Novel yang Terbit Setelah Kemerdekaan Lebih Bermutu

Posted On 13 April 2008

Disimpan dalam Sastra

Comments Dropped one response

Novel-novel warna lokal Minangkabau yang terbit setelah kemerdekaan lebih bermutu dari segi kesastraan atau estetika, karena strukturnya yang lebih padu dibandingkan dengan novel-novel sejenis yang terbit sebelum kemerdekaan.

“Kualitas itu juga didukung oleh kemampuan pengarang menampilkan kompleksitas masalah sosial budaya yang dialami para tokoh dalam novel-novel tersebut,” tambah Atmazaki dalam ujian terbuka untuk meraih gelar doktor bidang pendidikan bahasa di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rabu.

Dalam sidang Senat Guru Besar UNJ yang dipimpin Rektor UNJ Prof Dr Sucipto, Atmazaki mempertahankan disertasinya yang berjudul “Novel-Novel Warna Lokal Minangkabau: Dinamika Jender dalam Konteks Adat dan Agama”.

Menurut Atmazaki yang juga mengetuai Pusat Kajian Humaniora di Universitas Negeri Padang, perkembangan masalah sosial budaya yang semakin kompleks itu merupakan refleksi dari kehidupan masyarakat Minangkabau yang juga semakin kompleks, karena pengaruh dari dunia luar sebagai konsekuensi logis dari karakter masyarakat yang egaliter dan terbuka.

“Hal yang sama juga menyebabkan masyarakat Minangkabau yang digambarkan memandang relasi peran jender secara lebih seimbang. Sendi-sendi adat yang masih kokoh dan kemajuan pendidikan yang diterima generasi muda yang semakin baik menyebabkan masyarakat Minangkabau lebih peka terhadap isu jender,” katanya.

Dari hasil temuan dalam penelitian terhadap 11 novel yang berwarna lokal Minangkabau itu, Atmazaki mengajukan sejumlah rekomendasi.

“Masyarakat Minangkabau atau masyarakat Indonesia umumnya perlu terus-menerus meningkatkan sosialisasi peran jender melalui pendidikan baik secara formal maupun non formal,” katanya.

Pendidikan apresiasi sastra, menurut Atmazaki, merupakan medium yang tepat untuk melakukan sosialisasi peran jender. “Pendidikan apresiasi sastra dapat diarahkan pada hubungan sastra dengan masyarakat agar lebih fungsional dalam mendidik siswa mengenali lingkungannya,” tambahnya.

Sehubungan dengan budaya lokal masyarakat Indonesia yang beragam, kata promovendus yang pernah belajar di Universitas Deakin Australia itu, pemerintah perlu memikirkan kemungkinan memasukkan pendidikan multikultural ke dalam kurikulum sekolah agar siswa dapat mengembangkan pemahaman dan penghargaannya terhadap keragaman budaya, gaya hidup, dan sejarah kelompok etnis.

Dengan demikian siswa diajak untuk melakukan perlawanan terhadap aksi-aksi rasisme, seksisme, etnosentrisme, diskriminasi etnis, dan prasangka etnis.

Promovendus yang dalam proses penulisan disertasinya dibimbing oleh promotor Prof Dr Emzir dan Dr Kinayati itu dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. [Tma, Ant]

Sumber: http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=43307

ORANG-ORANG BANO

Posted On 26 September 2007

Disimpan dalam Sastra

Comments Dropped leave a response

Tiba-tiba orang-orang itu meradang. Bagai aktor teater yang kehilangan panggung, mereka berteriak histerikal seolah ke lapis langit ke tujuh, bahwa musibah adalah musibah, dan musibah tidak bisa dikait-kaitkan dengan Tuhan.
Sungguh-sungguh, ini konsep, gagasan, ide, pandangan hidup siapa, atau dari siapa? Jangan-jangan, konsep, gagasan, ide, pandangan hidup ini berawal dari orang-orang yang tidak mengenal Allah SWT, sekaligus orang-orang yang tidak bertuhan. Saya memang harus amat berhati-hati. Barangkali pandangan itu dari orang-orang yang tidak bertuhan, biarpun belum tentu orang-orang itu antituhan.
Soalnya, setelah Istano Gadang1) luluh-lantak diamuk si gulambai, orang-orang itu benar-benar merasa kehilangan. Dan, rasa kehilangan itu bagi mereka sangat besar. Mereka merasa kehilangan apa yang selama ini mereka puja-puji, mereka bangga-banggakan, mereka agung-agungkan, dan sangat mereka muliakan.
Istano Gadang itu bukan saja mereka puja-puji, mereka bangga-banggakan, mereka agung-agungkan, dan sangat mereka muliakan, tetapi bahkan juga mereka sembah-sembah. Dalam batin atau konkret, penyembahan itu menyebabkan ada sastrawan yang merumuskan, bahwa mereka memberhalakan Istano Gadang.
Tidak mungkin orang-orang itu tidak menganggap istana itu berhala kalau mereka tidak lebih mengutamakan keperluan istano daripada keperluan anak-istri mereka, keperluan keluarga, keperluan tetangga, keperluan orang-orang sekampung, bahkan juga keperluan orang seluhak2) dengan mereka.
Dan, ketika istano terbakar, hangus sehangus-hangusnya, sebagai akibat sambaran petir, orang-orang itu langsung menggerakkan orang sekampung, orang sekabupaten, orang seluhak, orang seprovinsi, bahkan orang serepublik dengan mereka, agar replika istana segera dibangun kembali.
Tidak tanggung-tanggung, presiden dan wakil presiden pun diupayakan terketuk hatinya untuk membantu pembangunan kembali Istano Gadang. Padahal, istana yang luntuh-lantak itu cuma replika yang dibangun sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Istana yang sesungguhnya, yang asli, dahulu juga terbakar.
Sangat susah merumuskan, mencarikan pembenaran, di negeri kami istano itu penting, apalagi mahapenting. Bicara masa silam, yang sangat jauh ke belakang pun, tidak pernah atau, paling kurang, belum pernah ditemukan bukti peninggalan sejarah, bahwa negeri kami itu berbentuk kerajaan. Apabila berbentuk kerajaan, pastilah ada raja. Apabila ada raja, bisa jadi ada istana.
Tetapi raja itu sama sekali tidak pernah ada. Apa yang pernah ada hanyalah datuak3 yang, dalam memegang kekuasaan, dimamangkan, didahulukan selangkah, ditinggikan seranting. Itulah mereka Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumangguangan. Mereka adalah pemimpin yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, sama sekali tidak memerlukan istana.
Pemimpin kaum kami adalah orang-orang rendah hati, tahu diri, benar-benar mendahulukan kepentingan anak-kemenakan. Di zaman mereka, di kampung-halaman kami, di setiap musim tersua: padi masak jagung mengupih, anak-kemenakan berkembang biak.
Alkisah, Istano Gadang pun pernah menjadi simbol keperkasaan orang-orang itu. Kadang-kadang, lucu sekali, simbol mereka samakan dengan lambang. Padahal simbol adalah simbol dan lambang adalah lambang. Dalam konteks filsafat, pengertian antara satu sama lain sangat jauh berbeda. Dan, bagi mereka, istano menjadi simbol kehebatan, simbol keanggunan, dan, ya, simbol keperkasaan itu. Konon, di sana, dengan istana yang menjadi simbol itu, mereka memertaruhkan harga diri, dan bahkan, anggap mereka, jati diri.
Akan tetapi, itulah celakanya, perlakuan mereka terhadap istana itu aneh, untuk tidak mengatakan naif. Mereka tidak memelihara istana itu persis sebagaimana sebuah istana mesti dipelihara. Muatan dan isi istana itu tidak lagi mencerminkan keadaan yang sesungguhnya, andai yang sesungguhnya itu memang ada. Beberapa replika benda yang berada di dalam tidak bisa mereka jelaskan secara akurat, proporsional dan profesional. Ketika seorang turis dari Jepang bertanya, mereka benar-benar tidak mampu memaparkan perbedaan Rumah Gadang4 dan Istano Gadang. Dan, paling tragis, setelah terbakar, di puing istano ditemukan botol minuman keras.
Belum lagi sindikasi kepentingan antara oknum pejabat pemerintah dan pialang budaya yang berkongkalikong dalam memasarkan istano yang, kata mereka, demi kepentingan pariwisata. Begitu pula risalah tanah ulayat di mana istana didirikan, tidak pernah tuntas! Sampai batas tertentu, setidaknya sampai replika istana terbakar, pemilik tanah masih mengambil sikap sabar, belum pernah bereaksi secara frontal. Ya, mengambil sikap mirip yang diwariskan kedua datuk itulah.
Orang-orang itu memang tak sempat merenung mengapa replika istana hangus terbakar. Biarpun mempunyai alat penangkap petir yang terpasang di setiap gonjong yang menjulang tinggi, namun dalam sekejap petir dapat saja berkelit, mengirimkan bunga-bunga api ke atap ijuk dan, dalam hitungan detik, bunga-bunga itu berubah jadi api dan membakar seluruh badan besar gempal bangunan, kecuali kerangka beton bertulang.
Padahal, dalam adagium yang sempat mereka dengung-dengungkan tiap sebentar, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah,5 jelas termaktub keyakinan, apabila Allah SWT berkehendak, kun, jadilah! Artinya, apabila Allah SWT berkeinginan istano terbakar, dengan atau tanpa penangkap petir, istana itu pun terbakar. Jangankan membakar hanya sebuah replika istana, mengiamatkan dunia ini pun Allah SWT mampu!
Akan tetapi mereka, orang-orang itu, cuma memercayai, bahwa musibah adalah musibah. Bagi mereka, dengan demikian, ketika malam datang ya malam datang, dan kemudian apabila siang tiba ya siang tiba. Dan, mereka amat tersinggung ketika dikatakan, musibah itu sesungguhnya merupakan peringatan, ujian atau azab Allah SWT. Mereka tak menerima pengakuan, Allah SWT mengingatkan, menguji dan mencoba mereka.
Mereka menganggap, saya lebih mengetahui tentang apa yang bisa, sudah, sedang, dan akan dilakukan Allah SWT. Paling menakjubkan adalah penilaian mereka terhadap diri saya, bahwa saya sudah menuhankan diri sendiri. Astaghfiullah. Oke, itu penilaian mereka. Tetapi merasa masih menjadi bagian dari mereka, saya teringat bagaimana di antara kerabat dekat orang-orang itu, yang berarti juga kerabat dekat saya, pernah melakukan korupsi berjamaah. Benar-benar berjamaah!
Memang, tak perlu diusut siapa imam dan ke mana kiblat mereka, tetapi mereka, koruptur berjamaah itu, benar-benar memakan hak rakyat jelata. Di mimbar-mimbar mereka masih berkaok-kaok soal mengenyahkan kesengsaraan dan penderitaan rakyat, tetapi dalam perbuatan setiap hari mereka selalu tidak terpuji.
Tidak sepekan kemudian, di kampung-halaman kami pun terjadi gempa yang meluluhlantakkan rumah-rumah warga, rumah-rumah ibadah, bangunan-bangunan pasar, kantor-kantor pemerintah dan area pertanian, jalan raya, jalan setapak, lereng serta bukit. Gempa bumi selama beberapa detik itu pun mereka anggap sebagai musibah belaka. Mereka berteori, peristiwa gempa bukan kejadian baru. Daerah kami pun dikatakan dilalui garis gempa.
Dan, ketika risalah ini saya teleponkan kepada sastrawan itu, saya menerima pesan pendek: mereka, orang-orang itu, menjadi orang-orang bano6) yang tidak perlu ditanggapi serius. Syahdan penyebab kebanoan mereka adalah terbalik kaji7). Dan itu harus mereka tanggungkan sampai akhir hayat.
Keterangan:
1. Istano gadang = istana besar.
2. Seluhak = sedistrik.
3. Datuk = pemimpin (kaum).
4. Rumah Gadang = rumah adat, bergonjong-gonjong.
5. Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah = adat bersendi syarak, syarak bersendi kitab Allah (Alquranulkarim).
6. Bano = senu, nyaris gila.
7. Terbalik kaji = studi agama (Islam) yang jungkir-balik.
Cerpen Darman Moenir
Sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=308009&kat_id=364

Halaman Berikutnya »
  • Create your own banner at mybannermaker.com!

  • Mersi – BK in Facebook

  • Kategori