CATURLOGI “PROFIL KEBUDAYAAN MENTAWAI”: ANTARA IDEOLOGI EKSOTIK DAN IDEOLOGI PERLAWANAN


Oleh: Zaiyardam Zubir (Ph.D Candidat Gadjah Mada University –

Alumni Mersi 1985)

Mentawai bisa tenggelam

Kue mentawai
Habis dibagi
Dalam saku

Aku takut
dan ngeri
kepulauan Mentawai
Tinggal 20 tahun lagi

Karena
Kayu-kayunya
Ditebangi
Dengan rakus
(Rusli Marzuki Saria, 1974)

Prolog
Ketika Aldes, aktivis YCM menyodorkan empat 4 buku tentang Profil Kebudayaan Mentawai, yang ditulis oleh Tarida Hernawati S dan dan diedit Aldes, meminta saya untuk membedahnya, pikiran pertama yang muncul adalah YCM makin dahsyat saja. Betapa tidak, pengalaman menyatakan bahwa untuk menulis sebuah buku bukanlah pekerjaan yang gampang. Pekerjaan ini membutuhkan banyak hal seperti tingkat intelektual, kesabaran yang tinggi, konsentrasi dalam menulis, dan pendanaan yang besar, sehingga pekerjaan menulis buku menjadi pekerjaan yang sangat melelahkan. Setelah terbit, belum tentu pula buku itu diterima dan dihargai oleh masyarakat. Memang, dibutuhkan sebuah perjuangan yang melelahkan untuk kerja intelektual ini dan YCM dengan tenaga mudanya seperti Tarida Hernawati S telah berhasil menerobos wilayah kerja intelektual ini.

Saat buku itu sampai ditangan saya dan saya bolak-balik, pikiran pertama yang menerawang di otak saya adalah tulisan saya beberapa waktu lalu tentang YCM sebagai local Jenius nya masyarakat Mentawai, terbukti sudah dengan 4 buku ini. Sebagai sebuah kerja intelektual, YCM sesungguhnya sudah memperlihatkan hasil nyata. YCM, dengan caranya sendiri telah berhasil menerbitkan sekaligus 4 buku, sudah merupakan sebuah warisan besar bagi dunia intelektual -wilayah kerja yang banyak ditinggalkan oleh LSM di Sumatera Barat. (Barangkali hanya 2 atau 3 LSM saja yang pernah menulis buku yang dipublikasikan. Ada juga tulisan, tapi itu sebagai laporan manis yang sesuai dengan pesan funding). Bahkan, perguruan tinggi di Sumatera Barat misalnya, yang memiliki banyak Prof dan Dr, justru tidak pernah menerbitkan buku. Parahnya lagi, persoalan plagiat di perguruan tinggi merupakan bentuk penghinaan terhadap karya intelektual, yang seharusnya jadi benteng, juga berlangsung di perguruan tinggi. Dalam konteks inilah, caturlogi buku yang diterbitkan YCM membawa angin segar bagi dinamika intelektual, khususnya sorotannya terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Mentawai.

Persoalannya adalah apakah YCM serius dalam mengupas Mentawai, baik dari sudut akademis (buku ini) maupun dari gerakan atau hanya dijadikan sebagai kapalo gale sebagai issue yang layak dijual saja?

Yang Lancar dan Yang Mengganjal

Permulaan membaca buku ini dari depan, sebenarnya cukup mengasyikkan. Misalnya saja, dengan lancar penulis buku ini menceritakan secara singkat sejarah Mentawai sebanyak 5 halaman. Penuturan dan pilihan kata mudah dicerna, sehingga pembaca awam sekalipun tidak akan mengalami kesulitan dalam memahami konteks masalah dalam buku ini. Hal ini juga berlaku secara keseluruhan dari buku, dimana pilihan katanya tidak terlalu rumit-rumit. Pada bagian ini, penulis sudah menggunakan style-nya sendiri, sehingga menjadi sesuatu yang harus dihormati dan disinilah kekuatan buku ini sesungguhnya.

Hanya saja, ada beberapa hal yang mengganjal, baik sifatnya hal yang kecil maupun yang besar. Hal kecil misalnya, dari depan saja kita sudah tidak melihat siapa penulisnya. Pencatuman nama di cover buku sesungguhnya sudah lazim dalam penulisan buku. Pembaca baru menemukan nama Tarida Hernawati pada halaman dalam. Persoalan pokok sebenarnya terletak pada penghargaan pada karya intelektual seseorang atau sekelompok orang. Artinya, penempatan nama menjadi penting, kecuali saja ini karya lembaga. Jelas sekali, keempat buku ini disebutkan bahwa penulisnya adalah Tarida Hernawati S.

Hal lain yang sangat mengganjal adalah masalah sumber penulisan. Dari mana penulis tahu semua cerita ini, karena satupun ia tidak mencantumkan sumbernya. Misalnya saja sejarah Mentawai dan revolusi kebudayaan dalam buku Salappa’ (hal. 1-10 }. Contoh lain adalah tentang masuknya agama Kristen Protestan ke Mentawai (hal. 39-51). Walaupun disebut berdasarkan data yang dimiliki gereja GKPM, namun tidak dicantumkan bentuk data, sehingga kesan kuat yng muncul dari buku adalah mengarang indah. Kisah yang diceritakan tidak mencantumkan sumber, sehingga secara akademis sulit untuk dipertanggung jawabkan. Pola yang dibuat akhirnya seperti penulisan novel saja, sehingga nilai akademiknya menjadi lemah. Hal ini kemudian diperkuat lagi dengan tidak adanya daftar bacaan dalam buku ini, sehingga seolah-olah penulis mampu menulis tanpa dibantu oleh satu bacaan apapun juga. Orang sekaliber Scott, Geertz ataupun Koencaraningrat saja membutuhkan berpuluh-puluh literatur untuk menulis sebuah artikel apalagi menulis buku. Kecuali tentu saja orang seperti Prof. Sartono Kartodirdjo, guru besar UGM memang tidak menggunakan literatur untuk menulis, karena dirinya sendiri sudah menjadi literatur berjalan. Tentu saja penulis jika ingin menyatakan bahwa buku ini sebagai sebuah karya sastra, novel atau roman, sehingga tidak mengindahkan aturan akademik.

Jika dibongkar lagi, walaupun hal kecil, sesungguhnya tidak ada alasan untuk tidak mencantumkan juru potret dari foto-foto yang ditampilkan. Walaupun di depan ada disebutkan juru fotonya seperti Ida, Fitri, Aldes dan Fan, namun demikian, foto-foto yang begitu indah dan banyak memberi data dan makna itu lewat begitu saja dalam setiap halaman, tanpa mengetahui juru potretnya. Apalah susahnya menyebutkan nama dibawah setiap foto, sehingga muncul kembali kesan dari buku Profil Kebudayan Mentawai ini bahwa penghargaan terhadap karya seni menjadi diabaikan.

Hal lain yang sangat mengganjal yaitu kata pengantar dari caturlogi buku ini semuanya sama saja, sehingga pembaca tidak bisa diantarkan pada semangat dan isi buku ini satu persatu. Sebagai sebuah proses kreatif, konsep dasar menulis adalah revisi terus menerus. Sementara, langkah kecil itu tidak berlaku dalam menulis kata pengantar oleh Team Pendidikan dan Kebudayaan (Masa hanya untuk menulis kata pengantar 2 halaman saja harus menurunkan satu team kerja -mubazir).

Walaupun hal kecil, pembuatan indek dan glosarium sebuah buku akan sangat membantu pembaca untuk memudahkan memahami isi buku. Bukankah tujuan setiap penulis membuat tulisan adalah untuk mencerdaskan kehidupan manusia, bukan hanya sebuah proyek saja ?

Perspektif Tentang Mentawai : Caturlogi

Jika ada kebenaran 100, dan yang hanya mampu diungkapkan hanya 10, apakah tidak perlu atau salah? Secara akademik, hal ini sebenarnya sudah satu kemajuan besar. Artinya, diperlukan suatu kearifan dalam melihat fenomena yang ada, walaupun belum mampu mengungkapkan dan menuliskan semuanya. Bahkan, kesalahan melihat data sekalipun, dapat menjadi pelajaran bagi penulis berikutnya. Kasus Geertz memperlihatkan bagaimana ia gagal memahami Jawa, namun dari kesalahan yang ia buat, melahirkan banyak Doktor sesudahnya. Begitu juga dengan buku ini, yang masih bersifat parsial dalam memotret Mentawai. Dapat disadari bahwa buku yang bersifat Profil tidak memberikan gamabaran yang holistik, sehingga banyak hal yang dapat dituliskan lebih jauh lagi seperti kasus kayu di Mentawai. Dalam buku Saumanganya : Hendak Kemana ? terutama bagian Hutan misalnya, kita tidak disodorkan data, berapa kayu yang telah dijarah, berapa hutan yang diluluhlantakkan dan kelompok mana saja yang bermain didalamanya (hal 57-59). Informasi yang diberkan sangat umum sekali, sehingga potret Mentawai hari ini gagal diungkapkan. Hal yang ditakutkan adalah roh LSM sebagai gerakan tidak muncul. Seribu informasi tanpa dilandasi oleh sebuah ideologi akan menjadi sirna diterpa angin kecil sekalipun. Dalam konteks ini, ideologi penulisnya yang amat menentukannya. Kalau tidak memiliki ideologi yang jelas, maka buku hanya berusaha untuk memotret fenomena yang ada, tanpa memilikli sebuah spirit pejuangan.

Kadangkala ideologi hanya diartikan sebagai ideologi agama saja. Padahal tidak demikian adanya. Dalam buku ini, sudut pandang yang muncul hanya ideologi agama ataupun menggunakan jalur agama untuk memudahkan mendapatkan data. Misalnya akan lebih mudah memasuki gereja bagi peneliti yang beragama kristen, sehingga data gerejalah yang digunakannya. Begitu juga pemeluk agama Islamn, akan menggunakan data yang dekat dengan ideologinya, sehingga gambaran yang muncul dari buku adalah gambaran yang mudah mendapatkan data baginya untuk menulis. Hal yang tidak dapat dielakkan adalah keseimbangan dalam penulisan menjadi terganggu. Misalnya buku Saureinu’ : Sesuatu Yang Hilang, memunculkan kesan kuat bahwa agama Kristen lah yang terdapat di Mentawai. Membaca anak judulnya kemudian muncul pikiran bahwa gerejalah yang bertanggungjawab tentang tentang yang hilang di Mentawai. Simak misalnya kutipan dibawah ini : Tampaknya mereka memang berhasil mempengaruhi persepsi orang Mentawai terhadap budaya mereka sendiri. Kaum zending protestan membakar semua peralatan dalam Arat Sabulungan agar orang Mentawai tidak dapat lagi kembali kepada kepercayaan itu tanpa ada perlawanan dari kelompok adatnya. Mereka dipaksa untuk beradaptasi untuk memasuki ideologi lain, sehingga dapat diterima di pulau mereka sendiri ( hal. 74).

Ideologi gerakan sebagai ideologi LSM
Awalnya, saya berpikir bahwa buku ini merupakan perjalanan pendampingan masyarakat yang selama ini dilakukan oleh YCM, sebagaimana buku-buku yang pernah ditulis tentang pengalaman pendampingan masyarakat oleh aktivis LSM lainnya seperti Kehati, Insist, LP2M. Harapan saya adalah empat buku yang ada akan menuliskan spirit YCM seperti yang terdapat dalam Filosofis dasarnya yaitu Pengelolaan Sumber Daya Alam Yang Berkeadilan Untuk Kesejahteraan Rakyat.

Pikiran ini diperkuat oleh ungkapan bung Korta bahwa ada dua kekuatan utama yang bermain di Mentawai yaitu kayu dan non kayu. Kekuatan kayu tujuannya adalah menghancurkan Mentawai, sedangkan non kayu adalah untuk menyelamatkan Mentawai. YCM sesungguhnya berada pada kubu kedua yaitu upaya untuk menyelamatkan kepulauan Mentawai dari tangan-tangan rakus pengusaha dan penguasa untuk merambah hutan, mengambil kayu dan seisinya dan membiarkannya begitu saja. Persoalan ini bukan hal baru di Mentawai, akan tetapi sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Simak saja sajak yang ditulis Rusli “papa” Marzuki Saria pada prolog diatas. Sajak yang ditulis tahun 1974 telah mengungkapkan bahwa penebangan kayu sudah merajalela, sehingga dalam 20 tahun kedepan, Mentawai bisa tenggelam.

Walaupun tahun 1994 Mentawai tidak tenggelam, namun upaya untuk menghambat penebang-penebang kayu yang teramat ganas itu terus saja berlangsung. YCM merupakan salah satu benteng terakhir dari pertahanan Mentawai untuk melarang penebangan kayu-kayu itu. Sayangnya, sorotan itu dalam buku ini menjadi tidak nyata. Walaupun disana sini ditemukan gambar gelondongan kayu, namun isi dan spirit buku tidak begitu kuat dalam melawan kapitalis ini, sebagaimana filosofis dasar dari YCM itu sendiri. Hanya beberapa halaman saja yang memuat persoalan ini (hal. 57-59 dan 71-77). Tadinya saya berharap, heroisme Yan dkk yang berhadapan dengan aparat polisi dalam kasus KAM akan muncul dalam buku ini, namun cerita kayu yang dibuat adalah cerita umum-umum saja, biasa-biasa saja, tanpa ada tekanan apapun didalamnya (atau mungkin peristiwa itu dianggap jadi sejarah bagi YCM, sejarah yang dilupakan dan terlupakan, sebab konteks buku ini adalah kebudayaan yang eksotik dan asli). Akan tetapi, tidakkah ada juga bentuk kebudayaan lain seperti perlawanan rakyat kecil atau sekelompok orang juga menjadi catatan kebudayaan.

Tentu saja semua orang berharap bahwa buku ini tidak bermaksud untuk sekedar memotret secara antropologis tentang mentawai yang asli dan eksotik. Kata pengantar buku mencoba menghindari hal demikian, namun, penulis juga kembali terjebak dalam bentuk penulis buku yang asli dan eksotik itu. Artinya, bendera YCM sebagai kelompok pembaharu atau pembangkang terhadap kebijakan pemerintah yang mengeksploitasi kayu Mentawai tidak muncul sebagai sosok utama dalam buku. Meminjam ungkapan klasik, Seni untuk seni atau ilmu untuk ilmu, maka tentu saja buku ini tidak bermaksud demikian. Sebagai seorang aktivis LSM, penulis buku ini tentu saja diharapkan sebagai senjata perjuangan YCM atas ketidakadilan dan eksploitasi yang berlangsung di Mentawai. Sayangnya, hal ini tidak terungkapkan. Sesungguhnya penting bagi YCM, karena bukankah filosofis dasar lembaga berada pada tatara yang demikian itu. Menyangkut buku pertanyaan Hendak Kemana?, jika YCM berada dalam koridor persoalan Mentawai dan tidak sekedar menjual issue Mentawai, jawabannya sederahana saja, mengembalikan YCM kepada filosofis dasarnya, yang amat sangat relevan dengan persoalan Mentawai. Dengan demikian, setiap sepak terjang YCM seperti dalam penulisan buku ini arahnya adalah memperjuangkan filosofis dasar lembaga. Mengharapakan terjadinya sebuah transformasi budaya di Mentawai, sebagaimana transformasi budaya yang ditulis Umar Kayam , Indonesia saja membutuhkan berabad-abad, dan hasilnya budaya korupsi, maling dan nafsu berkuasa.

Epilog

Sangat disadari bahwa dalam menulis buku, memang ditemui banyak keterbatasan-keterbatasan, sehingga menulis sebuah buku yang komprehensif memang sulit dilakukan. Bahkan, Filosofis dasar lembaga pun kadangkala terlupakan dan dilupakan. Walau begitu, secara keseluruhan keberhasilan menerbitkan buku ini saja sudah merupakan langkah besar dalam kerja intelektual, kerja yang seringkali tidak diminati oleh banyak kalangan seperti Prof. Dr, dan termasuk didalamnya aktivis LSM. Tarida dengan bendera YCM telah menerobos dunia akademik, dunia yang tidak diminati, dunia yang tak seindah AFI, Indonesian Idol ataupun jadi wakil rakyat. Akhirul kalam, Selamat dan sukses. Ditunggu buku berikutnya.

Padang, 4 Agutus 2004

About admin

asrama mahasiswa sumatera barat merapi singgalang yogyakarta

Posted on 22 November 2012, in Catatan Da Adam. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: