
  3. Yang kerja buat pemerintah pusat sebagai pegawai negeri ada 29 juta. Jadi tinggal 19 juta yang bisa kerja.
  4. Ada 4 juta yg jadi TNI/POLRI. Jadi tinggal 15 juta yg bisa kerja.
  5. Ada lagi yang kerja di pemerintahan daerah dan departemen jumlahnya 14.800.000. jadi sisanya tingal 200.000 yang bisa kerja.
  6. Yang sakit dan dirawat di Rumah Sakit di seluruh Indonesia ada 188.000. Jadi sisa 12.000 orang yang bisa kerja.
  7. Ada 11.988 orang yg dipenjara. Jadi tinggal sisa dua orang saja yang masih bisa kerja.
    ….

SIAPA MEREKA ….?
Yaa,… tentu saja SAYA dan ANDA. Tapikan… ANDA malah sibuk Buka Friendster

Sumber: http://www.friendster.com/messages.php?hid=2233609

Categories: Serba-Serbi

RELAKAH PEMERINTAH MEMBIARKAN INDONESIAKU MAJU ? ( 1 )

20 Desember 2008 mersi Tinggalkan komentar

Di siang hari yang terik, saya pernah disuruh oleh ibu saya untuk membayar tagihan listrik. Ketika itu betapa terkejutnya saya ketika melihat rincian tagihan yang luar biasa besar, maklum waktu itu saya masih kecil dan hanya tahu untuk menggunakan dan belum pernah membayar tagihan tersebut. Lambat laun saya mulai menyadari bahwa jika listrik memang semahal ini untuk rumah tangga, apalagi untuk perdagangan atau industri. Padahal yang saya tahu adalah listrik bagi industri adalah hal yang teramat sangat vital. Lalu saya bergumam sendiri, gimana Indonesia mau maju kalau untuk energi saja kita harus membayar mahal ( dan akan lebih mahal lagi karena listrik menggunakan energi tak terbarukan BBM / BBG / batu bara). Ketika saya mulai kuliah di geofisika, saya mendapatkan suatu jalan keluar energi yang pas untuk negara Indonesia ini. Sumber energi tersebut adalah Geothermal ( panas bumi ), bersih ramah lingkungan dan yang paling penting adalah TERBARUKAN. Oke jadi kita mulai dari prinsip dasar geothermal dan pengembanganya.

Cara kerja geothermal dalam menghasilkan energi

Pada dasarnya energi panas bumi yang datang dari permukaaan bumi ( crust ) memiliki 4 sistem penyaluran panas yaitu vapor, liquid, vaporliquid dan hot dry rock. System vapor menyaluarkan panas melalui udara yang timbul dari dalam bumi dengan menggunakan suatu penghantar panas yang nanti akan digunakan sebagai pemutar turbin. System liquid menggunakan cairan sebagai penghantar panas, sedangkan vaporliquid menggabungkan keduanya sebagai alat untuk memutar turbin. Berbeda dengan ketiga system yang saya sebutkan system hot dry rock menggunakan batu yang sangat panas ( kira-kira 200-290 celcius keatas ) untuk merebus air sebagai perantara untuk memutar turbin. Yang sangat menarik dari keempat system tersebut adalah Negara Indonesia memiliki kesemuanya.walau begitu sumur geothermal harus memiliki syarat syarat sbb

  1. Bertekanan uap yang cukup besar (minimal 35 atm)Mempunyai volume uap yang cukup banyak (10 ton/jam setara dengan 1000 KW listrik)
  2. Kedalaman tidak melebihi 2500 meter ( lebih dalam maka biaya pengeboran menjadi mahal dan pengaliran panas tidak efektif )
  3. Fluidanya tidak bersifat korosif
  4. Lokasinya sesuai dengan kepentingan konsumen ( walaupun listrik dapat dialirkan )
  5. Memiliki suhu minimal 2300
    Mungkin dari eksplorasi geothermal yang saya ketahui tak ada Negara lain yang memiliki semua system tersebut. Sebagai catatan saja potensi geothermal dinegara kita mencapai 27.000 mega watt jika semuanya digarap dengan sempurna.

Kenapa Indonesia begitu kaya akan sumber panas bumi ? hal ini disebabkan karena begitu aktifnya tektonik Indonesia. Keaktifan tektonik Indonesia yang disebakan oleh pertemuan antara lempeng Eurasia, lempeng indoaustraliadan lempeng pasifik, telah menyebakan banyak struktur bumi sebagai jalan keluar bagi panas bumi agar mencapai daerah crust ( contohnya adalah patahan, lipatan, retakan ). Panas yang keluar di salurkan melalui pipa pipa alumunium ke turbin untuk dikonversi menjadi sumber listrik. Air dan udara yang sudah dikompresi untuk memutar turbin kemudian di dinginkan ( condensation ) agar dapat diinjeksikan kembali kedalam tanah. Siklus ini berputar otomatis hingga mencapai umursumur geothermal tersebut ( 20 – 35 tahun ).

Categories: Iptek

Pemuda Sunyi

20 Desember 2008 mersi Tinggalkan komentar

Mungkin dia tidak ditakdirkan untuk bisa merasakan cinta. Hidup dalam nyanyian sunyi. Dia terlalu larut dalam syair cinta yang digubah oleh seseorang kakak pujaannya, seorang biduan asal negeri Melaka. Mungkin dia terlalu lugu untuk bermain dalam api asrama. Terlalu baik untuk seseorang. Hingga jawaban yang sering dia peroleh, “kak, carilah yang lebih baik”.

Kadang ia ingin dinginkan hati dalam duka. Namun, gejolak asrama membuatnya terus saja membujuk hati, “wahai diri masih ada cinta untukmu, kejarlah, gapailah”. Ia turuti juga seruan itu. Ia cuba jua menyatakan rasa. Tapi memang garis percintaannya tak bernasib mujur. Kekecewaan diselip kekecewaan, datang berantai dalam hidupnya.

Sebenarnya dia hanya ingin memuja satu cinta saja. Mematut hati untuk setia. Tapi ia terlanjur gamang dengan cinta pertamanya yang berakhir dengan luka mendalam yang tiada obat sampai detik ini. Ia ingin merubah warna, mengobati jiwa dengan mencari cinta di lain hati. Karena dia hanya manusia biasanya, yang butuh perhatian, teman hidup bersama. Namun, penolakan demi penolakan yang didapati.

Lelah rasanya berjuang dalam penggembaraan ini. Niat hati ingin mengobat luka, namun sakit jua yang berketerusan. Ia cuma takut, suatu hari hatinya menjadi dingin, tak ada minat lagi untuk meraih cinta. Ia teramat takut, jika hatinya dipenuhi benci, menghindar diri dari wanita kemudian lari menyendiri dalam lamunan pikiran yang menyita waktu-waktunya.

Hari ini, tekadnya semakin bulat, tidak akan menikah sebelum menyandangkan gelar master dihujung namanya. Dia tidak ingin membenci sosok yang membuatnya patah hati. Karena dia juga insyaf akan dosa dan nista yang menyelimuti diri. Hari-hari esok, ia semakin takut untuk menampakkan diri. Karena malu bersua dengan insan yang telah meremukan hati.

Kak, lagi-lagi syairmu yang akan menemani hari-hari sepi nanti. Ku mohon kau sudi, temani adikmu yang lara dan nestapa dalam alunan cinta ini. Sampai kapan??? ENTAHLAH…

Categories: Serba-Serbi

Undangan Nikah

9 Desember 2008 mersi 2 komentar

Dimohon kehadiran Bapak/Ibu, Uda/Uni, Kawan2 kasadonyo pada pernikahan:

Fitria Aini (Alumni BK 2003 – Ilmu Keperawatan UGM) dengan Riko Muliadi (Alumni Mersi 1997 – Teknik Mesin UGM)

Waktu: Sabtu, 20 Desember 2008

Tempat: Jln. Indah Jelita No. 66 Kelurahan Balai Gurun Payakumbuh Utara, Payakumbuh – Sumbar

Mohon do’a restu dan kehadirannya…

NB: Berita ini diterima admin langsung dari yang punya hajatan. So, siapa ni yang akan mengikuti jejak pernikahan Mersi-BK selanjutnya?? Awak tunggu yo kabanyo..He..He…