UGM Kemana Jati Dirimu ?


ugm2Oleh : Ahmad Ridwan

Mahasiswa Sekolah Vokasi Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada

Mersi 2009

Tahun ini Universitas Gadjah Mada telah memasuki usianya yang ke-63. Banyak prestasi yang telah dicapai oleh para civitas akademik UGM. Termasuk mewujudkan visinya sebagai universitas riset dunia (Word Class Research University). Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah untuk dapat mewujudkan visinya sebagai universitas riset dunia tersebut UGM harus menanggalkan/meninggalkan jati diri universitas yang telah dimilikinya sejak kelahirannya? Ataukah predikat sebagai universitas riset dunia dapat diwujudkan oleh UGM tanpa harus meninggalkan jati dirinya?

Cita-cita untuk mewujudkan visi sebagai universitas riset berkelas dunia merupakan cita-cita yang luhur karena akan dapat mengharumkan nama bangsa dan negara di kancah internasional. Namun akan sangat miris ketika cita-cita tersebut dapat melunturkan jati diri universitas yang selama ini telah disandang apabila upaya atau kebijakan yang ditempuh untuk mewujudkannya tidak didasari oleh nilai-nilai kearifan yang dimiliki oleh UGM sebagai warisan luhur yang ditinggalkan oleh para founding father. Sebagai sebuah otokritik, kita harus mengakui bahwa selama ini UGM cenderung mengabaikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendiri UGM, hanya demi status sebagai universitas riset berkelas dunia. Kita juga harus jujur bahwa selama ini UGM telah menterjemahkan upaya untuk mewujudkan cita-cita tersebut dalam berbagai kebijakan yang kurang pas, yang akhirnya justru melunturkan jati diri UGM yang selama ini telah disandangnya.

Dewasa ini UGM sebagai Universitas Perjuangan, Universitas Kerakyatan serta nama-nama lain yang berkaitan dengan jati dirinya, ternyata belum terlalu berhasil melaksanakan amanat maupun meneladani para pendirinya untuk mengembangkan dan mengamalkan nilai-nilai dasar bangsa. Revitalisasi jati diri UGM harus segera dilakukan dan merupakan momentum sejarah yang penting bagi UGM pada usianya yang ke-63 tahun. Dalam kondisi bangsa saat ini dimana berbagai krisis terjadi diberbagai sektor, UGM semestinya harus berada digaris terdepan untuk menjadi pelopor sebagai universitas yang lebih mengutamakan pemikiran keilmuan serta hati nurani yang dilandasi oleh budaya bangsa bukan menjadi sebuah universitas yang hanya mementingkan kepentingannya semata-mata untuk mengejar predikat sebagai universitas riset dunia.

Sebagai salah satu contoh kebijakan UGM yang dipandang telah menghilangkan jati dirinya adalah ketidakjelasannya pihak UGM dalam membuka program vokasi, karena proyek ini dipandang sebagai proyek main-main. Dimana pada tahun 2008 pihak UGM menutup Program Ekstensi bagi mahasiswa Diploma 3 dan ditutupnya Program Diploma ini merupakan syarat atas perwujudan visi UGM sendiri sebagai Word Class Research University (WCRU) tanpa menimbang kemana kelanjutan studi bagi mahasiswa Diploma 3. Dan untuk menindaklanjuti atas penutupan Program Diploma ini maka pihak UGM membuka Program Sekolah Vokasi bedasarkan PERREK UGM NOMOR 518/P/SK/HT/2008 tentang sekolah vokasi. Sebuah bingkai baru bagi seluruh mahasiswa Diploma 3 tanpa adanya Program Ekstensi bahkan Diploma IV, yang sampai saat ini belum nampak perbedaan substansial antara Program Diploma dan Sekolah Vokasi UGM. Sebenarnya tidak sampai disitu saja pihak UGM mempermainkan kejelasan dari Sekolah Vokasi sendiri, tahun ini rektor mengeluarkan KEPREK UGM NOMOR 151/P/SK/HT/2012 dan nomor 152/P/SK/HT/2012 tentang pembukaan jenjang Diploma IV dan alih jalur, namun apa yang terjadi dilapangan tidak sesuai dengan yang diharapkan hanya beberapa program studi saja yang dapat melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi di UGM. Sementara untuk pembukaan Program Diploma IV sendiri disebutkan bahwa pengusulan Program Studi Diploma IV dapat dilakukan bila mana bidang ilmu tersebut sudah terakreditasi A serta tersedia minimal 6 dosen tetap. Seperti kita ketahui bahwa beberapa Program Studi di Sekolah Vokasi belum memenuhi persyaratan tersebut. Contohnya Program Studi Ekomoni misalnya hanya memilki dua orang dosen tetap, yang lebih memperihatinkan lagi Program Studi Teknik Geomatika hanya memiliki satu orang dosen tetap, ini sangat aneh sekali karena terlihat sebagai proyek main-main dari pihak UGM. Terlepas dari ketidakjelasan atas Sekolah Vokasi, masih saja ada diskriminasi atas sarana dan prasarana. Mereka yang mengeluarkan 2,5 sampai 3,5 juta rupiah semesternya hanya mendapatkan gedung tua yang telah usang dan rapuh. Sarana penunjang kegiatan perkuliahan pun sungguh sangat tidak layak. Pemandangan ini sungguh sangat ironi, mengingat mahasiswa Sekolah Vokasi yang telah menyelesaikan tanggung jawab administrasi kepada pihak UGM masih saja tidak diberikan akses yang sama dengan mahasiswa S1.

  Word Class Research University (WCRU) merupakan sebuah visi yang sangat mulia mengingat UGM merupakan tolak ukur kemajuan universitas di Indonesia. Sayangnya dalam perwujudan visinya tersebut, pihak UGM nampak kurang memperhatikan beberapa aspek, khususnya dalam pembukaan Program Sekolah Vokasi. Bukan tanpa pertimbangan, pihak UGM tentu telah mempertimbangkan matang-matang dalam pembukaan Sekolah Vokasi, walaupun pihak UGM juga tetap bisa mempertahankan Program Diploma terlepas dari syarat menjadi WCRU. Dengan ditutupnya Program Ekstensi bagi mahasiswa Diploma 3, pihak UGM seharusnya membuka program Diploma VI sebagai dukungan kelanjutan studi mahasiswa Sekolah Vokasi. Dengan ditutupnya Program Ekstensi dan dibukanya Sekolah Vokasi seharusnya UGM juga harus mempertimbangkan kondisi negara saat sini, mengingat kondisi Indonesia sebagai negara berkembang. Sayangnya, pihak UGM justru dengan bangga menyatakan pembukaan Program Sekolah Vokasi ini adalah yang pertama di Indonesia, mengikuti adanya Sekolah Vokasi dibeberapa universitas seperti di Jepang dan Jerman. Pernyataan tersebut terkesan tanpa pertimbangan mengingat Indonesia merupakan negara berkembang dengan angkatan kerja yang melimpah, berbeda dengan negara Jepang dan Jerman yang merupakan negara maju dengan wadah bagi tenaga kerja yang tinggi.

Terlepas dari tuntutan di atas, UGM sebagai universitas kerakyatan sudah seharusnya memberikan akses yang sama antara mahasiswa Diploma 3 dan S1, khususnya dalam pengadaan beasiswa. Pihak UGM harus berperan aktif dalam mempromosikan tentang adanya Sekolah Vokasi, agar tidak ada diskriminasi dalam pengadaan beasiswa terutama dari pihak luar UGM. Pembangunan gedung-gedung baru di UGM juga harus memperhatikan kondisi gedung Sekolah Vokasi yang sudah tidak layak sebagai tempat belajar. Mengingat pembangunan di UGM terkesan hanya fokus pada gedung bagi mahasiswa S1 saja. Diharapkan pihak UGM juga memprioritaskan pembangunan gedung Sekolah Vokasi.

Sekolah Vokasi UGM merupakan wadah baru bagi mahasiswa Diploma 3 yang diharapkan dapat menjadi pelopor di Indonesia dalam mencetak intelektual muda sebagai seorang ahli madya. Dengan demikian pendidikan mahasiswa Sekolah Vokasi harus bisa bersaing dengan mahasiswa S1 dalam menuntut ilmu, dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai dengan cita-cita bangsa. Sudah seharusnya pihak UGM sebagai orangtua yang harus mengayomi aspirasi seluruh mahasiswa UGM tanpa terkecuali mahasiswa Program Sekolah Vokasi.

Seperti kata Emha Ainun Najib “ Pendidikan itu seharusnya memanusiakan manusia, namun sistem pendidikan di bangsa ini tidak memanusiakan manusia” ini merupakan sebuah kritik potret pendidikan tinggi di UGM, jadi sudah semestinya pihak UGM harus berbenah dalam menyikapi permasalahan ini agar kedepannya nanti paradigma tentang UGM sebagai Kampus Kerakyatan tidak berubah menjadi UGM kampus Kapitalis.

dikutip dari berbagai sumber

About admin

asrama mahasiswa sumatera barat merapi singgalang yogyakarta

Posted on 13 Desember 2012, in Pendidikan, Serba-Serbi. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Sudah seharusnya Kampus yang dikatakan sebagai Founding Father ini turut memfasilitasi anak-anak didiknya secara merata. Karena kewajiban pembayaran dan prestasi tidak henti-hentinya di salurkan dari para mahasiswanya, sehingga tidak elok rasanya jika terjadi diskriminasi yang sangat tampak. Seperti hal nya bangunan yang terlihat mencolok bedanya, saya rasa UGM sangat mencintai sejarah, tetapi dengan cintanya kampus ini kepada sejarah, jangan sampai mengurangi kesan estetika di setiap sudut kampus.

  2. terimakasih tambahannya mbak….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: