Masalah Lingkungan di Kota Padang dan Potensi Bencana Alam di Sumatera Barat


Rahmah Husna

(Biologi UGM 20120 – Warga Asrama Putri Bundo Kanduang 2012)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Sumatera dengan Padang sebagai ibu kotanya. Sesuai dengan namanya, wilayah provinsi ini menempati sepanjang pesisir barat Sumatera bagian tengah dan sejumlah pulau di lepas pantainya sepertiKepulauan Mentawai. Dari utara ke selatan, provinsi dengan wilayah seluas 42.297,30 km² ini berbatasan dengan empat provinsi, yakni Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Bengkulu.

Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Sebagian besar wilayahnya masih merupakan hutan tropis alami dan dilindungi. Berbagai spesies langka masih dapat dijumpai, misalnya Rafflesia arnoldii yang merupakan bunga terbesar di dunia, harimau sumatera, siamang, tapir, rusa,beruang, dan berbagai jenis burung dan kupu-kupu.

Sumatera Barat juga mempunyai adat istiadat yang berbeda dari provinsi lainnya yang ada di Indonesia, yang menciri khas kan atau menggambarkan budaya dan juga keunikan tersendiri yang ada di Sumatera Barat. Islam adalah mayoritas agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk Minangkabau yang ada di Sumatera Barat sekitar 98%, sisanya menganut agama lain.

Kondisi Geografis di Sumatera Barat sangat beragam, dan berelief naik turun, banyak gunung-gunung berapi yg aktif. Hal ini dikarenakan Sumatera Barat termasuk dalam daerah yang dilalui Jalur Gunung Api Aktif di dunia, yaitu Jalur Mediterania, karena disebabkan pertemuan oleh beberapa lempeng tektonik aktif yang ada di dunia. Kebanyakan penduduk menempati daerah yang terletak di perbukitan namun ada beberapa yang di dataran rendah dan pesisir pantai.

B. Tujuan
1. Mampu menjelaskan sumber daya alam, dan potensi sumber daya manusia yang terdapat di Sumatera Barat
2. Menjelaskan permasalahan yang ada di Sumatera Barat khususnya di bidang lingkungan hidup
3. Menganalisis berbagai bencana alamyang sering terjadi di Sumatera Barat
4. Mencari solusi dalam penyelesaian masalah

BAB II PEMBAHASAN

1. Masalah

Kondisi Geografis

Provinsi Sumatera Barat terletak di pulau Sumatera, dengan Padang sebagai ibu kotanya. Sesuai dengan namanya, wilayah provinsi ini menempati sepanjang pesisir barat Sumatera bagian tengah dan sejumlah pulau di lepas pantainya seperti Kepulauan Mentawai. Dari utara ke selatan, provinsi ini berbatasan dengan empat provinsi, yakni Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Bengkulu.

Sumatera Barat mempunyai luas daratan 42.297,30 km2 yang setara dengan 2,17% luas Republik Indonesia dengan jumlah penduduk 5.283.163 jiwa. Provinsi ini diapit oleh dua pusat gempa utama yaitu patahan semangka yang berada di sepanjang Bukit Barisan dan zona subduksi yaitu pertemuan Lempeng Indo‐Australia dengan Lempeng Eurasia ±250 km dari garis pantai ke arah barat. Provinsi ini juga memiliki 4 buah gunung berapi aktif. Sumberdaya air yang melimpah dengan jumlah sungai sebanyak 254 buah, bermuara di pantai timur dan barat pulau Sumatera dan dibagi dalam 6 satuan wilayah sungai (SWS) serta 4 danau besar. Provinsi Sumatera Barat memiliki luas perairan laut ±186.500 km2 dengan panjang garis pantai 2.420.357 km serta memiliki 375 buah pulau besar dan kecil.

Sumber Daya Alam yang ada di Sumatera Barat

Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Flora dan Fauna yang beragam banyak ditemukan di aerah ini. Sebagian besar wilayahnya masih merupakan hutan tropis alami dan dilindungi. Berbagai Fauna atau spesies langka yang masih dapat dijumpai, misalnya harimau sumatera, siamang, tapir, rusa,beruang, dan berbagai jenis burung dan kupu-kupu.

Adapun Flora yang terdapat di Provinsi ini sungguh sangatlah beragam, diantaranya Rafflesia arnoldii yang merupakan bunga terbesar di dunia, berbagai pohon pinus, kelapa sawit dan juga tanaman lain yang berdaya guna bagi kesejahteraan hidup masyarakat di sekitarnya. Seperti contohnya, kopi, cengkeh, jahe, beras dan bumbu-bumbu masak lainnya yang melimpah dan dapat dijadikan sumber penghasilan bagi penduduk yang mengolahnya dan memanfaatkannya.

Tidak itu saja. Di Sumatera Barat juga ada sumber daya alam yang melimpah dan berasl daer alam itu sendiri. Diantaranya pertambangan batu bara, batu besi, batu galena, timah hitam, seng, mangan, emas. Batu kapur (semen).kelapa sawit. Kakao, gambir dan juga hasil perikanan.

Masalah Lingkungan di Kota Padang

Masalah Lingkungan Hidup Utama di Kota Padang, yaitu:
1. Banjir, Longsor dan Abrasi Pantai
2. Pencemaran Air
3. Pencemaran Limbah padat
4. Degradasi Pesisir Pantai dan laut
5. Lahan Kritis dan Alih Fungsi Lahan

Kota Padang memiliki luas 69.496 Ha, dari luas tersebut 3.500 Ha merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap banjir, sekitar 50% -nya merupakan kawasan permukiman.

Kawasan pesisir Kota Padang yang terancam abrasi adalah; Purus, Ulak Karang, Pasir Air Tawar, Perupuk Tabing serta Pasie Nan Tiga. Kemunduran garis pantau di daerah tersebut mencapat 6 meter pertahun.

Pemantauan kualitas air dilakukan di Sungai Batang Arau. Sedimentasi ditandai dengan timbulnya delta-delta kecil di muara sungai. Secara kimia, parameter coliform total, coli tinja, BOD, COD, PO4, amoniak, minyak/lemak, TSS, Zn dan Cu berada diatas ambang baku mutu kualitas air (PP 82/2001 dan SK Gubernur Sumatera Barat No. 660-30-33/1996.

Limbah padat dari sektor permukiman diperkirakan sebesar 249 m3/hari, sedangkan total limbah padat berdasarkan jumlah penduduk diperkirakan 400 m3/hari. Sementara itu sarana dan pra sarana kebersihan masih kurang untuk mengatasi timbulan sampah harian tersebut.

Degradasi pesisir dan laut ditendai dengan pendangkalan dan sedimentasi muara sungai, pencemaran perairan pantai, intrusi air laut, menipisnya hutan mangrove, kerusakan terumbu karang serta hilangnya biota karang.
Berbagai kegiatan seperti perladangan berpindah, pertanian, pengembangan kawasan permukiman, perdagangan/jasa, serta alih fungsi kawasan lindung menjadi kawasan budidaya, menjadi penyebab semakin luasnya lahan kritis.

Bencana Alam

Kondisi geologis dan geografis di atas menyebabkan Sumatera Barat menjadi daerah yang memiliki potensi bencana seperti letusan gunung api, gempa, banjir, longsor (galodo), angin ribut, gelombang pasang dan tsunami.

Di Sumatera Barat terdapat empat gunung api aktif yaitu Merapi, Tandikat, Talang dan Kerinci yang menyimpan ancaman bahaya. Aktifitas Gunung Talang yang meningkat di tahun lalu telah menarik perhatian secara nasional walaupun tidak sampai menimbulkan bencana yang besar. Namun dengan keberadaan aktifitas kehidupan di Sumatera Barat yang berada di sekitar gunung berapi, maka risiko bencana yang ditimbulkan akan sangat besar.

Gempa Bumi sering tarjadi sebagai akibat dari Letusan Gunung Berapi (disebut juga Gempa Vulkanik) ataupun akibat dari pergeseran lempeng yang ada di Pulau Sumatera, khusunya Sumatera Barat, yang merupakan jalur Gempa Mediterania.

Sumatera Barat memiliki sejumlah sengai besar yang mengalir dari daerah Bukit Barisan di timur menuju muaranya di Lautan Indonesia di barat. Secara tradisional, perkembangan penduduk dimulai dari tepi‐tepi sungai besar seperti di Kabopaten dan Kota Solok, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Damasraya, Kabupaten Agam. Debit aliran yang tiba‐tiba melonjak pada beberapa sungai di Sumatera Barat diperburuk dengan kondisi iklim dan geografis yang beragam, membuat ancaman bencana banjir dan longsor memiliki potensi yang tinggi. Kejadian banjir dan tanah longsor di Sumatera Barat telah banyak merenggut korban baik nyawa manusia maupun harta benda.

Daratan Provinsi Sumatera Barat pada bagian pantai berbatasan dengan Samudera Indonesia. Pertemuan daratan dengan lautan bebas tersebut membuat pantai‐pantai di Sumatera Barat telah dan akan terus masuk dalam siklus pergerakan air laut. Siklus ini akan memberikan ancaman abrasi pada pantai‐pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Perkembangan wilayah hunian di wilayah pantai pada masa lalu memberikan risiko yang besar terhadap segala ancaman yang timbul dari lautan. Bencana‐bencana yang diakibatkan abrasi dan badai lautan telah dan akan terus berlangsung, sehingga ancaman bahaya ini akan terus diperhatikan dalam penanggulangan bencana di Sumatera Barat.

Kebijakan Pemerintah Daerah

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terkait dengan risiko bencana, maka diketahui bahwa bencana gunung meletus, abrasi pantai dan badai termasuk dalam Tingkat Risiko II, yaitu bencana yang dengan potensi jumlah korban yang amat besar namun kemungkinan terjadi rendah.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menganggap bencana banjir sebagai bencana dengan tingkat risiko yang sama dengan gempa bumi dan tsunami, yaitu Risiko I, sehingga berpotensi menimbulkan jumlah korban yang amat besar dengan kemungkinan terjadi potensi kejadian bencana tersebut amat tinggi serta mendesak untuk ditangani.

Dari kategori yang disusun oleh pemerintah Provinsi Sumatera Barat terkait dengan risiko bencana, maka diketahui bahwa bencana abrasi pantai dan badai termasuk dalam Tingkat Risiko II, yaitu bencana yang dengan potensi jumlah korban yang amat besar namun kemungkinan terjadi rendah

Di samping bencana dan potensi bencana di atas, di Provinsi Sumatera Barat juga ditemukan jenis bencana lain seperti longsor, kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan yang termasuk dalam tingkat risiko II dan III.
Dari hasil evaluasi yang dilakukan terhadap peraturan yang terkait dengan penanggulangan bencana khususnya, maka tampaknya pemerintah Sumatera Barat telah menyusun dan mensahkan sebuah Perda yang memang secara khusus mengatur tentang penanggulangan bencana, yaitu Perda Provinsi No.5 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

2. Solusi dan Upaya Penyelesaian Masalah

Dari Segi Masyarakat

Sudah sepantasnya masyarakat yang tinggal di Sumatera Barat, tidak hanya orang Minang, tapi juga masyarakat pendatang haruslah berusaha semampu mungkin untuk melakukan kegiatan preventif sebelum masalah lingkungan yang ada tidak semakin besar, dan dapat dicegah untuk kehidupan yang akan datang.

Seperti melakukan daur ulang terhadap sampah anorganik yang tertumpuk, dengan metode 3R, Reduce-Reuse-Recycle, sehingga bisa dimanfaatkan kembali dan berdaya guna bagi masyarakat. Tidak hanya itu, mengolah sampah organic juga dapat menjadi sumber pendapatan yang tak kalah menguntungkan, bagi para warga masyarakat di Sumatera Barat yang kreatif dan memiliki jiwa wirausaha yang tinggi, sampah organic bisa diolah menjadi makanan ternak dan dijadikan pupuk kompos, sehingga bisa diperdagangkan dan mendapatkan hasil yang diharapkan.

Diharapkan dengan kegiatan diatas, dapat terwujud lingkungan yang bersih dan asri, sehingga dapat mencegah terjadinya pencemaran, baik pencemaan air maupun pencemaran limbah padat, dan diharapkan dapat mengurangi beban pemerintah dalam mengatasi masalah lingkungan, karena pada dasrarnya setiap orang khususnya masyarakat minang punya kesadaran yang tinggi .

Dari segi Pemerintah

Pemerintah sudah seharusnya melakukan kegiatan preventif terhadap masalah-masalah yang terjadi di Sumatera Barat, seperti membuat perundang-undangan tentang Lingkungan dan pencemaran, dengan system diberlakukannya aturan yang tegas dan mengikat setiap warga masyarakat. Dengan hal ini diharapakan, rasa kesadaran masyarakat menjadi lebih tinggi dan lebih peka terhadap masalah yang terjadi di Lingkungan sekitarnya.

Dari hasil evaluasi yang dilakukan terhadap peraturan yang terkait dengan penanggulangan bencana, maka tampaknya pemerintah Sumatera Barat telah menyusun dan mensahkan sebuah Perda yang memang secara khusus mengatur tentang penanggulangan bencana, yaitu Perda Provinsi No.5 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Aturan ini cukup baik karena mengatur berbagai aspek mengenai penyelenggaraan penanggulangan bencana untuk setiap tahapan siklus bencana serta lembaga penanggulangan bencana dan juga tentang peran masayarakat, lembaga masyarakat serta lembaga internasional terkait dengan penanggulangan bencana di Sumatera Barat.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Sumatera Barat mempunyai sumber daya alam yang melimpah dan berasal dari alam itu sendiri, diantaranya pertambangan berupa batubara, batu besi, batu galena, timah hitam, seng, mangan, emas, batu kapur (semen), kelapa sawit, kakao, gambir dan juga hasil perikanan. Berbagai Fauna atau spesies langka yang masih dapat dijumpai, misalnya harimausumatera, siamang, tapir, rusa, beruang, dan berbagai jenis burung dan kupu-kupu.

Masalah Lingkungan Hidup Utama di Kota Padang, yaitu:
1. Banjir, Longsor dan Abrasi Pantai
2. Pencemaran Air
3. Pencemaran Limbah padat
4. Lahan Kritis dan Alih Fungsi Lahan

Kondisi geologis dan geografis di atas menyebabkan Sumatera Barat menjadi daerah yang memiliki potensi bencana seperti letusan gunung api, gempa, banjir, longsor (galodo), angin ribut, gelombang pasang dan tsunami.
Dari hasil evaluasi yang dilakukan terhadap peraturan yang terkait dengan penanggulangan bencana, maka tampaknya pemerintah Sumatera Barat telah menyusun dan mensahkan sebuah Perda yang memang secara khusus mengatur tentang penanggulangan bencana, yaitu Perda Provinsi No.5 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

B. Kritik dan Saran

Mudah-mudah dengan selesainya makalah ini maka dapat menjadi syarat untuk menjadi anggota asrama putri minang Bundo Kanduang. Kritik dan saran sangat dibutuhkan dari kakak-kakak semua sehingga dapat menjadi tulisan yang bermanfaat di kemudian hari, dan dapat mengubah serta memperbaikinya untuk menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

About admin

asrama mahasiswa sumatera barat merapi singgalang yogyakarta

Posted on 26 November 2012, in Makalah Mersi-BK 2012. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: