MENGENALI POTENSI LEWAT MENULIS
MENGENALI POTENSI LEWAT MENULIS
Oleh: Hernowo
Bagaimana kita dapat mengenali diri kita? Bagaimana kita dapat mengetahui secara yakin bahwa diri kita memiliki sifat-sifat tertentu yang khas dan hebat? Bagaimana kita dapat cepat mengetahui keinginan kita terdalam? Bagaimana kita dapat membangun karakter yang kuat dan cocok dengan diri kita? Dapatkah pertanyaan-pertanyaan ini dijawab dengan bersandar pada orang lain? Dapatkah orang di luar diri kita, baik itu orangtua, adik, kakak, dokter, psikolog, memecahkan persoalan diri kita secara tuntas?
Kekuatan menulis,menurut saya, terletak pada kemampuannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Menulis, secara sederhana, saya artikan sebagai merumuskan hal-hal yang kita simpan “di dalam” untuk kemudian dapat kita pahami “di luar”. Syarat menulis yang dapat menghasilkan rumusan yang baik adalah adanya kongruensi. Ini dapat diartikan segala sesuatu yang ada “di dalam” (yang kita pikir dan rasakan) harus sama persis dengan segala sesuatu yang ada “di luar” (yang kita tulis dan lakukan).
Seseorang tidak akan mampu menulis secara baik, apabila dia tidak mengenali dan berusaha keras mengali materi-materi yang ada dalam dirinya. Seseorang tidak akan mampu mengeluarkan apa-apa yang “ di dalam” lewar sebuah tulisan, apabila apa-apa yang ingin dikeluarkannya itu tidak pernah dialaminya secara konkrit. Menulis, dalam konteks yang paling sublim adalah sebuah aktivitas untuk mengekspresikan diri kita secara total.
Dari rumusan terakhir itulah kekuatan menulis, Insya Allah, akan mampu meledakkan potensi diri menjadi sebuah cara terefektif untuk menunjukkan kemampuan diri. Yang paling mengetahui siapa diri kita adalah diri kita sendiri. Yang dapat mengenali secara akrab diri kita adalah diri kita sendiri. Bagaimana mungkin kita akan meminta tolong kepada orang lain jika orang lain itu tidak mampu masuk ke dalam hati kita? Bagaimana mungkin kita dapat dikenali orang lain apabila kita dapat menampakkan diri kita secara apa adanya?
Menulis jelas akan membantu kita menampakkan diri kita yang “di dalam”. Marilah berlatih menulis, sebagai sebuah proses mengekspresikan diri,lewat buku catatan harian (diary). Saran saya ini memang tidak baru dan terkesan sepele. Namun, disinilah, sesungguhnya, terletak daya ledak kekuatan menulis apabila penulisan itu kita lakukan secara kontinu dan konsisten. Dengan membiasakan diri menguras pikiran kita setiap hari di lembar-lembar halaman bernama diary, Insya Allah, kita akan diajak untuk memasuki wilayah penting: Prigel (sangat terampil menulis).
7 Agustus 2007


