Arsip

Archive for the ‘Sosial Politik’ Category

Demokrasi “Kaum Penjahat”

3 April 2009 mersi 2 komentar

Oleh: Muhammad Yusra (Mersi 2003 – Mahasiswa Hubungan Internasional Pasca Sarjana UGM)

Rangkaian kegiatan Pemilu legislatif 2009 akan segera berakhir hanya dalam beberapa hari lagi, tepatnya pada tanggal 5 April. Tanggal tersebut juga sekaligus menandai berakhirnya semua kegiatan kampanye terbuka para parpol/ caleg peserta pemilu 2009.

Berbagai tragedi dan peristiwa silih berganti terus terekam di benak selama mengikuti dan menyaksikan, , fase demi fase, rangkaian demi rangkaian kampanye para parpol/caleg peserta pemilu 2009. Namun hal kerap kali muncul adalah hampir seragam, yaitu terkait peristiwa kecurangan, pelanggaran, serta ketidaksiapan KPU dalam menggelar pemilu. Kita dapat menyaksikan di berbagai media berita mengenai berbagai tindak kecurangan dan pelanggaran yang dilakukan oleh para elit serta kader parpol peserta pemilu, serta berbagai sengketa yang melibatkan KPU baik di pusat maupun di daerah. Semua hal tersebut pada akhirnya bermuara pada sebuah pertanyaan mengenai apa yang tengah terjadi dengan demokrasi di negeri ini?

Demokrasi tidak lain sebuah paham yang pada saat ini tengah populer dan dianut oleh sebagian besar negara-negara di dunia, terutama negara-negara maju di benua Eropa maupun di Amerika. Di Indonesia, “demokrasi” secara monumental digaungkan kembali di Republik ini sekitar satu dekade lalu, yaitu semenjak era reformasi. Dimana semenjak era tersebut, demokrasi kembali hadir sebagai ruh dari kehidupan berbangsa dan bernegara, setelah sempat mati suri selama 32 tahun dibawah rezim penguasa otoriter Orde Baru, Soeharto.

  • Demokrasi “Kaum Penjahat”

Olle Tornquist, seorang pengamat kawakan perkembangan politik di Indonesia, pernah meramalkan kemungkinan datangnya hantu “demokrasi kaum penjahat”. Dalam bentuk seperti ini, demokrasi hanya akan terjadi secara formal, tetapi tidak diiringi oleh partisipasi rakyat yang sungguh-sungguh dalam pemilu dan dalam pembentukan kebijakan pemerintah. Mengutip Tornquist, “ Hasil yang mungkin lebih terlihat, karenanya, lebih merupakan demokrasi “kaum penjahat” yang didukung oleh militer didalamnya, pejabat-pejabat disemua tingkat mampu bertahan, menarik sekutu militer dan pengusaha, mengkooptasi beberapa pembengkang, serta memobilisasi dukungan masa melalui populisme Islam- semua ini akan berlangsung sebelum para aktivis demokrasi sejati serta rakyat kebanyakan mampu mengorganisasikan diri.” ( Bulletin of Concerned Asian Scholars, Volume 30:3 [1999])

Tulisan ini memang tidak sepenuhnya mendukung kebenaran dari ramalan Tornquist tersebut, namun setidaknya beberapa variabel yang dicantumkan dalam ramalan tersebut sudah terbukti berkembang dalam realita politik nasional dewasa ini. Beberapa hal yang dapat kita sesuaikan dari ramalan tersebut adalah, pertama, berbicara mengenai partisipasi rakyat, kita dapat menyaksikan publikasi hasil riset dari berbagai lembaga survei nasional yang menyatakan mengenai prediksi golput atau warga negara yang tidak akan/bisa menggunakan hak pilihnya mencapai kisaran angka 30 sampai 40 persen. Sebuah angka yang cukup besar dan fantastis. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi dikarenakan rakyat sudah mulai muak dengan tingkah polah pemerintah beserta segenap elit politik yang tak lain hanya menjalankan demokrasi secara prosedural di Republik ini, sedangkan yang dibutuhkan rakyat Indonesia secara umum pada saat ini adalah demokrasi yang lebih substansial, yang lebih menyentuh aspek kesejahteraan serta kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Oleh karena itu wajar saja jika rakyat terkesan sudah mulai untuk meninggalkan pemerintah beserta para elitnya.

Kedua, jika disuruh untuk menyebutkan mengenai siapa “kaum penjahat” yang terlibat dalam demokrasi kita pada saat ini, maka jawabannya agak sedikit berbeda dengan yang disampaikan oleh Tornquist. Karena, jika hal tersebut disandarkan pada realita sosial politik yang tengah berlangsung di negeri ini, maka jawaban yang paling tepat adalah, kalangan pejabat pemerintah (incumbent) dari tingkatan terendah sampai pada tingkatan tertinggi, beserta para elitnya. Hal tersebut dapat kita verifikasi melalu sejumlah indikasi kecurangan serta pelanggaran pemilu yang berlangsung akhir-akhir ini. Kita dapat memulai dari kasus yang tengah digadang-gadangkan oleh sejumlah kalangan belakangan ini, yaitu kasus penemuan Daftar Pemilih Tetap (DPT) fiktif di beberapa wilayah di Jawa Timur, yang diduga telah sempat dioperasikan pada saat pilkada Jatim beberapa waktu lalu.

Selain itu, sebuah kasus terbaru mengenai seorang Kepala daerah di Kabupaten Pematang Siantar, Sumatera Utara, yang dipergoki tengah memberikan instruksi kepada sejumlah aparat pemerintah, yang terdiri dari kalangan pegawai pemerintah serta guru di daerah tersebut. Dimana melalui instruksi tersebut, sang Kepala Daerah menginstruksikan bawahan beserta seluruh jajarannya untuk memilih serta mendukung parpol yang notabene dipunggawai oleh penguasa incumbent. Sebenarnya masih banyak kasus lainnya yang bisa kita ungkapkan, namun dari dua kasus itu saja kita sudah bisa mencium serta mengungkap indikasi kuat mengenai upaya yang cukup besar, yang tengah dilakukan oleh incumbent untuk sebisa mungkin mempertahankan kekuasaannya sampai lima tahun kedepan. Hal tersebut bisa saja terjadi karena, kasus DPT fiktif di Jatim terkesan sudah diciptakan dengan sangat rapi dan sistematis, sampai-sampai kasus tersebut telah mengorbankan seorang pemimpin tertinggi Kepolisian di daerah tersebut.

Hal ini semakin mengisyaratkan bahwa sistem tersebut merupakan sesuatu yang sudah sangat teruji keampuhannya (mungkin sudah pernah di praktekkan pada pemilu sebelumnya oleh xxx). Bahkan seorang perwira sekaligus pimpinan kepolisian tertinggi di daerah itupun tidak sanggup untuk menuntaskan permasalahan tersebut. Sehingga semakin kuat indikasi bahwa keterlibatan serta intervensi penguasa sangat besar dalam hal ini. Selain itu, juga tidak tertutup kemungkinan akan adanya perselingkuhan penguasa dengan oknum Polisi serta Militer dalam kasus ini.

  • Action Plan!

Apalagi istilah yang bisa kita sematkan terhadap demokrasi di negeri ini kalau bukan demokrasi “kaum penjahat”. Demokrasi yang dilakoni serta dikontrol langsung oleh penguasa yang sedang memimpin. Maka tidak diragukan jika sejumlah besar rakyat bangsa ini, yang pada saat ini sudah semakin terdidik mampu mencium praktek persekongkolan busuk ini, sehingga sikap apatis (golput) adalah jawaban lugas tengah disampaikan rakyat pada penguasa saat ini.

Pemerintahan saat ini hanya terlihat rancak dan elok di permukaan namun sesungguhnya busuk dan licik jika kita perhatikan secara mendalam. Tidak ada gunanya mendukung pemerintahan yang hanya dikelilingi oleh segerombolan oportunis pragmatis, para penjilat kekuasaan yang hanya bercokol untuk sesuap materi. Bangsa ini membutuhkan anak bangsa yang memiliki loyalitas dan dedikasi tinggi, orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk kemajuan bangsa dan negara, meletakkan kepentingan bangsa diatas segalanya. Bukan orang-orang yang hanya haus pada kekuasaan, yang rela mengorbankan masa depan serta menghisap kesejahteraan rakyat, dengan mengluarkan kebijakan-kebijakan populis untuk menuai simpati semu dari rakyat yang tertipu.

Untuk itu dapat kita simpulkan bahwa demokrasi di Republik ini tengah mengalami salah arah dalam proses transisinya pasca reformasi, yang tidak lain diakibatkan oleh penguasa yang tamak kekuasaan serta elit yang rakus materi. Oleh karena itu , mari kita bersama-sama bahu-membahu mencegah kehancuran bangsa ini, dengan berpartisipasi aktif dalam pemilu 2009. Semoga perjuangan tulus rakyat mampu meniyngkirkan para pemimpin busuk. Sehingga dikemudian hari secara bersama-sama kita membenahi demokrasi di Republik ini dengan menghapus dari sejarah tentang keberadaan demokrasi “kaum penjahat”. Masa depan bangsa ini ada ditangan kita, rakyat yang masih suci dari dosa-dosa politik dan kekuasaan!

Categories: Sosial Politik

Konspirasi Bisnis Yahudi

24 Agustus 2008 mersi 49 komentar

Koran Seputar Indonesia, Saturday, 23 August 2008

SEJAK dulu Yahudi dikenal oleh sejumlah lapisan masyarakat dunia sebagai ras yang andal dan pintar, bahkan beberapa menyebutnya unggul. Tak mengherankan bila nama- nama orang besar dunia datang dari kalangan Yahudi.

Mereka begitu mendominasi sejumlah bidang penting,terlebih perekonomian dunia. Nama-nama seperti George Soros,Paul Wolfowitz, Condeleeza Rice, George W Bush, atau William Fox, Harry Warner, serta Rupert Murdoch adalah bukti nyatanya. Buku Mafia Bisnis Yahudi karya Nando Baskara merekam tentang segala bentuk perjuangan kaum Yahudi sejak dulu dalam usahanya meletakkan ”dominasi” atas dunia, terlebih dari sisi ekonomi.

Yahudi dalam bentuk jaringan Zionis berusaha menguasai kantong-kantong vital ekonomi dunia yang kemudian dijadikan senjata bagi mereka untuk menunggangi banyak negara. Kini, dengan menggenggam banyak perusahaan kelas dunia, bank-bank internasional, serta ”menjinakkan” negara-negara superpower, Yahudi siap melangkah lebih jauh, lebih kuat, dan lebih ”kejam” untuk benarbenar menguasai dunia.

Dalam konstelasi ekonomi global, Yahudi telah menguasai IMF, World Bank, WTO, dan lain-lain via Amerika. IMF, misalnya, berhasil mendikte kebijakan ekonomi dan politik suatu negara,agar sesuai dengan kepentingan Yahudi dan Amerika.IMF dan Bank Dunia dijadikan Yahudi sebagai sarana mewujudkan kepentingan tirani dan penjajahan ekonomi karena hal ini merupakan prioritas penting kaum Yahudi.

Yahudi terbilang mulus ”menggenggam” beberapa nama perusahaan besar dunia. Sebut saja General Electric, Caltex, Exxon, The New York Times, CNN, StarTV, Warner& Bross Company, atau Coca Cola Company yang konon telah membantu kaum Yahudi sejak tiga dasawarsa terakhir. Menurut kalangan penganut teori konspirasi, dinasti perbankan internasional Rothschild dan Rockefeller adalah anggota-anggota Freemasonry (organisasi rahasia Yahudi).

Keluarga Rothschild mengendalikan Bank of England dan keluarga Rockefeller menguasai minyak dunia melalui perusahaan minyak Standard Oil.Perusahaan minyak ini kemudian memecah diri menjadi ExxonMobil dan Chevron. Adapun para petinggi Chevron antara lain Dick Cheney dan Condeleeza Rice.Para petinggi di AS berambisi menjadi penguasa dalam satu ”Pemerintahan Dunia”.

Mereka merasa memiliki legitimasi untuk memerintah dan mengeksploitasi sumbersumber alam di berbagai belahanduniauntukdinikmatibersama dengan rakyat lokal.Tentu saja bagian terbesar dari sumber daya alam tersebut dibawa ke AS. Penguasaan ekonomi global dan pembentukan ”Pemerintahan Dunia” di bawah kendali kaum kapitalis itu,setidaknya dalam perspektif konspirasi, juga tampak dari kenyataan dominasi mata uang dolar AS di dunia sekarang.

Berbagai transaksi perdagangan dunia menggunakan dolar. Sepertinya, tujuan diciptakannya dolar untuk menguasai dunia melalui dominasi mata uang (hlm 46). Tak cuma mata uang,orangorang Yahudi telah berhasil menguasai sistem moneter internasional.

Fund managerdi dunia yang berperan besar di pasar uang dan spekulasi valuta seperti Soros Management Fund, Quantum Fund, dan GoldmanSachsebaianbesardikuasai Yahudi.Demikian juga pusat keuangan di Wallstreet, New York dan sirkulasi keuangan di AS telah dikuasai oleh orang-orang Yahudi sejak awal abad ke-20.

Dalam perdagangan valuta asing,setiap sepuluh broker, sembilan di antaranya adalah orang-orang Yahudi.Di Prancis, sebagian saham yang tersebar di berbagai bidang kehidupan adalah milik orangorang Yahudi. Yahudi juga berhasil memperdayai sebagian besar negara- negara miskin melalui utang/pinjaman ”lunak”.

Utang yang diberikan oleh negara- negara kapitalis kepada negara-negara miskin dan berkembang merupakan senjata politik ampuh untuk memaksakan kebijakan politik dan ekonominya.Tujuan mereka (baca: negara kapitalis) memberi utang bukanlah untuk membantu negara lain, melainkan untuk kemaslahatan, keuntungan,dan eksistensi mereka sendiri.

Mereka menjadikan negara-negara pengutang sebagai alat sekaligus ajang untuk mencapai kepentingan mereka. Kehadiran buku ini sama sekali tidak bermaksud untuk memuja,mendambakan,atau sebaliknya, mencaci dan menyudutkan ras Yahudi, termasuk gerak-gerik penguasaan kaum mereka atas perekonomian dunia.

Sebaliknya,buku ini merupakan usaha untuk menghadirkan lebih dekat tentang bagaimana Yahudi berusaha menguasai dunia. Buku ini mengajak mengenali betapa mutakhirnya sistem konspirasi yang dianut dan dijalankan kaum Yahudi.

Tujuannya jelas agar manusia,terlebih bangsa ini, tidak termasuk sebagai sasaran konspirasi Yahudi atau kalaupun memang sudah terbelenggu olehnya, apa yang harus dilakukan segara.

Oleh: Joko Riyanto, Koordinator Riset Pusat Kajian dan Penelitian Kebangsaan (Puskalitba) Solo

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/resensi-buku/konspirasi-bisnis-yahudi-2.html

Categories: Sosial Politik

Prediksi Pejabat RI 2009-2014

15 Juli 2008 mersi 2 komentar

Prospek Perekonomian, Sosial dan Politik Tahun depan akan ditentukan oleh Suksesnya PEMILU 2009 dan juga didukung oleh Susunan Kabinet yang Kuat serta diterima oleh Seluruh Khayalak dan lapisan Masyarakat semua Golongan.

Menurut analisa saya, Prospek Perekonomian, Sosial dan Politik Indonesia di Tahun depan …let say sampe 2014 sangat Prospektif dan sangat kondusif dengan catatan Susunan Kabinet Periode 2009-2014 harus benar-benar dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat Indonesia. Ingin tahu susunan Kabinet 2009-2014 yang dapat mendukung Stabilitas Ekonomi, Sosial dan Politik ?

  • Presiden Republik Indonesia : RAHMA SARITA (Presenter TV One/Metro TV, Khan dalam rangka kesetaraan Gender, tinggal dipoles dikit saja tentang wawasan Kenegaraan dan Kebangsaannya, She’s smart enough… )
  • Wakil Presiden RI : ANIS BASWEDAN (Rektor Universitas Paramadina) (cool man and smart enough, penyeimbang Ibu Presiden..)
  • Menko Kesra : PRABOWO SUBIYANTO (Ketua HKTI) (Well..dia punya komitment meningkatkan Kesejahteraan Petani dan Hasil Tanaman Produksi Dalam Negeri, sesuai dgn Iklannya di TV)
  • Menko Polkam Merangkap Kepala BIN : SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO (Gubernur DIY, Dah Terbukti Ga Grasa Grusu, Calm, Mature and Ngomong Seperlunya aja yang penting-penting aja, ga Ngember :)

  • Menko Perekonomian/ Ekuin : FAISAL BASRI (Pengamat Ekonomi, sekaligus untuk membuktikan semua komentar, dan analisisnya di berbagai media)
  • Menteri Luar Negeri : MARTY NATALEGAWA (Perwakilan RI di PBB, Tinggal Dipoles dikit Keakhlian Diplomasinya, Postur & Style dah cukup Representative and proporsional lah as a diplomat he..he..)
  • Mendagri : FADEL MUHAMMAD (Gubernur Gorontalo, Tinggal dipoles dikit Pengetahuan Ketatanegaraannya, he..he..sorry Bang)
  • Menhankam/Panglima TNI : SURYA PALOH (Pemimpin Media Group, Meski bukan berbackground Militer,tapi Pembina FKPPI juga, lumayan cukup Sangar dan Garang kalau sudah berbicara tentang NKRI dan tentang Persatuan, Pidatonya mungkin bisa bikin ciut nyali Bush he..he..)
  • Meneg Urusan Peranan Wanita/Perempuan : ANDI MALARANGENG (Jubir Presiden RI, He..he..Ini juga dlm rangka Kesetaraan Gender .dijamin Ga ada yg Protes dari kaum Wanita dan Para Ibu Rumah Tangga dan dapat memotivasi meningkatkan Produktivitas Usaha Kaum Wanita/Perempuan Indonesia untuk lebih giat membangun keluarga dan bangsa.)
  • Menaker : ANDI F. NOYA (Presenter Kick Andy) (Dah terbukti dapat memotivasi mereka yang kebanyakn Ngelamun and Bengong di Rumah..he..he. .)
  • Menpora : MARISA HAQUE (Emang Ga Boleh Menporanya Wanita ? ingat Gender dan Porsi Keterwakilan Wanita mesti lebih banyak..Man sesuai Amanat Undang-undang. .Lagian Biar Para Pemuda yang Males dan Lelet biar malu ati dikit..Pengetahuann ya lumayan meski kudu lebih sering Turba Tuk meng-aproach para Pelajar Pemuda dan Pemudi…ke arah yg lebih positif dan Produktif)
  • Menkop & Usaha Kecil : TUNG DESEM WARINGIN (Pakar Pembuat Modal/Uang, rasanya tidak ada yang protes deh kalo beliau menduduki posisi ini..)
  • Menteri Pendidikan & Pengajaran : RHENALD KASALI (Pakar Management, terserah mau di didik menjadi apa tuh para Pelajar dan Mahasiswa, dan diharapkan memahami juga kondidi para tenaga pendidik/pengajar)
  • Menteri Pariwisata : ANGELINA SONDAKH (Anggota DPR, mantan Puteri Indonesia dan Duta Wisata)
  • Menteri Agama : USTAD JEFFRY (UJ) dibimbing oleh DIN SYAMSUDIN, ROMO MANGUN..ma’af lupa nama panjangnya, oleh Ketua PHDI, dan Ketua WALUBI (Biar ada yang negor/ngingetin maklum masih Muda jadi Balance Gitu lho..)
  • Menteri Pertanian : BOB SADINO (Pengusah, Pemilik Kemchick, biar para petani dibina lebih maju dan modern)
  • Menteri Perikanan & Kelautan : Sorry, No Idea..(Kali ada yg tahu dan Cocok ?)
  • Menteri Kehutanan : HENDARMAN SUPANDJI (Hee.heee..biar Pembalak Liar Mikir 3X..kalau mau nyuap…)
  • Menteri Perindustrian : HERMAWAN KERTAJA, (Pakar Management, biar Perindustrian Indonesia di Manage lebih Jelas dan Fokus Orientasinya. .)
  • Menteri Perhubungan & Pekerjaan Umum : JOKO SANTOSO (Panglima TNI, terserah gimana caranya agar semua Pulau Bisa Terhubung satu sama lain..Mau Pake Jembatan Bailey kek.., Mau Mengerahkan Personil Zipur kek (Setelah dapat ijin dari Menhankam tentunya, Pasti di ACC oleh SRI SULTAN) yang penying Jalan-jalan ga pada rusak ga pada bolong, Angkutan Tertib, Ga ada lagi yg Ngetem Sembarangan, ga ada lagi masalah Mudik Lebaran..pokoknya tau beres dan lancar..
  • Jaksa Agung : ANTASARI AZHAR. (Kita beri Kesempatan buat Ketua KPK..tuk lebih menunjukan Tajinya..)
  • Kapolri : Sorry, Ada yang lain ga ya yang Lebih hebat dari Kapolri yang Sekarang ?, kalau tidak ada yaa..bolehlah. .kita beri kesempatan 1 Periode lagi buat Pak SUTANTO.

Sepertinya Kabinet 2009-2014 Cukup Segitu aja jangan Terlalu Gemuk yang Penting Kinerjanya dan Kalau Melihat dari Komposisinya. .Insya Allah..Ga Masuk Tipe Koruptor yaa..karena dah pada Mapan…Tinggal Membina Bawahannya aja..he..he. . biar ga kecolongan lagi seperti yg terjadi di komplek Gedung Bundar dan di Senayan..dan Komposisinya Cukup berimbang antara Generasi Muda dan Generasi Tua..Ibarat. .masih dibimbing oleh Para Senior sebelum para Junior Lepas Landas..setelah 2014..!

HURA…!!!!! BANGKIT INDONESIAKU. .INDONESIA KITA !!!

Salam Damai Indonesia..

Dikutip dari Mail edi cahyadi <edic_05067@yahoo. com> di Manager-Indonesia@ yahoogroups. com

Categories: Sosial Politik

Daftar 25 Pejabat Negara Terkaya di Indonesia

13 Juli 2008 mersi 12 komentar

Untuk pejabat negara di pimpin oleh Ical dengan Bakrie Grupnya disusul oleh Yusuf Kalla dengan Kalla Interprisenya, sedangkan pejabat pemerintah daerah khususnya gubernur terkaya, ditempati Rudolf Pardede, Gubernur Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Tercatat dalam LHKPN, Rudolf yang juga mantan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat ini banyak memiliki harta kekayaan berupa logam/ batu mulia dan barang seni/ antik senilai di atas Rp100 milyar. Secara keseluruhan, Rudolf telah memiliki kekayaan sekitar Rp298 milyar atau hampir sepertiga dari kekayaan Ical. Sedangkan untuk gubernur termiskin diantara yang lain dipegang oleh Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi.

25 PEJABAT NEGARA TERKAYA

1 Aburizal Bakrie Menteri Koord. Kesra = Rp. 994,349,061,983 Thn 2005
2 Muhammad Jusuf Kalla Wakil Presiden = Rp. 134,265,037,046 Thn 2005
3 Fahmi Idris Menteri Perindustrian = Rp. 85,279,605,847 Thn 2006
4 Meutia Hatta S. Meneg. Pbdy. Perempuan = Rp. 38,459,989,300 Thn 2004
5 Agung Laksono Ketua DPR = Rp. 16,418,293,000 Thn 2001
6 Jero Wacik Menteri Kebudayaan & Pariwisata = Rp. 15,561,250,000 Thn 2004
7 Mari Elka Pangestu Menteri Perdagangan = Rp. 15,142,939,762 Thn 2004
8 Boediono Menteri Koordinator Perekonomian = Rp. 14,046,878,563 Thn 2004
9 M. Yusuf Asy’ari Meneg. Perumahan Rakyat = Rp. 13,232,400,000 Thn 2004
10 Adhyaksa Dault Meneg. Pemuda & Olahraga = Rp. 12,578,026,320 Thn 2004
11 Bambang Sudibyo Mendiknas = Rp. 12,489,646,528 Thn 2004
12 Anwar Nasution Ketua BPK = Rp. 11,968,769,205 Thn 2001
13 Sofyan Djalil Menteri Negara BUMN = Rp. 10,857,373,418 Thn 2007
14 Hatta Rajasa Menteri Sekretaris Negara = Rp. 9,727,063,000 Thn 2004
15 M Maftuh Basyuni Menteri Agama = Rp. 8,907,602,000 Thn 2004
16 Purnomo Yusgiantoro Menteri Energi & SDM = Rp. 7,623,418,134 Thn 2004
17 Sri Mulyani Menteri Keuangan = Rp. 7,376,539,461 Thn 2006
18 Paskah Suzetta Meneg./Ketua Bapenas = Rp. 6,963,214,000 Thn 2006
19 Jenderal (Pol) Sutanto Kepala POLRI = Rp. 5,931,696,900 Thn 2006
20 Rachmat Witoelar Meneg.Lingkungan Hidup = Rp. 5,758,178,340 Thn 2004
21 Juwono Sudarsono Menteri Pertahanan = Rp. 5,661,800,000 Thn 2004
22 Erman Suparno Menteri Tenaga Kerja&Trans. = Rp. 5,510,185,751 Thn 2006
23 Hassan Wirajuda Menteri Luar Negeri = Rp. 5,101,987,654 Thn 2004
24 Siti Fadilah Supari Menteri Kesehatan = Rp. 4,738,300,000 Thn 2004
25 Susilo Bambang Yudhoyono Presiden 4,652,069,796 Thn 2004

25 GUBERNUR TERKAYA
1 Rudolf Mazvoka Pardede Gubernur Sumut = Rp. 298,740,200,000 Thn 2001
2 Fadel Muhammad Gubernur Provinsi Gorontalo = Rp. 149,752,933,448 Thn 2002
3 Zulkifli Gubernur Provinsi Jambi = Rp. 58,888,946,621 Thn 2004
4 Fauzi Bowo Gubernur Provinsi DKI Jakarta = Rp. 33,801,168,988 Thn 2006
5 Anwar Adnan Saleh Gubernur Sulawesi Barat = Rp. 30,287,981,975 Thn 2002
6 Sri Sultan Hamengkubuwono X Gubernur DIY= Rp. 20,184,763,982 Thn 2001
7 Ratu Atut Chosiyah Gubernur Banten = Rp. 17,810,707,822 Thn 2002
8 Agusrin Nadzamudin Gubernur Bengkulu = Rp. 12,350,448,400 Thn 2005
9 Agustin Teras Narang Gubernur Kalteng = Rp. 9,427,930,752 Thn 2004
10 Imam Utomo S Gubernur Jawa Timur = Rp. 6,616,092,638 Thn 2001
11 Danny Setiawan Gubernur Jawa Barat = Rp. 4,432,340,226 Thn 2001
12 Syahrial Oesman Gubernur Sumatera Selatan = Rp. 3,758,042,878 Thn 2005
13 Ismeth Abdullah Gubernur Kepulauan Riau = Rp. 3,697,058,000 Thn 2005
14 Karel Albert Ralahalu Gubernur Maluku = Rp. 3,511,005,232 Thn 2004
15 Piet Alexander Tallo Gubernur NTT = Rp. 3,306,801,297 Thn 2005
16 Rudi Arifin Gubernur Kalimantan Selatan = Rp. 2,409,211,550 Thn 2007
17 M Rusli Zainal Gubernur Provinsi Riau = Rp. 2,365,623,114 Thn 2002
18 S. H. Sarundajang Gubernur Sulawesi Utara = Rp. 2,350,767,000 Thn 2001
19 Eko Maulana Ali Gubernur Kep. Ba-Bel = Rp. 2,299,600,000 Thn 2006
20 Suwarna A.F. Gubernur Kalimantan Timur = Rp. 2,257,243,186 Thn 2001
21 M. Amin Syam Gubernur Sulawesi Selatan = Rp. 1,775,973,000 Thn 2001
22 Sjachroedin ZP Gubernur Lampung = Rp. 1,495,500,000 Thn 2003
23 Dewa Made Beratha Gubernur Bali = Rp.. 1,320,726,894 Thn 2001
24 Lalu Serinata Gubernur NTB = Rp. 740,224,387 Thn 2002
25 Gamawan Fauzi Gubernur Sumatera Barat = Rp. 667,140,890 Thn 2001

25 BUPATI TERKAYA

1 Rina Iriani S. R. Bupati Karanganyar = Rp. 55,945,062,244 Thn 2005
2 Untung Sarono W Sukarno Bupati Sragen = Rp. 33,474,528,000 Thn 2002
3 Begug Poernomosidi Bupati Wonogiri = Rp. 28,780,000,000 Thn 2005
4 Ujang Iskandar Bupati Kotawaringin Barat = Rp. 21,789,880,000 Thn 2005
5 I Wayan Geredeg Bupati Karang Asem = Rp. 19,388,721,000 Thn 2005
6 Probo Yulastoro Bupati Cilacap = Rp. 16,082,077,852 Thn 2006
7 Monang Sitorus Bupati Samosir = Rp. 14,181,360,308 Thn 2005
8 Masfuk Bupati Lamongan = Rp. 11,200,711,889 Thn 2005
9 Endang Setyaningdyah Bupati Demak = Rp. 10,830,604,216 Thn 2005
10 Syaukani HR Bupati Kutai Kartanegara = Rp. 10,304,683,430 Thn 2004
11 Putu Bagiada Bupati Buleleng = Rp. 10,212,680,000 Thn 2006
12 AA. Sampurna Jaya Bupati Lampung Tengah = Rp. 10,076,500,000 Thn 2005
13 Sutrisno Bupati Pacitan = Rp. 10,040,249,782 Thn 2002
14 RM Luntungan Bupati Minahasa Selatan = Rp. 8,810,000,000 Thn 2005
15 Zulkifli Anwar Bupati Lampung Selatan = Rp. 8,481,877,000 Thn 2005
16 Basuki Tjahaja Purnama Bupati Belitung Timur = Rp. 8,365,669,968 Thn 2005
17 Ongku P Hasibuan Bupati Tapanuli Selatan = Rp. 8,222,024,000 Thn 2005
18 Abdullah Tuasikal Bupati Maluku Tengah = Rp. 8,180,050,712 Thn 2006
19 Aang Hamid Suganda Bupati Kuningan = Rp. 7,437,194,454 Thn 2005
20 Robbach Ma’sum Bupati Gresik = Rp. 6,756,637,188 Thn 2005
21 Ferry Zulkarnain Bupati Bima = Rp. 6,542,500,000 Thn 2004
22 Wahyudi K Anwar Bupati Kotawaringin Timur = Rp. 6,525,301,577 Thn 2005
23 Ratna Ani Lestari Bupati Banyuwangi = Rp. 6,020,500,000 Thn 2003
24 A. Dimyati Natakusumah Bupati Pandeglang = Rp. 5,966,675,000 Thn 2002
25 Zulfikar Achmad Bupati Bungo = Rp. 5,865,101,600 Thn 2003

25 WALIKOTA TERKAYA

1 Sukawi Sutarip Walikota Semarang = Rp. 39,300,213,246 Thn 2005
2 Herry Zudianto Walikota Yogyakarta = Rp. 18,000,964,573 Thn 2003
3 Joko Widodo Walikota Surakarta = Rp. 9,829,421,400 Thn 2005
4 Rachman Djalili Walikota Prabumulih = Rp. 8,336,041,877 Thn 2005
5 Sofyan Hasdam Walikota Bontang = Rp. 7,808,866,349 Thn 2005
6 Rudy Resnawan Walikota Banjar Baru = Rp. 7,698,218,221 Thn 2005
7 Abdillah Walikota Medan = Rp. 7,513,608,000 Thn 2005
8 Herman Abdullah Walikota Pekan Baru = Rp. 6,677,423,789 Thn 2005
9 Aat Syafa’at Walikota Cilegon = Rp. 5,934,956,835 Thn 2005
10 Sutrisno Hadi Walikota Tanjung Balai = Rp. 5,820,789,178 Thn 2005
11 M Ali Umri Walikota Binjai = Rp. 4,655,402,291 Thn 2002
12 A Dadang Kafrawi Walikota Jakarta Selatan = Rp. 4,363,306,373 Thn 2005
13 Medi Botutihe Walikota Gorontalo = Rp. 4,108,761,533 Thn 2001
14 Fajar Panjahitan Walikota Jakarta Barat = Rp. 3,929,610,559 Thn 2005
15 M Effendi Anas Walikota Jakarta Utara = Rp. 3,913,579,707 Thn 2005
16 M Itoc Tochija Walikota Cimahi = Rp. 3,216,350,000 Thn 2006
17 Abdul Hafiz Hasibuan Walikota Tebing Tinggi = Rp. 2,809,590,000 Thn 2005
18 Imdaad Hamid Walikota Balikpapan = Rp. 2,800,352,783 Thn 2006
19 Mansyur M Abunawas Walikota Kendari = Rp. 2,541,777,000 Thn 2001
20 J.A Jumame Walikota Sorong = Rp. 2,502,907,024 Thn 2003
21 Awang Ishak Walikota Singkawang = Rp. 2,502,502,288 Thn 2003
22 Andi P Tenriadjeng Walikota Palopo = Rp. 2,460,803,952 Thn 2003
23 Arifin Manap Walikota Jambi = Rp. 2,429,565,192 Thn 2002
24 Kusnan Walikota Jakarta Timur = Rp. 2,288,144,588 Thn 2005
25 Buchary Abdurahman Walikota Pontianak = Rp. 2,251,196,000 Thn 2002

Sumber: Dokumen Tambahan Berita Negara (TBN) LHKPN KPK kurun waktu
2001 – 2007

Categories: Sosial Politik

Biaya Hidup Sekeluarga Selama 1 Minggu di Berbagai Negara

12 Juni 2008 mersi Tinggalkan komentar











Indonesia ? satu minggu cukup Rp 5000 saja (maklum makan Nasi Aking),
makanya jangan suka sisain makanan yah teman.. apalagi BBM naik gini yah hueeeee
dan banyak banyak berdoa …

Categories: Sosial Politik

Natsir, Dakwah, dan Politik

7 Juni 2008 mersi 1 comment

Natsir memulai pendidikan formalnya di lembaga pendidikan Barat, HIS, di Padang dan Solok, MULO di Padang, dan AMS Bandung. Kelak dikenal bukan saja sebagai pendiri dan ketua dewan dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), tetapi juga sebagai tokoh Islam internasional sebagai wakil presiden Muktamar Alam Islami yang berpusat di Pakistan dan anggota Majelis Ta’sisi Rabithah Alam Islami yang berpusat di Saudi Arabia.

Natsir juga pernah menjadi Menteri Penerangan RI (1946-1949), Perdana Menteri RI (1950-1951), dan anggota Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI 1958-1960). Pada 1930-an Natsir dikenal sebagai lawan polemik Soekarno di dalam masalah agama dan negara.

Pada usia senjanya, Natsir dikenal sebagai penyuara fasih hati nurani umat. Posisinya yang terakhir itulah yang menyebabkan Natsir dengan sadar turut menandatangani Pernyataan Keprihatinan (Petisi 50) , mengkritik Presiden Soeharto. Akibatnya, nyaris seluruh hak-hak sipil Natsir dan 49 orang penanda tangan lainnya dibunuh oleh rezim berkuasa. Dengan latar belakang seperti itu, tidak keliru jika dikatakan Natsir adalah contoh seorang tokoh yang telah memadukan dakwah dan politik, dalam teori maupun dalam praktik.

Dakwah dan politik
Pertanyaannya, bagaimana mungkin memadukan dua hal yang sepintas mengandung kontradiksi itu? Seperti kita tahu, dakwah adalah menyeru, mengajak orang kepada kebaikan, sedangkan politik cenderung lebih banyak berurusan dengan kepentingan.

Pada perbenturan kepentingan, politik cenderung menarik garis batas antara kawan dan lawan walaupun ada adagium di dunia politik: tidak ada kawan atau lawan abadi di dalam politik. Natsir mendamaikan dua dunia yang berbeda itu. Bagi Natsir, kunci bagi keduanya adalah al-akhlaq al-karimah (akhlak mulia). Seorang dai harus memiliki akhlak mulia, seorang politisi harus punya fatsoen politik.

Dengan akhlak mulia, seorang dai akan dapat meresapi isi hati umat dan mampu memberi bimbingan maksimal kepada umat. Dengan fatsoen politik, seorang politisi akan terhalang dari berperilaku menghalalkan segala cara.

Dakwah yang bersih dan politik yang sementara orang mengatakan kotor, bukan sesuatu yang mustahil untuk dipadukan. Dakwah yang bersih makin bermakna jika mampu memberi nilai tambah bagi lingkungannya yang belum bersih sebab objek dakwah yang sesungguhnya bukanlah masjid atau majelis taklim melainkan pasar dan kerumunan di luar masjid dan majelis taklim.

Dakwah yang dilakukan oleh para dai yang berakhlak mulia adalah teraju bagi aktivis dan aktivitas politik. Dengan keyakinan bahwa politik dan dakwah tidak bisa dipisahkan, bagi Natsir politik adalah pelaksanaan al-amru bi al-ma’ruf wa al-nahyi ‘an al munkar.

Siapa saja yang berbuat baik harus disokong, siapa pun yang berlaku tidak baik harus dikritik. Oleh karena itu sokongan dan kritik bagi Natsir sama harganya.

Tidak silau jabatan
Ketika pemerintah memerlukan bantuan untuk mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia, meski masih di dalam tahanan rezim Soekarno, Natsir tidak segan menulis surat kepada Tengku Abdurrahman untuk menerima delegasi Indonesia. Ketika hak-hak sipilnya masih dibunuh oleh rezim Soeharto, atas inisiatif sendiri, Natsir mengumpulkan tokoh-tokoh Islam untuk mencari solusi ekonomi akibat dibubarkannya IGGI.

Ketika seorang di antara tokoh itu terheran-heran atas prakarsa yang diambil Natsir dan bertanya dalam nada agak curiga, jangan-jangan Natsir mendapat sesuatu dari Soeharto, dengan tenang Natsir menjawab setiap saat pemerintah boleh datang dan pergi, tetapi Negara Kesatuan Republik Indonesia ini harus tetap berdiri kukuh dan utuh.

Fatsoen dalam berpolitik sangat dijaga oleh Natsir. Ketika Partai Masjumi, tempatnya berkiprah, menolak Perjanjian Linggarjati dan menyatakan oposisi dengan menarik kader-kadernya dari Kabinet Sutan Sjahrir, seizin Masjumi, Natsir, Mohamad Roem, H Agus Salim, dan lain-lain sebagai pribadi bertahan di kabinet karena Natsir, Roem, dan Salim, terlibat sejak awal dalam proses perundingan yang menghasilkan Perjanjian Linggarjati itu.

Sebaliknya, karena tidak setuju hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang menunda masuknya Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi, meskipun dibujuk oleh Presiden Soekarno, Natsir memilih mundur dan menolak jabatan Menteri Penerangan. Paduan dakwah dan politik menyebabkan Natsir tidak silau oleh jabatan menteri!

Paduan dakwah dan politik juga menyebabkan Natsir dan kawan-kawan sangat mampu menempatkan perbedaan pendapat secara proporsional. Suatu hari di parlemen, Natsir berdebat keras dengan Ketua Partai Komunis Indonesia (PKI), DN Aidit. Saking kerasnya perdebatan, mau rasanya Natsir menghantamkan kursi ke Aidit. Akan tetapi, saat rehat justru Aidit membawakan secangkir kopi untuk Natsir dan pembicaraan pun berlangsung hangat mengenai soal-soal keluarga.

Di tangan seorang Natsir yang memulai pendidikannya dari sekolah Belanda, dakwah dan politik dapat dirukunkan. Seperti kata Natsir, politik tanpa dakwah, hancur. Pada masa pancaroba reformasi seperti sekarang ini, banyak pelajaran berharga yang dapat kita tarik dari Natsir.

Oleh: AM Fatwa (Wakil Ketua MPR RI) dalam Republika Edisi Jum’at 6 Juni 2008

Categories: Sosial Politik

Slank dan Realitas Politik Taman Kanak-kanak (TK) : Sebuah Pelajaran Demokrasi Buat DPR

8 April 2008 mersi 2 komentar

Baru-baru ini santer terdengar berita mengenai para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merasa kebakaran jenggot dengan lirik-lirik sebuah group band legendaris di Indonesia, Slank, yang berjudul Gosip Jalanan dan berbunyi DPR tukang buat UU dan Korupsi.( kompas.com) Reaksi kepanasan yang diperlihatkan oleh DPR yang diwakili oleh wakil ketua, Badan Kehormatan (BK) DPR, Gayus Lumbuun, yang menyampaikan statemen-nya mengenai lirik-lirik yang diciptakan dan disampaikan oleh Slank tersebut dianggap telah menghina kehormatan DPR yang merupakan representasi dari perwakilan rakyat Indonesia. Bahkan yang bersangkutan juga berupaya menggeneralisasi hal tersebut dengan mengatakan bahwa lirik-lirik dalam lagu Slank tersebut telah menghina bangsa Indonesia.

Sebenarnya lagu Gosip JalananI bukan merupakan lagu yang. Tadinya, lagu itu merupakan bagian dari album Slank yang berjudul PLUR (Peace, Love, Unity & Respect) dan telah dirilis pada 2005. Namun, dalam rangka mendukung usaha Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Slank kemudian memasukkan lagu tersebut ke dalam album Anti Korupsi, yang mereka berikan kepada KPK.

Check and Balance
Sekilas memang terkesan begitu ironis sekaligus memalukan (inappropriate) reaksi yang disampaikan oleh kalangan yang konon disebut “wakil rakyat” tersebut. Reaksi yang tidak seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang bermukim di “Istana Demokrasi” tersebut. Seharusnya mereka sudah tidak perlu lagi diajari mengenai nilai-nilai dan tata-cara berdemokrasi. Sebagian besar orang-orang yang mempelajari demokrasi mungkin sangat mafhum dengan hal yang dilakukan oleh group band Slank tersebut merupakan sebuah fenomena lazim di alam demokrasi atau dalam bahasa lain disebut dengan mekanisme “Check and Balance”. Mekanisme tersebut merupakan sebuah instrumen yang dianggap efektif dalam rangka menyampaikan kritik dan masukan terhadap penguasa (Ruler) dalam jagad demokrasi. Mekanisne tersebut dapat dijalankan oleh individu atau kelompok masyarakat di suatu negara demokrasi. Oleh karena itu tampaknya para “wakil rakyat” di DPR perlu belajar lebih banyak lagi mengenai idiologi serta sistem pemerintahan di negara yang mereka naungi.

Padahal, mungkin sudah milyaran mungkin trilunan rupiah uang rakyat yang dihambur-hamburkan oleh para anggota DPR yang katanya untuk kepentingan studi banding ke beberapa negara di belahan dunia. Tetapi, pertanyaannya apakah yang dilakukan mereka disana? Apakah cuma window shopping (baca : belanja) dan refreshing (baca: jalan-jalan), atau sesuatu yang lebih ekstrim lagi mereka tidak mampu untuk mencerna serta menjalankan tugas yang seharusnya mereka lakukan dengan baik, wallahua’lam.

Kurang Kerjaan ?
DPR sebagai pengemban amanat mulia dinegeri ini seharusnya lebih banyak belajar dan bercermin diri. Bukankah mereka telah dibekali dengan amanat serta otoritas yang besar sebagai legislatif. Seharusnya mereka bersikap lebih vokal terhadap para parasit (baca: koruptor) yang setiap detik menghisap darah dalam nadi bangsa ini. Masih banyak hal-hal yang musti dibenahi seperti carut-marut dunia hukum dan peradilan yang belakangan marak dibicarakan di negeri ini. Korupsi dinegeri ini menjadi sangat sulit diberantas karena didalangi oleh oleh aktor yang licin sekaligus diperparah dengan korupsi berantai yang dilakukan oleh mafia hukum dan peradilan (baca: jaksa dan hakim).

Oleh karena itu, rakyat mungkin akan sangat senang dengan kinerja “wakil rakyat” yang bisa menghapus sekaligus memberantas parasit yang tengah menjangkiti tubuh bumi pertiwi yang merupakan tempat bernaung para rakyat yang diwakili oleh para anggota DPR tersebut. Maka, mulai dari sekarang semestinya DPR mulai untuk belajar bagaimana cara mengerjakan tugas mereka secara baik dan benar. Jangan sampai kelihatan seperti kurang kerjaan ditengah bergelimangnya permasalahan yang menjalar keseluruh dimensi kehidupan dinegeri ini.

Saran penulis untuk dimasa mendatang, sebaiknya seluruh rakyat negeri ini yang berniat untuk menjadi anggota DPR untuk lebih berpikir jauh lagi. Karena ini merupakan pekerjaan yang sangat berat sekaligus mulia. Jangan sampai ajang pemilu 2009 nanti mengalami hal yang sama seperti pada masa sebelumnya, yakni orang-orang berlomba-lomba untuk menggapai jabatan politik demi mencapai kepentingan pribadi dan kelompok yang mereka wakili, tanpa sepenuhnya menyadari bahwa tugas berat dan mulia untuk menyelamatkan bangsa ini dari ketertinggalan dan keterpurukan adalah jauh lebih mulia daripada yang mereka lakukan terhadap diri pribadi dan kelompok mereka.

Categories: Sosial Politik

English School

7 April 2008 mersi Tinggalkan komentar

Oleh: Muhammad Yusra (Mahasiswa Pasca Sarjana Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada)

English School merupakan sebuah aliran yang muncul di Inggris pada periode sepanjang perang dingin. Aliran ini memiliki pemahaman dan perspektif yang berbeda dalam memandang studi hubungan internasional yaitu penolakan mereka pada tantangan kaum behavioralis dan menekankan pendekatan tradisional yang berdasarkan pada pemahaman, penilaian, norma-norma, dan sejarah manusia. Mereka juga menolak setiap pembilahan yang tegas antara pandangan kaum realis semata dengan pandangan kaum liberal tentang hubungan internasional.

Masyarakat Internasional (International Society)
Teori yang dikemukakan para pengikut aliran ini adalah teori mengenai masyarakat internasional (international society) dengan teoritisi mereka yang terkenal pada abad keduapuluh adalah Hadley Bull dan Martin Wight.

Teoretisi Masyarakat Internasional mengakui pentingnya kekuatan dalam masalah-masalah internasional. Mereka juga memfokuskan pada negara dan sistem negara. Tetapi mereka menolak pandangan sempit kaum realis bahwa politik dunia merupakan keadaan alami Hobbesian dimana tidak ada norma internasional sama sekali. Mereka memandang negara sebagai kombinasi dari Machstaat (negara berkuasa) dan Rechstaat (negara konstitusional): kekuatan dan hukum keduanya merupakan bentuk penting hubungan internasional. Benar bahwa terdapat anarki internasional dalam arti tidak ada pemerintahan dunia. Tetapi anarki internasional adalah suatu kondisi sosial bukan anti sosial: yaitu politik dunia adalah suatu “masyarakat anarkis” (Bull 1995). Teoretisi ini juga mnegakui pentingnya individu, dan sebagian dari mereka berpendapat bahwa individu-individu adalah bagian dari negara-negara. Berbeda dengan kebanyakan kaum liberal kontemporer, teoretisi Masyarakat Internasional cenderung menganggap organisasi-organisasi antar lembaga pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat sebagai bentuk pinggiran daripada sebagai bentuk utama politik dunia. Mereka menekankan hubungan negara-negara dan mengesampingkan pentingnya hubungan transnasional.

Teoritisi Masyarakat Internasional memandang studi hubungan internasional tidak hanya mematok salah satu dari elemen itu dan mengabaikan yang lain. Mereka tidak berupaya membuat dan menguji hipotesis dengan tujuan mebangaun hukum-hukum hubungan internasional yang ilmiah. Mereka tidak mencoba menjelaskan hubungan internasional secara ilmiah , melainkan mereka mencoba memahami dan menginterpretasikannya. Dengan demikian, teoritisi masyarakat internasional mengambil pendekatan filsafat, hukum dan sejarah yang lebih luas bagi hubungan internasional.

Keteraturan dan Keadilan (Order and Justice)
Hadley Bull membedakan tiga macam ketertiban dalam politik dunia (Bull:3-21). Pertama adalah “ketertiban dalam kehidupan sosial”, yang merupakan elemen dasar hubungan manusia selain dari bentuk yang diambil; kedua adalah “ketertiban internasional” yang merupakan tatanan antara negara-negara dalam sistem atau masyarakat negara dan yang terakhir adalah “ketertiban dunia” yang merupakan tatanan antara manusia secara keseluruhan.

Selanjutnya Bull juga membedakan tiga tingkatan keadilan dalam politik dunia: “keadilan internasional atau antarnegara”, yang pada dasarnya melibatkan pemikiran tentang kedaulatan negara yang sama; “keadilan individu atau manusia”, yang pada dasarnya melibatkan pemikiran hak asasi manusiingka; dan “keadilan kosmopolitan atau dunia”, yang pada dasarnya melibatkan “ apa yang benar atau baik bagi seluruh dunia”, jelasnya sebagai contoh, dalam standar lingkungan global. Secara historis tingkat antarnegara biasanya telah berjalan dalam politik dunia.

Bull mengakhiri bahasannya tentang ketertiban dan keadilan dengan mempertimbangkan bobot relatif dari kedua nilai ini dalam politik dunia. Dalam perbandingan tersebut, ketertiban terlihat lebih fundamental: “ketertiban merupakan kondisi bagi perwujudan nilai-nilai lain” (Bull 1995:93). Ketertiban lebih dahulu dari keadilan . Dengan demikian Bull membuat pernyataan bahwa ketertiban merupakan pernyataan umum, tetapi dalam hal tertentu keadilan mungkin menjadi yang pertama. Inti pernyaaan Bull adalah politik dunia menimbulkan berbagai permasalahan tentang ketertiban ataupun keadilan, dan bahwa politik dunia tidak cukup dapat dipahami hanya dengan mmusatkan pada salah satu nilai dan mengabaikan yang lain.

Komentar
Dari pemaparan mengenai teoretisi Masyarakat Internasional yang diusung oleh Aliran Inggris (English School) ini, maka terdapat beberapa kritik terhadap beberapa konsep dasar yang dikembangkan oleh aliran ini yaitu, pertama, pendekatan normatif yang digunakan oleh teoretisi ini adalah lemah terutama pendapat mengenai norma internasional sebagai penentu kebijakan dan perilaku negara. Kedua, pendekatan ini terkesesan terlalu mengesampingkan permasalahan domestik, seperti demokrasi dan juga terkesan tidak dapat untuk menjelaskan perubahan progresif dalam politik internasional. Selain itu kritik mendasar yang perlu diarahkan terhadap pendekatan ini adalah bahwa pada dasarnya masyarakat internasional tidak sempurna sebab berjalan dengan pendekatan yang pada dasarnya state-centric yang menganggap negara sebagai aktor “ yang serupa dengan individu” dan mengabaikan “ hubungan sosial kompleks yang mempersatukan individu dengan negara”. Teori Masyarakat Internasional benar-benar merupakan idiologi yang agak tersembunyi pada dasarnya menjalankan tujuan membenarkan sistem negara berdaulat. Tradisi Masyarakat Internasional juga buta pada “masyarakat dunia” yang kurang lengkap untuk menguasai secara konseptual.” Masyarakat dunia hidup melalui hubungan sosial yang terlibat dalam produksi dan pertukaran komoditas global, melalui budaya global dan media masa dan melalui peningkatan pembangunan politik dunia” (Shaw 1992:429).

Kesimpulannya: para penstudi Masyarakat Internasional menekankan kehadiran yang abadi dalam masyarakat internasional baik dari elemen-elemen kaum realis maupun kaum liberal. Ada konflik dan elemen yang berbeda ini tidak dapat disederhanakan dan diabstraksikan kedalam suatu teori tunggal yang hanya menekankan satu variabel dunia yang terlalu sederhana dan akan mendistorsi realitas. Teoritisi Masyarakat Internasional berpendapat bagi suatu pendekatan humanis yang mengakui kehadiran yang abadi atas semua elemen tersebut, dan kebutuhan studi historis dan menyeluruh atas masalah dan dilema yang muncul dalam situasi yang kompleks tersebut.

Categories: Sosial Politik