Arsip

Archive for the ‘Islam’ Category

Sultan Minta Pemuda Belajar dari Natsir

6 Desember 2008 mersi Tinggalkan komentar

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X menganjurkan pemuda masa kini banyak belajar dari tokoh agama dan politik dari Sumatera Barat, M Natsir.

“Dari pengalaman-pengalaman M Natsir, pemuda saat ini akan mengerti arti pentingnya pendidikan, termasuk pendidikan agama, bahasa dan politik. Pada usia 21 tahun, M Natsir sudah menguasai 7 bahasa asing, serta sudah aktif di kancah politik,” kata Sultan pada acara Seminar Nasional Kepahlawanan Mohammad Natsir di Bantul, Sabtu (29/11).

Sultan mengatakan acara ini dapat menjadi simbolisasi jembatan hati lintasan budaya antara budaya Minang dengan Yogyakarta yang tidak bisa dipisahkan dari bagian pembangunan Indonesia baru.

“M Natsir selalu berbuat dan berdoa kepada Tuhan, prestasi politiknya yang paling spektakuler adalah menyatukan 17 negara bagian menjadi satu pada usia yang masih tergolong muda, yaitu usia 42 tahun. Dan pada usia itu, M Natsir diangkat menjadi Perdana Menteri kelima menggantikan Abdul Halim,” katanya.

Sultan menambahkan M Natsir tidak hanya tokoh politik dan ulama terkemuka di Indonesia, namun ia adalah intelektual yang menguasai khasanah ilmu-ilmu Islam, memahami agama secara komprehensif, dan cara bicaranya sejuk, sangat jauh dari menghasut. “Pola hidup M Natsir sangat sederhana, setia dan kritis,” katanya.

Sementara itu ketua Keluaraga Besar Minang Yogyakarta (KBMY), Rachmad Ali mengatakan keluarga Minang ingin menjalin hubungan keluarga dengan keluarga Daerah Istimewa Yogyakarta. “Saya tegaskan bahwa hal ini tidak ada unsur politik sama sekali,” katanya.

Racmad berharap, tokoh M Natsir dapat menjadi jembatan antara keluarga Minang dan Yogyakarta. “Sepertinya harapan kami bersambut, karena ternyata Sultan memiliki keinginan yang sama dengan kami,” katanya. Rachmad juga menegaskan bahwa sosok Sultan sangat cocok menjadi Presiden Republik Indonesia mendatang, karena Sultan merupakan pemimpin yang memperhatikan orang kecil dan sangat menghargai perbedaan budaya.

Sumber:http://www.suaramerdeka.com/beta1/index.php?fuseaction=news.detailNews&id_news=18502

Categories: Islam

Arab Saudi Mulai Puasa Senin

31 Agustus 2008 mersi Tinggalkan komentar

Oleh: Yasin Santu – detikNews

Makkah – Arab Saudi dipastikan mulai menjalankan ibadah puasa hari Senin besok. Kepastian awal bulan suci Ramadhan 1429 H telah diumumkan secara resmi oleh Dewan Kerajaan Arab Saudi yang disiarkan di media elektronik siaran setempat.

“Dewan Tertinggi Mahkamah Agung Arab Saudi melakukan sidang itsbat ba’da magrib hari Sabtu 29 Sya’ban 1429 H, telah menentukan bahwa malam minggu masih termasuk malam tanggal 30 Sya’ban 1429 H bertepatan tanggal 31 Agustus 2008 M dengan demikian dipastikan bahwa hari Senin bertepatan tanggal 1 September 2008 adalah awal bulan suci Ramadhan”. Demikian dilansir Saudi Press Agency (SPA), Sabtu (30/08/2008).

Hadir pada sidang itsbat para anggota Dewan Tertinggi Mahkmah Agung Arab Saudi, Nasir bin Ibrahim Al Habib, Gaihab bin Muhammad Al Gaihab, Muhammad bin Abdullah bin Amir, Muhammad bin Sulaiman Al Badr dan Shaleh bin Muhammad Al Luhaidan.

Negara Arab lainnya, seperti Mesir, Qatar, Yaman dan Iraq, juga telah mengumumkan hari Senin, 1 September 2008 sebagai awal bulan suci Ramadhan tahun 1429 H.

Categories: Islam

Habib Rizieq Shihab Vs Abdurahman Wahid

10 Juni 2008 mersi 15 komentar

Di Mana Habib Rizieq dan Abdurrahman Wahid Sebelum Kasus Monas. Apa yang dilakukan Habib Rizieq dan Abdurrahman Wahid beberapa hari sebelum pecahnya bentrokkan di Monas, Ahad, 1 Juni 2008, bisa dijadikan cerminan siapa yang berjuang membela agama Allah SWT ini dan mana yang malah berada di sisi musuh Allah SWT? Inilah faktanya:

Habib Muhammad Rizieq Syihab

Sejak pertengahan Mei 2008, Habib Rizieq memiliki kesibukan tersendiri dengan pengacara Indra Sahnun Lubis, SH, sahabatnya. Keduanya bukan tengah mengurus masalah hukum, namun tengah mempersiapkan seorang selebritis yang mau kembali ke Islam.

Kepada sang artis, Habib berkali-kali menanyakan apakah dirinya memang sungguh-sungguh ingin kembali ke Islam, bukan dengan paksaan atau ada motivasi lain selain hidayah dari Alah SWT. Sang artis, bernama Steve Emmnauel, berkali-kali pula menyatakan keseriusannya dan menegaskan jika keinginannya itu keluar dari hati nuraninya sendiri. Bukan paksaan siapa pun.

Akhirnya, pada hari Sabtu, 24 Mei 2008, didampingi oleh Pengacara Indra Sahnun Lubis, Steve Emmanuel mengucapkan dua kalimah syahadat di depan Habib Rizieq, puluhan anggota FPI, dan para wartawan. Setelah bersyahadat, Steve memilih nama baru “Yusuf Iman”. Menurutnya, nama tersebut dipilih Steve alias Yusuf Iman karena terinspirasi oleh Cat Steven, seorang penyanyi ternama Inggris yang kembali ke Islam dan mengubah namanya menjadi Yusuf Islam.

“Alhamdulillah, saya senang, bahagia, merasa excited. Sebentar lagi mau bulan puasa, mungkin ini jadi awal yang baik untuk saya, ” ujar Yusuf Iman usai resmi mengucap dua kalimah syahadat. Kini Yusuf Iman mengisi hari demi hari dengan mendalami Islam bersama seorang Ustadz yang ditunjuk untuk membinanya.

Abdurrahman Wahid

Awal Mei 2008, Abdurrahman Wahid terbang ke Amerika serikat memenuhi undangan Simon Wiesenthal Center (SWC), sebuah LSM Zionis garda terdepan di AS. SWC akan menganugerahkan Medal of Valor, Medali Keberanian, buat Durahman yang dianggap sangat berani membela kepentingan Zionis di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar dunia bernama Indonesia .

Dalam konferensi pers di Gedung PBNU Jakarta , sebelum keberangkatannya, Durahman menyatakan bahwa kepergiannya ke AS selain untuk menerima penghargaan tersebut juga akan merayakan seklaigus mengucapkan selamat atas kemerdekaan negara Israel ke-60. Durahman bukannya tidak tahu jika kemerdekaan Israel merupakan awal dimulainya teror, pembunuhan, pemerkosaan, pengusiran yang dilakukan teroris Zionis Yahudi terhadap ratusan ribu hingga jutaan warga Palestina yang sampai detik ini masih jutaan jumlahnya yang menjadi pengungsi di negeri-negeri sekitar tanah airnya. Tapi Durahman telah memilih posisi sebagai sekutu Zionis-Israel, bukan Palestina.

Acara penganugerahan medali tersebut dilakukan dalam sebuah acara makan malam istimewa yang dihadiri banyak tokoh Zionis Amerika dan Israel, termasuk aktor pro-Zionis Will Smith (The Bad Boys Movie), di Beverly Wilshire Hotel, 9500 Wilshire Blvd., Beverly Hills, Selasa (6 Mei), dimulai pukul 19.00 waktu Los Angeles.

Sebagai tuan rumah adalah Rabbi Mervin Hier (Pendiri SWC dan Rabbi paling berpengaruh di AS 2007-2008), yang dengan tangannya sendiri mengalungkan medali tersebut ke leher Durahman. Durahman sendiri, sambil terus duduk di kursi rodanya, tersenyum dan mencium dengan penuh takzim medali tersebut. Inilah seorang manusia yang bernama Abdurrahman Wahid, tokoh sentral dalam AKKBB.

Sudah sedemikian jelas sekarang, siapa yang memperjuangkan Islam dan siapa yang memilih bersekutu dengan musuh-musuh Allah SWT. Masihkan Anda ragu mengambil posisi dalam perjuangan ini?

Sumber: Milis Rantau Net

Categories: Islam

Buya Hamka Tulis Buku Tasawuf untuk Obati Masyarakat Modern

14 April 2008 mersi 1 comment

Menulis buku mengenai tasawuf bagi Buya Hamka (1908-1981), semata-mata dilakukan untuk mengobati jiwa masyarakat modern yang semakin jauh dari nilai dan ajaran agama.

“Buya Hamka menulis buku yang bertajuk Tasawuf Modern untuk mengobati jiwa masyarakat modern yang mengalami goncangan jiwa dan gangguan ruhani,” kata Kepala Kantor Masjid Agung Al Azhar, Amliwazir Saidi, di Jakarta, Jumat (11/4).

Amliwazir menjelaskan, tasawuf yang dimaksud oleh Hamka adalah membicarakan hakikat kebenaran Tuhan dengan cara bahwa manusia harus mengenal hakikat dirinya sendiri.

Amliwazir menuturkan, Hamka mendefinisikan sufi sebagai meninggalkan budi pekerti yang tercela dan memasuki budi pekerti yang terpuji, berakhlak tinggi, sanggup menahan haus dan lapar.

Maka, lanjut Amliwazir, yang dimaksud dengan Tasawuf Modern oleh Hamka adalah mengembalikan akar tasawuf ke asalnya yang semula yaitu ajaran Alquran dan Assunnah.

Ketua PBNU, Dr Said Agil Siraj dalam kesempatan terpisah, Kamis mengatakan, Hamka merupakan sosok yang menjadi pionir dalam penyebaran ilmu tasawuf secara nasional di Tanah Air.

“Melalui buku Tasawuf Modern’ Buya Hamka adalah yang pertama mengangkat tema tasawuf di tingkat nasional,” kata Said.

Menurut Said, melalui karya tersebut tasawuf tidak lagi dikenal sebagai sekumpulan orang yang kumuh tetapi merupakan suatu pola pikir yang bisa diaplikasikan dalam zaman modern.

Selain itu, ujar dia, banyaknya kutipan dari pemikiran Imam Al Ghazali dalam Tasawuf Modern juga mengindikasikan bahwa tasawuf Buya Hamka mengacu kepada Tasawuf Sunni.

“Tasawufnya Buya Hamka adalah Tasawuf Sunni, bukan Tasawuf Falsafi apalagi Tasawuf Kejawen,” kata Said.

Tasawuf atau sufisme itu sejauh ini masih menjadi sesuatu hal yang kontroversial bagi sejumlah umat Islam. Para sufi banyak yang kerap dianggap menyimpang antara lain Ibnu Arabi yang memformulasikan konsep ala pantheisme bernama “Wihdatul Wujud” atau kesatuan wujud yang berisi keyakinan bahwa manusia dapat bersatu dengan Tuhannya.

Masjid Al Azhar pada tahun 2008 menyelenggarakan peringatan 100 Tahun Buya Hamka dengan menggelar berbagai acara antara lain dialog terbuka, festival budaya, dan rencana pembuatan Buya Hamka Center. antara/is

Sumber: http://www.republika.co.id – Jumat, 11 April 2008 16:36:00

Categories: Islam

Berkaca Kembali pada Pemikiran Pendidikan Natsir

18 Maret 2008 mersi Tinggalkan komentar

Di usia 24 tahun, Natsir memutuskan tak mengambil beasiswa penuh ke Sekolah Tinggi Ekonomi di Belanda, namun memilih mendalami pendidikan Islam.
Di usia 24 tahun, Natsir memutuskan tak mengambil beasiswa penuh ke Sekolah Tinggi Ekonomi di Belanda, namun memilih mendalami pendidikan Islam. Dalam forum Islamic Study Club (ISC), forum mahasiswa yang tinggal di Yasma Syuhada Yogyakarta, pada 1950 silam, Mohammad Natsir pernah menyampaikan konsep tentang ‘Integrasi Pendidikan dalam Islam’. Namun sayangnya, pendidikan seperti itu justru muncul di Malaysia dengan berdirinya Universitas Islam Antar Bangsa di Kuala Lumpur.
Menjelang satu abad (1908- 2008) kelahiran Natsir pada 17 Juli mendatang, tak ada salahnya jika seluruh komponen dan pemerhati pendidikan Islam di Indonesia kembali mengingat pemikiran pendidikan mantan perdana menteri pertama Indonesia tersebut. Sejak lama awal Natsir sudah mendengung – kan bahwa sistem pendidikan yang bersifat integral, universal, dan harmonis tidaklah mengenal dikotomi antara umum dan agama, apa pun bidang dan disiplin ilmu yang ditampilkan.
Pemikiran Natsir tentang dasar-dasar pendidikan yang terpadu telah dikemukakannya dalam risalah bertajuk ‘Cita-cita Pendidikan Islam’. Ia menyadari bahwa untuk merealisasikan cita-cita pendidikan Islam tidak cukup dengan mengemukakan teori-teori saja, tapi harus langsung berhadapan dengan masalah yang dihadapi.
Oleh karena itu, Natsir pada usia 24 tahun telah mengambil keputusan yang kala itu dianggap tidak populer dengan tak melanjutkan pendidikan ke pusat pendidikan tinggi. Padahal, saat itu ia berpeluang melanjutkan ke Reechthogesschool (Sekolah Ting gi Hukum) di Jakarta atau Se ko lah Tinggi Ekonomi di Be – landa dengan mendapat beasiswa penuh. Ia memutuskan berkhidmat dalam pendidikan Islam.
Setelah mengadakan persiapan selama beberapa tahun. Akhir – nya, pada 1932 Natsir mengambil keputusan berani, yakni mendi – rikan institusi pendidikan de – ngan nama Pendidikan Islam (Pen dis). Menurut KH Rusyad Nurdin, salah seorang mantan murid Pendis dari angkatan per – tama, tujuan pendidikan Pendis yang didirikan Natsir adalah mencari alternatif dari sistem pendidikan kolonial Belanda. Pendis mengutamakan sistem pendidikan yang menitikberat – kan pembentukan hati nurani, seimbangnya daya cipta dan taat tawakal kepada Allah SWT.
Para kiai dan cendekiawan
Pandangan Natsir dalam bidang pendidikan selama ini berdasarkan keyakinan bahwa Islam sebagai agama universal, dan suatu cara hidup yang sempurna. Selain itu, ia juga melihat Islam bukan saja untuk manusia sepanjang zaman tetapi juga dapat serasi dan sejalan dengan ilmu pengetahuan modern. Kekurangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Islam bukan disebabkan ketidakmampuan Islam, tetapi karena kurangnya perhatian umat Islam dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam.
Natsir berpandangan bahwa kaum intelektual Muslim harus bekerja sama dengan para kiai dalam rangka konsolidasi umat. Umat Islam di pedesaan perlu memperoleh bimbingan dan merekalah yang menjadi grassroots. Fungsi kiai bagi Natsir menentukan kemajuan umat pada level grassroots, sehingga harus ada partnership yang harmonis antara para kiai dan kaum cendekiawan.
Para cendekiawan, kata Natsir, tidak boleh hidup di menara gading dari seminar ke seminar atau dari proyek ke proyek. Para cendekiawan perlu turun ke bawah dan ikut membangun serta mencerdaskan kehidupan umat di bawahnya.
Upaya untuk mensilaturrahmi – kan antara ketiga pilar tersebut, diwujudkan Natsir dengan men – di rikan masjid-masjid kampus atau pesantren mahasiswa. Juga, menggelar penataran atau pela – tihan instruktur di kalangan para dosen dan pengasuh di kalangan pesantren.
Beberapa pemikiran pendidik – an Natsir lainnya adalah tujuan pendidikan Islam. Sebagaimana juga dengan tujuan hidup manusia yang selaras dengan konsep tauhid, kaidah yang terdapat dalam pemikiran Islam memerlukan pendekatan terpadu. Dalam pendidikan Islam tidak boleh ada dikotomi antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Lalu, pendidikan agama harus ditanamkan kepada anak didik seawal mungkin karena menyelenggarakan pendidikan anakanak bukan saja fardhu ain bagi setiap orang tua tetapi merupakan fardhu kifayah bagi tiaptiap anggota masyarakat.
Natsir juga menekankan tentang sifat universal Islam yang tidak mengenal pemi sahan sistem Timur dan Barat. Timur dan Barat sama-sama kepunyaan Allah. Ideologi Pen didikan Islam mengambil yang baik dari mana pun datangnya dan meninggal – kan yang tidak baik dari mana – pun asalnya.
Tak heran jika Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo dalam sebuah seminar belum lama ini meminta para akademisi untuk selalu mening – katkan semangat seperti yang dimiliki tokoh pendidikan seke – las Natsir. ‘’Beliau bercita-cita untuk meningkatkan pendidikan yang berbasis keagamaan dan setelah beliau wafat, bukan berarti kita menganggap selesai cita-citanya tersebut,’‘ tuturnya.
Bambang lantas meminta se – mua akademisi dan penggiat pendidikan membayangkan tentang sosok Natsir yang hanya lulusan SMA tetapi mampu me rin tis tujuh perguruan tinggi. Yakni Univer – sitas Islam Suma tera Utara (UISU), Universitas Islam Riau (UIR), Universitas Ibnu Khaldun Jakarta, Uni ver sitas Islam Bandung (Unisba), Univeristas Islam Indonesia (UII) Yogjakarta, Universitas Sultan Agung Semarang, dan Univer sitas Muslim Indonesia (UMI) Makasar. ‘’Ia salah satu tokoh pendidikan yang luar biasa,’‘ pujinya.
Sekretaris Senat Sekolah Ting – gi Ilmu Da’wah (STID) Mo ham – mad Natsir Jakarta, Imam Zamroji mengatakan sejak tahun 1950 seringkali Natsir menyebut tentang kemunculan ‘Yahya-Yah – ya Baru’. ‘’Nabi Zakariya kha – watir atas kerasulannya namun belum juga punya keturunan dan meminta kepada Allah agar diberikan keturunannya hingga akhirnya terlahir Nabi Yahya,’‘ ujarnya.
Imam menirukan ucapan Nat – sir yang suatu ketika menyata – kan optimistis munculnya generasi muda dari kalangan aka – demisi, kelompok pengajian, dan pesantren yang akan menjadi ‘Yahya Baru’ yang tidak diangkat dengan Surat Keputusan (SK) atasan. ‘’Corak pendidikan yang digagas oleh Natsir adalah pendidikan yang memberikan bekal guna menyiapkan mereka untuk menghadapi situasi sulit pada zamannya,’‘’ katanya.
Pandangan lainnya yang cukup mendasar dari Natsir, kata Imam, adalah maju mundurnya salah satu kaum bergantung pada pelajaran dan pendidikan yang berla – ku dari kalangan mereka. ‘’Ka – rena, tidak ada satu bangsa pun yang terbelakang menjadi maju melainkan sesudah mengadakan perbaikan pendidikan terhadap anak-anak dan pemuda-pemuda mereka,’‘ jelasnya.

(eye )
Sumber: http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=326882&kat_id=506

Categories: Islam

Islam dalam Tinjauan Madilog

18 Maret 2008 mersi Tinggalkan komentar

KATA PEMBUKA

Telah lebih dari setahun lamanya kopi ini tesimpan dalam almari,
karena terhalang oleh kesukaran kertas, apalagi mengingat tebalnya
lebih kurang 200 halaman dari kertas ukuran besar serta ditek dengan
mesin tulis Hermes baby, dan kalau dijadikan buku menurut ukuran yang
sekarang ini, mungkin mencapai 500 halaman, sedang niat hendak
menerbitkan sekaligus.

Nasehat tuan HAJI ILJAS JACOB-lah yang membuka perhatian untuk
menerbitkan dengan jalan beransur-ansur ini.

MADILOG, berasal dan melalui jembatan keledai, yaitu MA terialisme, DI
alektika, LOG-ika !

“Saya tidak menyangka akan sampai begitu dalam dan luas pengetahuan
TAN MALAKA, sehingga saya sebagai Jurist dipimpinnya pula ke lapangan
filsafat hukum, lebih berisi dan lanjut dari pada yang saya pelajari
di sekolah hakim”, demikian ucapnya seorang Akademisi yang jujur
setelah membaca kopi Madilog !

Penerbitan ini akan diusahakan supaya tiap tanggal 2 dan 17 setiap
bulan buku setebal ini akan mengunjungi pembacanya. Moga-moga kami
dapat memenuhi niat yang suci ini.

P E N E R B I T

Bukit Tinggi 17 Juli 1948

I s l a m

Sumber yang saya peroleh buat Agama Islam, inilah yang hidup. Seperti
saya sudah lintaskan lebih dahulu dalam buku ini, saya lahir dalam
keluarga Islam yang taat. Pada ketika sejarahnya Islam buat bangsa
Indonesia masih boleh dikatakan pagi, diantara keluarga tadi sudah
lahir seorang Alim Ulama, yang sampai sekarang dianggap keramat! Ibu
Bapa saya keduanya taat dan orang takut kepada Allah dan jalankan
sabda Nabi.

Saya saksikan ibu saya sakit menentang malaikat maut menyebut “Djuz
Yasin” berkali-kali dan sebagian besar dari AL-Qur’an, diluar kepala.
Orang kabarkan bapak saya didapati pingsan setelah badannya dalam air.
Dia mau menjawat air sembahyang, sedang menjalankan terikat, setelah
bangun sadar, dia bilang dia berjumpa dengan saya yang pada waktu itu
di negeri Belanda. Masih kecil sekali saya sudah bisa tafsirkan
Al-Qur’an, dan dijadikan guru muda. Sang Ibu menceritakan Adam dan
Hawa dan Nabi Yusuf. Tiada acap diceritakannya pemuka, piatu Muhammad
bin Abdullah, entah karena apa, mata saya terus basah mendengarnya.
Bahasa Arab terus sampai sekarang saya anggap sempurna, kaya, merdu
jitu dan mulia.

Pengaruhnya pada bahasa Indonesia pada zaman lampau bukan sedikit.
Cangkokan bahasa Arab pada bahasa Indonesia baik diteruskan, karena
lebih cocok pada lidah kita, asal betul-betul mengadakan pengertian
baru, yang tiada terbentuk pada kata Indonesia umum atau lokal,
seperti perkataan akal, fikir dsb. Saya sendiri tiada sempat
meneruskan pelajaran bahasa Arab yang saya pelajari berpuluh tahun
yang silam dengan cara surau yang sederhana itu tentulah sekarang
sudah melayang sama sekali. Tetapi semua perhubungan dengan Islam dan
Arab dahulu di Eropa, pasti mengambil perhatian saya. Dengan mengikat
pinggang lebih erat, saya ketika di Negeri Belanda membeli sejarah
dunia berjilid-jilid salinan bahasa Jerman ke Belanda, karena di
dalamnya ada sejarah Islam dan Arab dituliskan degan lebih sempurna
dari yang sudah-sudah.

Meskipun banjir ombak asik dalam senubari saja di masa usia pancaroba
dilondong hanyutkan sampai sekarang terus dihilirkan oleh kejadian
“1917″ perhatian saya tehadap Islam terus berjalan. Pengertian yang
masih saya ingat dari tafsir Qur’an itu, tentulah tiada berarti lagi.
Yang tinggal dibawah lantai kesadaran (subconciousness) ialah kesan
semata-mata. Tetapi terjemahan Qur’an ke dalam bahasa Belanda dahulu
beberapa kali saya tamatkan, semua buku dan diktatnya Almarhum Snouck
Hurgroaje tentang Islam sudah saya baca. Baru ini di Singapura saya
baca lagi terjemahan Islam ke bahasa Inggris oleh “Sales dan ahli
timur Maulana Ali Almarhum”.

Dengan begitu tiadalah pula saya maksudkan bahwa semua sumber itu
sudah cukup buat me-obor Islam dan sejarah. Ahli sejarah Barat, Arab
dan Tionghoa memang berlipat ganda lebih bisa dipercayai dari pada
Ahli sejarah Hindu. Begitulah sejarah masyarakat dengan kemajuan
pesawat dan ekonominya dibelakangkan kalau tiada dilupakan sama
sekali. Jangan pula dilupakan, bahwa sejarah politik yang semacam itu
di-tinggal-kan; tiada berseluk-beluk dan dipelantunkan dengan sejarah
politik, ekonomi, dan kelasnya masyarakat. Jadi sejarah semacam itu,
walaupun sejarah politik saja adalah pincang sekali.

Tiada mengherankan kalau dalam pembacaan, saya tiada mendapati sejarah
yang teratur selangkah demi selangkah, tentangan masyarakat, politik,
ekonomi, dan tehnik Arab, tidak saja sebelum dan ketika Muhammad SAW
mengembangkan Agama Islam, tetapi juga di dalam tempo dibelakangnya,
lebih dari 1300 tahun sampai sekarang. Tidak saja di tanah Arab tempat
asalnya agama Islam dan negara berkelilingnya, tetapi juga ditempat
mengembangnya seperti Siria, Mesir, Spanyol, Irak, Iran,
(Mesopotamia), India dan Indonesia. Dalam Negara asalnya Agama Islam
tumbuh dan berdahan, mendapat bentuk dan corak baru dan bentuk corak
ini tentulah langsung atau menukar mempengaruhi pokok asalnya di
Arabia. Teristimewa pula karena semua bangsa dari semua agama acap
berkumpul di Mekah.

Sejarah Islam berurat dan diairi oleh masyarakat politik, ekonomi dan
pesawat Arab asli dan akhirnya bertukar bentuk dan corak pada iklim
keadaan baru di luar daerah asli, menurut pengetahuan saya masih belum
ditulis. Pekerjaan semacam itu bukanlah pekerjaan sembarang ahli,
boleh jadi sekali bukan pekerjaan seorang ahli yang tersambil,
melainkan pekerjaan beberapa ahli yang bergabung dalam tempo yang
lama, boleh jadi pula bukti yang berhubungan dengan beberapa perkara
sama sekali tiada bisa diperoleh lagi. Bagaimana juga buku seperti
Foundation of Christianity buat Islam masih belum lahir.

Berhubung dengan keterangan diatas maka sejarah-Islam dalam lebih
kurang 1200 tahun sesudahnya Muhammad SAW yakni sejarah yang condong
pada politik seperti pengangkatan Imam baru, menurut dan menurutkan
partai Ali atau meneruskan pilihan yang demokratis seperti
pengangkatan Abubakar, Umar, dan Usma; perbedaan mazhabnya Imam
Syafi’I, Hanafi, Hambali dan Maliki satu aliran Islam ke arah kegaiban
(systisisme) pada satu fatihah (Imam Gazali) dan kenyataan
(rationalisme), sampai ketiadaannya Tuhan-Tuhan (atheisme), pada lain
pihak (moetazaliten); pergerakan Islam yang baru kita kenal sekarang
seperti Wahabi, Muhammadiya dan Ahmadiyah; semuanya ini mesti diseluk
dengan sejarahnya politik, ekonomi, seperti bumi dan pesawat
masyarakat Muslimin di Eropa Selatan, Afrika, Asia Barat dan Tengah
diluar maksudnya buku ini dan diluar kekuasaan kesempatan saya.

Maksud tulisan saya yang ringkas ini tentulah bukan buat pengganti
buku yang masih ditulis itu, maksudnya cuma buat petunjuk
(suggestion). Saya bagaimana juga tak lebih berlaku dari pada itu
karena kekurangan bahan bukti, lagi pula pokok perkara yang
berhubungan dengan Islam, ialah ke Esaan Tuhan, sudah termasuk boleh
dikatakan hampir sama sekali pada tulisan yang baru lalu.

Muhamad SAW mengakui sahnya kitab Yahudi dan Kristen. Muhammad SAW
mengakui Tuhannya Nabi Ibrahim dan Musa. Tetapi Tuhannya Nabi Ibrahim
dan Musa menurut Muhammad SAW itu mesti dibersihkan dari pemalsuan
Yahudi dan Kristen dibelakang hari.

Memang masyarakat Arab asli membutuhkan ke-Esaan pemimpin
sekurang-kurangnya sama dengan kebutuhan yang dirasa oleh Nabi Musa
dan daud. Pada Muhammad SAW, bangsa Arab yang terdiri dari beberapa
suku, dan menyembah bermacam-macam berhala itu mengharapkan pimpinan.
Peperangan saudara yang kejam keji tiada putus-putusnya berlaku.
Bangsa Arab teguh tegap, berdarah panas, pada negara yang sebagian
besar terdiri dari gurun pasir dan gunung batu, kurus kering, sejuk
tajam di musim dingin, panas terik di musim panas, susah gelisah
mengadakan nafkah hidup sehari-hari. Perampokan dan pembunuhan adalah
pekerjaan lazim sekali. Perniagaan ke lain negara dan dalam negarapun
mesti dikawal dengan prajurit yang siap sedia menentang musuh ialah
penyamun Badui yang rakus garang. Saudagar pada masa itu sama juga
dengan serdadu, makin ramai penduduk Arab dan memang sudah ramai,
makin sengit seru pertarungan suku dan suku. Makin banyak lelaki yang
mati makin banyak pula kelebihan perempuan. Tiada mengherankan kalau
mendapat anak perempuan dianggap sebagai malapetaka oleh rumah tangga
Arab asli itu, apa lagi rumah tangga yang tak berpunya. Perempuan
sudah terlampau banyak dan perempuan pada masyarakat semacam itu
bukanlah makhluk yang bisa mencari nafkah diluar rumah tangga,
melainkan dianggap satu makhluk penambah mulut makan. Jadi penambah
kemiskinan. Kalau perempuan banyak, dibunuh. Beruntunglah perempuan
kalau ada lelaki yang mampu mengawininya mengangkat dia jadi isteri
yang ketiga ataupun kesekian puluh. Ditengah masyarkat semacam itu
lahirlah Muhammad bin Abdullah, walaupun sukunya suku kuraisy dianggap
suku tertinggi di kota Mekkah, tiadalah ia seorang anak yang
dimanjakan oleh ibu bapa yang mampu. Dia malang atau memang beruntung
kematian ibu bapa menjadi anak piatu dan dipelihara oleh paman Abdul
Mutalib. Dari kecil sudah mengenal susah melarat di tengah-tengah
masyarakat saling sengketa dan gelap gelita. Buah pikiran kita
menyaksikan masyarakat semacam itu dan dalam keadaan semacam itu bisa
timbul paham peragai dan bumi seperti Muhammad bin Abdullah. Tetapi
memang intan itu bisa diselimuti tetapi tak bisa dicampur lebur dengan
lumpur.

Makin riuh rendah bunyi sengketa dan sentak senjata disekelilingnya
makin tenang teduh pikiran pemuka ini menghadapi sesuatu kesusahan
atau permusahan. Lawan dan kawan sekarangpun terlampau banyak
memajukan hal, bahwa Muhammad SAW seorang Nabi. Huru hara tiada bisa
disangkal, tetapi tiadalah hormat saja yang memberi petunjuk, ilham
dan kiasan kepada manusia. Mata yang nyalang, telinga yang nyaring,
serta otak yang cemerlang di tengah-tengah masyarakat itu sendiri
lebih lekas menyampaikan seseorang pada hakekat tentang pergaulan
hidup manusia dari pada buku bertimbun-timbun diluar masyarakat.
Pemuda Muhammad dilatih dan tersepuh oleh masyarakat Arab sendiri,
undang langsung yang saling seteru dan gelap gelita itu.

Entah karena wajah parasnya, entah karena perawakan peragainya dengan
langsung, entah karena cerdik kepandaiannya, entah karena semuanya,
janda orang kaya Chadijah berusia 40 tahun akhirnya menjatuhkan hati
dan kepercayaan pada pemuda 15 tahun lebih muda ini, sesudah berjasa
bertahun-tahun. Bertahun-tahun Muhammad bin Abdullah melayani
perniagaan buat janda Chadijah.

Sekaranglah baru diperoleh tempat dan tempoh mengheningkan pikiran
membanding mengiaskan, mencocokkan, menyeluk belukan persoaan yang
bertimbun-timbun jatuhnya pada pikiran yang acap terbang mealyang
seperti terdapat dalam bangsa Arab, seperti tergambar dalam cerita
1001 malam itu. Tetapi Arab bukannya Hindu. Pikiran melayang itu
selalu kembali ke tanah. Penerbangan bolak-balik di antara awang-awang
dengan daratan itu bisa berhasil, bukanlah satu scientist seperti
Newton tahu pendapat seperti Edison mesti bisa terbang dengan
pikirannya ? Tetapi mereka terbang dengan benda yang nyata menurut
undang-undang yang pasti pula.

Pada tempat yang sunyi senyap bermacam-macam di gunung diluar Mekah
timbullah berkali-kali persoalan. Langit Arabia tiada diliputi awan
pada malam itu, kalau diterangi oleh bulan dan bintangnya mesti
menarik perhatian seseorang yang sungguh (serious, ernstig). Tak heran
kalau pemuda Muhammad didesak oleh persoalan sebagai siapakah yang
mengemudikan jalannya bulan dan jutaan bintang ini, yang tetap teratur
ini. Siapakah yang menjatuhkan hujan yang memberi hidupnya
tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia itu ? Apakah asalnya dan akhirnya
manusia ini ? Tiadakah ada buat mempersatukan bangsaku, memperlihatkan
seteru sengketa dan menerangi gelap gulita itu : mengangkat bangsaku
jadi obor dunia ?

Newton dan Edison diberi pusaka oleh para scientist almarhum berupa
perkakas dan teori berupa laboratorium dan undang perhitungan. Tetapi
pemuda Muhammad hidup lebih dari 1300 tahun yang silam. Undang apakah
tentang peredaran bintang atau perhubungan hawa uap dan hujan atau
undang tentang kodrat, paduan dan pisahan jasmani dan rohani yang
sudah diketahui ? Ahli Yunani pun belum sampai kesana, kalau ada paham
yang miring kesana belum tentu paham itu sampai ke telinga Muhammad
bin Abdullah.

Demikianlah Muhammad bin Abdullah mesti mencoba jawab dengan banding
membanding pengalaman dan pengetahuannya pada mana jauh lebih tinggi,
dari pada yang dikenal oleh bangsanya dikelilingnya.

Berkali-kali sudah perdagangan dilakukan (dengan karavan kalifah) ke
Siria, barangkali juga sampai ke Mesir, ke Arabia Selatan tak mustahil
sampai ke Mesopotamia. Cantumkanlah d imata pembaca seorang pemuda
pendiam, mata sering melayang tinggi tetapi cepat bisa menaksir barang
dan uang dimukannya, kening lebar dan tinggi menandakan kecondongan
pikiran pada filsafat, tetapi juga menyaring apa yang praktis bisa
dijalankan. Bibir yang menandakan kemauan keras dan juga mahir lancar
kalau berkata, perawakan sedang, liat cepat tahan tangkas dan
berkali-kali dalam perjalanan jauh berbahaya mendapat latihan dalam
perjuangan. Penghilatan pada puluhan negara dan negeri biadab setengah
adab dan pekerjaan tawar menawar dengan saudagar bermacam-macam bangsa
dan bahasa; percakapan dengan lawan kawan, tua muda dalam usia
pancaroba dipuluhan negara dan negeri itu, semua itu mendidik penyair
dan pemimpin pembesar negara dan Nabi. Huruf dan sekolah tak bisa
memberi bahan hidup semacam itu, tetapi bahan hidup semacam itu bsa
memberi kesempatan pada Muhammad bin Abdullah menimbulkan huruf dan
sekolah baru. Tidak semuanya orang bersekolah, bisa menjadi pemimpin
Tuhan, tetapi buat seseorang pemimpin Tuhan tiadalah sekoah saja jalan
buat menyampaikan maksudnya buat melaksanakan sifatnya.

Dunia Arab berpenduduk sedang ramainya terus menerus bertarung
diantara suku dan sukunya, belum pernah dijajah dijahanamkan bangsa
Asing, sedikit dikenal oleh dunia luarnya, sudah sampai ke tingkat
persatuan satu bangsa satu bahasa dan satu pemimpin.

Tiadalah sekali mengherankan kalau Muhammad bin Abdullah tertarik oleh
tuhan Esanya, Nabi Ibrahim, Musa dan Daud. Disini Tuhan itu lebih
terang ke Esaan-nya pada pertaruangan lahir batin yang seru sengit
yang mesti dijalankan dengan jasmani dan rohani yang mesti dipimpin
oleh satu kemauan, maka kesangsian atas ke Esaannya Tuhan, pemimpin
yang Maha Tahu dan Maha Tahu itu bisa menewaskan si petarung, Satu
Tuhan itulah yang dibutuhkan oleh Arabia. Ketika Muhammad bin Abdullah
yang buta huruf itu cuma sedikti tahu tentang agama Kristen, dikatakan
oleh mereka bahwa Muhammad bin Abdullah mendapat pengetahuan itu dari
mulutnya monikkan atau rahib dan setengah ulama Kristen. Mereka
lupakan keterangan mereka sendiri bahwa Muhammad bin Abdullah sesudah
memasuki gereja Katholik di Asia Barat ia berkata :”Ini cuma rumah
berhala lain”. Sekarang pun pada abad kedua puluh ini kalau orang
memasuki gereja Katholik di Ruslan atau Rome, di Jerman atau di
Indonesia, kalau orang melihat patungnya nabi Isa dan ibunya maryam
yang dipuja dan tak mengherankan kalau orang netral mendapat kesan
seperti kesan memasuki rumah berhala Hindu atau Budha. Buat Muhammad
SAW Tuhan semata-mata rohani. Tuhan yang semata-mata rohani yang tiada
dipatungkan lagi itu baru didapat sesudah Luther dan Calvin. Jadi
sesudah lebih kurang 1500 tahun Nabi Isa lahir atau sesudah 900 tahun
nabi Muhammad wafat. Dalam gereja Protestan kita tak lihat lagi patung
yang seolah-olah mencoba mempengaruhi manusia dengan perasaan belaka;
kasihan pada nabi Isa yang tergantung dipakukan tangannya pada palang
gantungan itu oleh musuhnya Yahudi Jahanam itu. Jadi pada Protestant
nyata pengaruh Islam buat seseorang yang tiada digelapi oleh dogma
(kepercayaan) agamanya sendiri. dengan Yahudi Muhammad bin Abdullah
menganggap Tuhan itu semata-mata rohani dan berada dimana-mana.
Seseorang Muslim bisa bersambung langsung dengan Dia, tiada perlu
memakai kasta Rabbi atau pendeta sebagai perantaraan atau sebagai
tengkulak. Kelangsungan perhubungan manusia dan Tuhan itulah yang
menjadi salah satu perkara buat Protestant umumnya, Cromwell dan
tentaranya khususnya ketika berperang dengan partai Katholik dan
raja-raja Katolik. Ini terjadi juga sesudah lebih kurang seribu enam
ratus lima puluh (1650) tahun sesudah Nabi Isa wafat atau lebih kurang
1000 tahun sesudah Nabi Muhammad wafat. Pun disini nyata buat orang
yang berpikiran objectief (tenang) pengaruhnya Islam atau Nasrani
seperti juga pada Yahudi.

Jadi agamanya Nabi Isa dan Nabi Musa dijalankan pada masa perjalannya
nabi Muhammad bin Abdullah di Asia Barat itu tiadalah diambil bulat
mentah dengan tiada kritik semata-mata. Tidak saja Muhammad bin
Adullah mengambil pokok besarnya agama Yahudi dan Kristen, tetapi pada
kemudian harinya Yahudi dan Nasrani walaupun resminya tak mau mengaku
terus terang mengambil sifat baru dari Islam. Demikianlah pada
Muhammad SAW “ketunggalan” Tuhan itu ke Esaan Tuhan itu sampai ke
puncak tak ada kesangsian seperti melekat pada agama Nasrani pada masa
Muhamad SAW. Tentangan, terhadap agama Nasrani itu dikeraskan dan
dijelaskan pada satu Juz yang pendek, tetapi dianggap terpenting
sekali oleh Muslimin: bahwa Tuhan tunggal tak memperanakkan (Nabi Isa)
dan tidak diperanakan (Qul huallahuahad …………….dsb).

Karena Muhammad SAW yang mendapatkan ilham tentangan ke Esaan Tuhan
yang sempurna dan kesamaan manusia dan manusia lain terhadap Tuhan itu
yang masih belum terang benderang buat semua bangsa Yahudi pada zaman
nabi Ibrahim, lebih-lebih pada masa Nabi Sulaiman dan kemudiannya
tiada terang pula pada Kristen, Katholik, Anatolia atau Rumawi di masa
Muhammad SAW, tentulah semestinya Muhammad SAW Nabi yang terbesar dan
terakhir but monotheisme, kalau Albert Einstein menyempurnakan teori
relativity maka orang tiada berkeberatan menamainya teori itu teori
Einstein. Adakah ke Esaan yang lebih pasti dan persamaan manusia dan
manusia terhadap Tuhan lebih nyata dari pada agama Islamnya Muhammad
SAW ? Juga Nabi Isa mengakui dirinya anak Tuhan dimuka Rabbi dan
mengakui dirinya Rajanya Yahudi buat negara 1000 tahun dimuka Pilatus
? Adakah salahnya kalau Muhammad SAW mengaku pesuruh rasulnya tuhan
yang terakhir dan terbesar ?

Kepercayaan pada Allah sebagai Tuhannya yang Esa Muhammad sebagai
rasulnya dan persamaannya manusia terhadap Tuhan, belum cukup buat
mempersatukan sekalian suku Arab yang saling seteru sengketa dan
peperangan terus menerus itu. Malah hal itu menimbulkan ejekan
kebencian dan caci makian terhadap Muhammad yang oleh penduduk Mekah
diketahui sebagai anaknya Adullah dan Aminah. Sama siapakah mereka
Arab yang galak ganas itu akan takut dan apakah dunianya berbuat baik
di dunia ini kalau sesudah mati semua perkara perhubungan dengan
manusia itu berhenti sama sekali? Malah lebih baik jadi orang kuat,
kebal, piawai pendekar, berani, jahat, perampok atau apa saja asal
bisa dapatkan harta buat kesenangan, perempuan buat permainan dan
laki-laki buat hamba sahaya. Di dunia fana inilah mesti dicari puncak
kesenangan dengan mendapatkan puncak kekayaan dan kekuasaan, baik
dengan jalan halal atau haram. Demikian satu pemikir luhur merasa
perlu keterusannya hidup. Tidak didunia fana ini melainkan pada dunia
baka pada akhirat. Dengan begitu perlu pula ada jiwa terkhusus yang
bertiang dalam jasmani kita. Jasmani dan jiwa itulah kelak sesudah
hari kiamat akan dibangunkan kembali dari matinya. Jasmani dan jiwa
yang hidup kembali itu akan ditimbang kebaikan dan keburukannya, yang
berdosa akan masuk api neraka dan yang saleh akan masuk surga
dikerubungi oleh nikmat tak terhingga banyaknya ragam dan lazatnya
ditempat permai damai di antara puteri bidadari cantik molek dan manis
bagus parasnya, ratusan ribuan banyaknya yang taat saleh, terutama
yang mati sahid akan mendapat upah yang kekal dan luhur itu. Kalau
kita peramati gurun pasir dan gunung batu Arabia, peramati wataknya
Badui sekarang dan gambarkan orang Arab dan Badui semasa nabi Muhammad
maka surganya orang Islam itu surga yang tidak sejuk dingin seperti
Nirwananya Budha atau suci seperti surganya nabi Isa, maka surga Islam
itu kuat seperti kutup Utara menarik jarum pedoman, sebelum sampai ke
surga djanatunna’im itu, sesudah Muhammad SAW wafat. Arabia dan Badui
yang sudah bersatu itu mendapatkan surga dunia di Siriya, Mesir,
Spanyol, Iran dan India. Banjirnya para calon syahid yang mengalir
dari Arabia. Tuhan itu ialah Allah dan Muhammad itu ialah Rasulnya.
Tiada satu negara dan bangsapun beratus tahun bisa tahan. Begitu cocok
surga Islam dan mati sahid dengan masyarakat dan peragai Arab.

Allah itu menurut Logika tentulah tiada bisa “Maha Kuasa” kalau tidak
segenap umat manusia, segenap jam dan detik dapat menentukan nasib
manusia. Segenap detik dia bisa perhatikan matahari berjalan, bintang
dan bumi beredar, setiap detikpun tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia
di matikan, sebaliknya manusia janganlah takut menghadapi mara bahaya
apapun juga, kalau Tuhan Yang Maha Kuasa itu belum lagi memanggil. Di
dunia Islam, hal ini dinamai takdir Tuhan. Di dunia barat hal ini
dikenal sebagai pre-destination.

Calvin bapaknya Mahzap Protestant pada abad ke 17 juga mengemukakan
hal ini. Oliver Cromwell dan tentaranya di Inggris diakui paling nekat
tunggang oleh sejarah Barat, juga mengikut kepercayaan ini, pun disini
tak bisa dibantah pengaruhnya Islam pada dunia Kristen.

Memang pemikir yang ulung consequent yang mengesakan Tuhan mesti
mengesakan kekuasaannya Tuhan itu. Kalau seketika satu saja kekuasaan
dikurangi dipindahkan pada anaknya seperti pada nabi Isa, (anaknya
Tuhan) atau Maryam, dan sedetik saja kekuasaan si Atom itu bisa
dipegang diluar Tuhan dengan tidak izinnya Tuhan, maka kekuasaan Tuhan
itu tiada absolute sempurna lagi. Walaupun si Atom dalam sedetik kalau
bisa dikurangi maka kesempurnaannya dikurangi pula bukan?

Itulah maka saya anggap bahwa Agama Monotheisme nabi Muhammad yang
paling consequent terus lurus. Maka itulah sebabnya menurut logika
maka Muhammad yang terbesar diantara nabinya monotheisme. Kaum Kristen
boleh memajukan kedudukan, tingginya kaum ibu maka tingginya kasih
sayang dan ta’at setia pada dasar sebagai pusaka dari Nabi Isa.

Tetapi pada masyarakat Arab dimana perempuan tak bisa diangkat ke
tempat yang lebih tinggi dari yang dilakukan oleh Muhammad SAW. Tak
sedikit ahli sejarah Barat yang mengakui hal ini kalau lama dibelakang
wafatnya Nabi Muhammad perempuan dikudungi, dibungkus atau
ditimbun-timbunkan ke dalam haramnya Sultan atau Muslim kaya raya buat
melepaskan nafsu lelaki, maka itu adalah berhubungan rapat pula dengan
keadaan masyarakat Arab. Perkara kasih sayang Muhammad SAW juga
seperti nabi Isa berhak mempunyai. Nabi Muhammad berada dalam
masyarakat sebesarnya, sebagai pemimpin propaganda, pertarungan
peperangan dan masyarakat.

Sedangkan nabi Isa tinggal melayang diatas langit propaganda saja tak
mengatur peperangan ekonomi, politik ataupun sosial. Sebab itu lebih
gampang memegang dasar kasih sayang itu.

Tetapi Muhammad dengan memaafkan yang dahulunya mau menewaskan
jiwanya, mengubah musuhnya itu menjadi pengikut, hambanya dianggapnya
saudara kandungnya, bukankah pula kaum Kristen sendiri yang mendapat
kedudukan tinggi sekali dibawah itu dengan kaum Nasrani dibawah Rumawi
yang berkebudayaan tertinggi pada zaman purbakala itu. Begitu juga
dengan teguh tegap memegang dasar itu nabi Muhammad tiada ketinggalan.
Ketika seluruh Mekah memusuhi, mengancam jiwanya, dan dalam keadaan
begitu menewaskan harta dan pangkat kalau memperhatikan propagandannya
nabi Muhammad bersabda: Walaupun di sebelah kiri ada bintang dan di
sebelah kanan ada matahari yang melarang, saya mesti meneruskah
suruhan Tuhan.

Tetapi semua perkara ini yakni kedudukan kaum isteri dalam masyarakat,
belas kasihan kepada semua manusia, taat setia pada dasar sendiri itu,
ada lebih rapat berhubungan dengan masyarakat politik ekonomi,
pesawat dan iklim dari pada dengan kepercayaan semata-mata, hal ini
adalah diluar maksud tulisan ini. Yang dimajukan disini ialah perkara
kepercayaan pada ke Tuhanan umumnya dan ke Esaan Tuhan itu
terkhususnya. Sekali lagi disoalkan disini, bahwa pada Islam ke Esaan
itu tentangan banyak dan sifatnya sampai ke puncak.

Sebab itu pula maka pertentangan dengan ilmu pasti umumnya, madilog
terkhususnya sampai ke puncak pula. Pada permulaan buku ini perkara
itu sudah dilaksanakan Maha Keesaan Dewa Rah. Pembaca dipersilahkan
membaca bagian itu sekali lagi. Sarinya tulisan itu kalau
diperhubungkan dengan keesaan Tuhan ialah kalau seperseribu detik saja
Yang Maha Kuasa itu membatalkan bumi kita ini menarik matahari dan
meletus serta hancur luluhlah kita ke jurusan matahari yang panas
terik itu. Kalau sekiranya seperseribu satu detik saja Yang Maha Kuasa
itu bisa membatalkan undang tolak tariknya sekalian bintang matahari
dan bumi di Alam Raya ini seperti semua kereta diperhentikan dalam
satu kota pada satu saat, maka kita manusia, hewan dan benda yang
sekarang lekat pada bumi ini akan tarikan bumi akan terpelanting ke
awang-awang terus menerus terbangnya.

Jadi menurut Madilog Yang Maha Kuasa itulah bisa lebih kuasa dari
undang alam. Selama Alam ada dan selama Alam Raya itu ada, selama
itulah pula undangnya Alam Raya itu berlaku. Menurut undang Alam Raya
itu bendanya itulah yang mengandung kodrat dan menurut undang itulah
caranya benda itu bergerak berpadu, berpisah, menolak dan menarik dan
sebagainya. Kodrat dan undangnya yang berpisah sendirinya tentulah
dikenal oleh ilmu bukti. Berhubungan dengan ini maka Yang Maha Kuasa
jiwa terpisah dari jasmani, surga atau neraka yang diluar Alam Raya
ini tiadalah dikenal oleh ilmu bukti, semuanya ini adalah diluar
daerahnya Madilog. Semuanya itu jatuh ke arah kepercayaan semata-mata.
Ada atau tidaknya itu pada tingkat terakhir ditentukan oleh
kecondongan persamaan masing-masing orang. Tiap-tiap manusia itu
adalah merdeka menentukannya dalam kalbu sanubarinya sendiri. Dalam
hal ini saya mengetahui kebebasan pikiran orang lain sebagai
pengesahan kebebasan yang saya tuntut buat diri saya sendiri buat
menentukan paham yang saya junjung.

Sumber: Penerbit Widjaja, Jakarta 1951

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Feb 2008)
Sumber: http://groups.google.co.id/group/indo-marxist/browse_thread/thread/aac7e245cac7baf0/8a88f8b0bdaaeba4?hl=id&lnk=st&q=filsafat+yahudi#8a88f8b0bdaaeba4

Categories: Islam

Makna Idul Fitri

11 Oktober 2007 mersi Tinggalkan komentar

Lepas dari kemungkinan adanya perbedaan dalam menentukan Hari Raya Idul Fitri, yang jelas, seluruh umat Islam di dunia ini akan segera merayakan hari yang biasa dianggap ‘kemenangan’ tersebut. Perayaan rutin setiap tahun ini menjadi momen sangat penting setelah berpuasa selama sebulan pada bulan Ramadhan. Seluruh umat Islam merayakannya dengan suka dan cita, tak berbeda yang rajin puasa maupun yang hanya alakadarnya. Sebagaimana sudah maklum, selain Hari Raya Idul Fitri, umat Islam juga punya Hari Raya Idul Adha pada 10 Dzulhijjah. Dalam literatur-literatur Islam klasik, hari raya ini disebut Idul Akbar (hari raya besar), sementara Idul Fitri hanya disebut sebagai Idul Ashgar (hari raya kecil).. Sebagaimana hari-hari besar lain, Idul Fitri tentu memiliki makna umum sebagai hari libur nasional sekaligus makna khusus yang dirasakan umat Islam. Paling tidak, Idul Fitri dianggap sebagai hari kemenangan mengalahkan hawa nafsu dengan berpuasa sebulan penuh.

Erat kaitannya dengan Hari Raya Idul Fitri adalah zakat fitrah yang wajib dikeluarkan setiap individu Muslim. Kalimat kedua dari dua terma ini (Idul Fitri dan zakat fitrah) adalah kalimat yang berasal dari bahasa Arab fithrah yang berarti natural atau dalam bahasa Indonesianya biasa diterjemahkan sebagai segala sesuatu yang suci, bersifat asal, atau pembawaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 1997)..

Sisi etimologis
Idul Fitri terdiri dari dua kata. Pertama, kata ‘id yang dalam bahasa Arab bermakna `kembali’, dari asal kata ‘ada. Ini menunjukkan bahwa Hari Raya Idul Fitri ini selalu berulang dan kembali datang setiap tahun. Ada juga yang mengatakan diambil dari kata ‘adah yang berarti kebiasaan, yang bermakna bahwa umat Islam sudah biasa pada tanggal 1 Syawal selalu merayakannya (Ibnu Mandlur, Lisaanul Arab).

Dalam Alquran diceritakan, ketika para pengikut Nabi Isa tersesat, mereka pernah berniat mengadakan ‘id (hari raya atau pesta) dan meminta kepada Nabi Isa agar Allah SWT menurunkan hidangan mewah dari langit (lihat QS Al Maidah 112-114). Mungkin sejak masa itulah budaya hari raya sangat identik dengan makan-makan dan minum-minum yang serba mewah. Dan ternyata Allah SWT pun mengkabulkan permintaan mereka lalu menurunkan makanan.(QS Al-Maidah: 115).

Jadi, tidak salah dalam pesta Hari Raya Idul Fitri masa sekarang juga dirayakan dengan menghidangkan makanan dan minuman mewah yang lain dari hari-hari biasa. Dalam hari raya tak ada larangan menyediakan makanan, minuman, dan pakaian baru selama tidak berlebihan dan tidak melanggar larangan. Apalagi bila disediakan untuk yang membutuhkan.

Abdur Rahman Al Midani dalam bukunya Ash-Shiyam Wa Ramadhân Fil Kitab Was Sunnah (Damaskus), menjelaskan beberapa etika merayakan Idul Fitri. Di antaranya di situ tertulis bahwa untuk merayakan Idul Fitri umat Islam perlu makan secukupnya sebelum berangka ke tempat shalat Id, memakai pakaian yang paling bagus, saling mengucapkan selamat dan doa semoga Allah SWT menerima puasanya, dan memperbanyak bacaan takbir. Kata yang kedua adalah Fitri. Fitri atau fitrah dalam bahasa Arab berasal dari kata fathara yang berarti membedah atau membelah, bila dihubungkan dengan puasa maka ia mengandung makna `berbuka puasa’

(ifthaar). Kembali kepada fitrah ada kalanya ditafsirkan kembali kepada keadaan normal, kehidupan manusia yang memenuhi kehidupan jasmani dan ruhaninya secara seimbang. Sementara kata fithrah sendiri bermakna `yang mula-mula diciptakan Allah SWT` (Dawam Raharjo, Ensiklopedi Alquran: hlm 40, 2002). Berkaitan dengan fitrah manusia, Allah SWT berfirman dalam Alquran: “Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu?.

Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (QS. Al A`râf: 172).” Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh manusia pada firtahnya mempunya ikatan primordial yang berupa pengakuan terhadap ketuhanan Allah SWT. Dalam hadis, Rasulallah SAW juga mempertegas dengan sabdanya: “Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah: kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi (HR. Bukhari).” Hadits ini memperjelas kesaksian atau pengakuan seluruh manusia yang disebutkan Alquran di atas.

Sisi terminologi
Kendati dalam literatur-literatur Islam klasik, Idul Fitri disebut sebagai Idul Ashgar (hari raya yang kecil) sementara Idul Adhha adalah Idul Akbar (hari raya yang besar), umat Islam di Tanah Air selalu terlihat lebih semarak merayakan Idul Fitri dibandingkan hari-hari besar lainnya, bahkan hari raya Idul Adha sekalipun. Momen Idul Fitri dirayakan dengan aneka ragam acara, dimulai dengan shalat Id berjamaah di lapangan terbuka hingga halal bi halal antarkeluarga yang kadang memanjang hingga akhir bulan Syawal.

Dalam terminologi Islam, Idul Fitri secara sederhana adalah hari raya yang datang berulang kali setiap tanggal 1 Syawal yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Artinya, kata fitri disitu diartikan `berbuka atau berhenti puasa` yang identik dengan makan-makan dan minum-minum. Maka tidak salah apabila Idul Fitri pun disambut dengan pesta makan-makan dan minum-minum mewah yang tak jarang terkesan diada-adakan oleh sebagian keluarga.

Terminologi Idul Fitri seperti ini harus dijauhi dan dibenahi, sebab selain kurang mengekspresikan makna Idul Fitri sendiri, juga terdapat makna yang lebih mendalam lagi. Idul Fitri seharusnya dimaknai sebagai `kepulangan seseorang kepada fitrah asalnya yang suci` sebagaimana ia baru saja dilahirkan dari rahim ibu. Secara metafor, kelahiran kembali ini berarti seorang Muslim yang selama sebulan melewati Ramadhan dengan puasa, qiyam, dan segala ragam ibadahnya harus mampu kembali berislam, tanpa benci, iri, dengki, serta bersih dari segala dosa dan kemaksiatan.

Idul Fitri berarti kembali pada naluri kemanusian yang murni, kembali pada keberagamaan yang lurus, dan kembali dari seluruh praktik busuk yang bertentangan dengan jiwa manusia yang masih suci. Kembali dari segala kepentingan duniawi yang tidak islami. Inilah makna Idul Fitri yang asli.

Adalah kesalahan besar apabila Idul Fitri dimaknai dengan `perayaan kembalinya kebebasan makan dan minum` sehingga yang tadinya dilarang makan siang, setelah hadirnya Idul Fitri akan balas dendam., atau dimaknai sebagai kembalinya kebebasan berbuat maksiat yang tadinya dilarang dan ditinggalkan. Kemudian, karena Ramadhan sudah usai maka kemaksiatan kembali ramai-ramai digalakkan. Ringkasnya, kesalahan itu pada akhirnya menimbulkan sebuah fenomena umat yang saleh musiman, bukan umat yang berupaya mempertahankan kefitrian dan nilai ketakwaan.

Ikhtisar
- Idul fitri merupakan momentum terbaik bagi setiap manusia untuk kembali ke fitrahnya sebagai makhluk yang suci dan terampuni dosanya.
- Cuma, saat ini masih banyak kalangan yang mengartikan Idul Fitri hanya sebagai hari terbebasnya manusia dari kewajiban berpuasa.
- Ada juga kalangan yang menjadikan Idul Fitri sebagai hari pamer kemewahan.
- Mereka yang keliru memaknai Idul Fitri hanya akan menjadi manusia yang saleh secara musiman.

Oleh : Nur Faizin Muhith
Mahasiswa Pascasarjana Departemen Tafsir dan Ilmu-ilmu Alquran Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

Sumber: http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=309998&kat_id=16

Categories: Islam

Menghakimi al-Mukarram Ustadz H. Abu Bakar Baasyir

16 September 2007 mersi 1 comment

Menghakimi al-Mukarram Ustadz H. Abu Bakar Baasyir

KEBANYAKAN kita di sini sudah tahu nama al-Ustadz al-Mukarram Haji Abu Bakar Baasyir, Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI)

(Pimpinan Pondok Pesantren Islam al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, provinsi Jawa Tengah (Jateng).

 

Ustadz Baasyir adalah di antara tokoh fundamentalis (garis keras) Islam — Baasyir menyebutnya “garis lurus” — Indonesia paling dimusuhi Amerika Serikat (AS) dan Barat. Sejauh pencermatan Cucu Magek Dirih, Baasyir dianggap tokoh yang punya link dengan teroris — beberapa yang ditangkap aparat/polisi dan dinyatakan sebagai pelaku teror diketahui pernah nyantri di pesantren pimpinannya. AS/beberapa negara Barat menganggap Baasyir memiliki hubungan dengan al-Qaida (pimpinan Osama bin Laden). Baasyir sendiri pun juga pernah menjalani polisionel dan dinyatakan bersalah oleh pengadilan/menjalani hukuman. Sampai sejauh ini Ustadz Abu Bakar Baasyir masih menjadi titik perhatian AS/Barat — ibarat duri dalam daging, tapi, Indonesia tetap melakukan pendekatan hukum terhadapnya. Memang, Baasyir sendiri tetap menunjukkan dirinya masih diawasi dengan ketat. Semua gerak/aktivitasnya masih tetap diawasi oleh aparat.

Ustadz Baasyir sendiri, pada keyakinan/pandangan/sikapnya, merasa melakukan hal yang biasa saja yang ia pandang sudah seharusnya ia lakukan. Ia pun menunjukkan kehenaran, kenapa dirinya ditakuti — toh ia hanyalah seorang pribadi yang sudah lanjut usia dan lemah. Ia menduga, yang ditakuti pada dirinya mungkin karena ia memperjuangkan/menegakkan syariat Islam. Karena itu pula, Baasyir memiliki pendukung/pengagum — ada banyak orang yang memandangnya sebgai tokoh/pemimpin Islam yang bersikap/berpendirian.

Komite Penegakan Syariat Islam (KPSI) Sumatera Barat pimpinan ketua H. Irfianda Abidin dan MMI Sumatera Barat pimpinan Zulkifli M. Siddik — bersama tokoh/pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam Sumatera Barat lainnya — mendatangkan Ustadz Abu Bakar Baasyir ke sini — di antaranya berkunjung ke Harian Pagi Padang Ekspres. Baasyir berbicara di masjid Nurul Iman — dari semula di lapangan Imam Bonjol. Juga tampil berbicara di kota-kota antara lain di Pariaman, Padangpanjang, Bukittinggi, dan Payakumbuh. KPSI menaja kedatangan Baasyir sekaligus menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan 1428 H. Dan, menurut pencermatan Cucu Magek Dirih, kedatangan ustadz Abu Bakar Baasyir juga dapat dipandang sebagai memenuhi harapan/dahaga sebagian masyarakat yang ingin tahu Baasyir lebih dekat.
BEGITULAH Cucu Magek Dirih menyempatkan diri bergabung dengan rekan-rekannya dalam dialog dengan Abu Bakar Baasyir di ruang Carano, kantor Harian Pagi Padang Ekspres. Dan, Cucu ingin mendengar langsung/sendiri seperti apa bicara/pandangan/sikap seorang Abu Bakar Baasyir yang sementara ini terkesan begitu ditakuti/mengkhawatirkan sementara kalangan. Cucu pun berharap dapat mengetahui langsung, sekeras/sefundamentalis apa bicara/pandangan/sikap seorang Abu Bakar Baasyir. Toh — jelek-jelek, Cucu punya bekal cukup memadai karena pernah menjalani pendidikan agama pada sekolah tingkat menengah (PGAN Negeri 4 Tahun/PGA Negeri 6 Tahun Padang) dan perguruan tinggi (jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol) dan membaca buku-buku agama Islam/berguru pada tokoh-tokoh agama Islam.

Dalam pandangan Cucu Magek Dirih, bicara/pandangan/sikap al-Mukarram al-Ustadz H. Abu Bakar Baasyir tergolong “garis lurus” (keras/fundamentalis) seperti dikatakannya sendiri. Cucu teringat dengan Ibnu Saud (pendiri kerajaan Sudi Arabia) mengambil remaja sisa kabilah yang dikalahnya dan kemudian dididik dalam satu sistem pasukan berani mati — yang alirannya kemudian dikenal sebagai Wahabiyah). Mendengar Baasyir, kita seakan diajak agar mau berjihad menegakkan syariat Islam — kalau pun ada konsekuensi/implikasinya apa pun akan dipandang sebagai syahid (kesanggupan menanggungkan risiko/konsekuensi/implikasi perbuatan). memang dengan mengutip nash (al-Qoran/hadits). Seperti tidak ada sikap toleransi/kesabaran menghadapi realitas seburuk apa pun. Seakan kita tengah berperang melawan musuh.
Cucu mengajak dengan mengemukakan, ke-1, ada peluang pada apa yang kita pahami/sikapi — sejauh bukan tentang Syariat Islam yang jelas, ternyata kemudian keliru karena keterbatasan ilmu/informasi. Ke-2, tiap nash memiliki konteks (asbabu an-nuzul/asbabu al-Urut). Kita diperintah menuntut ilmu — hatta ke China.

Zaman/realitas/asumsi/konteks terus berubah. Perlu kecerdasan dan kearifan para pemimpin/ulama — sebagian kecil umat tafaqquh fi al-dhien. Ke-3, bagaimana menyikapi/memperlakukan orang-orang Islam yang tidak menjalankan dan menegakkan syariat Islam? Ke-4, bagaimana bersikap/memperlakukan orang non muslim? Nabi Muhammad memberikan peluang orang nonmuslim jadi pembantunya. Ke-5, bagaimana pandangan tentang al-mau’idzati al-Hasanah dan lita’arafu. Ke-6, bagaimana hasanah di dunia/hasanah di akhirat?
LUAR biasa!! Ternyata Al-Mukarram Baasyir memiliki wawasan/persepsi/pandangan megejutkan. Ternyata, yang dimiliki Baasyir bukan semata Islam yang seakan menakutkan/memusuhi. Ternyata setiap ayat/hadist saling berkaitan. Tidak dapat dijelaskan dengan satu nash karena nash yang satu harus dipahami bersama nash lain berkaitan! Pandangan/sikap Baasyir tentang pertanyaan yang diajukan Cucu yang dijawab semua, menggambarkan ia seperti kiyai/ulama lainnya. Kalau saja Baasyir berbicara/berpandangan/bersikap dengan keutuhan ajaran/nilai Islam, tidak perlu ada tudingan/ada kekeliruan dalam pengajaran Islam di sekolah Islam! Tidak perlu ada kesalahpahaman terhadap seorang Baasyir! Tidak perlu ada ketakutan/kekhawatiran pada Baasyir! Tidak perlu ada kerugian politik/sosial ditanggung bangsa Indonesia. Islam membawa rahmat pada seisi alam.

Kata Baasyir, setelah beriman/beragama Islam dan menjalankan/menegakkan syariat Islam dengan berpegang al-Qoran/al-Sunnah, urusan dunia diserahkan pada umat, diperintah mencari/menuntut ilmu — kalau perlu ke China (yang tidak beragama Islam). Hidup hasanah di dunia untuk hasanah di al-Akhirah. Ajakan pada syariat Islam dilakukan dengan cerdas/arif (al-mau’idzati al-hasanah). Tak ada paksaan masuk Islam. Orang Islam bergaul dengan suku-bangsa lain — walau Baasyir mengharapkan suku/bangsa lain masuk Islam (persaudaraan sesama muslim). Orang Islam harus membantu orang nonmuslim. Islam agama damai/membawa kedamaian-keselamatan. Islam tidak memusuhi selama tidak dimusuhi/berperang hanya membela diri — Baasyir menyebut dua kategori nonmuslim: yang memusuhi/yang tidak memusuhi.

Ya, Tuhan! Kenapa selama ini al-Ustadz al-Mukarram Abu Bakar Baasyir ditampilkan tidak utuh. Hanya menampilkan sisi keras/ekstrim dari bicara/pandangan/sikap Baasyir sehingga citra kyai sepuh/amir MMI/pimpinan pesantren al-Mukmin Ngruki itu jadi menakutkan/mengkhawatirkan. Tapi, terhadap Kyai Baasyir dan pengikutnya, ada kelemahannya menjelaskan/mengajarkan Islam secara tidak utuh dan menggambarkan Islam hanya jihad sempit menegakkan syariat Islam — bersedia mati/syahid dan menerima segala risiko/konsekuensi/implikasi darinya (janji syahid/masuk syurga). Adakah kyai/ulama memperkenalkan Islam/mengajarkan Islam pada generasi/umat menonjolkan sisi keras/ekstrim, mengabaikan aspek/dimensi kebijaksanaan/kebajikan/kelembutan Islam membawa selamat/damai? Melupakan sisi rahmatan li al’alamin, sehingga Islam ditakuti?

Sebagai ciptaan Allah kita tak semata hidup hanya untuk al-Akhirah. Membaca doa beberapa kali sehari, di antaranya meminta hasanah di dunia (ka annaka ta’itsu abada/hidup selamanya) dan hasanah di akhirat (ka annaka tamuttu ghaddan) — hasanah di dunia untuk mencapai hasanah di akhirat. Kita tak memaksa orang nonmuslim untuk mengikuti kita — apalagi cara paksa. Kita tidak memusuhi/memerangi orang nonmuslim kalau mereka tidak memusuhi/memerangi kita. Tidak semua diselesaikan karena ada kehendak/kuasa Allah. Memang kita diperintah menegakkan kebenaran dengan kekuatan, tapi, kalau tidak mungkin dilakukan dengan harta, dan kalau tidak mungkin juga dilakukan dengan hati/doa — selemah-lemah iman. Kita mengajak umat/orang pada kebaikan dengan cara/pendekatan cerdas dan bijaksana (ilmu).

DALAM pemahaman Cucu Magek Dirih, sangat mungkin terjadi kesalahan penafsiran/kesalahan pemahaman/kesalahan menyikapi/kesalahan mengambil tindakan. Sering kita mudah menyimpulkan dan menghakimi. Selama itu lebih bersifat penafsiran/pemahaman/penjelasan yang merujuk pada syariah Islam pun sangat mungkin terjadi perbedaan sisi pandang/apa yang menjadi dasar orang memandang/menyikapi, dan akhirnya perbedaan sikap/perlakuan/tindakan yang diambil berdasar pengetahuan/penafsiran/pemahaman. Bukankah di antara sahabat utama bisa terjadi perbedaan memandang/menafsirkan/memahami? Bukankah di antara ulama besar seperti Hanafi/Syafii/Hanbali saja ada perbedaan sisi pandang/penafsiran terhadap nash yang sama? Kebenaran — sejauh sisi pandang/penafsiran/pemahaman terhadap nash — hakiki hanya milik Allah. (***)
H. Sutan Zaili Asril

Sumber: http://www.kotasolok.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=3601

Categories: Islam