Demokrasi “Kaum Penjahat”

Posted On 3 April 2009

Disimpan dalam Sosial Politik

Comments Dropped 2 responses

Oleh: Muhammad Yusra (Mersi 2003 – Mahasiswa Hubungan Internasional Pasca Sarjana UGM)

Rangkaian kegiatan Pemilu legislatif 2009 akan segera berakhir hanya dalam beberapa hari lagi, tepatnya pada tanggal 5 April. Tanggal tersebut juga sekaligus menandai berakhirnya semua kegiatan kampanye terbuka para parpol/ caleg peserta pemilu 2009.

Berbagai tragedi dan peristiwa silih berganti terus terekam di benak selama mengikuti dan menyaksikan, , fase demi fase, rangkaian demi rangkaian kampanye para parpol/caleg peserta pemilu 2009. Namun hal kerap kali muncul adalah hampir seragam, yaitu terkait peristiwa kecurangan, pelanggaran, serta ketidaksiapan KPU dalam menggelar pemilu. Kita dapat menyaksikan di berbagai media berita mengenai berbagai tindak kecurangan dan pelanggaran yang dilakukan oleh para elit serta kader parpol peserta pemilu, serta berbagai sengketa yang melibatkan KPU baik di pusat maupun di daerah. Semua hal tersebut pada akhirnya bermuara pada sebuah pertanyaan mengenai apa yang tengah terjadi dengan demokrasi di negeri ini?

Demokrasi tidak lain sebuah paham yang pada saat ini tengah populer dan dianut oleh sebagian besar negara-negara di dunia, terutama negara-negara maju di benua Eropa maupun di Amerika. Di Indonesia, “demokrasi” secara monumental digaungkan kembali di Republik ini sekitar satu dekade lalu, yaitu semenjak era reformasi. Dimana semenjak era tersebut, demokrasi kembali hadir sebagai ruh dari kehidupan berbangsa dan bernegara, setelah sempat mati suri selama 32 tahun dibawah rezim penguasa otoriter Orde Baru, Soeharto.

  • Demokrasi “Kaum Penjahat”

Olle Tornquist, seorang pengamat kawakan perkembangan politik di Indonesia, pernah meramalkan kemungkinan datangnya hantu “demokrasi kaum penjahat”. Dalam bentuk seperti ini, demokrasi hanya akan terjadi secara formal, tetapi tidak diiringi oleh partisipasi rakyat yang sungguh-sungguh dalam pemilu dan dalam pembentukan kebijakan pemerintah. Mengutip Tornquist, “ Hasil yang mungkin lebih terlihat, karenanya, lebih merupakan demokrasi “kaum penjahat” yang didukung oleh militer didalamnya, pejabat-pejabat disemua tingkat mampu bertahan, menarik sekutu militer dan pengusaha, mengkooptasi beberapa pembengkang, serta memobilisasi dukungan masa melalui populisme Islam- semua ini akan berlangsung sebelum para aktivis demokrasi sejati serta rakyat kebanyakan mampu mengorganisasikan diri.” ( Bulletin of Concerned Asian Scholars, Volume 30:3 [1999])

Tulisan ini memang tidak sepenuhnya mendukung kebenaran dari ramalan Tornquist tersebut, namun setidaknya beberapa variabel yang dicantumkan dalam ramalan tersebut sudah terbukti berkembang dalam realita politik nasional dewasa ini. Beberapa hal yang dapat kita sesuaikan dari ramalan tersebut adalah, pertama, berbicara mengenai partisipasi rakyat, kita dapat menyaksikan publikasi hasil riset dari berbagai lembaga survei nasional yang menyatakan mengenai prediksi golput atau warga negara yang tidak akan/bisa menggunakan hak pilihnya mencapai kisaran angka 30 sampai 40 persen. Sebuah angka yang cukup besar dan fantastis. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi dikarenakan rakyat sudah mulai muak dengan tingkah polah pemerintah beserta segenap elit politik yang tak lain hanya menjalankan demokrasi secara prosedural di Republik ini, sedangkan yang dibutuhkan rakyat Indonesia secara umum pada saat ini adalah demokrasi yang lebih substansial, yang lebih menyentuh aspek kesejahteraan serta kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Oleh karena itu wajar saja jika rakyat terkesan sudah mulai untuk meninggalkan pemerintah beserta para elitnya.

Kedua, jika disuruh untuk menyebutkan mengenai siapa “kaum penjahat” yang terlibat dalam demokrasi kita pada saat ini, maka jawabannya agak sedikit berbeda dengan yang disampaikan oleh Tornquist. Karena, jika hal tersebut disandarkan pada realita sosial politik yang tengah berlangsung di negeri ini, maka jawaban yang paling tepat adalah, kalangan pejabat pemerintah (incumbent) dari tingkatan terendah sampai pada tingkatan tertinggi, beserta para elitnya. Hal tersebut dapat kita verifikasi melalu sejumlah indikasi kecurangan serta pelanggaran pemilu yang berlangsung akhir-akhir ini. Kita dapat memulai dari kasus yang tengah digadang-gadangkan oleh sejumlah kalangan belakangan ini, yaitu kasus penemuan Daftar Pemilih Tetap (DPT) fiktif di beberapa wilayah di Jawa Timur, yang diduga telah sempat dioperasikan pada saat pilkada Jatim beberapa waktu lalu.

Selain itu, sebuah kasus terbaru mengenai seorang Kepala daerah di Kabupaten Pematang Siantar, Sumatera Utara, yang dipergoki tengah memberikan instruksi kepada sejumlah aparat pemerintah, yang terdiri dari kalangan pegawai pemerintah serta guru di daerah tersebut. Dimana melalui instruksi tersebut, sang Kepala Daerah menginstruksikan bawahan beserta seluruh jajarannya untuk memilih serta mendukung parpol yang notabene dipunggawai oleh penguasa incumbent. Sebenarnya masih banyak kasus lainnya yang bisa kita ungkapkan, namun dari dua kasus itu saja kita sudah bisa mencium serta mengungkap indikasi kuat mengenai upaya yang cukup besar, yang tengah dilakukan oleh incumbent untuk sebisa mungkin mempertahankan kekuasaannya sampai lima tahun kedepan. Hal tersebut bisa saja terjadi karena, kasus DPT fiktif di Jatim terkesan sudah diciptakan dengan sangat rapi dan sistematis, sampai-sampai kasus tersebut telah mengorbankan seorang pemimpin tertinggi Kepolisian di daerah tersebut.

Hal ini semakin mengisyaratkan bahwa sistem tersebut merupakan sesuatu yang sudah sangat teruji keampuhannya (mungkin sudah pernah di praktekkan pada pemilu sebelumnya oleh xxx). Bahkan seorang perwira sekaligus pimpinan kepolisian tertinggi di daerah itupun tidak sanggup untuk menuntaskan permasalahan tersebut. Sehingga semakin kuat indikasi bahwa keterlibatan serta intervensi penguasa sangat besar dalam hal ini. Selain itu, juga tidak tertutup kemungkinan akan adanya perselingkuhan penguasa dengan oknum Polisi serta Militer dalam kasus ini.

  • Action Plan!

Apalagi istilah yang bisa kita sematkan terhadap demokrasi di negeri ini kalau bukan demokrasi “kaum penjahat”. Demokrasi yang dilakoni serta dikontrol langsung oleh penguasa yang sedang memimpin. Maka tidak diragukan jika sejumlah besar rakyat bangsa ini, yang pada saat ini sudah semakin terdidik mampu mencium praktek persekongkolan busuk ini, sehingga sikap apatis (golput) adalah jawaban lugas tengah disampaikan rakyat pada penguasa saat ini.

Pemerintahan saat ini hanya terlihat rancak dan elok di permukaan namun sesungguhnya busuk dan licik jika kita perhatikan secara mendalam. Tidak ada gunanya mendukung pemerintahan yang hanya dikelilingi oleh segerombolan oportunis pragmatis, para penjilat kekuasaan yang hanya bercokol untuk sesuap materi. Bangsa ini membutuhkan anak bangsa yang memiliki loyalitas dan dedikasi tinggi, orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk kemajuan bangsa dan negara, meletakkan kepentingan bangsa diatas segalanya. Bukan orang-orang yang hanya haus pada kekuasaan, yang rela mengorbankan masa depan serta menghisap kesejahteraan rakyat, dengan mengluarkan kebijakan-kebijakan populis untuk menuai simpati semu dari rakyat yang tertipu.

Untuk itu dapat kita simpulkan bahwa demokrasi di Republik ini tengah mengalami salah arah dalam proses transisinya pasca reformasi, yang tidak lain diakibatkan oleh penguasa yang tamak kekuasaan serta elit yang rakus materi. Oleh karena itu , mari kita bersama-sama bahu-membahu mencegah kehancuran bangsa ini, dengan berpartisipasi aktif dalam pemilu 2009. Semoga perjuangan tulus rakyat mampu meniyngkirkan para pemimpin busuk. Sehingga dikemudian hari secara bersama-sama kita membenahi demokrasi di Republik ini dengan menghapus dari sejarah tentang keberadaan demokrasi “kaum penjahat”. Masa depan bangsa ini ada ditangan kita, rakyat yang masih suci dari dosa-dosa politik dan kekuasaan!

Konspirasi Bisnis Yahudi

Posted On 24 Agustus 2008

Disimpan dalam Sosial Politik

Comments Dropped 50 responses

Koran Seputar Indonesia, Saturday, 23 August 2008

SEJAK dulu Yahudi dikenal oleh sejumlah lapisan masyarakat dunia sebagai ras yang andal dan pintar, bahkan beberapa menyebutnya unggul. Tak mengherankan bila nama- nama orang besar dunia datang dari kalangan Yahudi.

Mereka begitu mendominasi sejumlah bidang penting,terlebih perekonomian dunia. Nama-nama seperti George Soros,Paul Wolfowitz, Condeleeza Rice, George W Bush, atau William Fox, Harry Warner, serta Rupert Murdoch adalah bukti nyatanya. Buku Mafia Bisnis Yahudi karya Nando Baskara merekam tentang segala bentuk perjuangan kaum Yahudi sejak dulu dalam usahanya meletakkan ”dominasi” atas dunia, terlebih dari sisi ekonomi.

Yahudi dalam bentuk jaringan Zionis berusaha menguasai kantong-kantong vital ekonomi dunia yang kemudian dijadikan senjata bagi mereka untuk menunggangi banyak negara. Kini, dengan menggenggam banyak perusahaan kelas dunia, bank-bank internasional, serta ”menjinakkan” negara-negara superpower, Yahudi siap melangkah lebih jauh, lebih kuat, dan lebih ”kejam” untuk benarbenar menguasai dunia.

Dalam konstelasi ekonomi global, Yahudi telah menguasai IMF, World Bank, WTO, dan lain-lain via Amerika. IMF, misalnya, berhasil mendikte kebijakan ekonomi dan politik suatu negara,agar sesuai dengan kepentingan Yahudi dan Amerika.IMF dan Bank Dunia dijadikan Yahudi sebagai sarana mewujudkan kepentingan tirani dan penjajahan ekonomi karena hal ini merupakan prioritas penting kaum Yahudi.

Yahudi terbilang mulus ”menggenggam” beberapa nama perusahaan besar dunia. Sebut saja General Electric, Caltex, Exxon, The New York Times, CNN, StarTV, Warner& Bross Company, atau Coca Cola Company yang konon telah membantu kaum Yahudi sejak tiga dasawarsa terakhir. Menurut kalangan penganut teori konspirasi, dinasti perbankan internasional Rothschild dan Rockefeller adalah anggota-anggota Freemasonry (organisasi rahasia Yahudi).

Keluarga Rothschild mengendalikan Bank of England dan keluarga Rockefeller menguasai minyak dunia melalui perusahaan minyak Standard Oil.Perusahaan minyak ini kemudian memecah diri menjadi ExxonMobil dan Chevron. Adapun para petinggi Chevron antara lain Dick Cheney dan Condeleeza Rice.Para petinggi di AS berambisi menjadi penguasa dalam satu ”Pemerintahan Dunia”.

Mereka merasa memiliki legitimasi untuk memerintah dan mengeksploitasi sumbersumber alam di berbagai belahanduniauntukdinikmatibersama dengan rakyat lokal.Tentu saja bagian terbesar dari sumber daya alam tersebut dibawa ke AS. Penguasaan ekonomi global dan pembentukan ”Pemerintahan Dunia” di bawah kendali kaum kapitalis itu,setidaknya dalam perspektif konspirasi, juga tampak dari kenyataan dominasi mata uang dolar AS di dunia sekarang.

Berbagai transaksi perdagangan dunia menggunakan dolar. Sepertinya, tujuan diciptakannya dolar untuk menguasai dunia melalui dominasi mata uang (hlm 46). Tak cuma mata uang,orangorang Yahudi telah berhasil menguasai sistem moneter internasional.

Fund managerdi dunia yang berperan besar di pasar uang dan spekulasi valuta seperti Soros Management Fund, Quantum Fund, dan GoldmanSachsebaianbesardikuasai Yahudi.Demikian juga pusat keuangan di Wallstreet, New York dan sirkulasi keuangan di AS telah dikuasai oleh orang-orang Yahudi sejak awal abad ke-20.

Dalam perdagangan valuta asing,setiap sepuluh broker, sembilan di antaranya adalah orang-orang Yahudi.Di Prancis, sebagian saham yang tersebar di berbagai bidang kehidupan adalah milik orangorang Yahudi. Yahudi juga berhasil memperdayai sebagian besar negara- negara miskin melalui utang/pinjaman ”lunak”.

Utang yang diberikan oleh negara- negara kapitalis kepada negara-negara miskin dan berkembang merupakan senjata politik ampuh untuk memaksakan kebijakan politik dan ekonominya.Tujuan mereka (baca: negara kapitalis) memberi utang bukanlah untuk membantu negara lain, melainkan untuk kemaslahatan, keuntungan,dan eksistensi mereka sendiri.

Mereka menjadikan negara-negara pengutang sebagai alat sekaligus ajang untuk mencapai kepentingan mereka. Kehadiran buku ini sama sekali tidak bermaksud untuk memuja,mendambakan,atau sebaliknya, mencaci dan menyudutkan ras Yahudi, termasuk gerak-gerik penguasaan kaum mereka atas perekonomian dunia.

Sebaliknya,buku ini merupakan usaha untuk menghadirkan lebih dekat tentang bagaimana Yahudi berusaha menguasai dunia. Buku ini mengajak mengenali betapa mutakhirnya sistem konspirasi yang dianut dan dijalankan kaum Yahudi.

Tujuannya jelas agar manusia,terlebih bangsa ini, tidak termasuk sebagai sasaran konspirasi Yahudi atau kalaupun memang sudah terbelenggu olehnya, apa yang harus dilakukan segara.

Oleh: Joko Riyanto, Koordinator Riset Pusat Kajian dan Penelitian Kebangsaan (Puskalitba) Solo

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/resensi-buku/konspirasi-bisnis-yahudi-2.html

Halaman Berikutnya »
  • Create your own banner at mybannermaker.com!

  • Mersi – BK in Facebook

  • Kategori