Transformasi Akademik Seperti Apa yang Diharapkan dari Irshad Manji???


Penulis : Anggun Gunawan, S.Fil

Kisruh pembatalan diskusi Irshad Manji yang sedianya akan diadakan di UGM telah digiring pada wacana baru, soal kebebasan akademik. Tapi kebebasan akademik macam apa yang dikehendaki juga tidak jelas sama sekali. Malah, hujatan-hujatan yang dilontarkan kepada Rektorat UGM dan Direktur Sekolah Pascasarjana UGM tak lebih dari sekedar letupan bahwa “UGM disandera kelompok Islam garis keras, UGM Penakut, UGM primitif” dan umpatan-umpatan tak simpatik lainnya.


Jika memang argumentasi yang dibangun adalah soal kebebasan akademik, tentu kita harus mengupas lebih dalam terkait transformasi akademik apa yang diharapkan dari seorang Irshad Manji. Setahu saya, universitas manapun (apalagi sekaliber UGM) cukup selektif untuk mengundang pembicara (apalagi yang didatangkan jauh dari luar negeri). Biasanya akan diawali rapat-rapat intens untuk menilai seorang pembicara kompeten atau tidak. Jangankan untuk rapat sebuah acara diskusi yang dibahas oleh sekian doktor dan professor, teman-teman mahasiswa S1-pun punya standar tertentu ketika menghadirkan seorang pembicara dalam diskusi atau seminar yang akan dihelatnya.

Mari kita lanjutkan. Oleh karena itu, sangatlah layak apabila kita mempertanyakan kapabilitas intelektual Irshad Manji. Seorang mahasiswa doktoral bidang Agama di Temple University di sebuah milis yang saya ikuti menulis seperti ini:

“Bobot kajian tulisan Irshad Manji di Barat sebetulnya tidak begitu signifikan. Ia lebih merupakan sosok selebritis media. Tulisannya tidak begitu mendalam dan dipublikasikan melalui media-media populer, sama sekali tidak menjadi diskusi di jurnal ilmiah. Karena itu, wacana yang dilemparkannya lebih banyak berupa sensasi media, ketimbang perdebatan ilmiah yang memiliki bobot akademis khusus. Kalau berkutat di sini, ketimbang mendatangkan manfaat ilmiah, tampaknya kita malah bisa terjebak dalam keriuhan kontroversi massa di permukaan…”

Ketika saya kutipkan pernyataan ini di sebuah grup facebook, seorang mahasiswa doktoral Northern Arizona University USA memberikan bantahan:

“Di Amerika Irshad itu menjadi rujukan intelektual penting, termasuk filsuf terkenal Amy Gutmaann pernah mengundah dia di acaranya! Orang Indonesia memang banyak yang kuper kulihat… Aku di Amerika kadang melihat sepak terjang dia! Bagiku dia penting untuk menjembatani dunia Barat (termasuk Amerika) dan kepentingan negara-negara muslim termasuk Indonesia…Suara dia didengar oleh banyak kalangan di Amerika dan dunia Barat lain, termasuk kelompok Islam, Kristen Fundamentalis, Yahudi dan kaum pemerintahan. Jadi kalau dia menerima perlakuan seperti sekarang ini menjadi wacana di dunia internasional juga…”

Sayapun oleh bapak kandidat Doktor dari Northern Arizona University itu diminta mengecek google scholars untuk membuktikan bahwa karya-karya “ilmiah” Irshad Manji tersebar di banyak tempat dan dikutip oleh banyak orang. Ketika saya memakai pilihan “Legal opinions and journals”, teman-teman tahu berapa tulisan terkait Irshad Manji, hanya 23 links, itupun minus nama Irshad Manji sebagai penulisnya. Lebih banyak memang ketika memakai pilihan “article” (558 links). Tapi hanya belasan saja yang ditulis langsung oleh Manji dan itupun bukan di jurnal ilmiah. Kebanyakan di koran-koran populer seperti The New York Times dan International Herald Tribune. Ulasan para scholar terkait Manji-pun didominasi oleh kontroversi bukunya “The Trouble with Islam Today”.

Sejauh penelusuran saya, Irshad Manji baru menulis 3 buku: “Risking Utopia: On the edge of a new democracy“ (1997), “The Trouble With Islam: A Wake-up Call For Honesty and Change“ (2004) dan “Allah, Liberty and Love: The Courage to Reconcile Faith and Freedom” (2011).Saya belum baca buku yang pertama. Namun, untuk 2 buku terakhir kesan yang saya dapatkan lebih kepada “curhat” Irshad Manji tentang perjalanan hidupnya.

Buku The Trouble With Islam lebih menyinggung perjalanan kehidupan Manji dari pengalaman pahit masa kecilnya di Uganda, kemudian berlanjut dengan “kebebasan” beragama yang ia rasanya setelah hijrah ke Kanada dengan membumbui ketidaksukaan dia kepada beberapa fatwa Islam yang dianggapnya mengekang.

Buku Allah, Liberty and Love tak lebih dari koresponden Irshad Manji dengan beberapa orang dari penjuru dunia yang ingin mendapatkan dukungan semangat dari Manji. Ada yang bermasalah karena takut bicara dengan keluarganya bahwa selama ini dia banyak mengadakan acara-acara bertema pluralisme. Ada yang curhat bahwa dia bermasalah karena ditentang berhubungan dengan pria non muslim. Ada yang mahasiswa Al Azhar yang merasa jenuh dengan pendidikan Islam yang diajarkan guru-gurunya. Ada yang terkekang karena memiliki pandangan berbeda dari penguasa otoriter di negaranya.

Dengan mengebu-gebu Manji memberikan jawaban heroik agar mereka melepaskan rasa takut dengan ajaran “keberanian moral”. Keberanian harus ditumbuhkan untuk menyatakan apapun yang menjadi pandangan yang kita anggap benar. Meskipun itu dilarang oleh fatwa-fatwa ulama, ditentang oleh orang tua dan keluarga. Untuk membangkitkan keberanian itu, mereka harus melepaskan diri dari bayang-bayang hantu identitas. Karena keterasingan dari identitaslah yang membuat orang malu dan takut untuk berbeda.

Namun, agak berbeda respon yang diberikan Manji kepada orang-orang yang kontra dengan pemikirannya. Dalam buku Allah, Liberty and Love, kita dapat menemukan bahasa-bahasa yang tidak sopan. Sumpah serapah yang jauh dari kesan intelektual. Konon, kata teman yang sudah membaca versi Inggris, kata-kata kotor itu lebih parah dibandingkan edisi Bahasa Indonesia.

Jika keadaannya demikian, pertanyaan yang meski dijawab oleh pihak-pihak yang menghadirkan Irshad Manji di UGM adalah transformasi akademik apa yang hendak dibawa sehingga mampu memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi kalangan civitas akademika?

Setahu saya, setiap penyelenggaraan seminar ataupun diskusi di lingkungan UGM selalu diawali dengan debat-debat serius tentang kapabilitas seorang pembicara yang akan diundang. Biasanya para doktor di UGM cukup selektif untuk menghadirkan seseorang di sebuah ruang akademik yang bermutu. Bahkan perbincangan itu memakan waktu yang cukup lama. Tapi kenapa untuk Irshad Manji tidak ada diskusi khusus tentang itu?

Atau yang menjadi pertimbangan hanya kepopuleran Irshad Manji semata? Kepopuleran bukan karena sebuah pemikiran yang bernas, tapi karena statusnya sebagai “ikon lesbian muslimah internasional”. Padahal, pada hari yang sama di Sekolah Pascasarjana UGM hadir Prof. Imtiyaz Yusuf, lulusan Temple University, yang lebih cadas pemikirannya. Tidak hanya mengugat hukum preferensi seksual. Tetapi mendobrak secara tajam pemikiran kebanyakan orang tentang Tuhan. Namun, apa karena Prof. Imtiyaz bukan intelektual selebritis peserta yang hadir sedikit dan tidak kisruh segala macam. Bukankah seharusnya FPI lebih berhak membela apabila konsep Tauhid dipreteli dibandingkan sekedar mengugat lesbi?

Akhirnya kita perlu bertanya, apa sesungguhnya yang sedang mengemuka dalam kisruh kehadiran Manji di UGM. Apakah benar semata-mata soal kebebasan akademik atau soal lain? Kenapa sehari atau dua hari sebelum acara dimulai orang-orang yang berkepentingan di UGM tidak duduk bareng untuk menyamakan persepsi. Biasanya mereka bisa duduk bareng dan saling tertawa sambil menikmati hidangan enak. Tapi kenapa untuk soal yang berimbas fatal ini, kontak-kontak yang dilakukan hanya via sms dan cuma telpon-telponan saja. Semua terbawa pada argumen dan ego masing-masing. Jika panitia bisa sedikit menahan diri dan berinisiatif mendatangi pihak Rektorat untuk menjelaskan duduk perkara terlebih dahulu, maka kejadiannya tidak sekeruh ini. Toh, kalaupun diundur sehari atau dua hari untuk menyelesaikan perbedaan perspektif di antara mereka tidak jadi masalah. Irshad Manji masih punya banyak waktu untuk sekedar jalan-jalan ke Borobudur ataupun ke Bali sampai ada pernyataan resmi dari Universitas.

Namun, kenyataan yang terjadi lain. Manji datang. Panitia membuat press release mengecam kebijakan larangan rektor. Media mendapatkan berita hangat untuk jadikan headline, dan FPI-pun beraksi untuk membela “kebenaran”. Klop sudah. Sekarang yang terjadi pertarungan sesama civitas akademika UGM sendiri. Yang membuktikan begitu hebatnya seorang selebritis lesbian bernama Irhad Manji….
========================================

About admin

asrama mahasiswa sumatera barat merapi singgalang yogyakarta

Posted on 22 Mei 2012, in Pendidikan, Sastra, Sosial Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: