Category Archives: Makalah Mersi-BK 2008

Undangan Nikah

Dimohon kehadiran Bapak/Ibu, Uda/Uni, Kawan2 kasadonyo pada pernikahan:

Fitria Aini (Alumni BK 2003 – Ilmu Keperawatan UGM) dengan Riko Muliadi (Alumni Mersi 1997 – Teknik Mesin UGM)

Waktu: Sabtu, 20 Desember 2008

Tempat: Jln. Indah Jelita No. 66 Kelurahan Balai Gurun Payakumbuh Utara, Payakumbuh – Sumbar

Mohon do’a restu dan kehadirannya…

NB: Berita ini diterima admin langsung dari yang punya hajatan. So, siapa ni yang akan mengikuti jejak pernikahan Mersi-BK selanjutnya?? Awak tunggu yo kabanyo..He..He…

SISTEM KEKERABATAN DI MINANGKABAU

OLEH: DITA FLORESYONA (ASRAMA BUNDO KANDUANG D.I YOGYAKARTA 2008)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT Yang Maha Pengasih Lagi MahaPenyayang yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingg penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul” SISTEM KEKERABATAN DI MINANGKABAU “.

Dalam menyusun makalah ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman dan semua pihak yang telah turut serta mendukung dan membimbing hingga terwujudnya makalah ini.

Tiada gading yang tak retak ,penulis menyadari semua keterbatasan yang dimiliki.Untuk itu penulis mengharapkan segala kritik dan saran dari pembaca agar kedepannya penulis dapat berbuat lebih baik lagi.

Penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.Atas perhatian dari pembaca sekalian penulis mengucapkan terima kasih dan mohon maaf bila ada kekhilafan.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada zaman ini banyak putra –putri minang yang tidak mengetahui tentang sistem kekerabatan serta peran dan kedudukan mereka dalam kaum.Hal ini tentu sangat menyedihkan mengingat mereka adalah generasi penerus yang diharapkan dapat mengangkat dan mengharumkan nama minang.Tapi bagaimana hal itu dapat terjadi jika mereka sendiri kurang mengetahui tentang sistem kekerabatan yang berlaku di nagari mereka sendiri. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor salah satunya yaitu minimnya pengetahuan yang mereka dapatkan tentang sistem kekerabatan yang ada di Minang .Untuk itulah makalah ini hadir sebagai salah satu sumber informasi bagi para generasi muda minang khususnya, yang kurang mengetahui mengenai seluk beluk sistem kekerabatan yang ada di Minangkabau.

1.2 Rumusan Masalah

1.Apa sistem kekerabatan yang berlaku di Minangkabau?
2.Apa yang dimaksud dengan sistem kekerabatan matrilineal?
3.Apa ciri-ciri sistem kekerabatan matrilineal?
4.Bagaimana peran dan kedudukan wanita di minang menurut sistem kekerabatan matrilimeal?
5.Bagaimana peran dan tanggung jawab laki-laki di minang?


1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ian adalah:
1.Untuk mengetahui sistem kekerabatan yang berlaku di Minangkabau
2.Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem kekerabatan matrilineal
3.Untuk mengetahui ciri-ciri sistem kekerabatan matrilineal

4.Untuk mengetahui .bagaimana peran dan kedudukan wanita di minang menurut sistem kekerabatan matrilimeal.

5.Untuk mengetahui bagaimana peran dan tanggung jawab laki-laki di minang .

BAB II ISI

2.1 Sistem Kekerabatan Yang Berlaku di Minangkabau

Masyarakat minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal. Sistem matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan klen dari perkauman ibu.Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam sukunya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal.Dengan kata lain seorang anak di minangkabau akan mengikuti suku ibunya.

Segala sesuatunya diatur menurut garis keturunan ibu.Tidak ada sanksi hukum yang jelas mengenai keberadaan sistem matrilineal ini, artinya tidak ada sanksi hukum yang mengikat bila seseorang melakukan pelanggaran terhadap sistem ini. Sistem ini hanya diajarkan secara turun temurun kemudian disepakati dan dipatuhi, tidak ada buku rujukan atau kitab undang-undangnya. Namun demikian, sejauh manapun sebuah penafsiran dilakukan atasnya, pada hakekatnya tetap dan tidak beranjak dari fungsi dan peranan perempuan itu sendiri.

2.2 Ciri-ciri Sistem Kekerabatan Matrilineal

Adapun karakteristik dari sistem kekerabatan matrilineal adalah sebagai berikut:
1.Keturunan dihitung menurut garis ibu.
2. Suku terbentuk menurut garis ibu
Seorang laki-laki di minangkabau tidak bisa mewariskan sukunya kepada anaknya.Jadi jika tidak ada anak perempuan dalam satu suku maka dapat dikatakan bahwa suku itu telah punah.
3. Tiap orang diharuskan kawin dengan orang luar sukunya (exogami)
Menurut aturan adat minangkabau seseorang tidak dapat menikah dengan seseorang yang berasal dari suku yang sama . Apabila hal itu terjadi maka ia dapat dikenakan hukum ada, seperti dikucilkan dalam pergaulan.
4. Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-laki
Yang menjalankan kekuasaan di minangkabau adalah laki-laki ,perempuan di minangkabau di posisikan sebagai pengikat ,pemelihara ,dan penyimpan harta pusaka.
5. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami mengunjungi rumah istrinya
6. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.

2.3 Peran dan Kedudukan Wanita di Minangkabau

Pada dasarnya sistem matrilineal bukanlah untuk mengangkat atau memperkuat peranan perempuan, tetapi sistem itu dikukuhkan untuk menjaga, melindungi harta pusaka suatu kaum dari kepunahan, baik rumah gadang, tanah pusaka dan sawah ladang.

Dalam sistem matrilineal perempuan diposisikan sebagai pengikat, pemelihara dan penyimpan, sebagaimana diungkapkan pepatah adatnya amban puruak atau tempat penyimpanan. Itulah sebabnya dalam penentuan peraturan dan perundang-undangan adat, perempuan tidak diikut sertakan. Perempuan menerima bersih tentang hak dan kewajiban di dalam adat yang telah diputuskan sebelumnya oleh pihak ninik mamak.

Perempuan menerima hak dan kewajibannya tanpa harus melalui sebuah prosedur apalagi bantahan.
Hal ini disebabkan hak dan kewajiban perempuan itu begitu dapat menjamin keselamatan hidup mereka dalam kondisi bagaimanapun juga. Semua harta pusaka menjadi milik perempuan, sedangkan laki-laki diberi hak untuk mengatur dan mempertahankannya.

Perempuan tidak perlu berperan aktif seperti ninik mamak. Perempuan minangkabau yang memahami konstelasi seperti ini tidak memerlukan lagi atau menuntut lagi suatu prosedur lain atas hak-haknya. Mereka tidak memerlukan emansipasi lagi, mereka tidak perlu dengan perjuangan gender, karena sistem matrilineal telah menyediakan apa yang sesungguhnya diperlukan perempuan.

2.4. Peran dan Kedudukan Laki-laki di Minangkabau

Kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam adat Minangkabau berada dalam posisi seimbang. Laki-laki punya hak untuk mengatur segala yang ada di dalam perkauman, baik pengaturan pemakaian maupun pembagian harta pusaka. Perempuan sebagai pemilik dapat mempergunakan semua hasil itu untuk keperluannya anak beranak.

Peranan laki-laki di dalam dan di luar kaumnya menjadi sesuatu yang harus dijalankannya dengan seimbang dan sejalan. Adapun peranan laki-laki di minangkabau terbagi atas:

2.4.1 Sebagai Kemenakan

Di dalam kumnya seorang laki-laki berawal sebagai kemenakan. Sebagai kemenakan dia harus mematuhi segala aturan yang ada di dalam kaum. Belajar untuk mengetahui semua aset kaumnya dan semua anggota keluarga kaumnya.

Oleh karena itu, ketika seseorang berstatus menjadi kemenakan, dia selalu disuruh ke sana ke mari untuk mengetahui segala hal tentang adat dan perkaumannya.

Dalam kaitan ini, peranan surau menjadi penting, karena surau adalah sarana tempat mempelajari semua hal itu baik dari mamaknya sendiri maupun dari orang lain yang berada di surau tersebut. Dalam menentukan status kemenakan sebagai pewaris sako dan pusako, anak kemenakan dikelompokan menjadi tiga kelompok:
a. Kemenakan di bawah daguak
Kemenakan di bawah daguak adalah penerima langsung waris sako dan pusako dari mamaknya
b. Kemenakan di bawah pusek
Kemenakan di bawah pusek adalah penerima waris apabila kemenakan di bawah daguak tidak ada (punah).
c. Kemenakan di bawah lutuik
Kemenakan di bawah lutuik, umumnya tidak diikutkan dalam pewarisan sako dan pusako kaum.

2.4.2 Sebagai Mamak

Pada giliran berikutnya, setelah dia dewasa, dia akan menjadi mamak dan bertanggung jawab kepada kemenakannya. Mau tidak mau, suka tidak suka, tugas itu harus dijalaninya. Dia bekerja di sawah kaumnya untuk saudara perempuannya anak-beranak yang sekaligus itulah pula kemenakannya. Dia mulai ikut mengatur, walau tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan mamaknya yang lebih tinggi, yaitu penghulu kaum

2.4.3 Sebagai Penghulu

Selanjutnya, dia akan memegang kendali kaumnya sebagai penghulu. Gelar kebesaran diberikan kepadanya, dengan sebutan datuk. Seorang penghulu berkewajiban menjaga keutuhan kaum, mengatur pemakaian harta pusaka. Dia juga bertindak terhadap hal-hal yang berada di luar kaumnya untuk kepentingan kaumnya.

Setiap laki-laki terhadap kaumnya selalu diajarkan; kalau tidak dapat menambah (maksudnya harta pusaka kaum), jangan mengurangi (maksudnya, menjual,menggadai atau menjadikan milik sendiri). Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa peranan seorang laki-laki di dalam kaum disimpulkan dalam ajaran adatnya:

Tagak badunsanak mamaga dunsanak
Tagak basuku mamaga suku
Tagak ba kampuang mamaga kampuang
Tagak ba nagari mamaga nagari

2.4.4 Peranan Laki-laki di Luar Kaum

Selain berperan di dalam kaum sebagai kemanakan, mamak atau penghulu, seorang anak lelaki setelah dia kawin dan berumah tangga, dia mempunyai peranan lain sebagai tamu atau pendatang di dalam kaum isterinya. Artinya di sini, dia sebagai duta pihak kaumnya di dalam kaum istrinya, dan istri sebagai duta kaumnya pula di dalam kaum suaminya.Satu sama lain harus menjaga kesimbangan dalam berbagai hal, termasuk perlakuan-perlakuan terhadap anggota kaum kedua belah pihak. Di dalam kaum istrinya, seorang laki-laki adalah sumando (semenda). Sumando ini di dalam masyarakat Minangkabau dibuatkan pula beberapa kategori;

a. Sumando ninik mamak

Artinya, semenda yang dapat ikut memberikan ketenteraman pada kedua kaum; kaum istrinya dan kaumnya sendiri. Mencarikan jalan keluar terhadap sesuatu persoalan dengan sebijaksana mungkin. Dia lebih berperan sebagai seorang yang arif dan bijaksana.Sikap ini yang sangat dituntut pada peran setiap sumando di minangkabau

b. Sumando kacang miang

Artinya, sumando yang membuat kaum istrinya menjadi gelisah karena dia memunculkan atau mempertajam persoalan-persoalan yang seharusnya tidak dimunculkan.Sikap seperti ini tidak boleh dipakai.

c. Sumando lapik buruk

Artinya, sumando yang hanya memikirkan anak istrinya semata tanpa peduli dengan persoalan-persoalan lainnya.

Dikatakan juga sumando seperti seperti itu sumando apak paja, yang hanya berfungsi sebagai tampang atau bibit semata. Sikap seperti ini juga tidak boleh dipakai dan harus dijauhi.Sumando tidak punya kekuasan apapun di rumah istrinya, sebagaimana yang selalu diungkapkan dalam pepatah petitih:

Sadalam-dalam payo
Hinggo dado itiak
Sakuaso-kuaso urang sumando
Hinggo pintu biliak
Sebaliknya, peranan sumando yang baik dikatakan;
Rancak rumah dek sumando
Elok hukum dek mamaknyo

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal dimana wanita mempunyai peran penting sebagai pengikat, pemelihara,dan penyimpan harta pusaka.Sedangkan laki-laki mempunyai peranan penting untuk mengatur dan mempertahankan harta pusaka.

Kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam adat Minangkabau berada dalam posisi seimbang. Laki-laki punya hak untuk mengatur segala yang ada di dalam perkauman, baik pengaturan pemakaian, pembagian harta pusaka, perempuan sebagai pemilik dapat mempergunakan semua hasil itu untuk keperluannya .

3.2 Saran

Makalah yang penulis susun ini tentu saja masih jauh dari kesempurnaan .Untuk itu ,saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini pada masa mendatang.

PENYIMPANGAN PERILAKU PEMUDA MINANGKABAU DI PANDANG DARI SEGI BUDAYA DAN ADAT MINANGKABAU

OLEH: AHMAD ZAKKY SEBAGAI SYARAT CALON WARGA ASRAMA MAHASISWA MERAPI SINGGALANG TAHUN 2008

Kata Pengantar

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia Nya kepada kita semua, sehingga sampai saat ini kita masih dalam keadaan sehat dan masih bisa melaksanakan segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari dunia yang tidak berilmupengetahuan kepada dunia yang berilmupengetahuan dan berpendidikan seperti yang kita rasakan pada sekarang ini.

Terimakasih penulis ucapkan atas semua pihak yang ikut terlibat dalam pembuatan makalah ini. Terimakasih atas bantuan kakak-kakak dan teman-teman yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Terimakasih atas kesabaran “uda-uda” yang rela meluangkan waktunya yang berharga untuk mengoreksi makalah penulis ini. Terimakasih atas segala fasilitas yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan ini. Terima kasih atas masukan dan saran yang diberikan kepada kami sebagai calon anggota baru Asrama Mahasiswa Merapi Singgalang secara umum dan kepada penulis secara khusunya untuk menyelesaikan makalah ini. Dan terimakasih atas teman-teman yang sepenanggungan dengan penulis, angkatan 2008 ini yang baik secara langsung atau tidak langsung telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Dan tidak lupa kepada semua pihak yang tidak tersebutkan namanya yang berkontribusi baik secara langsung tau tidak langsung dalam menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini menceritakan tentang bagaimana suatu tatanan kehidupan baru yang jauh dari nilai budaya dan adat Minangkabau yang mengancam kelangsungan dari budaya dan adat Minangkabau itu sendiri. Maka tidak menutup kemungkinan bahwa anak cucu kita tidak dapat lagi mengetahui dan menikmati budaya dan adat Minangkabau. David Chanei, seorang profesor Sosilologi di Univesitas Durham dalam bukunya yang berjudul Lifestyle Sebuah pengantar Komprehensif (Jalasutra 2003) pernah berargumen, bahwa gaya hidup merupakan ciri sebuah tatanan dunia modern, atau disebut dengan istilah modernitas. Dari asumsi itu jelas terkandung pengertian yang kita serap bahwa siapapun yang hidup dalam dunia modern hari ini, akan menggunakan gagasan tentang gaya hidup untuk menggambarkan tindakannya sendiri ataupun orang lain.
Dengan meminjam pandangan almarhum Prof. Umar Kayang,”seni dan budaya harus dimaknai sebagai kata kerja, bukan kata benda. Seni dan budaya harus hidup, tumbuh, dan berkembang sesuai dinamika masyarakatnya”. Jadi, apapun kondisi masyarkat saat ini, kita harus tetap menjaga budaya dan adat Minangkabau.

Penulis berharap agar makalah ini tidak hanya dilihat sebagai patokan atau sebagai syarat untuk menjadi anggota baru Asrama Mahasiswa Merapi Singgalang tahun 2008, namun agar pembaca dan pendengar dapat mengambil hal-hal positif yang ada dalam makalah ini dan meninggalkan hal-hal negatif yang mungkin saja ada dalam makalah ini.

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Melihat dari kondisi sekarang ini yang semakin parah dan mulainya pudarnya pemahaman budaya dan adat Minangkabau, penulis merasa prihatin. Kita tak bisa lagi mungkir atau mengelak dari realitas yang ada, sebuah kenyataan betapa orang muda Minang hari ini telah mengalami suatu masa perubahan corak dan lagak gaya hidup. Saat ini, di mana terjadi pergeseran nilai secara besar-besaran, gaya hidup serba digital dan instan sangat cepat merasuki tatanan hidup masyarakat dunia tidak terkecuali masyarakat Sumatera Barat (Baca orang muda Minang). Sebuah kekuatan hebat telah menjelma, ketika televisi telah memainkan perannya hingga ke pelosok taratak, membuat mata orang muda Minang terkesima, maka paruh-paruh industri pun mencengkram dengan kuatnya. Sehingga sebuah contoh sederhana, betapa hal yang tidak mengherankan ketika model baju terbuka yang memperlihatkan bentuk dan keindahan tubuh menjadi pusat mode (trensenter), meski bertentangan dengan adat yang bersandikan syarak kitabullah, namun apa dikata, model dan gaya hidup yang disodorkan kotak ajaib yang bernama televisi ini seperti tuhan yang selalu dipuja-puja. Mengapa gaya hidup semakin penting hari ini, apakah gaya hidup itu berarti ekspresi yang mengandung muatan positif, ataukah sebuah bentuk eksploitasi baru?

Melihat pudarnya budaya dan adat Minangkabau diantara masyarakat Sumatera Barat (Baca orang muda Minang) itu sendiri, tentu perlu kita ketahui apa yang menyebabkan hal itu dapat terjadi. Adat tidak lagi dijadikan sebagai landasan kehidupan bermasyarakat. Wibawa ninik mamak sebagai pemangku adat sudah lama hilang, beliau tidak dapat lagi mangabek arek mamancang patuih, ka pai tampek batanyo ka pulang tampek babarito.

Dengan melihat berbagai kenyataan yang terjadi pada saat ini sehingga penulis mengangkat tema mengenai pergaulan dipandang dari segi budaya dan adat minangkabau. Apabila kenyataan ini tetap saja dipertahankan tanpa ada tindakan yang berarti dari pemimpin daerah dan pemangku adat, maka tidak menutup kemungkinan bahwa pada masa yang akan datang, kita akan menjumpai anak cucu kita yang tidak mengenal lagi budaya dan adat Minangkabau karena mereka tidak menemui lagi budaya dan adat nenek moyang mereka.

2. Tujuan

Makalah ini dibuat dengan berbagai tujuan. Secara teoritis, makalah ini merupakan syarat untuk menjadi anggota baru Asrama Mahasiswa Merapi Singgaang 2008 yang mana merupakan bagian dari pelbagai syarat yang diberikan guna menjadi anggota baru Asrama Mahasiswa Merapi Singgalang tahun 2008.

Namun secara tidak langsung, penulis bermaksud mengajak pembaca dan pendengar untuk memahami isi makalah ini dan sekiranya dapat menjalankan beberapa amanat yang terkandung dalam makalah ini. Penulis berharap agar pembaca, pendengar, dan bahkan penulis sendiri untuk dapat melestarikan budaya dan adat Minangkabau yang terancam akan kepunahan oleh pengaruh budaya lain dan kurangnya kesadaran pada diri kita semua untuk menjaga milik kita sendiri, hasil dari pemikiran pendahulu kita, dan bahkan merupakan identitas kita semua sebagai masyarakat Minangkabau. Jika kita melupakan hal ini maka secara tidak langsung kita telah melupakan dari mana kita berasal dan melupakan pendahulu kita.

BAB II ISI

1. Asal Mula Minangkabau

Sebelum kita mengetahui tentang bagaimana Minangkabau(Sumatera Barat), alangkah baiknya kita terlebih dahulu mengenal asal terbentuknya Minangkabau, kampuang nan jauah di mato, gunuang sansai bakuliliang.

Minangkabau adalah suatu lingkungan adat yang terletak dalam daerah geografis administratif Sumatera Baratdan juga mencangkau sebagian barat daerah geografis administratif propinsi Riau, dan ke sebagian barat daerah administratif propinsi Jambi. Pada mulanya, yang masuk wilayah sosial kultural Minangkabau hanyalah tiga luhak (sekarang jadi daerah tingkat II) yaitu Luhak Agam, Luhak Tanah Datar, dan Luhak Lima Puluh Kota yang disebut Minangkabau asli. Akan tetapi dalam perkembangannya wilayah Minangkabau meluas sampai ke luar tiga luhak tersebut yang disebut Daerah Rantau. Rantau luhak Agam meliputi pesisir barat sejak Pariaman sampai Air Bangis, Lubuk Sikaping, dan Pasaman; Rantau luhak Lima Puluh Kota neliputi Bangkinang, Lembar Kampar Kiri dan Kampar Kanan dan Roka; rantau luhak Tanah Datar meliputi Kubung Tiga Belas, pesisir barat dari Padang sampai Indra Pura, Kerinci dan Muara Labuh. Wilayah Minangkabau asli ditambah Daerah Rantau itulah yang secara geografis meliputi seluruh wilayah propinsi Sumatera Barat dan sebagian wilayah propinsi Riau dan Jambi.

Nenek moyang suku bangsa Minangkabau berasal dari percampuran antara bangsa Melayu Tua yang telah datang pada zaman Neolitikum dengan bangsa Melayu Muda yang menyusul kemudian pada zaman Perunggu. Kedua bangsa ini adalah serumpun dengan bangsa Astronesia. Kelompok pengembara Astronesia yang meninggalkan kampung halamannya dibagian Hindia,menuju ke selatan mencari daerah baru untuk kehidupan mereka. Dalam rangka pencarian tanah baru itu, setelah mereka mendarat di pantai timur Sumatera, bergerak ke arah pedalaman pulau Sumatera sampai ke sekitar gunung Merapi. Karena di sana mereka telah mendapatkan tanah subur di lereng gunung Merapi, mereka menetap dan membangun negeri pertama yaitu Pariangan Padang Panjang. Setelah kemudian mereka berkembang, maka berdirilah negeri-negeri di selingkungan gunung Merapi dan sealiran Batang Bengkaweh.

Nama Minangkabau berasal dari kata manang kabau yang menurut Tambo, ucapan itu muncul setelah kerbau milik kerajaan Pagaruyung yang dipimpin oleh Bundo Kanduang dapat memenangkan pertarungan melawan kerbau miliki musuh yang datang menyerang.

Menurut A.A Nafis cerita yang dikisahkan Tambo itu sangat dipercayai oleh orang Minangkabau sebagai peristiwa sejarah. Akan tetapi para penulis yang bukan orang Minangkabau pada umumnya tidak menerima asal nama Minangkabau seperti yang dikisahkan Tambo itu. Mereka umumnya lebih suka mencari sumbernya dari bahasa-bahasa yang hidup di India. Van de Tuuk umpamanya, mengatakan asal kata Minangkabau dari Phinang khabu yang artinya tanah asal. Muhammad Hussein Nainar mengatakan asal katanya menon khabu yang artinya tanah mulia. Dikemukakan juga bahwa kata itu berasal bahasa Srilangka “mau angka bahu” yang artinya memerintah.

2. Masuknya Islam

Menurut para ahli, Islam masuk dan berkembang di Minangkabau melalui tiga tahap:

a) Melalui para saudagar Islam yang berkunjung ke Minangkabau dan menyiarkannya secara diam-diam dan tak terencana. Diperkirakan para pedagang Persia, Arab, dan Gujarat telah banyak mendatangi Minangkabau abad ke VII atau awal abad ke VIII M.

b) Melalui pengaruh dan kekuasaan Aceh di pesisir barat Minangkabau yang menyiarkan agama agak terencana. Aceh adalah satu bagian pulau Sumatera yang lebih dulu masuk Islam. Abad ke XV M, seluluruh pesisir barat Minangkabau telah berada di bawah pengaruh politik dan ekonomi Aceh. Pada masa itulah terjadi pengislaman secara besar-besaran dan terencana terhadap Minangkabau dimulai dari daerah pantai terus masuk ke pedalaman. Karan daerah pedalaman terletak pada daerah yang lebih tinggi, maka dalam pepatah adat dikatakan “syarak mandaki, adat manurun”. Maksudnya, agama menyebar dari daerah pesisir ke pedalaman, sedangkan adat dari daerah pedalama ke daerah pesisir.

c) Melalui penguasa Minangkabau sendiri yang menyiarkannya secara teratur dan terencana. Hal ini terjadi setelah raja Anggawarman Mahadewa memeluk Islam dan menganti namanya denga Sultan Alif dan dengan demikian secara resmi Islam telah masuk Istana Pagaruyuang. Dengan berkuasanya Islam di istana raja, besar sekali penegaruhnya terhadap perkembangan Islam di Minangkabau dan diperkirakan pada abad ke XV M seluruh rakyat Minangkabau resmi memeluk Islam.

3. Perbenturan Adat dan Islam

Perbenturan yang berarti antara adat Minangkabu dengan Islam terjadi di bidang sosial, khususnya yang menyangkut sistem kekerabatan yang menentukan bentuk perkawinan, kediaman, dan pergaulan. Dalam sistem kekerabatan, adat Minangkabau bersifat matrilineal (menurut garis ibu), sedangkan Islam bersifat patrilineal (menurut garis bapak). Dalam menentukan tempat tinggal suami-istri, adat Minangkabau menganut sistem matrilokal (suami tinggal di rumah istri), sedangkan dalam Islam bersifat patrilokal (istri tinggal di rumah suami).

Dalam adat Minangkabau, yang berkuasa dan bertanggung jawab dalam sebuah rumah tangga adalah ibu yang didampingi oleh mamak (saudara laki-laki ibu), sedangkan ayah hanya sebagai tamu. Sedangkan dalam Islam pemegang kekuasaan dan penanggung jawab dalam rumah tangga adalah ayah atau suami.
Penyesuaian antara adat dalam Islam dalam aspek yang disebutkan di atas berlangsung lama dan pelan-pelan yang dilakukan dengan tiga tahap:

a) Adat dan syara’ berjalan sendiri-sendiri tanpa saling mempengaruhi. Dalam bidang aqidah dan ibadah masyarakat Minangkabau mengikuti Islam, dalam bidang sosial, adat masih diikuti. Tahap ini dinyatakan dalam ucapan “Adat basandi alua jo patuik, syara’ basandi dalil”.

b) Adat dan syara’ sama-sama saling membutuhkan tanpa menggeser kedudukan masing-masing. Tahap ini tercermin dalam pepatah “adat basandi syara’, syara’ basandi adat”.

c) Adat hanya boleh diikuti dan diberlakukan bila bersesuaian dengan ajaran agama Islam. Tahap ini yang merupakan tahap terakhir tergambar dalam rumusan “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, syara’ mangato, adat mamakai”.

Masalah warisan yang turun kepada pihak perempuan ditentang oleh beberapa orang. Misalnya Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, pelopor dan guru para pembaharu ajaran Islam di Minangkabau terkenal sebagai penentang keras sistem kewarisan adat Minangkabau. Hamka juga dikenal sebagai ulama yang kritis terhadap adat Minangkabau.

Dalam keunikan adat Minangkabau, perempuan menempati kedudukan istimewa. Sistem matrilineal, matrilokal dan sistem kewarisan menjadi bukti keistimewaan kedudukan kaum perempuan. Sekalipun kaum ibu memiliki kedudukan yang istimewa dalam rumah tangga dan juga harta pusaka, akan tetapi dia tidak dapat bertindak sewenang-wenang terhadap rumah dan harta pusaka itu, karena kaum laki-laki seperti saudara laki-laki yang disebut mamak mempunyai hak pengawasan, apalagi dalam melakukan hubungan perdata dengan pihak lain, tidak dapat terlaksana tanpa seizin mamak. Semua tindakan terhadap harta pusaka, baik ke dalam maupun ke luar haruslah berdasarkan mufakat seluruh anggota laki-laki dan perempuan.

Dalam hal ini terlihat jelas bahwa Adat dan Islam dapat saling melengkapi walaupun secara teoritis terdapat perbedaan prinsip, namun tetap memiliki prinsip dasar yang sama. Jadi, kenapa Islam dan adat harus dipisahkan? Kenapa kehidupan masyarakat Minangkabau terutama anak mudanya menjauhi prinsip kehidupan adat dan kehidupan Islam? Karena sesungguhnya masyarakat yang mengaku sebagai orang Minangkabau namun bukan Islam dan bertentangan dengan adat adalat “Bukan Orang Islam”.

4. Penyimpangan Perilaku Masyarakat Minangkabau dalam keterkaitannya dengan Adat Minangkabau

Beberapa waktu belakangan ini, banyak perilaku menyimpang yang ditunjukkan masyarakat Minangkabau pada umumnya dan remaja Minangkabau pada khususnya, antara lain:

1) Perempuan menjadi pelacur dan anak-anak menjadi terlantar atau anak jalanan. Data terakhir pelacur yang di rehabilitasi di Panti Sosial Andam Dewi Solok 90% diantaranya adalah perempuan Minangkabau.

2) Anak jalanan yang kian hari kian bertambah, diberbagai tempat umum di kota-kota Sumatra Barat, kemanakah perginya falsafah “anak dipangku kemenakan dibimbing?” Apalagi yang menjadi anak jalanan tersebut anak perempuan, yang pada merekalah keberlangsungan sistem matrilineal ini digantungkan.

3) Lebih lanjut model berpakaian anak-anak remaja Minangkabau yang secara normatif jauh dari budaya dan adat Minangkabau. Dimana-mana kita dapat melihat anak perempuan berpakaian ketat dan terbuka, tidak hanya di tempat hiburan tetapi juga di tempat umum dan kampus-kampus. Kondisi ini mencerminkan longgarnya kontrol keluarga dan sosial. Dan tidak suatu Iembaga atau organisasi wanita yang mampu menjaring (merazia pakaian bikini/ketat ini) kalau ada hanya sebatas wacana. Lalu dimanakah letaknya Adat Basandi Syara’-Syarak Basandi Kitabullah? Bahwa perempuan Minangkabau itu ka unduang-unduang ka Madinah ka payuang panji ka sarugo.

Demikian juga halnya dengan pakaian jilbab, jilbab atau pakaian atau pakaian muslimah akhirnya tidak lebih sekedar mode yang membentuk pasar potensial baru, sebab itu dibarengi dengan baju yang ketat dan celana yang sempit hingga menampakkan pusar. Kemana perginya lembaga dan organisasi kewanitaan masyarakat Minangkabau? Tidakkah hal ini termasuk dalam program pemberdayaan perempuan?.

4) Satu hal lagi realitas perempuan Minangkabau saat ini adalah meningkatnya tindak kekerasan dan perkosaan terhadap anak perempuan. Bahkan disinyalir tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sumatra Barat tahun 2005 menduduki peringkat tertinggi di Indonesia. Baik pencabulan, pelecehan seksual, penganiayaan dan perkosaan, umumnya anak berusia 4-12 tahun (di bawah umur). Yang lebih memprihatinkan lagi umumnya pelaku adalah orang yang dekat dengan korban. Jika dilihat lebih lanjut umumnya terjadi pada lingkungan terdekat seperti di rumah, tempat bermain, sekolah bahkan tempat mengaji.

5) Peran politik perempuan Minangkabau saat ini juga masih relatif jauh dari apa yang diamanatkan di dalam adat, yaitu bahwa perempuan adalah pemimpin yang cerdik pandai. Di dalam keluarga masih relatif banyak perempuan Minangkabau yang belum berperan secara politis, apakah sebagai tempat bertanya, pemberi solusi, pengambil keputusan dan lain-lain.

Secara lebih khusus peran politik perempuan Minangkabau dalam pemerintahan masih relatif rendah. Kedudukan perempuan yang kuat secara politis sebagai pengambil keputusan tidak relevan dengan kenyataan dalam kehidupan politik di nagari saat ini. Sejauh ini perempuan lebih banyak terlibat dalam kegiatan sosial di nagari. Sementara dalam musyawarah dan pengambilan keputusan yang berkait dengan kehidupan lainnya seperti tanah ulayat, pembangunan, sering kali diputuskan dalam rapat adat yang hanya diikuti oleh laki-laki.

6) Perempuan Minangkabau sebagian besar tidak lagi berada pada posisi yang ideal menurut adat. Hampir seluruh modal sosial, budaya dan modal ekonominya relatif tidak lagi memberi manfaat bagi keberlangsungan kehidupan dan kualitas peran Minangkabau menghadapi berbagai persoalan yang khas karena sistem matrilinealnya.

Meskipun data menunjukkan bahwa siswa dan mahasiswa yang berprestasi di Sumatra Barat pada umumnya adalah perempuan, aset yang sangat potensial ini belum mendapat ruang yang cukup untuk memberi manfaat bagi perbaikan kehidupan perempuan Minangkabau dalam pembangunan.

7) Banyaknya masyarak Minangkabau terutma para remaja yang tidak lagi mengenal adat, sopan santun, dan tata krama dalam adat Minangkabau.

8) Dan berbagai penyimpangan lainnya yang tidak tersebutkan dan /atau telah menjadi rahasia umum yang telah diketahui orang banyak dan kita hanya “menutup mata” atas masalah ini.
Dari data tersebut, tentu kita dapat melihat “bobroknya” budaya dan adat Minangkabau saat ini. Dalam kasus ini dapat disimpulkan sebagai penyebabnya, antara lain:

1) Kurangnya figur yang dapat diangkat menjadi pemangku adat, hal tersebut dikarenakan terbukanya kesempatan merantau sehingga pemuda-pemuda Minangkabau pada tumpah ruah ke rantau orang. Jadi tidak banyak pilihan yang dapat dilakukan untuk memilih calon pemangku adat atau calon penghulu. Namun lain lagi halnya apabila pemuda-pemuda kembali ke kampung halam untuk memajukan kampung halaman.

2) Tidak adanya persiapan atau pengkaderan terhadap calon-calon pemangku adat atau penghulu tidak mempunyai persiapan yang cukup, malah ada yang tidak punya sama sekali persiapan ilmu pengetahuan tentang adat serta kesiapan pribadi sebagai “figure” seorang pemimpin yang siap menjadi teladan dalam masyarakat.

3) Pesatnya kemajuan bidang teknologi, sehingga jarak kota besar dengan daerah sudah sangat dekat, apa saja yang terjadi di belahan dunia lain dapat disaksikan pada detik yang sama dari pelosok-pelosok di ranah Minang. Hal itu sangat berpengaruh terhadap pola kehidupan bermasyarakat di ranah Minang.

4) Pergeseran nilai budaya Minangkabau menjadi nilai budaya yang “kebarat-baratan’ yang men”Tuhan”kan kebebasan. Tapi kebebasan yang bagaimana? Yaitu kebebasan yang bebas tanpa batas. Baru-baru ini peristiwa yang menghebohkan di Padang, Sumatera Barat. Rencananya akan diadakan suatu lemba yang mengusung seberani apa wanita muda Minangkabau untuk menggunakan celana sependek mungkin di tempat umum. Untung saja renca ini segera “terendus” oleh Dinas Kota Padang dan MUI Padang sehingga hal-hal yang tidak diinginkan seperti ini tidak terjadi.

5) Berubahnya pola ketatanegaraan, yaitu keluarnya UU no. 5 tahun 1979 tentang pemerintahan desa. Dimana nagari Sumatera Baraty berubah menjadi desa yang mengakibatkan lumpuhnya fungsi dan peran ninik mamak ditengah-tengah anak buah atau masyarakat dalam nagari, beliau tidak lagi sebagai raja kecil dalam kaumnya, beliau tidak lagi diajak bermusyawarah dalam membicarakan kampung jo nagari. Belakangan memang pemerintah mengeluarkan Perda no. 13 tahun 1983 tentang nagari sebagai Kesatuan Masyarakat Adat di Propinsi Sumatera Barat . Hal tersebut tidak merubah situasi, karena dianggap sebagai bujuak mampagadang tangih, ubek lakeh pantang talampau babaliak panyakik lamo.Pada akhirnya pemerintah mengeluarkan UU no. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan diimplementasikan oleh pemerintah Sumatera Barat dengan Perda no. 9 tahun 2000.

Perda no. 9 tahun 2000 pasal 1 huruf g berbunyi : Nagari adalah kesatuan masyarakat hukum adat dalam daerah propinsi Sumatera Barat, yang terdiri dari himpunan beberapa suku yang mempunyai wilayah tertentu batas-batasnya, mempunyai harta kekayaan sendiri, berhak mengatur dan memngurus rumah tangganya dan memilih pimpinan pemerintahannya dan pada huruf I : Pemerintah Nagari adalah satuan pemerintahan otonomi daerah berdasarkan asal usul di nagari dalam daerah propinsi Sumatera Barat yang berada dalam system pemerintahan negara kesatuan Republik Indonesia. Berdasarkan pasal-pasal diatas otonomi daerah sebenarnya bertumpu kepada kultur adat serta budaya daerah itu sendiri, dan nagari adalah sebagai terminal terakhir dari struktur pemerintahan, yang bertugas manyauak dan mambasuik dari bumi melalui ninik mamak sebagai pemerintahan non formal, dan manampuang yang titik dari langit/dari ateh yaitu dari pemerintahan sebagai pemerintahan formal dengan undang-undangnya. Namun dalam kenyataan dan pelaksanaanya, hal tersebut hanya sebagai wacana saja, ninik mamak dan pamangku adat di nagari yang tumbuhnyo ditanam dan gadangnyo diambah, dan didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting, ka pai tampek batanyo ka pulang katampek babarito, hanya tinggal sebagai penonton saja. Dia tidak obahnya seperti orang yang ketinggalan kereta, yang tebengong-bengong di stasiun tidak tau arah yang ditempuh. Seperti kita ketahui, bahwa hubungan antara penghulu / ninik mamak dengan adat sangatlah erat kaitannya, apabila adat itu kuat, maka kuat pulalah kedudukan penghulu atau ninik mamak itu. Apabila penghulu itu tidak berwibawa, maka masyarakat akan meremehkan pula peraturan adat, sebaliknya bila penghulu berwibawa, maka masyarakat akan patuh pula menjalankan peraturan adat. Karena penghulu / ninik mamak berkewajiban menjaga dan mengawasi pelaksanaan aturan adat agar dijalankan dan dipatuhi oleh anggota kaumnya atau masyarakat dalam nagari.

Untuk itu, hal yang harus kita lakukan adalah dengan mengenal budaya dan adat kita sendiri. Dengan begitu kita akan mengenal budaya kita sendiri, dengan kita mengenal budaya dan adat sendiri maka kita akan mencintai itu semua.

Dengan meminjam isi novel karangan Michael Dibbi, Dead Lagoon:”Tidak ada kawan sejati tanpa musuh sejati. Jika kita tidak mampu membenci apa yang kita benci, kita tidak akan mampu mencintai apa yang kita cintai. Itulah kebenaran-kebenaran masa lalu, yang secara menyedihkan kembali kita bangkitkan setelah terpendam selama satu abad bahkan dalam bentuk yang lebih sentimental. Barangsiapa yang mengingkari semua itu, berarti mengingkari nenek-moyang, warisan, kebudayaan, dan bahkan kelahiran mereka sendiri, milik mereka sendiri! Semua itu tak mungkin dapat terlupakan”.

Selain itu kita memerlukan model-model baik (panutan) yang bersifat eksplisit maupun implisit supaya dapat:

  1. Mengatur dan menggeneralisasikan realitas;
  2. Memahami hubungan-hubungan kausal di antara berbagai fenomena;
  3. Melakukan antisipasi dan, jika kita beruntung, melakukan prediksi terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi di masa yang akan datang;
  4. Memilah-milah mana yang penting dan yang mana yang tidak penting; dan
  5. Menempuh jalan yang memungkinkan kita untuk mencapai tujuan-tujuan itu;

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan

Semakin parahnya kondisi pergaulan masyarakat Minangkabau (baca orang muda Minang) sangat membahayakan posisi budaya dan adat Minangkabau. Maka mungkin saja

Dengan meminjam pemikiran dari Samuel P. Huntington,”masa depan politik dunia akan didominasi oleh konflik antar bangsa dengan peradaban yang berbeda. Sumber konflik dunia di masa datang tidak lagi berupa ideologi atau ekonomi, akan tetapi budaya. Konflik tersebut pada gilirannya menjadi gejala terkuat yang menggantikan polarisasi ideologi dunia ke dalam komunisme dan kapitalisme, bersamaan dengan runtuhna politik mayoritas negara-negara Eropa Timur”. Dari pemikiran beliau tersebut terlihat jelas bahwa budaya-budaya di dunia akan saling berbenturan. Apabila budaya dan adat Minangkabau tidak diperkuat “anak daerah”nya sendiri, maka dapat dipastikan bahwa budaya dan adat minangkabau akan terlindas oleh pengaruh budaya Barat yang memamerkan kecanggihan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi.

Apalagi budaya dan adat Minangkabau yang “berdampingan” dengan Islam. Masih meminjam pemikiran dari Samuel P. Huntington,”Dunia masa datang bukan di antara kedelapan peradaba tersebut (Barat, Kontisius, Jepang Islam, Hindu, Slavik, Ortodoks, Amerika Latin, dan Afrika), tetapi antara Barat dan peradaban lainnya. Sedangkan potensi konflik paling besar yang akan terjadi adalah antara Barat dan koalisi Islam-Konfusius”. Secara tidak langsung, budaya dan adat Minangkabau yang “berdampingan” dengan Islam akan terkena imbas dari invasi ekonomi, politik, dan budaya Barat terhadap Islam. Dampaknya akan terjadi “kematian budaya” Minangkabau.

Dari uraian di atas terlihat nyata bahwa perlu suatu tindakan yang nyata dan membangun guna mengembalikan budaya dan adat Minangkabau agar anak cucu kita dapat menikmati sejarah dan budaya Minangkabau yang indah ini. Untuk itu perlunya pasrtisipasi pemerintah daerah dan pemuda-pemuda Minang guna memelihara adat dan budaya Minangkabau baik dengan kegiatan secara langsung ataupun secara tidak langsung.

2. Saran

Terimakasih atas pihak-pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk mencapai suatu hal sempurna adalah hal yang tidak mungkin karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Namun kita hanya dapat membuat sesuatu yang mendekati sempurna. Untuk itu perlu saran dari pembaca guna memperbaiki makalah ini guna mencapai suatu makalah yang mendekati sempurna.

Dan bagi pembaca baik yang berdomisili di Sumatera Barat, baik yang memiliki garis keturunan langsung,tidak memiliki garisi langsung dari Minangkabau, maupun msyarakat yang peduli dengan budaya dan adat Minangkabau agar dapat melakukan sesuatu yang berguna untuk mencegah terjadinya kepunahan budaya dan adat Minangkabau demi anak cucu kita kelak.

DAFTAR PUSTAKA

PROGRAM KEMBALI KE SURAU

OLEH: ENJI BANU ARIFIN (SEBAGAI SYARAT CALON WARGA ASRAMA MAHASISWA MERAPI SINGGALANG TAHUN 2008)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah,segala puji bagi allah yang telah memberikan kelonggaran waktu,tenaga dan kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini menceritakan tentang “Program Kembali ke Surau”. Program yang seelama ini telah dijalankan tapi belum berjalan sesuai tujuan yang dimaksud. Apakah kita mampu mengembalikan budaya kita yang telah berangsur-angsur pudar dan tidak tentu arah.

Terimakasi penulis ucapkan kepada kakak-kakak, teman-teman di asrama dan segenap elemen yang tidak tersebutkan namanya yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Terimakasih juga atas masukan-masukan yang telah diberikan kepad penulis. Masukan ini sangat berguna dalam melengkapi segala kekurangan yang ada. Untuk itu kritik dan syarannya kami minta untuk penyempurnaan makalah ini.

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Hal ini berawal dari keprihatinan penulis yang sering hanyut dalam melihat kehidupan di sumatera barat khususnya masyarakat Minangkabau. Hingga kemudian merenung,bagaimana dapat ikut serta memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat sumatera barat.

Masalah yang disampaikan dengan penuh kecermatan di sertai pemaparan berdasarkan kondisi dan waktu yang baik menyebabkan optimalnya manfaat dari sebuah makalah ini. Jika demikian tentu makalah ini akan digemari dan menembus relung jiwa pendengar atau pembaca. Dia pun akan mudah dalam menjelajahi makalah melalui akal sehingga berhasil memetik buah atau usah dari makalah tersebut.

Manusia yang dilahirkan secara fitrah memerlukan panduan yang sempurna untuk membentuk dan mengembangkan fitrah dirinya. Maka orang tua berusaha menanamkan pengetahuan agama sejak dini dengan meyakini bahwa cara itu merupakan salah satu upaya pembentukan fitrah. Salah satu metodenya adalah dengan memberikan program kembali ke surau dalam kehidupan sehari-hari.

2. Tujuan

Dalam berbagai usaha yang mungkin telah di programkan pemerintah, pemuka agama kyai dll. untuk membantu kesuksessan pembentukan fitrah dan kepribadian muslim seorang anak. Manfaat,tujuan dan kerugian dari program ini diungkapkan dengan baik dan jujur akan merasuk kuat dalam memori anak maupun seorang yang membacanya,kemudian akan berusaha memperoleh ridha ALLAH SWT dalam mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari.

Harapan penulis semoga makalah ini bermanfaat dan berguna bagi kelangsungan hidup umat Islam di Sumatera barat khususnya, serta mampu menjadi sebuah bom waktu yang akan mengembalikam kesadaran masyarakat umat yang selama ini telah dimasuki propaganda Yahudi dan Nasrani, dan pola hidup keBarat-Baratan di berbagai sisi kehidupan.

BAB II ISI

1. Ihwal Surau

Umat Islam di Ranah Minangkabau menjadikan surau sarana perguruan membina anak nagari. Fungsinya tidak semata menjadi tempat ibadah mahdhah (shalat, tadarus, dan pengajian majlis ta’lim). Menjadi tempat tumbuh lembaga perguruan anak nagari yang dimulai dari akar rumput.

Kekuatan surau adalah kuatnya jalinan hubungan masyarakat saling menguntungkan (symbiotic relationship). Sanggup menjadi pusat kekuatan perlawanan membisu (silent opposition) terhadap penjajah. Identitas surau sesuai personifikasi pemimpinnya. Surau adalah pusat pembinaan umat, untuk menjalin hubungan bermasyarakat yang baik (hablum-minan-naas). Terjamin pula ibadah dengan Khalik (hablum minallah).

Surau amat sesuai menjadi pusat pembinaan umat. Surau adalah satu anak tangga dari jenjang bermasyarakat di nagari yang teguh melaksanakan prinsip musyawarah (demokrasi). Surau adalah pondasi dasar dan utama dalam menerapkan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Dukungan masyarakat adat dan kesepakatan tungku tigo sajarangan, bundo kanduang dan rang mudo, menjadi penggerak utama mewujudkan tatanan sistim di nagari.

Konsepnya tumbuh dari akar nagari sendiri. Masyarakat Minangkabau yang beradat-beragama selalu ingat kepada hidup sebelum mati dan hidup sesudah mati. Peran dakwah di Ranah Minangkabau sekarang ini adalah menyadarkan umat dalam membentuk diri mereka sendiri. Kenyataan sosial terhadap anak nagari diawali dengan mengakui keberadaan puncak-puncak kebudayaan mereka, dan mendorong kepada satu bentuk kehidupan bertanggung jawab. Inilah tuntutan Dakwah Ila-Allah. Seruan atau ajakan kepada Islam yang diberikan Khaliq untuk manusia, yang sangat sesuai dengan fithrah manusia itu. Islam adalah agama Risalah, dan penyiarannya dilanjutkan oleh dakwah. Di Ranah Minangkabau tempat nya adalah surau atau masjid. Keberhasilan suatu upaya dakwah (gerak dakwah) memerlukan pengorganisasian (nidzam).

Perangkat organisasi surau, selain orang-orang, adalah juga peralatan dakwah dan penguasaan kondisi umat, tingkat sosialnya dan budaya yang melekat pada tata pergaulan mereka yang dapat dibaca dalam peta dakwah. Bimbingan syarak mengatakan al haqqu bi-laa nizham yaghlibuhu al baathil bin-nizam. Artinya, tanpa mengindahkan pengaturan (organisasi) selalu akan kalah oleh kebatilan yang terorganisir. Pekerjaan mengajak manusia akan berhasil dengan ilmu, hikmah, akhlak dan menyeru kejalan Allah, dengan petunjuk yang lurus. Maka, da’iya (Imam khatib di Nagari) adalah pewaris tugas Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W.

Menghidupkan surau (masjid) dalam masa ini adalah menetapkan visi untuk menentukan program pembinaan di tengah anak nagari yang akan mendukung percepatan pembangunan nagari itu. Aktualisasi Kitabullah (nilai-nilai Alqurani) hanya dapat dilihat melalui gerakan amal nyata yang terus menerus terkait dengan seluruh segi kehidupan anak nagari, seperti kemampuan bergaul, mencintai, berkhidmat, menarik, mengajak (dakwah), merapatkan potensi barisan (shaff) mengerjakan amal-amal Islami secara jamaah.

Kita mestinya bertindak atas dasar syarak ini. Mencari redha Allah, dan mengajak orang lain untuk menganutnya. Allah menghendaki kelestarian Agama dengan mudah, luwes, elastis, tidak beku dan tidak berlaku bersitegang. Usaha ini akan menjadi gerakan antisipatif terhadap arus globalisasi negatif abad sekarang. Mengembangkan surau berorientasi kepada mutu.

Sehingga pembinaan surau berkembang menjadi center of exellence, yang menghasilkan generasi berparadigma ilmu komprehensif.

Terintegrasinya pengetahuan agama, budi akhlaq dan keterampilan (memasak, menjahit, mengaji, bersilat) yang mendorong anak surau sanggup hidup mandiri. Peran surau menghidupkan adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah menjadi tugas setiap insan anak nagari yang telah terikat dalam “umat dakwah” menurut Kitabullah – yakni nilai-nilai Alqurani di bawah konsep mencari ridha Allah.

Peningkatan kualitas pembinaan umat melalui surau dapat dicapai. Organisasi suaru lebih menjadi viable –dapat hidup terus, berjalan tahan banting, bergairah, aktif dan giat-– menurut permintaan zaman, dan durable –-yakni dapat tahan lama-– seiring perubahan dan tantangan zaman. Peran serta masyarakat adalah menerapkan manajemen mengelola surau lebih accountable dari segi keuangan maupun organisasi. Kitabullah mendeskripsikan agama Islam adalah sempurna, utuh dan di ridhai. Melalui peningkatan ini, sumber finansial masyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara lebih efisien. Setiap Muslim, dengan nilai-nilai Kitabullah wajib mengemban missi mulia yaitu merombak kekeliruan ke arah kebenaran secara hakiki di dalam “perjalanan kepada kemajuan (al madaniyah)”.

2. Meningkatkan Mutu Anak Nagari

Meningkatkan Mutu SDM anak nagari melalui kerja keras. Menguatkan potensi yang sudah ada melalui program unggulan, kaderisasi. Menumbuhkan SDM nagari yang sehat dengan gizi cukup. Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (terutama terapan). Peningkatan peran serta masyarakat mengelola surau.

Sistim terpadu menjadi bagian integral dari masyarakat Muslim di Ranah Minangkabau. Ajaran syarak Islam mampu memberikan jalan keluar (solu¬si) terhadap problematika sosial umat manusia. Keyakinan kepada agama Islam (di dalam syarak disebut aqidah Islamiyah) menjadi landasan berpijak. Motivasi untuk berbuat dan berharap pada setiap yang mempercayainya. Keyakinan tauhid itu terhunjam dan berurat berakar di dalam hati manusia. Dengannya mampu menangkap tanda tanda zaman, perubahan sosial, politik, ekonomi dan perkisaran masa di sekitarnya. Mampu membaca zeitgeist tanda tanda zaman karena beriman kepada Allah. Perbedaan pemikiran dikuatkan dzikrullah dengan pemikiran bertumpu paham kebendaan, seperti positivisme dzikrullah dan apatisme thagut (syaithaniyah).

Apatisme dalam perubahan sosial, politik dan ekonomi tersebut adalah selemah lemah iman (adh’aful iman). Sikap diam (apatis) dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi hanya dapat dihilangkan dengan:
• Mengerjakan sesuatu yang dapat dikerjakan, artinya berbuat sesuai kemampuan.
• Jangan membiarkan diri terkurung kepada pemikiran yang tidak mungkin dikerjakan.
• Memulai dengan apa yang ada, karena dengan yang ada itu sudah dapat memulai sesuatu.
• Jangan berpangku tangan dengan menghitung orang yang lalu lalang, dan membiarkan diri ketinggalan.

Konsep ini adalah amanat syarak (Islam) dalam menghadapi perubahan sosial, politik dan ekonomi. Betapa kecil pun perubahan tidak boleh dinanti tanpa kesiapan. Namun, selalu memanfaatkan hubungan diri (kemampuan anak nagari) dengan kehidupan dunia luar di sekitarnya.

Sikap hidup menjemput bola adalah sikap hidup sesuai ajaran Islam. Bergerak, berusaha, proaktif dan inovatif adalah cara-cara paling tepat mengantisipasi selemah lemah iman. Kata kunci perubahan sosial, politik dan ekonomi yang dikembangkan syarak (agama Islam) melalui tiga cara hidup, yakni:
• Bantu dirimu sendiri (self help).
• Bantu orang lain (self less help), dan
• Saling membantu dalam kehidupan ini (mutual help)

Konsep hidup ini mengajarkan seseorang untuk tidak mesti selalu tergantung kepada orang lain. Ketergantungan menempatkan orang terbawa kemana mana. Menjadi tak berdaya di tangan yang menjadi tempat bergantung. Mengokohkan perpegangan agama dan pemahaman syarak menjadi kerja paling utama. Dengan demikian, anak nagari menjadi sehat rohani. Terjaga dengan norma-norma adat. Sehingga anak nagari menjadi masyarakat beradat yang beragama (Islam).

Menggali potensi SDA di nagari diselaraskan dengan perkembangan global yang tengah berlaku. Memperkuat ketahanan ekonomi rakyat. Membangun kesejahteraan dimulai dari pembinaan unsur manusianya, dari self help (menolong diri sendiri) kepada mutual help. Ihsan berbuat baik dan ta’awun tolong menolong sesuai dengan anjuran Islam. Bantu membantu, ta’awun, mutual help dalam rangka pembagian pekerjaan (division of labour) menurut keahlian masing-masing ini, akan mempercepat proses mempertinggi mutu yang dihasilkan. Itulah taraf ihsan yang hendak dicapai.

Zakat sebagai sarana pembersih harta dan upaya memperkuat paradigma umat Di samping itu, zakat dapat dijadikan penopang ekonomi anak nagari melalui pelatihan bagaimana memanfaatkan dan mengelola zakat secara benar. Tidak semata konsumsi sesaat. Zakat dijadikan modal usaha dari kalangan dhu’afak di dalam negeri.

Di Minangkabau teradisi masyarakat selalu seiring sejalankan dengan perlakuan ibadah.
Sebenarnya, acara tersebut dapat bernilai positif. Terutama apabila tidak di campur aduk dengan perbuatan yang terlarang oleh ajaran Islam. Pembauran di Minangkabau dimulai dengan menjalin keharmonisan hubungan antar keluarga di nagari, dengan saling peduli, akan memberi sumbangan besar mempererat silaturrahmi.

Ikatan persaudaraan adalah modal besar dalam membangun nagari. Buhul ikatan itu berawal dari kuatnya hubungan bermasyarakat. Darinya lahir tanggung jawab bersama didasari kebersihan hati dan wajah berseri.
Di tengah perubahan zaman, nilai luhur yang di kandung telah mulai terjadi pencampur bauran antara hak dan bathil di mana-mana. Antara suruh dan tegah jadi kabur. Ibadah dan maksiat campur baur.

Orang banyak menyebut sakali aie gadang sakali tapian barubah. Artinya sekali air besar, tepian lama dihanyutkannya. Tampaknya, budaya kita sedang mengalami penetrasi budaya orang lain. Acara balimau itupun menjauh pula dari nilai adat dan syarak.

Hura-hura dan huru-huru mulai mucul di mana-mana karena lemahnya panggilan peran surau. Nilai harkat diri sangat tipis, larangan adat dan agama mulai dilanggar, aturan beradat tidak tampak, kerusakan datang mengancam, nilai budaya Minang mulai tergugat, mulailah terasa hilangnya norma-norma yang baik. Ranah Minang, seakan tidak lagi hidup dalam keindahan kultur budaya. Masyarakat mulai larut dalam hubungan tak berbudaya.

Maka, perlu upaya keras semua pihak mencegah generasi kedepan terperangkap perbuatan maksiyat. Di antara yang dapat dikerjakan oleh anak nagari adalah membersihkan halaman rumah, masjid dan surau, serta membuat sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk kehidupan anak nagari. Keteraturan adalah satu nikmat dari Ramadhan yang dinantikan tiap tahun. Orang Minangkabau di Sumatera Barat yang menanggalkan budayanya, akan mewarisi generasi rapuh, jiwanya akan mati. Akibatnya, kehidupan tidak lagi beralas adat yang tak lekang karena panas tak lapuk karena hujan.

Bila kondisi itu tidak di awasi, rela ataupun tidak, jalan di alih urang lalu, tepian di aliah urang mandi akan menjadi kenyataan. Minangkabau akhirnya tersisa dalam nostalgia. Hidup kedepan akan dikuasai oleh yang teguh pada puncak budayaannya. Tak mudah di sangkal bahwa puncak kebudayaan adalah warna kehidupan kaum (bangsa). Nilai budaya dalam tatanan kehidupan aktif merupakan aset bernilai tinggi untuk di persandingkan pada era kesejagatan (globalisasi). Satu generasi bangsa akan hilang, karena lemahnya nilai-nilai budaya. Selain itu, akan membuka peluang untuk dijajah oleh budaya lain yang lebih kuat. Mau tidak mau, generasi yang lemah budaya nyaris diperebutkan orang lain. Untuk kemudian dikuasai dan dihalau kian kemari di dalam persaingan bebas yang keras. Generasi lemah iman dan lemah tamaddun akan tergilas habis. Dalam alam global yang kejam ini, generasi yang lemah akan ditelan oleh yang kuat.

Di antara yang dapat dikerjakan oleh anak nagari adalah membersihkan halaman rumah, masjid dan surau, serta membuat sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk kehidupan anak nagari. Keteraturan adalah satu nikmat dari Ramadhan yang dinantikan tiap tahun. Orang Minangkabau di Sumatera Barat yang menanggalkan budayanya, akan mewarisi generasi rapuh.

Jiwanya akan mati. Akibatnya, kehidupan tidak lagi beralas adat yang tak lekang karena panas tak lapuk karena hujan. Bila kondisi itu tidak di awasi, rela ataupun tidak, jalan di alih urang lalu, tepian di aliah urang mandi akan menjadi kenyataan. Minangkabau akhirnya tersisa dalam nostalgia.

Hidup kedepan akan dikuasai oleh yang teguh pada puncak budayaannya. Tak mudah di sangkal bahwa puncak kebudayaan adalah warna kehidupan kaum (bangsa). Nilai budaya dalam tatanan kehidupan aktif merupakan aset bernilai tinggi untuk di persandingkan pada era kesejagatan (globalisasi). Satu generasi bangsa akan hilang, karena lemahnya nilai-nilai budaya.

Selain itu, akan membuka peluang untuk dijajah oleh budaya lain yang lebih kuat. Mau tidak mau, generasi yang lemah budaya nyaris diperebutkan orang lain. Untuk kemudian dikuasai dan dihalau kian kemari di dalam persaingan bebas yang keras. Generasi lemah iman dan lemah tamaddun akan tergilas habis. Dalam alam global yang kejam ini, generasi yang lemah akan ditelan oleh yang kuat.

3. Kembali ke Surau Jangan Sebatas Konsep

Menanggapi relalisasi pogram itu, pemerhati masalah nagari, Drs Zulfikar Amar yang juga pengajar di STIA BNM mengatakan untuk mengukur keberhasilannya perlu dipikirkan bagaimana indikator yang bisa dinilai.

“Kembali ke surau baru dalam bentuk fisik. Di mana-mana didirikan surau baru dan merehab surau-surau lama menjadi lebih baik, tetapi bagaimana dengan kegiatan yang ada di surau tersebut,?

Ia menilai Padangpariaman bisa disebut dengan negeri seribu surau, karena banyaknya surau. Setiap kaum mempunyai surau, sehingga antara surau yang bangunannya berdekatan.

Di bulan Rabiul Awal ini orang mengadakan Maulud nabi di surau-surau dengan badikie sampai pagi, di bulan Ramadhan diadakan Shalat Tarwih berjamaah walaupun imam dan makmunya hanya beberapa orang saja dan setelah itu tidak ada lagi kegiatan di surau. Bahkan yang paling buruk surau dijadikan gudang padi karena berdekatan dengan sawah.

Barangkali pemandangan ini bisa dilihat hampir di setiap nagari di. Untuk itu ia menyampaikan saran dalam bentuk wacana kembali ke surau yang dimotori tenaga penyuluh agama di setiap kecamatan. Pertama yang harus di ketahui sebagai data basis adalah berapa jumlah surau yang pasti di dan apa kegiatan di surau tersebut yang telah ada, serta potensi yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan surau tersebut (misalnya pengurus, guru mengaji, guru silat, guru budaya dan lain-lain yang dirasa perlu). Baru kemudian ditetapkan kegiatan yang dikehendaki di setiap surau dan dilaporkan dalam bentuk angka-angka kepada penyuluh agama dan penyuluh agama melanjutkan kepada KUA yang ada di setiap kecamatan dan rekapnya baru dikirim ke departemen agama kabupaten.

Sehingga setiap bulan dapat di analisa keberhasilan seberapa jauh program kembali ke surau bisa dijalankan. Jangan seperti sekarang para penyuluh agama disuruh melaporkan berapa kali dia khotbah sebulan, berapa dan di mana mengajar mengaji dan lain-lain tetapi diharapkan penyuluh agama menggerakkan surau dengan koordinasi kepada seluruh pengurus surau. Sehingga surau bergerak sendiri oleh masyarakat.

“Kita contohkan penyuluh keluarga berencana, mereka tidak mungkin mendatangi semua keluarga yang ada di sebuah kecamatan tetapi dengan menggunakan kader yang ada di setiap dusun dan kampung mereka mampu menggerakkan masyarakat untuk mengikuti program KB. Dalam hal ini tokoh masyarakat dijadikan kader kembali ke surau. Kelau program yang dibuat jelas dan terukur kita bisa berbicara apakah kita telah kembali ke surau atau tidak,” .

Selain itu dalam rapat-rapat dengan lembaga legislatif dapat dikemukakan bagaimana memecahkan masalah kekurangan guru mengaji, kekurangan dana. Dan bisa mengajak perantau memikirkan secara bersama.

4. Upaya Tindak Lanjut Mengenai Permasalah Surau

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, Kepala Desa jarang membicarakan tentang surau dengan para pengelola surau sehingga pembangunan surau telah terabaikan begitu saja hingga kini. Upaya yang sudah mulai di kembangkan yaitu memberikan bantuan kepada guru-guru mengaji, dan pemeliharaan serta pembangunan surau belum begitu tersentuh secara menyeluruh.
Hal ini dapat diantisipasi dengan:

• Dalam menyikapi permasalahan surau perlu upaya-upaya serius penanggulangannya oleh berbagai pihak, agar aset yang ada ini senantiasa mampu memberikan kontribusi yang memadai bagi warga dan anak nagari.

• Dalam pembangunan nagari ke masa depan, aset berupa surau ini barangkali nanti bisa di jual ke masyarakat luas, sebagai tempat- tempat pelatihan dan keterampilan oleh lembaga-lembaga perguruan tinggi, lembaga-lembaga adat, dan lembaga-lembaga sosial masyarakat lainnya di lingkungan Sumatera Barat. Hal-hal yang perlu di pikirkan adalah bahwa setiap surau yang ada perlu dilengkapai dengan tempat-tempat penginapan yang layak dengan fasilitas yang cukup memadai [semacam hostel) dengan biaya murah dan terjangkau oleh kantong para mahasiswa Sumatera Barat.

• Keberadaan aset seperti surau ini perlu di munculkan dan diangkat ke tingkat kabupaten dengan usulan anggaran biaya rutin pemerintah nagari, agar pemerintah daerah kabupaten ikut memikirkan pembangunannya.

PENUTUP

1. Kesimpulan

Dari data di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa mulai terancamnya posisi surau di Sumatera Barat pada umumnya, dan masyarakat Minangkabau pada khususnya. Apabila hal ini dibiarkan terus berlanjut, maka akan tidak menutup kemungkinan akan terjadi perubahan budaya dan mulai hilangnya fungsi surau di tengah kehidupan masyarakat.

Jika hal ini dibiarkan, maka efek lebih lanjut akan pudarnya budaya Islam dalam tatanan kehidupan bermasyarakat Minangkabau. Hal ini tentu merupakan awal dari penghilangan budaya Islam kemudian berlanjut dengan mulai menghilangnya kebudayaan Minangkabau secara keseluruhan. Hal ini dapat terjadi karena budaya Minangkabau dan budaya Islam termasuk dalam kesatuan yang utuh yang telah dibentuk oleh “Bapak” penengak Budaya Minangkabau. Berarti, secara tidak langsung kita telah melupakan jati diri, identitas, dan asal-usul kita sendiri sebagai masyarakat Minangkabau.

Untuk itu perlu perhatian khusus dari Pemerintah Daerah (PemDa) secara umum, dan seluruh masyarakat Minangkabau secara khususnya, baik yang berada di Sumatera Barat maupun berada di perantauan. Marilah kita bersama-sama untuk menjalankan program pemerintah yang sedang berlangsung di daerah kita sendiri yang sering kita lupakan. Sengaja penulis tuangkan dengan harapan kembali budaya asal Minangkabau. Marilah kita mohon kepada Allah agar memberi akhfir kehidupan dan perbuatan yang baik. Semoga niat ini dapat menjadi kenyataan untuk kehidupan masyarakat kita saat ini. Amin.

2. Saran

Makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu kita perlu saran dari pembaca dan pendengar agar semua ini dapat disempurnakan agar berguna nantinya kelak.

Penulis mengharapkan agar para pembaca, para pendengar, dan penulis sendiri untuk dapat kiranya melakukan setiap amanat yang disampaikan dalam makalah ini. Diharapkan agar kita semua dapat mengembalikan lagi posisi surau sebagai pusat dari kegiatan di Minangkabau.

DAFTAR PUSTAKA

GENERASI MUDA SUMBAR VS HEDONISME

OLEH: EMIL ERISCO (SEBAGAI SYARAT CALON WARGA ASRAMA MAHASISWA MERAPI SINGGALANG TAHUN 2008

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia Nya kepada kita semua, sehingga sampai saat ini kita masih dalam keadaan sehat dan masih bisa melaksanakan segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari dunia yang tidak berilmupengetahuan kepada dunia yang berilmupengetahuan dan berpendidikan seperti yang kita rasakan pada sekarang ini.

Terimakasih penulis ucapkan kepada kakak-kakak, teman-teman di asrama dan segenap elemen yang tidak tersebutkan namanya yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Terimakasih juga atas masukan-masukan yang telah diberikan kepada penulis, masukan ini sangat berguna untuk melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada.

Makalah ini penulis buat sebagai tugas untuk persyaratan menjadi warga Asrama Merapi Singgalang. Mungkin kalau ada kekurangan dan kesalahan dalam makalah ini penulis mohon maaf. Hanya itu saja yang dapat penulis sampaikan,sampai jumpa di lain kesempatan.

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Adat dan budaya Minang ke depan dalam tantangan dan bahaya. Sebab, banyak generasi muda sebagai generasi pelanjut dewasa ini kurang mengenal, bahkan tak kenal lagi dengan adat dan budayanya. Budaya Minang dianggap tak lebih hebat dari budaya lain,apalagi budaya barat. Padahal, kalau mereka perhatikan atau mereka pahami, adat dan budaya Minang bisa menjadi perisai diri dan sekaligus perisai agama. Makanya filosofi hidup orang Minang berbunyi adat basandi Syara’, Syara’ basandi Kitabullah,atau yang lebih dikenal dengan ABS-SBK.

Adat Minang adalah adat islami dengan filosofi adat basandi Syara’,Syara’ basandi Kitabullah. Tapi masih adakah masyarakat minang yang lebih khususnya para pemudanya masih berpegang pada filosofi di atas? Kalau kita perhatikan pada saat ini,semakin hari para pemuda kita semakin jauh dari filosofi tersebut. Dan lebih parahnya lagi para pemuda kita lebih mementingkan kesenangan duniawi semata (hedonisme) dari pada kepentingan akhirat kelak. Dan permasalahan inilah yang melatarbelakangi penulis mengangkat pernasalahan ini menjadi judul makalah ini.

2. Tujuan

Tujuan penulis mengangkat permasalahan tersebut di dalam makalah ini adalah untuk mengingatkan kepada generasi muda Sumbar untuk meninggalkan paham hedonisme tersebut dan kembali filosofi hidup orang minang.

BAB II PEMBAHASAN

1. Pengertian Hedonisme

Pengertian hedonisme itu sendiri berasal dari berasal dari filsafat Yunani yaitu upaya menghindari kesengsaraan serta menikmati kebahagiaan sebanyak mungkin dalam kehidupan di dunia. Akibatnya, seseorang mencari berbagai cara, kalau perlu melanggar hukum untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia.
Hedonisme menurut Wikipedia Indonesia adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalanani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas.

Hedonismelah yang melanda generasi muda Sumatera Barat kini. Paham ini menimbulkan kebimbangan dan bahkan membuat resah pimpinan di daerah-daerah terutama ketika Sumatera Barat berhasrat menjadi provinsi yang maju. Karena jika provinsi ini ingin maju tentu membutuhkan usaha-usaha yang positif. Dan hedonismelah yang menghambat usaha-usaha tersebut.

2. Potret Generasi Muda Sumbar.

Pemuda adalah sosok yang penuh semangat dan sangat sensitif terhadap kondisi yang terjadi di sekitarnya. Kalau kita berangan-angan atau sekedar mengingat kembali romantisme sejarah, tentunya pemudalah yang paling berinisiatif dan banyak andil dalam setiap perubahan. Melalui tulisan ini penulis tidak ingin menyanjung-nyanjung tentang peran pemuda dalam pentas peradaban ini. Tapi setidaknya kita tidak serta merta melupakan begitu saja peran mereka dalam kancah perubahan, tentu saja dengan tidak menafikan peran serta dan dukungan seluruh rakyat Indonesia. Sehingga tidak salah pemuda disebut sebagai lokomotif perubahan. Tentunya dengan predikat yang melekat pada dirinya itu tidaklah membuat pemuda menjadi terninabobokan olehnya. Namun yang menjadi permasalahan sekarang adalah yaitu ketika pemuda yang akan menjadi pewaris tahta peradaban larut dan terjebak dalam arus budaya hedonis. Perkembangan informasi dan teknologi harus kita akui telah sedikit banyak mereduksi nilai-nilai moral kemanusiaan kita. Sebut saja perkembangan dunia maya atau yang lebih tenar disebut internet. yang mampu membuat kita seolah tanpa jarak. Berbagai macam informasi tersaji rapi di sini, dari yang paling sopan sampai pada yang paling vulgar dan seronok.

Melihat dari perkembangan Sumatera Barat dewasa ini jelas tidak dapat dipungkiri kalau gerasi muda Sumatera Barat telah terjangkit virus yang bernama hedonisme yang sangat kental terasa kita lihat dari aktivitas sehari-hari.

Tidak dapat disangkal bahwa perkembangan informasi dan teknologi telah memberikan sumbangsih yang besar terhadap perkembangan peradaban umat manusia. Dengan kemajuan teknologi dan informasi pekerjaan manusia semakin dipermudah, akibatnya manusia dimanjakan dengan kemudahan-kemudahan yang coba ditawarkan oleh produk-produk yang sifatnya instant. Disamping memberi dampak yang positif terhadap peradaban manusia, kemajuan informasi dan teknologi juga dapat memberikan dampak negatif bagi masyarakat, khususnya generasi muda kita. Mereka adalah kelompok pertama yang menjadi sasarannya, sebab mereka merupakan sosok yang masih dalam tahap pencarian indentitas. Ulah kemajuan informasi dan teknologi sangat mudah merubah gaya hidup manusia baik cara berpikir, cara berpakaian dan cara pergaulan.

Bila kita tinjau dari cara berpakaian maka kita dengan sangat mudah menemukan busana seksi dan setengah telanjang dalam setiap aktivitas keseharian kita. Sebut saja ditempat-tempat hiburan dan sarana perbelanjaan seperti mall. Bahkan kadang-kadang untuk menjadi seorang staf di sebuah kantor atau perusahaan pun harus berpakaian modis dan rata-rata rok lima belas senti di atas lutut. Yang lebih menyedihkan lagi, fenomena ini justru bisa kita saksikan di dunia kampus.

Dunia kampus yang seharusnya menjadi penetralisir pengaruh negatif tersebut, justru berbalik arah seolah ingin melegalkan budaya hedonisme di kalangan generasi muda kita. Kampus telah menjadi pentas pertunjukan mode dan peragaan busana. Lihat saja!, disetiap sudut-sudut kampus kita, setiap hari kita disuguhkan dengan busana yang menantang oleh sebagian teman kita yang perempuan. Dengan celana jeans ketat dipadu dengan baju kaos super ketat sampai perut (full press body), sehingga kelihatan pusar dan sesekali kelihatan tali under wear kala sedang jongkok. Saat naik angkot pun harus setengah mati menutup bagian dada yang kelihatan saat membungkuk masuk pintu angkot. Apa susahnya , kalau sebelum keluar rumah harus menutupnya dengan rapi?. Fenomena seperti ini pun tidak luput dari kampus-kampus yang berlabel kampus islami. Sedangkan si laki-lakinya dengan mengadopsi habis-habisan gaya hidup punk dari barat sana. Seolah-olah mereka kehilangan kepribadian sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur dan tata krama. Seks bebas menjadi mazhab baru mereka, seolah mereka lahir tanpa agama.

Bukankah Tuhan telah mengambil sumpah terhadap roh manusia semasih dalam rahim untuk bersaksi “…Bukankan aku ini Tuhanmu?, Lalu mereka menjawab: benar engkau Tuhan kami” (Qs Al-A’raf-172). Maka tidak ada lagi alasan untuk tidak menjalankan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Perilaku seks bebas juga sangat ditentang dalam islam sebagaimana tertuang dalam Al-Quran surat An-Nur ayat 30: “ Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka…” dalam islam sendiri telah diatur bagi para perempuan untuk menutup aurat dengan sempurna “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…”(QS An-Nur:31). Ayat ini menunjukan betapa islam memberikan perlindungan terhadap perempuan dari tindakan asusila, sekaligus memberikan penghargaan yang tinggi terhadap permasalahan moral.

Bila kita tinjau dari segi pergaulan, mungkin generasi muda kita telah terlanjur jatuh dalam lembah pergaulan bebas, fenomena seks di kos-kosan adalah salah satu contohnya. Tak jarang akibat dari pergaulan bebas ini memunculkan penyakit sosial baru dalam masyarakat kita yakni praktek prostitusi. Interaksi antara laki-laki dan perempuan sepertinya sudah tidak ada lagi batas yang jelas, semuanya kabur. Sehingga jangan heran kalau duduk berduaan di tempat yang sepi, berpelukan, merangkul pinggang, bergandengan tangan antara laki-laki dan perempuan yang belum terikat tali pernikahan, dan berboncengan sepeda motor antara dua orang insan yang bukan muhrim-yang mengakibatkan dada ketemu punggung-sangat mudah kita temukan.. Pertanyaannya kemudian, Apakah kita hanya berdiam diri saja menyaksikan fenomena tersebut?. Ataukah kita turut larut di dalamnya dan diam-diam kita menjadi pemujanya?.

3. Peran Media Masa

Dalam pembentukan perilaku dan gaya hidup generasi muda, harus kita akui media memiliki pengaruh yang cukup kuat. Kadang-kadang media terlalu jauh menayangkan iklan ataupun tontonan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral serta cenderung provokatif. Bukan saja itu, yang lebih anehnya lagi, ada iklan tertentu yang mencoba menyandingkan keindahan tubuh wanita dengan produknya agar iklannya dapat menyita perhatian penonton. Peran media seharusnya menjadi sarana pencerdasan terhadap masyarakat, namun kini perlahan bergeser dan lari menjauh dari misi humanisnya dan cenderung berorientasi profit (mendukung kapitalisme global). Kita bisa melihat iklan-iklan di media cetak dan televisi yang sebagian besar sarat dengan eksploitasi keindahan dan keelokan tubuh perempuan. Sebut saja iklan pemutih kulit (hand and body lotion), lipstik, sabun mandi, sampai pada iklan bra dan pembalut wanita. Bahkan ada yang lebih vulgar lagi, iklan sebuah merek sepeda motor yang disandingkan dengan (maaf) pantat salah seorang artis yang dijuluki ratu ngebor. Maka jangan marah, kalau muka bangsa Indonesia laku di jual di luar negeri hanya dengan pantat salah satu penyanyi ngebor. Pertanyaannya kemudian, dimana hubungannya antara goyang ngebor dengan sepeda motor?. Lucunya lagi masyarakat kita seolah-olah menganggap ini adalah sesauatu hal yang wajar (alamiah). Siapa yang patut disalahkan atas hal tersebut?. Apakah media ataukah masyarakat kita sendiri yang dengan senang hati sangat menikmati tontonan tersebut?. Kalau demikian keadaannya maka ini adalah alamat terjadinya degradasi moral dalam masyarakat kita, tak terkecuali generasi mudanya. Bukankah nilai moral adalah pra syarat yang membedakan kita dengan binantang?. Jika moral telah mati maka gugurlah salah satu pra syarat kita sebagai manusia seutuhnya.

BAB III PENUTUP

Dari beberapa penjelasan pada bab II tadi, dapat kita tarik kesimpulan bahwa gaya hidup para pemuda di Sumbar yang mengarah ke hedonisme, kalau dibiarkan terus menerus maka stok generasi muda sumbar yang mewarsi provinsi ini akan punah akibat penyakit moral dan gaya hidup hedonisme yang menggerogoti mereka.

Salah satu tanggung jawab besar negara terhadap generasi mudanya adalah bagaimana menyelamatkan generasi muda dari degradasi moral yang sudah kian terpuruk. Tentu saja dengan segala perangkat pemerintahan yakni kementrian pendidikan dan kebudyaan serta para agamawan dan pelaku budaya (budayawan) agar mampu membuat formula yang ampuh untuk menciptakan konsep pendidikan yang berbasis humanis dan religius.Satu lagi yang harus menjadi tanggung jawab moral institusi pendidikan adalah bagaimana menciptakan suasana kampus yang humanis agar tawuran, perjudian ilegal, dan peredaran narkoba tidak menghinggapi masyarakat kampus.

Dan melalui makalah ini penulis mengharapkan kepada generasi muda untuk meninggalkan gaya hidup hedonisme karena kita sebagai manusia hidup di dunia sudah ada aturan yang mengatur.

DAFTAR PUSTAKA

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.