Foto, Kamera dan Karya Seni


Oleh : Taufik Akbar, S.Sn

Warga Mersi angkatan 2007

Seorang sahabat, mahasiswa pertelevisian pernah mengatakan pada saya kalau foto yang bagus tidak ditentukan oleh kamera yang digunakan dan seorang lagi teman,mahasiswa kriya kayu dengan nada sedikit memprovokasi bilang pada dosennya saat kuliah bahwa fotografi itu tidak lebih dari sekedar dokumentasi saja.

Memang saat ini dunia fotografi semakin terlihat mentereng di kalangan kaum muda entah memang ingin mempelajarinya sebagai sebuah ilmu, hobi, ingin mencari penghasilan disitu atau hanya ikut trend saja dan menjadikannya sebagai bagian dari lifestyle. Setiap orang tentu memiliki alasan masing-masing apa yang membuat mereka menggunakan kamera yang dapat menunjang tujuannya tersebut, saat ini semakin banyak saja orang-orang, mayoritas kaum muda jalan-jalan kesana-kesini menenteng kamera digitalnya, tapi apakah mereka benar-benar mencari/hunting foto yang bagus itu lain soal.

Melihat dari segi sejarah memang kamera diciptakan untuk dapat merekam atau mengabadikan suatu momen ke dalam bidang dua dimensi berupa lembaran foto. Namun perkembangan teknologi, kehidupan sosial dan gaya hidup poluler membuat dunia foto mulai dipandang sebagai karya seni  seperti halnya lukisan. Karna ditemukan kamera inilah maka timbul aliran-aliran baru dalam dunia lukisan, lukisan realis[1] dipandang oleh sebagian orang sama seperti foto (jadi apa bedanya), dan sejak itu muncullah aliran-aliran surealisme, kubisme, dadaisme, abstrak, dll, walaupun sampai sekarang lukisan realis bisa sangat-sangat menakjubkan karena dengan teknik tinggi pelukisnya dapat mencitakan lukisan yang seolah-olah sangat realis dalam media kanvas melebihi jepretan kamera. Hal ini justru bertolak belakang dengan dunia fotografi yang karya-karyanya semakin berkembang, tidak lagi”isi” gambar utuh dari objek yang diandalkan namun permainan teknologi, edit sana edit sini lebih dimungkinkan. Hadirnya kamera-kamera berlensa panjang dan dapat disambung-sambung membuat dunia foto lebih menarik, kaum muda seolah memiliki sensasi tersendiri ketika memegang kamera, berbeda halnya mungkin sensasi orang awam memegang kuas untuk melukis, atau orang yang memegang pahat untuk mengukir kayu apalagi memegang canting untuk membatik. Hal itu tidak lebih dari sekedar gaya hidup yang kadang mengarahkan kita menjadi latah.

Kembali pada dua pernyataan teman saya di atas tadi bahwa pada intinya tidak ada yang benar atau salah dari kedua pendapat tersebut karna dunia seni itu berkembang, mengutip pernyataan Hermien Kusmayati bahwa dunia pemikiran dan penciptaan seni demikian terbuka dan serba mungkin, begitu juga halnya dengan dunia seni fotografi,  para akademisi seni dituntut untuk lebih kritis, kreatif dan teguh pendirian dalam menyikapi hal itu. Namun satu hal yang perlu diperhatikan sebuah foto dapat menjadi karya seni jika sudah ada judul,isi[2] dan display[3]dari sebuah foto tersebut. Soal bagus atau kurang itu tergantung yang melihat, yang merasakan dan itu tak ada hubungannya dengan kamera yang anda gunakan. Bisa saja foto yang tujuannya hanya sebagai dokumentasi tanpa permainan fitur,hunting lokasi yang dicari dan diperhitungkan atau tetek bengek lainnya bisa lebih bagus atau sebaliknya.


[1] Aliran realis adalah melukiskan sesuatu dalam media kanvas seperti aslinya

[2] Isi disini maksudnya adalah tema atau pesan dari objek foto

[3] Display adalah bentuk penyajian dari sebuah karya seni

About admin

asrama mahasiswa sumatera barat merapi singgalang yogyakarta

Posted on 31 Maret 2012, in Iptek, Sciense, Serba-Serbi. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. minyak bersubsidi

    mantap bana pak tua ko salut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: