Bincang-Bincang Bersama Bapak Endy M. Bayuni


Pada selasa malam, tanggal 21 Februari 2012 kembali Asrama Merapi Singgalang mengundang seorang tokoh yang mungkin di dalam dunia jurnalisme nama Endy M. Bayuni bukanlah nama yang asing lagi. Beliau pernah menjabat sebagai chief editor di koran The Jakarta Post, dan juga pernah bekerja sebagai editor untuk berita-berita ke luar negeri. Kebetulan juga ia memiliki darah Minangkabau, meskipun tidak pernah tinggal di Sumatera Barat. Ia juga memiliki isteri yang secara tidak sengaja ketemu juga orang Minang. Beliau menghabiskan waktu dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas di Inggris. Kemudian ia melanjutkan kuliah Jurusan Ekonomi di Inggris dan juga pernah mengecap pendidikan di Harvard.

Ada yang menarik dari cerita sang ayah dari Pak Endy. Sekitar tahun 1920-an ayah dari Pak Endy mencoba merantau dari Bukittinggi  ke luar negeri meskipun tidak memiliki bekal dan biaya sama sekali. Ia merantau ke Negara Irak yang pada saat itu masih berupa Kerajaan. Akhirnya di sana ia ditampung dan dibantu oleh keluarga mahasiswa muslim Indonesia yang ada di sana yang kebetulan juga banyak orang awaknya. Di sana ia aktif memberitakan perjuangan Indonesia dalam mencapai kemerdekaan melalui media cetak pada saat itu. Singkat cerita, sesaat setelah Indonesia merdeka, para mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri termasuk beliau di kirimi surat kawat oleh H. Agus Salim yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri untuk mendekati pemerintahan di sana  dan meminta bantuan agar bisa mendirikan kantor kedutaan dan beberapa fasilitas lainnya. Dan berkat jasanya tersebut, ia di angkat menjadi duta besar.

Bapak Endy sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi seorang jurnalis. Pada saat pertemuan, beliau menceritakan bahwa ia pernah bekerja di Inggris tanpa surat izin bekerja, Tepatnya beliau salah prosedur pengurusan izin kerja. Namun, ia tertangkap dulu sebelum surat izinnya keluar. Memang  Menlu Inggris pada saat itu  agak sedikit ketat terhadap para imigran. Akhirnya ia  dipulangkan ke Indonesia.

Lama tidak di Indonesia, beliau benar-benar buta terhadap Indonesia. Bingung mau cari kerja kemana, akhirnya ia melihat ada lowongan kerja di salah satu media cetak saat itu yang mencari lulusan S1 yang bisa berbahasa Inggris. Pada waktu itu, media cetak The Jakarta Post baru mulai berdiri. Ia pun iseng-iseng mengirimkan lamaran ke sana. Dan tak lama setelah  itu ia pun dipanggil untuk bekerja di sana. Itulah awal mula karir Beliau menjadi seorang jurnalis.

Pertemuan dengan Pak Endy, menimbulkan kesan yang mendalam bagi kami. Banyak cerita yang menarik yang disampaikan semasa ia masih aktif sebagai wartawan dan seorang jurnalis. Mulai dari cerita pada masa Orde Baru, Kerusuhan tahun 1998 , cerita-cerita di balik layar dari sebuah tulisan yang terbit, dan masih banyak cerita lainnya yang kalau diceritakan semuanya mungkin tidak bisa muat pada tulisan ini.

Berikut fot-foto saat pertemuan :

About admin

asrama mahasiswa sumatera barat merapi singgalang yogyakarta

Posted on 23 Februari 2012, in Berita Asrama. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: